6 Keuntungan Tidak Punya Pohon Natal di Rumah

Veronica Sri Utami Always love the journey of being mother, she is a fulltime mother – for Lintang and Sekar - and parttimer of everything, from "tukang ojeg"-nya Lintang, writer to lecturer. Already have two books being published until now, “We are Good Mothers”, (Galang Press, 2010) and “Recharge Your Life”, (Grasindo 2016), and (hope) still more to come

Ternyata tidak punya pohon natal di rumah ada untungnya juga. Lintang jadi berusaha berkreasi setiap tahun agar ada suasana natal di rumah. Tentu saja rumah kami makin semarak dengan pohon natal hasil kreasi Lintang. Berikut ini keuntungan yang kami rasakan:

1. Suasana natal kami jadi berbeda tiap tahun

Ya, karena tidak punya pohon natal, jadi, hampir setiap tahun, ada ide berbeda untuk menghadirkan suasana natal di rumah. Pernah pohon natalnya (hanya) berupa gambar tangan Lintang. Pernah juga ada pohon natal bunga-bunga yang terbuat dari kertas bekas.  Tahun ini, terbuat dari kardus bekas.

2. Membebaskan ide kreatif

Sejak kecil Lintang sudah hobi menggambar. Jadilah, pohon natal kami adalah hasil gambar Lintang. Ternyata hasilnya tidak hanya berhenti pada gambar, Lintang punya ide untuk menambahkan bungkusan kado, yang tak hanya berupa gambar, tapi kertas, yang diisinya dengan kapas, sehingga terlihat lebih tebal/berisi. Juga, ia menambahkan satu gambar kereta salju milik sinterklas, yang ditempel di dekat gambar pohon natalnya.

3. Mengembangkan ide daur ulang

Natal beberapa tahun lalu, kami membuat pohon natal yang terbuat dari kumpulan bentuk-bentuk bunga, yang semuanya terbuat dari kertas bekas. Tahun ini, Lintang membuat pohon natal dari kardus bekas. Jadi, kegiatan menciptakan suasana natal di rumah ini sekaligus juga mengakrabkan anak-anak dengan ide memanfaatkan kembali barang yang sudah tidak terpakai.

4. Belajar menghargai proses

Tidak sama seperti pohon natal yang sudah jadi, dan tinggal dihias, pohon natal kami selalu dimulai dari nol. Dan ini sekaligus mengajari anak-anak bahwa segala sesuatu itu butuh proses. Dan artinya butuh waktu. Selain mengajarkan untuk sabar, proses ini juga sebuah “ujian” untuk pantang menyerah.

Ketika kami mengerjakan pohon natal bunga-bunga misalnya, prosesnya memakan waktu beberapa hari. Terutama untuk membuat bunga-bunganya, yang butuh dalam jumlah banyak.  Ada hari-hari di mana kami sama sekali berhenti, tak meneruskan proses. Karena bosan, salah satunya, karena capek, dan gemas karena tak jadi-jadi, yang akhirnya malah menurunkan semangat kami. Tapi, prosesnya terus kami jalani, sampai akhirnya jadi pohonnya.

5. Yang murah tetap bisa jadi “meriah”

Ini salah satu “keunikan” pohon natal kami tahun ini. Ketika sedang berjalan-jalan di sebuah swalayan, Lintang terlihat teratarik pada satu pohon natal. Saat melihat harganya, yang mencapai satu jutaan, dia berkomentar, “Wah! Mahal juga ya, Bu!”. Dan saya mengiyakan.

Tak jauh dari tempat penjualan pohon natal itu, ada keranjang-keranjang berisi barang-barang yang didiskon besar. “Cuci Gudang” begitu istilahnya. Nah, sebagian barang cuci gudang itu berupa hiasan natal. Awalnya tak tertarik, karena saya pikir, tidak punya pohon natal, buat apa beli hiasannya.

Sampai saya melihat, satu wadah berisi 5 bola-bola hiasan natal, yang harganya hanya 1000 rupiah! Iya! 1000 rupiah! Saya sudah cek bolak-balik, siapa tahu salah lihat nolnya, dan benar  1000 rupiah! Dan hiasannya masih bagus, tidak ada yang penyok-penyok atau pudar warnanya. Jadi, ya saya ambil saja lah! Mau pasang di mana, urusan nanti.

Dari hiasan natal 1000 rupiah inilah, sampai  rumah Lintang punya ide bikin pohon dari kardus, yang ia hias dengan kertas origami aneka warna, sebelum kemudian ditambahi gantungan bola-bola natal. Jadilah pohon natal kami. Tidak kalah keren dibandingkan pohon natal berharga mahal yang kami lihat tadi.

6. Meningkatkan rasa bangga pada diri sendiri

Nah, tentu, selesai membuat sendiri pohon natal, akan terasa kebanggaan yang berbeda. Apalagi jika kemudian ditambah pujian dari orang-orang lain, terhadap hasil karyanya.

Pujian yang diterima Lintang dari orang-orang sekitar, rasa bangga karena berhasil menyelesaikan sebuah karya, tentu penting juga buat anak. Karena itu akan meningkatkan harga dirinya, yang akhirnya juga akan meningkatkan rasa percaya dirinya.

Jadi, enggak tahu apakah nanti di tahun kapan kami memutuskan untuk beli pohon natal yang sudah jadi, atau tidak. Tapi sekarang, rasanya lebih asyik begini. Lebih kreatif, lebih bebas berkreasi, lebih bervariasi, dan lebih seru!

Selamat natal untuk urban mama yang merayakan!!

 

4 Comments

  1. avatar
    Honey Josep December 28, 2017 7:11 pm

    wah keren keren banget pohon Natal-nya, kreatif!

    Tfs mama Lintang!

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    dieta hadi December 28, 2017 3:42 pm

    Wah seru yaaa dan lintang juga kreatif banget. Pasti moment yang ditunggu ya sama Lintang untuk bikin pohon natal, keren ih

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Cindy Vania December 27, 2017 9:36 pm

    Tahun ini kebetulan aku pasang pohon Natal dan anak2 bikin "pohon Natal" juga sama mbah Kungnya. Pakai kawat yg ditutup plastik dan luarnya pakai hiasan lucu2 gitu :)

    Btw Lintang keren banget sih bikin banyak pohon Natal.

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    ninit yunita December 27, 2017 7:38 am

    wahhh lintang keren! kreatif banget yaaa... seru liatnya! dan jadi penasaran tahun depan "pohon natal" apa yang lintang bikin :)

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.