Bayi Jatuh dan Kepala Oleng

dr. eva devita
Eva Devita Harmoniati, dr. Pendidikan: Dokter Spesialis Anak di Universitas Indonesia. Dokter Anak di RSAB Harapan Kita dan RSIA YPK, Menteng.
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Dear Dokter Eva,
Felice (6m1w) jatuh dari ranjang dan posisi jatuhnya kepala sebelah kiri (antara belakang dan samping) benjol besar sekitar 5 x 7,5cm (di area kepala yang benjol terasa lembek). Saat jatuh, anak saya menangis sangat kencang. Segera saya susui dan tidak lama Felice tertidur pulas.

Karena saya khawatir, saya membangunkan Felice yang tertidur pulas. Aktivitas Felice normal dan mau tengkurap. Saya memutuskan untuk membawa Felice ke DSA dan disarankan untuk CT scan tetapi kami menolak. Akhirnya selama seminggu kami observasi, dan kalau ada gejala seperti muntah, demam, kejang, diminta segera datang ke dokter. Setelah diobservasi, tidak ada gejala demikian.

Tiba-tiba seminggu kemudian (waktu 6m2w), kepalanya sesekali suka oleng ke kiri. Beberapa kali saya amati biasanya kalau sudah benar-benar mengantuk baru mulai oleng. Sempat dicek oleh dokter saraf anak, dokter menyarankan CT scan atau MRI, tapi secara aktivitas sih katanya seperti tidak ada apa-apa. Agak dilema nih Dok, antara CT scan takut radiasi dan MRI yang harus dibius.

Tambahan lagi setelah saya amati, mata sebelah kiri, sejajar dengan alis sepertinya agak biru.

Sampai sekarang, kepalanya sesekali masih oleng ke kiri.

Saya sempat googling dan ternyata di luar sana, banyak juga kejadian seperti ini dan suka oleng. Hanya agak kebingungan, harusnya saya ke spesialis apa untuk penanganan atau pengecekannya.

Saya ingin coba fisioterapi ato chiropractor. Ada sarankah, Dok?

Terimakasih banyak, Dok.

-
Julia
[email protected]

Dear Mama Julia,
Sebagian besar kasus trauma kepala pada anak (baca: kepala terbentur atau jatuh) tidak menimbulkan kelainan. Tapi bila kepala jatuh dengan posisi benturan di daerah samping (temporal) lebih berbahaya dan sering mengakibatkan perdarahan. Pada kasus trauma kepala dampaknya (perdarahan) bisa terjadi dalam kurun waktu 3×24 jam sehingga selalu dianjurkan untuk mengobservasi apakah timbul muntah, kejang, kesadaran menurun (anak banyak tidur), dan kelainan gerak dari anggota bdn atau kepala di kurun waktu tersebut. Kalau ada maka harus dipastikan ada atau tidak perdarahan dalam otaknya. Ini hanya bisa dilihat dengan pemeriksaan CT scan dan MRI kepala. Semua tindakan ada risk and benefitnya, kalau pemeriksaan tidak dilakukan tidak diketahui penyebab kepalanya yang suka “oleng”. Kalau penyebabnya tidak diketahui dokter akan sulit juga menyarankan pengobatan untuk masalahnya.

Saran saya diperiksakan saja dulu CT scan atau MRI kepala, bila memang tidak ada apa-apa, perlu dievaluasi “oleng” ini hanya suatu kebiasaan atau memang suatu kelainan. Sebaiknya konsultasi dengan konsultan saraf anak.

Semoga pertanyaannya terjawab ya, Mama.

No Comments

No comments yet

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.