Bayi Kolik

sarahanief
Sarah Audia Hasna, dr. S1 Fakultas Kedokteran UGM. Dokter umum dan konselor laktasi di Eka Hospital.
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Urban Mama Papa, pernahkah bayi Anda yang mendapat ASI Eksklusif mengalami hal seperti menangis terus menerus terutama menjelang petang sampai malam, sangat rewel, terlihat kaki bayi mengangkat ke atas seperti menahan sakit perut?

Jika iya, mungkin bayi Anda mengalami kolik.

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan kolik pada bayi? Mari kita bahas di sini.
Sebelum mengenal lebih lanjut apa itu kolik, penting kita ketahui penyebab bayi menangis. Bayi menangis merupakan ungkapan jika ia lapar, rasa tidak nyaman, lelah, dan sakit. Rasa tidak nyaman pada bayi timbul saat bayi kencing, buang hajat, kedinginan, kepanasan, gatal, takut. Jika penyebabnya lapar, setelah disusui bayi akan tenang. Jika penyebabnya tidak nyaman, setelah ditemukan dan ditangani ketidaknyamanan tersebut, bayi akan tenang.

Akan tetapi apabila bayi menangis berlebihan di luar penyebab di atas, kita harus lebih jeli mencari penyebabnya apakah bayi sakit? Seperti demam, diare.
Bila bayi menangis secara berlebihan, ini bisa merupakan gejala bahwa ia menderita berbagai penyakit atau keadaan tertentu. Beberapa penyebab yang penting dan memerlukan tindakan segera di antaranya adalah radang telinga, infeksi saluran kemih, nyeri akibat jatuh, volvulus (usus berputar), invaginasi (satu bagian usus masuk ke dalam bagian usus yang lainnya sehingga menimbulkan sumbatan usus), hernia inkarserata (kondor yang tidak masuk lagi dan terjepit), torsio testis (buah zakar terputar), dan acute abdomen (keadaan gawat perut). Namun biasanya penyakit-penyakit serius ini disertai dengan gejala atau tanda lain, sehingga dokter akan dapat mendeteksinya.

Bila tidak ditemukan kelainan-kelainan organik seperti diatas dan bayi tetap sering menangis beberapa jam terutama menjelang malam hari, kemungkinan bayi Anda mengalami kolik. Penyebab kolik belum diketahui secara pasti. Bayi kolik menunjukkan pola menangis yang khas, menangis terus menerus di waktu-waktu tertentu terutama menjelang petang, diawali dengan wajah yang memerah, mimik yang tampak aneh diikuti dengan gerakan kaki ke arah perut, menangis bisa selama beberapa jam sepanjang malam dan sulit ditenangkan.

Serangan kolik bisa terjadi karena usus bayi sangat aktif atau mengandung banyak gas dalam usus, bisa disebut juga gassy baby. Serangan dapat terjadi pada usia beberapa minggu dan biasanya berakhir saat bayi berusia diatas 3-4 bulan. Satu hal yang perlu diingat bayi kolik memiliki berat badan yang baik dan tumbuh dengan sehat.

Beberapa situasi yang dicurigai dapat menimbulkan kolik pada bayi yang mendapat ASI, yaitu:

  • 1. Bayi belum selesai menyusu dengan sempurna.
    Seperti kita tahu 1 sesi menyusu pada 1 payudara, bayi mendapat foremilk (ASI awal) yang kaya laktosa dan hindmilk (ASI Akhir) yang kaya lemak. Jika Mama memindahkan bayi secara tiba-tiba dari satu payudara ke payudara lainnya saat menyusui, sebelum si bayi “selesai” menyusu pada satu payudara, bayi mungkin saja tidak mendapat hindmilk yang cukup artinya jumlah lemak yang diserap relatif kurang saat menyusu. Karena jumlah lemak yang relatif sedikit akan diserap lambung dengan cepat, perut cepat kosong, bayi terus menyusu sehingga jumlah gula susu (laktosa) dalam foremilk semakin banyak dan akan tiba di usus sekaligus. Enzim yang berfungsi untuk mencerna gula (laktase) tidak mampu mencerna sekaligus sekian banyak gula susu, gas yang ditimbulkan semakin banyak sehingga bayi mudah kembung dan perutnya tidak enak.
  • 2. Perlekatan yang belum baik sehingga bayi menyusu terputus-putus. Bayi bisa tidak mendapat hindmilk yang cukup.
  • 3. Refleks ASI muncrat (let down reflex), yang menyebabkan bayi kaget dan melepaskan payudara tiba-tiba saat menyusu.
  • 4. Bayi sembelit karena susu formula, atau mengalami gejala intoleransi susu sapi seperti diare, kembung.

Bagaimana mengatasi bayi kolik?

  • 1. Konsultasi dengan konselor laktasi dan dokter anak. Bila tidak ditemukan kelainan organik yang berbahaya, maka pikirkan penyebabnya adalah kolik.
  • 2. Tenangkan bayi
    Cara terbaik menenangkan bayi menangis adalah mendekapnya erat-erat, dengan gerakan dan tekanan lembut pada perutnya. Bisa juga dengan cara menggendong bayi tegak lurus, pada posisi duduk atau tegak lurus pada bahunya (tidak perlu dilakukan rutin, hanya bila bayi kolik). Peran Papa penting disini untuk menenangkan bayi, sambil diajak berjalan-jalan di sekitar rumah.
  • 3. Perhatikan teknik menyusui
    a. Pastikan bayi menyusu dengan perlekatan yang benar, agar foremilk sampai hindmilk didapatkan dengan sempurna. Jika Mama masih mengalami masalah dalam memosisikan bayi untuk menyusu dengan perlekatan yang benar, segera konsultasi dengan konselor laktasi.

    b. Hindari menentukan jadwal pemberian ASI. Biarkan bayi menyusu sesuai kebutuhannya (on demand).

    c. Biarkan bayi menyusu sampai tuntas pada satu payudara. Hal ini dapat dilihat dari bayi melepaskan sendiri payudara, tampak tenang dan kenyang atau tertidur. Jika bayi cenderung “ngempeng” di akhir, berikan tekanan ringan di payudara, jika bayi tidak menghisap berarti ia sudah kenyang, jika bayi langsung menghisap dengan kuat berari masih mau menyusu. Jika bayi sudah kenyang, lepaskan perlahan, dengan menaruh jari kelingking Mama di sudut mulut bayi.

    d. Jika bayi masih lapar setelah selesai menyusu di 1 payudara (bisa saat growth spurt), susui di payudara sebelahnya. Sebaiknya tidak mencegah bayi untuk menyusu di payudara berikutnya bila ia masih lapar.

    e. Jika bayi melepas payudara tiba-tiba karena aliran ASI yang deras, coba posisi menyusui berbaring seperti posisi IMD (inisiasi menyusu dini), dimana Mama berbaring telentang, bayi tengkurap di atas dada Mama. Bisa juga coba kembali susui bayi dengan perlekatan baik, kedua jari Mama (jari telunjuk dan jari tengah) menyerupai gunting tekan di atas areola untuk memperlambat aliran ASI yang deras.

    f. Menyusui bayi dalam suasana nyaman, rileks. Lampu temaram, musik klasik yang menenangkan dapat menciptakan suasana kondusif yang nyaman untuk bayi.

  • 4. Perhatikan diet
    Kasus kolik pada bayi dapat disebabkan oleh alergi terhadap protein susu sapi yang didapat dari makanan ibu. Mama dapat pantang makanan dairy product yang mengandung protein susu sapi seperti keju, yoghurt, susu, dll. Coba pantang selama 7-10 hari. Bila kemudian kondisi bayi ternyata membaik, maka diet ibu yang bebas susu sapi harus terus dipertahankan selama 3-4 minggu atau mungkin lebih. Namun, bila dengan cara ini ternyata kolik pada bayi tidak mereda dalam waktu 4-5 hari, maka Mama dapat kembali ke diet semula. Karena berarti kolik itu bukan disebabkan oleh diet ibu.
  • 5. Pijat bayi untuk bayi kolik. Lakukan pijatan ringan, bisa belajar di beberapa video pijat bayi dengan sumber terpercaya, dengan bidan atau konselor laktasi.
  • 6. Susu formula bukan solusi dari masalah bayi kolik
    Susu formula hanya akan menambah masalah gangguan pencernaan pada bayi sehat yang semula asi eksklusif mengalami kolik.
  • 7. Dukungan suami dan keluarga
    Dukungan suami penting disini, diharapkan keluarga yang tinggal serumah tenang dalam menghadapi bayi kolik. Mama bisa sharing masalah ini dengan teman-teman seperjuangan yang pernah mengalami masalah kolik pada bayinya.

Kunci menangani bayi kolik adalah sabar dan tetap tenang. Temui penyebab dan tangani secara dini, akan membuat bayi kembali tenang dan proses menyusui kembali indah.

Sumber:

  • 1. Kolik pada Bayi ASI oleh Dr.Jack Newman IBCLC . http://www.nbci.ca/
  • 2. Artikel Kolik Pada Bayi IDAI 2009.
  • 3. Modul Pelatihan Konseling Laktasi WHO 40 jam – SENTRA LAKTASI Indonesia.

6 Comments

  1. ipeh
    Musdalifa Anas January 7, 2013 at 9:03 am

    thanks dokter Sarah informasinya. Penting nih jika sudah melahirkan anak kedua nanti, pengalaman anak pertama, kalau udah dengar Lana nangis, suka panik duluan.

  2. eka
    Eka Wulandari Gobel January 7, 2013 at 9:19 am

    TFS, dr. sarah informasinya yg sangat rinci! berguna sekali tentunya untuk para orang tua yg sedang mempersiapkan diri untuk proses menyusui nanti.

  3. sarahanief
    sarah audia January 7, 2013 at 6:23 pm

    @mbak ipeh dan mbak eka: Alhamdulillah, sama-sama ya :)

  4. nyonyawendy
    nyonyawendy January 25, 2013 at 11:14 pm

    a lovely article from beautiful doctor! :) anak saya jg pernah kolik… terjadi saat demam yang naik turun… Sedihh banget, ada perasaan ‘useless’ krn cara apapun tidak berhasil menenangkan anak kolik. Dalam hati jg berpikir, kok bisa kolik pdhl sudah 8 bulanan, sementara inget artikel2 kebanyakan bilang kolik terjadi pada usia dibawah 3 bulan. Untungnya hanya terjadi sekali saja, itu semaleman engga tidur krn tangisannya berjam-jam.

  5. mamma
    mamma February 28, 2013 at 10:32 pm

    Mau tanya dong dok….apakah kalau kita hrs menghindari dairy products,artinya anak kita alergi dg protein dr susu sapi? Ini berkaitan dg pemberian sufor berikutnya stlh asi tdk mencukup

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.