Bayi Ramah Lingkungan (Eco-Baby)

cluelessmom

Jojo dengan baju lungsuran di boks lungsuran dengan kelambu lungsuran.

Pada suatu hari saya membuka-buka blog lama saya, dan baru sadar bahwa ternyata tak terasa sudah dari tahun 2007 saya mulai mempraktikkan cara-cara ramah lingkungan seperti: mengurangi penggunaan kantong plastik, membawa botol minum isi ulang sendiri, membawa wadah sendiri saat beli makanan, mengurangi pemakaian bahan-bahan pembersih kimiawi, dan sebagainya. Saat membangun rumah pun, saya dan suami mendesainnya sedemikian rupa supaya ramah lingkungan dan hemat energi (sumur resapan, cahaya alami, pengolahan kompos, septic tank berbasis bakteri, kayu daur ulang, dan lain-lain). Oleh karenanya, saat Jojo lahir, secara alami saya dan suami membesarkan Jojo dengan cara-cara yang ramah lingkungan juga. Kami ingin Jojo tumbuh menjadi manusia yang peduli pada lingkungan dan mencintai alam sekitar.

Untuk sekadar sharing dengan para sahabat di TUM, berikut beberapa hal yang kami lakukan:

1. Lebih banyak pakai cloth diaper (clodi)

Popok kain lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan popok sekali pakai (disposable diaper atau biasa disingkat dispo). Karena proses produksi yang relatif lebih sederhana dibandingkan dispo, jejak karbon clodi lebih sedikit. Clodi juga bisa dipakai berulang-ulang bahkan untuk lebih dari satu bayi sedangkan dispo harus dibuang setelah sekali pakai sehingga menghasilkan sampah yang lumayan banyak. Memang diperlukan air dan deterjen untuk mencucinya, tapi hal ini bisa diakali dengan cara mencuci sekaligus dalam jumlah banyak (sehingga penggunaan air dapat dihemat) dan menggunakan deterjen ramah lingkungan yang tidak menghasilkan limbah. Yang saya suka, walaupun deterjen semacam ini harganya cukup mahal, tapi kenyataannya takaran yang dipakai hanya 1/3 dari takaran deterjen normal sehingga awet dan irit, tidak menghasilkan limbah busa, bahkan kemasannya pun dapat diuraikan (biodegradable).

2. Memberikan ASI eksklusif

Karena rajin meditasi, afirmasi positif dari hypnobirthing, tekad kuat dan dukungan dari suami, air susu saya sudah keluar dalam waktu dua jam setelah melahirkan. Walaupun tiga bulan pertama produksinya masih sedikit, selanjutnya berlimpah ruah hingga sampai kini Jojo belum pernah minum susu formula sama sekali. Kenapa ASI eksklusif lebih ramah lingkungan? Lagi-lagi jejak karbon, ASI tidak melewati proses produksi apapun (hanya perlu asupan gizi seimbang), tidak menghasilkan sampah apapun yang harus diolah. Sebisa mungkin, berikanlah ASI kepada bayi, karena inilah yang terbaik untuk bayi dan juga lingkungan.

3. Buat sendiri Makanan Pendamping ASI (MPASI)

Sejak usia 6 bulan, Jojo mulai diberi MPASI. Karena kami menerapkan Baby-Led Weaning, Jojo mulai mendapatkan sayur dan buah kukus sebagai MPASI-nya, kemudian berlanjut dengan tim kasar. Acapkali kami berbagi bahan makanan, misalnya bila hari ini masak sayur bening, maka Jojo juga mendapat irisan bayam di makanannya. Hal ini bisa berlaku untuk semua jenis makanan, baik daging/ikan/ayam, sayur-mayur, buah ataupun karbohidrat seperti nasi, roti atau kentang. Dengan sedikit ketelatenan dan perencanaan, membuat MPASI ala rumahan tidak merepotkan ataupun menghabiskan waktu. Makanan bayi instan selain mengandung zat-zat adiktif seperti perasa, pewarna, dan pengawet, juga menghasilkan limbah sampah sehingga kurang ramah lingkungan. Apalagi kemasan makanan bayi instan biasanya mungil karena mengikuti porsi makan bayi, sehingga sampah yang dihasilkan juga cukup signifikan per bayi per hari.

4. Berburu lungsuran

Jojo dengan baju lungsuran di antara mainan lungsurannya.

Saya beruntung karena beberapa teman dekat saya semuanya punya anak laki-laki. Sejak hamil, dengan tanpa malu-malu saya meminta barang-barang bayi yang sudah tidak terpakai lagi – reuse, reuse, reuse! Berikut sejumlah lungsuran alias hand-me-downs yang dipakai oleh Jojo:

  • Baju, kaus kaki, topi, sepatu, jaket
  • Kain prefold dan cover untuk clodi
  • Ranjang bayi
  • Tas keperluan bayi
  • High chair dan kursi goyang bayi
  • Mainan dan buku-buku bayi
  • Pelampung, bola dan mainan untuk di kolam renang
  • Infant car seat dan stroller (dipakai sampai umur 6 bulan)
  • Baby carrier (dipakai sampai umur 8 bulan)
  • Boncengan sepeda (masih belum muat sampai sekarang)

Lumayan banyak, ya? Memang beberapa barang sudah agak lusuh, beberapa baju sudah agak pudar warnanya, tapi bagi kami tidak masalah. Bayi bertumbuh amat cepat, barang-barang tersebut hanya untuk dipakai beberapa bulan saja. Jangan malu meminta lungsuran, teman-teman baik selalu bersedia memberikannya! Saya sering posting foto Jojo mengenakan baju lungsuran di Facebook dan men-tag teman yang memberikan baju tersebut, foto-foto ini selalu menghasilkan senyum dan komentar lucu dari ibu-ibu yang mengenang saat anaknya sendiri memakai baju tersebut. Dan semua barang yang masih bagus, baik bekas maupun baru, saya simpan baik-baik untuk dilungsurkan kepada bayi berikutnya yang akan hadir di antara kami.

5. Angin, bukan AC

Saya biasakan Jojo untuk tidur siang tanpa menggunakan AC di kamar, hanya membuka jendela dan menyalakan ceiling fan. Hal ini ramah lingkungan karena AC memakan listrik cukup besar, belum lagi hawa panas yang dilepaskan oleh kompresor ke udara sekitar. Bila sirkulasi udara di kamar bagus dan cuaca tidak terlalu panas/lembap, sebaiknya penggunaan AC dikurangi dan nikmati angin luar yang masuk ke dalam ruangan. Sebenarnya ingin juga tidur malam tanpa AC, tapi kami masih cemas dengan serangga yang bisa “nyasar” masuk ke kamar dan juga udara malam yang terlalu “basah”. Yah, paling tidak sudah lumayan hanya menyalakan AC di malam hari.

6. Kurangi penggunaan air panas (dan volume air juga)

Sejak usia 3 bulan, berangsur-angsur air mandi Jojo dikurangi panasnya hingga sekarang saat usia 10 bulan, Jojo sudah biasa mandi dengan air suhu normal. Menggunakan air biasa tentunya lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan pemanas air listrik atau gas. Malah, sejak berusia sekitar 7 bulan  Jojo sudah sangat menikmati shower berdua dengan papanya (dengan digendong tentunya) jadi penggunaan air bisa dihemat juga.

7. Perbanyak jalan kaki

Berkendara dengan mobil ke mal atau tempat wisata, juga menghabiskan sumber daya (bahan bakar) dan menghasilkan limbah (asap knalpot). Jika senggang di sore hari, alih-alih membawa jalan ke mal saya pilih membawa Jojo jalan-jalan dengan stroller keliling daerah perumahan kami yang kebetulan masih sepi. Pagi-pagi saya sering berjalan membawa Jojo ke pasar basah di dekat rumah, dengan digendong menggunakan baby carrier. Selain mengurangi pemakaian BBM dan polusi asap knalpot, berjalan kaki membuka kesempatan bagi anak untuk mengamati lingkungan sekitar: tunjukkan pohon, bunga, katak, belalang dan sebagainya. Bila ada anak-anak kecil lainnya di daerah tempat tinggal, ini kesempatan yang baik untuk belajar bersosialisasi. Jadi penggunaan mobil bisa ditekan hanya bila perlu saja.

8. Car pooling alias nebeng

Anak jaman sekarang, kecil-kecil sudah punya kehidupan sosial. Jojo belum genap setahun usianya, tapi sudah menghadiri empat pesta ulang tahun, belum lagi acara playdate seperti berenang atau bermain bersama anak-anak lainnya. Bila ada acara-acara semacam ini, saya rajin mengumpulkan ibu-ibu lain untuk bergiliran tebeng-menebeng atau istilah kerennya car pooling. Hal ini lumayan mengurangi pemakaian BBM dan juga polusi asap knalpot, karena katakanlah untuk menghadiri satu pesta ultah, dengan tiga ibu-anak pergi bersama berarti penggunaan mobil sudah ditekan dari tiga mobil menjadi satu mobil saja. Ada nilai tambahnya juga, mempererat persahabatan!

9. Beli grosiran, beli kemasan paling besar.

Untuk barang-barang keperluan Jojo seperti kapas, minyak telon, sabun, pakaian dan lain-lain, selalu saya usahakan untuk membeli secara grosir atau paling tidak beli yang kemasan paling besar. Misalnya minyak telon, saya beli botol kaca kemasan 300 ml bukannya botol plastik yang 60 ml sehingga saya bisa “berhemat” sampah 5 botol plastik kecil. Sabun mandi cair saya beli kemasan isi ulang 600 ml dan bukan botol kecil 200 ml jadi bisa “berhemat” sampah 3 botol plastik. Beli baju satu model isi 3 buah dan bukan 3 buah baju berbeda, bisa “berhemat” sampah pembungkus baju tersebut.

10. Ubah fungsi secara kreatif

Botol kaca untuk ASIP

Seperti halnya lungsuran, benda-benda keperluan bayi tidak harus baru. Kita bisa kreatif memanfaatkan barang-barang di sekitar kita untuk keperluan bayi. Kotak bekas es krim kemasan kecil bisa jadi wadah kapas, lap, atau air bersih di meja ganti bayi. Botol plastik bertutup yang bisa dibuka-tutup dengan bunyi nyaring dan diisi kancing atau kelereng sudah cukup menghibur sebagai mainan bayi untuk beberapa saat, tidak perlu beli mainan yang khusus membuat bunyi-bunyian. Pot tanaman kecil dari plastik atau kaleng bisa dialihfungsikan menjadi wadah pernak-pernik bayi. Yang saya lihat cukup tersohor di sini, botol kaca bekas minuman bisa jadi wadah ASIP. Banyak sekali yang bisa kita lakukan, saya yakin para urban Mama sangat ahli dalam hal ini. Mengurangi berbelanja barang-barang baru berarti mengurangi juga jejak karbon kita di bumi ini.

Ohya, sudah amat sangat jelas kelihatan kan bahwa langkah-langkah di atas selain ramah lingkungan juga amat sangat ramah dompet? Satu lagi insentif bagi kita para ibu untuk melakukan langkah-langkah pelestarian lingkungan.

Mari selamatkan bumi kita tercinta. Mari didik anak-anak kita tercinta untuk menghormati Ibu Pertiwi. Mari berbagi di sini, apa lagi yang bisa kita lakukan…

 

14 Comments

  1. marce febriyanto
    marce febriyanto May 21, 2012 at 2:06 am

    momy sharing’y bagus banget…. makin inspiring.wlw d rumah mertua saya anti BS(barang second)… sy se ide,barang anak g harus baru… TFS y mom

  2. Kira Kara
    Bunda Wiwit June 4, 2012 at 11:46 am

    amaziiiinggg.. wah, ternyata banyak hal yang saya lakukan tanpa sadar ikut gerakan ramah lingkungan yach.. pdhl awalnya tujuannya hemat biaya. setujuuu banget… saya biasanya cuman bisa membatin kalo liat ibu2 sekarang ke depan gang beli nasi pecel aja bawa mobil.. hihihihi.. maap yaach.. Great share!!! sukaa banget sama artikelnya.. ^_^

  3. iyu
    yuliana karang June 4, 2012 at 12:10 pm

    love u Mia, love u Jojo, suka tulisannya.

    TFS

  4. armela praninditya
    arMela June 5, 2012 at 2:25 pm

    great choice mom..peduli lingkungan juga untuk masa depan anak cucu kita nantinya,

  5. Anggie
    Anggie June 5, 2012 at 2:47 pm

    Suka banget ma artikel ini, krn bertepatan dg Hari Lingkungan Hidup… :) Mungkin perlu ditambahkan karena sang anak pasti melihat ke orang tuanya.. Clodi untuk anak aka menstrual pad untuk mamanya… Ato hal2 semacamnya… most off all.. nice share…

  6. mamatanita
    Inggrid Beatrice June 5, 2012 at 4:30 pm

    like this article a lot..klo masih bagus, kenapa ga yah :) TFS

  7. siska.knoch
    Siska Knoch June 5, 2012 at 7:57 pm

    nice tips mama :)

  8. mama_Nara
    mama Nara June 7, 2012 at 3:03 pm

    wah ok banget mom artikelnya, tapi untuk diaper masih pake yang biasa nih, secara anakku sehari-hari di daycare, gak bisa lepas dari diapers. Dan Clodi gak boleh lah, secara disana pengasuh-pengasuhnya mengeluh nanti bau ompol dimana-mana :) padahal selama di rumah sendiri gak pake diaper sama sekali kecuali tidur malam.

  9. JenSuta
    Jennifer Sutarsa June 14, 2012 at 5:10 pm

    cerdas nih idenya, bener banget, harus bisa re-use selain ramah lingkungan, juga ramah kantong! hehehehe

  10. Honey Josep
    Honey Josep June 19, 2012 at 2:02 pm

    Mia, you are the greenest mommy ever :)

  11. desy wulansari
    Desy Wulansari June 27, 2012 at 2:29 pm

    Wow bener-bener eco-baby. Kalo AC kayaknya belum bisa off deh, habis Bekasi panas bangeet. Kasihan anakku gampang bruntusan kalo gak pake AC, yang point lain aku pasti bisa mencontoh. Thanks ya mbak

  12. cynkoirewa
    Cynthia Koirewa November 8, 2012 at 1:16 pm

    Salut for mama jojo,
    Mau juga di kasih lungsuran yg buanyaaak,hehehe :D

  13. hapsari.ayik
    hapsari.ayik May 3, 2013 at 1:58 pm

    Me.. basically the same way, nice :)

  14. Umah Nunki
    Nunki Herwanti October 21, 2013 at 2:36 pm

    Keren mom.. jadi terinspirasi untuk mengajarkan mencintai lingkungan dg cara yang berbeda spt ini.

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.