Be a Lamp, or Lifeboard, or a Ladder

Davincka
Jihan Davincka Simply a mom of 2, Nabil and Narda. 100% Buginese. Since 2009, living abroad along with her husband. Having many tremendous experiences from Tehran (Iran), Jeddah (Saudi Arabia) and now in Athlone (Ireland).
Florence Nightingale, “The Lady with The Lamp”, menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengabdi di dunia medis. Florence Nightingale adalah salah satu tokoh peletak dasar ilmu keperawatan modern.

Beberapa waktu lalu saya tuntas membaca biografinya.

gambar: en.wikipedia.org

Ternyata, Florence lahir dari keluarga sangat berada. Di masa itu, Eropa nyaris tidak mengenal kalangan menengah. Seringnya terbagi atas dua golongan saja. Kalau bukan keluarga bangsawan yang kaya raya, berarti super miskin.

Di masa remaja, Florence sudah merasa tersentuh dengan kehidupan golongan bawah yang sering disaksikannya sendiri. Hatinya sudah memberontak. Namun, seolah hidup dalam dua dunia, Florence pun menikmati hura-hura ala kalangan ningrat di masa itu. Untuk beberapa lama Florence sempat melupakan janji sucinya yang dituliskannya dalam buku harian di usia belasan dulu. Untuk mengabdikan hidupnya pada kemanusiaan. Larut dalam kesenangan dan pesta-pesta yang kerap dihadirinya.

Menjelang dewasa, Florence kembali gelisah. Florence merasa bosan dengan hidupnya yang hanya menghabiskan waktu dengan pesta, duduk-duduk di depan perapian hampir sepanjang hari, atau mengobrol hal-hal yang tidak penting dengan sesama teman-teman bangsawannya. Di masa itu, perempuan dari keluarga kaya tidak boleh bekerja. Yang boleh bekerja hanyalah perempuan-perempuan dari kalangan bawah saja. Niat Florence untuk bekerja membuat syok ibu dan kakak perempuannya.

Florence nekat bekerja sukarela di sebuah rumah sakit. Kondisi rumah sakit di masa-masa tersebut sangat mengenaskan. Kotor, jorok, dan sangat ramai. Florence sangat tertekan di antara tekanan batinnya sendiri dan penolakan orangtuanya atas niatnya untuk mengabdi bagi masyarakat.

Bertahun-tahun Florence sakit keras karena menuruti permintaan keluarga besarnya dan mengubur mimpi sucinya. Hingga akhirnya ibunya merelakan Florence bergabung di sebuah komunitias gereja untuk mempelajari ilmu keperawatan.

Begitulah awalnya hingga akhirnya Florence meretas jalan mendirikan sekolah-sekolah perawat dan mengobarkan semangat agar perempuan-perempuan dari keluarga berada menyumbangkan tenaga mereka di dunia medis. Sekaligus melawan dominasi patrialikal yang sangat kental di Eropa zaman itu. Menumbangkan paham bahwa perempuan seharusnya duduk-duduk manis dalam rumah saja mengurus keluarga.

Florence tak pernah menikah hingga akhir hayatnya. Ada dua hal yang menyebabkan Florence hidup berselibat sepanjang hidup. Pertama, ia merasakan ini sebagai panggilan Tuhan. Kedua, Florence merasa ia tak akan sanggup membagi mimpi besarnya ini kepada siapa pun. Ia tak ingin berbagi beban kepada calon anak-anaknya kelak. Belum lagi situasi saat itu tak membiarkan perempuan kalangan atas meninggalkan anak-anak untuk alasan pengabdian pada masyarakat sekali pun.

***

Beberapa tahun lalu, seorang teman lama menghubungi saya beberapa dalam pesan singkat via ponsel. Sapaan biasa ala kawan lama menjelma menjadi curhat.

Ia seorang dokter. Menikah di usia muda sehingga saat meraih gelar dokternya, ia sudah memiliki tiga anak usia kecil-kecil. Tadinya, saya kagum dengan keinginannya untuk mengasuh anak saja dan melepas karier sebagai dokter.

Walau demikian saya sempat ‘nyinyir’ juga. Kenapa masuk kedokteran kalau begitu? Di universitas negeri pula. Ia sudah merampas hak orang lain yang mungkin memang lebih cocok dan ingin mengabdikan hidup sebagai dokter.

Lama hubungan terputus. Hingga akhirnya ia kembali curhat. Ia gelisah. Ternyata, selama ini ia tidak enak pada keluarga besar dan kenalan yang menghujat niatnya untuk menjadi dokter karena harus banyak meninggalkan anak-anak di rumah dengan pengasuh atau asisten rumah tangga. Padahal suaminya (yang bukan seorang dokter) sangat mendukung niatnya untuk terus berkarier di dunia medis.

Saya langsung memberinya semangat!

Saya tegaskan bahwa saya ini seorang ibu rumah tangga yang memilih untuk di rumah daripada melanjutkan karier di kantor tidak karena perintah siapa pun. Suami saya saja tahu pasti kok, ia tak akan mungkin bisa memerintah saya berhenti bekerja.

Foto: Bersama teman-teman semasa berkantor dulu, memerah susu di Nursery Room untuk ananda tercinta di rumah

Saya jelaskan padanya panjang lebar, ini adalah keputusan saya pribadi. Tidak pernah sedikit pun saya merasa keren, hebat,  atau apa pun hanya karena memillih di rumah padahal saya sudah mengenyam pendidikan tinggi. Simpel. Menjadi wanita karier ternyata bukan panggilan jiwa saya. Walau butuh bertahun-tahun untuk menggali, Alhamdulillah saya sudah menggenggam sebuah passion sejati erat-erat dalam hati saya. Kebetulan saja, passion itu memungkinkan saya di rumah sepanjang hari.

Saya semangati teman saya. Saya minta ia cari pengasuh anak yang baik atau menitip pada kerabat lain anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Toh, ia mengaku tersiksa juga dan tidak benar-benar ikhlas melepaskan niatnya untuk mengabdi menjadi dokter.

Jadi, apa gunanya ia di rumah? Mana bisa ia membesarkan anak-anak dengan bahagia kalau siksaan batinnya seperti itu?

Alhamdulillah. Walau ia cerita susah sekali mencari beasiswa spesialis yang biayanya selangit itu dan harus bersaing dengan banyak dokter muda,dia akhirnya berhasil. I’m proud of you, my girl. Tidak ada kata terlambat.

Untuk dua profesi khusus ini: pengajar dan dokter, saya tak pernah segan-segan meminta teman-teman perempuan saya untuk menguatkan hati dan meneruskan pengabdian untuk masyarakat. Tapi niatnya harus benar. Kecuali jika dengan ikhlas mereka memilih untuk ‘stay at home’. Saya ingat kata-kata Ibu Risma di Mata Najwa waktu itu, “Saya minta Tuhan yang menjaga anak-anak saya.” Saking sibuknya mengurus Surabaya, Ibu Risma mengaku, ia sampai tak punya waktu lagi untuk mengurus para buah hatinya.

***

Saya yakin sekali, kita tidak diciptakan seragam. Termasuk kaum perempuan. Menjadi perempuan itu memang serba salah, ya. Tekanan terbesar justru datang dari peer pressure.

It really breaks my heart ketika tempo hari beredar sebuah gambar dengan kata-kata yang menusuk hati. Bahkan untuk saya yang seharusnya tidak perlu tersinggung dengan gambar tersebut. Kata-katanya halus, tetapi menghujam tepat di ulu hati. Tak heran setelah itu banyak teman-teman perempuan yang berpredikat ‘ibu kantoran’ curhat di status masing-masing.

Gambar tersebut menyindir ibu-ibu yang menitipkan pengasuhan anaknya kepada pengasuh anak/ART dengan sebuah percakapan seorng anak dan ibunya. Sang anak digambarkan sedih karena sang ibu konon tidak rela menyerahkan perhiasan berharganya kepada ART tapi menyerahkan pengasuhan anaknya kepada mereka.

Sebuah justifikasi yang justru membuat saya sedih. Why do we have to judge each other?

Seharusnya kita, para perempuan yang kini sudah punya predikat tambahan sebagai ibu, saling menyemangati untuk menjadi versi terbaik dari diri kita masing-masing.

Daripada menghina mereka, ibu kantoran, yang tak sanggup memberikan ASI kepada buah hati, kita desak saja pemerintah untuk memberikan cuti setahun penuh kepada ibu-ibu bekerja yang baru melahirkan. Seperti di negara-negara maju. Cuti setahun plus digaji pula. 

Daripada meremehkan mereka yang lulusan perguruan tinggi ternama tapi memilih berada di rumah, kita desak pemerintah menyediakan internet cepat dan murah. Saya tahu pasti dan bergabung di banyak komunitas di mana isinya adalah stay at home Moms yang tetap aktif mencari penghasilan via internet.

Kita harusnya bersatu menyuarakan hak dan kepentingan kita. Bukannya malah perang sendiri dan saling mengobarkan propaganda yang menjatuhkan.

Ingatlah Florence Nightingale yang begitu sulit mendobrak dinding yang membatasi gerak perempuan di zamannya. Ingatlah Ibu Risma yang berbesar hati mengabdikan kemampuannya untuk masyarakat Surabaya lebih dari baktinya untuk keluarganya sendiri.

Memangnya ingin ya, semua perempuan punya pikiran yang sama? Terus tidak akan ada dokter perempuan? Tidak boleh ada perawat perempuan? Dosen dan guru pun hanya boleh untuk laki-laki saja? Itukah yang kita inginkan?

Di masa sekarang, semua perempuan harusnya bisa menjalani peranan apa pun tanpa tekanan apa-apa. Asal ingat, sekali lagi niatnya harus benar. Untuk mereka yang memilih tetap aktif di luar rumah setelah memiliki anak selalu rapalkan dalam hati untuk luruskan niat, luruskan niat. Selalu meluruskan niat.

Perempuan hebat adalah mereka yang bangga menjadi dirinya sendiri. Menebar inspirasi positif tanpa membuahkan energi negatif .

Pick your own path. Yakini keputusan sendiri tanpa merasa perlu menghujat orang lain dengan pilihan yang berbeda.

For the power of all women in the whole world, apakah memilih untuk menjadi stay at home mom, menghabiskan waktu lebih banyak di dapur, menenggelamkan hari dengan buku-buku, berkarier di kantor, mengabdi di rumah sakit, membagi ilmu di sekolah/kampus, menulis di blog, sekadar berbagi tips masak di grup-grup WA, whatever it is… just be the best version of you.

Mari saling melengkapi.

***

Be a lamp, or a lifeboat, or a ladder.
Help someone`s soul heal.
Walk out of your house like a shepherd.

-Rumi-

featured image credit: gettyimages.com

13 Comments

  1. allia altair
    allia altair April 29, 2014 at 7:31 am

    Well said, Mba Jihan. Saya termasuk yang bete juga waktu ada postingan tentang menitipkan perhiasan vs menitipkan anak ke art. Meninggalkan anak untuk mengajar saja sudah bikin hati teriris, ini kaya diguyur air garam. Tapi ya sudahlah. Anyhow, saya sangat setuju bahwa hidup kita harus bermanfaat untuk orang lain. Terima kasih sudah mengingatkan, Mba. :-D

  2. febriandina
    febriandina April 29, 2014 at 9:06 am

    bagus banget mbak.. bener2 menggambarkan perasaan ibu kantoran macam saya yang tiap kali ketemu orang lain selalu dapet pertanyaan : “klo di kantor anaknya di titip sam siapa?” sedih banget karena kesannya kok kayak meninggalkan tanggung jawab.
    tapi ya sepertinya yg di bilang di atas, setiap perempuan punya pilihan kok.. dan sudah seharusnya sesama perempuan saling menghargai pilihan nya masing2, tanpa perlu menghakimi :)
    4 thumbs up for your article mbak :)

  3. Nina Arief
    Nina Arief April 29, 2014 at 1:26 pm

    Mba jihaann.. Selalu suka tulisan mbak yg bijak,di tengah2, tdk men judge.. Bikin kita sebagai ibu, apapun kita, menyadari bahwa kita masing2 punya kelebihan.. Sedikit cerita, saya mama dr 2 anak (3 thn & newborn), sudah 2 thn ini menjalani pendidikan dokter spesialis penyakit dalam (dan Insya Allah masih sekitar 2 thn lg selesai). Sebagian besar waktu saya habiskan utk jaga di RS, anak di rumah dgn eyang dan mbak nya, sementara papa nya kerja di luar kota. Beban tugas sehari2 yg berat seringkali membuat saya stress dan capek luar biasa. Awal2nya saya seringkali menangis, berpikir lagi apa betul keputusan saya utk sekolah lagi. Padahal suami jg sudah mengizinkan asal saya bisa mengatur waktu dgn baik. Saya merasa mjd ibu yg tidak baik karena tidak bisa selalu ada di samping anak. Lalu saya ingat2 lg motivasi saya dulu mjd dokter, yaitu ingin membantu sesama. Sebuah tantangan utk saya, bagaimana saya bisa mjd ibu yg sebaik2nya utk ke 2 putri saya tp jg tetap menjalankan profesi saya. Saya selalu ingat sebuah quotes dari tulisan mba jihan dulu “Every mom has her own battle”..siapapun itu, baik WM,SAHM maupun WAHM,masing2 punya perjuangannya masing2 dan jangan men judge satu sama lain. Tfs yaa mbak jihan :)) tulisannya sangat menginspirasi & bikin jd semangat lagi!
    *oot nih, suka bgt buku the Davincka Code nya mbak :)) ditunggu karya2 selanjutnya yaa..

  4. BundaNyaAthaya
    BundaNyaAthaya April 30, 2014 at 11:30 am

    waaahh nge fans banget deh sama tulisannya mba jihann… salam kenal mba aku ini baru baca pertama kali postingnya mba jihan dan langsung jatuh hati dengan kebijaksanaanya menulis dan berpendapat…

    beneran seharusnya sesama perempuan menghargai masing2 posisi, sebagai hanya Ibu rumah tangga dengan perempuan yang sebagai kerja kantoran…

    semangat untuk semua the Urban Mama :))

  5. offira
    Offira Tampubolon April 30, 2014 at 7:55 pm

    Mba jihan.. Artikel nya bagus banget! Emang bener.. Semua ibu sama, ga ada yg namanya full time mother and part time mother.. Saling mendukung dan member semangat, bukannya melecehkan dan mematahkan arang..

  6. ZataLigouw
    Zata Ligouw May 3, 2014 at 12:23 pm

    stuju banget sama mama2 di sini, semua ibu sama, mau bekerja kantoran, bekerja di rumah, dll, sama aja, ibu-ibu juga :) yang punya tanggung jawab sama terhadap keluarga dan lingkungannya..

    thanks artikelnya Han!

  7. NikenWidowaty
    NikenWidowaty May 4, 2014 at 11:37 am

    Makasih artikelnya mbak, setuju. Apapun pilihan seorang ibu pastinya setelah dipikirkan baik-baik oleh pribadi masing-masing..

  8. arika
    arika May 5, 2014 at 12:50 pm

    saya benar2 tersentuh saat baca bagian ” Untuk mereka yang memilih tetap aktif di luar rumah setelah memiliki anak selalu rapalkan dalam hati untuk luruskan niat, luruskan niat. Selalu meluruskan niat”
    segala sesuatu memang berawal dari niat mba Jihan, tfs mba..
    suka banget baca artikelnya.

  9. bunda_rizma
    bunda_rizma May 6, 2014 at 10:00 am

    bagus bgt artikelnya.
    -terus luruskan niat-
    “ga peduli apa kata orang, hanya Tuhan yg Maha tau niat mulia kita.”

  10. cynkoirewa
    Cynthia Koirewa May 11, 2014 at 11:20 pm

    menjadi full time mother ato ibu yang nyambil kerja itu adalah pilihan dengan latar belakang dan alasan masing-masing seorang ibu.

  11. meilinasianturi
    meilinasianturi May 12, 2014 at 7:31 am

    thank you mba jihan, aku ibu bekerja punya 1 anak dan sedang hamil, sempet juga pernah dapat postingan gambar itu, sejenak kesal, tp aku ambil positifnya, bahwa ibu bekerja ingat ada prioritasnya, anak adalah segalanya. Trus aku selalu pegang prinsip ini: “Being a Working Mom or Full Time Mom is not a dilemma is a blessing”, banyak yang bilang ga mungkin bisa seperti itu, tp ya aku merasa nyaman dengan punya mindset ini. Karena itu, kita terus berusaha dan berdoa bahwa anak kita bisa bertumbuh sehat, dan pastinya tangan Tuhan gak kurang panjang untuk memelihara dan melindungi anak2 kita.

  12. ibunya_musaid
    indah sri mulyani May 13, 2014 at 7:31 pm

    Aduh mbak Jihan, njenengan membuat saya nangis lagi setelah sekian lama tidak nangis. Saya seorang guru, juga ibu 1 putra. Di kantor, alhamdulillah para Bapak pemegang keputusan selalu mempertimbangkan ibu2 yang punya anak kecil. Betul2 saya bersyukur, sehingga bisa punya quality time 5 jam dengan anak saya yang jam 7 malam sudah tidur. Setiap tugas, kita laksanakan dengan penuh tanggung jawab, setiap waktu bersama anak, juga kita nikmati sepenuh hati. Saya meyakini itu. ketika kantor meminta waktu lebih, maka anak akan mengerti. Ketika anak minta perhatian lebih, kantor juga akan mengerti. Intinya, beri dua2nya kepercayaan.

  13. bunda dayana
    bunda dayana May 16, 2014 at 5:29 pm

    Baguuus bangeet..sangat bijak.
    terima kasih untuk menambah pembelajaran saya hari ini.

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.