BERA Test

metameta

Beberapa saat yang lalu, saya mengantarkan Nayara(5mo) menjalani pemeriksaan BERA. Brainstem Evoked Response Audiometry ini adalah pemeriksaan untuk melihat ambang dengar pada telinga anak. Pemeriksaan ini sangat dianjurkan pada anak dengan keterlambatan bicara atau speech delay, riwayat infeksi TORCH pada kehamilan, bayi yang lahir prematur, bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2500 gram, riwayat jaundice atau hiperbilirubinemia, riwayat tidak langsung menangis saat lahir, riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran, atau bayi dengan sindroma tertentu, misalnya Down Syndrome.

Sebenarnya saya yakin pendengaran Nayara tidak apa-apa karena dia sering kaget setiap mendengar suara yang keras. Selain itu Nayara juga merespon terhadap suara-suara di lingkungan sekitarnya. Walaupun terkadang juga cuek, lebih asyik main sendiri dengan kaki tangannya.  Tapi, karena Nayara prematur, lahir dengan berat 2500 gram, tidak langsung menangis saat lahir, pernah hiperbilirubinemia berulang dengan kadar bilirubin total paling tinggi mencapai 27mg/dl, I don’t want to take any risk, toh todak ada salahnya diperiksa. Pemeriksaan BERA ini uninvasive, jadi tidak menyakitkan.

Pada waktu mendaftar, saya diberikan list hal yang harus dilakukan di rumah sehari sebelum dilakukan pemeriksaan BERA ini. Membersihkan dahi, belakang telinga, memastikan bayi tidur cukup serta membawa susu dalam botol adalah beberapa di antaranya.

Di hari pemeriksaan, Nayara dites respon pendengarannya dulu. Kami dibawa ke ruang kedap suara, kemudian Nayara dihadapkan pada mainan. Tanpa sepenglihatannya, ada petugas yang membunyikan terompet kecil, bel sampai krincingan di samping dan di belakang Nayara untuk melihat bagaimana responnya. Ternyata, Nayara cuek saja, lebih asyik melihat mainan di depannya. Duh, saya langsung deg-degan!

Kemudian, dilakukan pemeriksaan otoskopi. Ini untuk melihat apakah telinga Nayara ada sumbatan berupa kotoran atau tidak, hasilnya bersih, sehingga bisa langsung dilakukan BERA.

Pertama, Nayara diminumkan obat tidur (rasanya pahit sekali) yang membuat Nayara menangis teriak-teriak. Setelah tertidur, barulah Nayara dibawa ke bed pemeriksaan. Dipasangi kabel di kepala dan telinganya. Pemeriksaan ini berguna untuk melihat reaksi sistim saraf pendengaran dan batang otak (brainstem) pada saat dilalui oleh rangsangan bunyi.

Proses ini memakan waktu kurang lebih 1 jam. Alhamdulillah hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa indera pendengaran Nayara dalam batas normal. Menurut saya, jika terdapat faktor resiko pada bayi kita, deteksi dini sangatlah penting. Dengan deteksi dini, bila memang ada kelainan-apapun jenisnya-pada bayi kita, intervensi dini juga dapat dilakukan.

7 Comments

  1. marce febriyanto
    marce febriyanto October 24, 2011 at 3:49 am

    mom ini pemeriksaan wajibkah?/quinsha sie baik-baik aja… cm klo dh fokus sama satu hal(mis:nonton fav movie) dipanggil kenceng jg ga bakal nengok :(

    boleh tau mb periksa dimana?tq yaa

  2. thelilsoldier
    inga October 24, 2011 at 5:01 am

    naya cantik.. alhamdulillah hasil tesnya bagus ya.
    kiss kiss..

    btw met, kalo attar pernah hiperbilirubin sekali sampai 26, ngga perlu tes ini kan ya?

  3. indriani budi utami
    indriani budi utami October 24, 2011 at 6:55 am

    TFI yah mbak..Alhamdulillah hasil test Nayara bagus. Ikut senang.
    Anak pertamaku kebetulan mengalami speech delay, dulu waktu umurnya 1-2 thn, kami sempat maju mundur mau test BERA ini, walaupun akhirnya nggak jadi. Alhamdulillah skrg bicaranya sudah lumayan.

    Waktu melahirkan anak ke-2 kurleb 1 bulanan yang lalu di RS Borromeus Bandung, habis lahir (setelah IMD), anakku langsung di test pendengaran juga, tapi dengan tes Otoacoustic Emissions (OAE)

  4. metameta
    Meta Hanindita October 24, 2011 at 8:15 am

    @marce: ini periksa di rs dr soetomo surabaya:D
    @inga: mphh.. salah satu indikasi tes ini emang hiperbilirubinemia sih. Engga ada salahnya diperiksa:) Kadang baru keliatan manifestasinya di atas 1 taun kalo speech delay soalnya.
    @indriani: alhamdulillah bisa dilatih sampe lumayan yaa.. Iya OAE juga bisa, tapi BERA lebih sensitif. Sama aja kok:D

  5. BunDit
    BunDit October 24, 2011 at 8:49 am

    Jadi inget dulu waktu Dita umur 6 bulan juga tes BERA karena hasil tes OAEnya sesaat setelah lahir, telinga kanannya “PASS”, yang kiri “REFER”. Waktu 3 bulan, di tes OAE ulangan, alhamdulillah hasilnya kedua nya PASS, tapi untuk meyakinkan, Dita direkomendasikan tes BERA, alhamdulillah hasilnya bagus, lega .Kata dokter THT nya, waktu itu tes OAE bisa REFER karena bisa jadi ada kotoran/lemak yang menghalangi.(http://alumongga.wordpress.com/2009/01/30/tes-pendengaran-buat-dita/)

    Btw, waktu tes BERA memang anak harus dalam keadaan tidur nyenyak, itulah yang memakan waktu lama, susahnya bikin Dita tidur. Saat udah di mulai tes nya, eh anaknya bangun, gagal deh. Waktu itu kata dokternya sih untuk anak bayi tidak dianjurkan pakai obat tidur. Walau susah, alhamdulillah akhirnya Dita tertidur nyenyak dan tes BERA bisa dilakukan dengan sukses. Sampai Dita usia skr (3y4m), alhamdulillah tidak ada masalah pendengaran, justru kayaknya lebih sensitif soal suara daripada Bundanya :D

    Alhamdulillah ikut senang tes BERA Nayara hasilnya bagus. Selalu sehat ya Nayara :-)

  6. elforeni
    MeLa naiBaHo October 26, 2011 at 8:30 am

    sekarang bayi lahir sudah ada paket tes BERA dan OAE walaupun lebih diutamakan anak-anak dengan kategori seperti yang disebut mama nayara

    Favian sempat didiagnosa speach delay dan harus menjalani tes OAE BERA bahkan ASSR, informasi ASSR lebih detail lagi dari BERA dan hanya ada 7 atau 5 *lupa* rumah sakit saja di Indonesia

  7. rini aini
    rini aini January 25, 2012 at 5:16 pm

    bermanfaat bgt info nya, kebetulan babyku Tegar waktu lahir beratnya 2,250 gram dan memang lahir dalan usia 8 bulan, mungkin ada baiknya aku tanya dokter nya perlu BERA test atau gak.

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.