Berdamai dengan Microtia

“Dok, telinganya satu tidak ada.”

Melongo, tidak tahu harus berkata apa begitu mendengar kata-kata mertua. Rasanya ingin lari memeluk suami, tapi apa daya, dokter juga sedang sibuk mengeluarkan plasenta bayi yang masih tertinggal di rahim saya. Dokter juga kaget. Terlebih suami, begitu tahu, ia langsung menangis. Mungkin memikirkan nasib anak perempuannya kelak.

[caption id="" align="alignnone" width="620" caption="Neysa saat berumur 2 bulan"][/caption]

Kehamilan kedua saya ini memang tidak direncanakan. Bukan tidak direncanakan sih, melainkan terlalu percaya diri untuk tidak menggunakan alat kontrasepsi apa pun. Padahal anak pertama saya masih berusia 7 bulan saat hamil anak kedua. Begitu tahu hamil lagi, saya juga biasa saja. Hanya agak khawatir tentang ASI anak pertama saya. Alhamdulillah, ternyata menyusui saat hamil diperbolehkan selama tidak mengganggu keadaan ibu dan janin.

Kehamilan kedua ini pun saya santai, kontrol ke dokter kandungan juga hanya empat kali saja. Tidak seperti saat kehamilan pertama, setiap bulan rajin kontrol. Saya baru kontrol pertama saat usia kehamilan kurang lebih 5 bulan dan dokter menyatakan kehamilan saya baik-baik saja serta tidak perlu imunisasi lagi karena jarak kehamilan yang berdekatan. Saat kontrol kedua pun dokter mengatakan janin saya baik-baik saja. Kontrol berikutnya saat usia kehamilan saya hampir memasuki usia 9 bulan, saat itulah dokter menyatakan bahwa saya mengalami polihidramnion atau kelebihan air ketuban. Dokter langsung mengecek kondisi janin saya, karena salah satu akibat dari kelebihan air ketuban adalah risiko cacat janin. Namun saat pemeriksaan tersebut, tampaknya kondisi janin saya baik-baik saja. Entah kenapa, perasaan saya saat itu sudah terbayang bahwa anak saya mungkin tidak memiliki telinga. Dan ternyata memang benar. Anak saya mengalami microtia grade 3 sebelah kanan dengan asimetris wajah. Sekilas tentang microtia dapat dilihat di sini.

Setelah melahirkan, mulailah saya mencari tahu tentang microtia ini. Namun  informasi yang saya dapat sangat sedikit. Yang ada di pikiran kami saat itu hanyalan ingin mengetahui apakah lubang telinga dalam anak saya ada atau tidak, sehingga saya dan suami memutuskan ke Makassar untuk melakukan CT-Scan karena rumah sakit di daerah saya saat itu belum memiliki alat itu. Saat itu kami juga belum mengetahui tentang tes BERA. Mungkin karena dari awal kami konsultasinya ke dokter anak, bukan ke dokter THT. Alhamdulillah hasil CT-Scannya baik. Namun kami tetap saja was-was dengan pendengarannya kelak.

Seiring berjalannya waktu, Neysa, gadis microtia kami tumbuh seperti anak normal lainnya dengan kemampuan mendengar yang kami anggap “normal” sehingga kami tidak terlalu khawatir lagi. Beruntungnya lagi, ternyata kami tidak sendiri. Setelah bergabung dengan grup microtia, kami jadi senang karena bisa mendapat informasi mengenai microtia, termasuk tentang operasi rekonstruksi telinga yang ternyata sudah bisa dilakukan di beberapa rumah sakit besar di Indonesia. Namun saat ini kami hanya mempersiapkan diri untuk memberikan jawaban yang baik jika kelak Neysa bertanya mengenai kondisi telinganya yang berbeda dan mempersiapkan mentalnya agar percaya diri dengan apa yang dimilikinya serta selalu bersyukur dengan kondisinya. Tentu saja, mental kami sebagai orangtualah yang harus lebih percaya diri dalam menghadapi gunjingan orang lain. Mengenai operasi rekonstruksi telinga, kami pun tidak akan memaksakan kehendak agar ia menjadi “sempurna”. Biarlah anak kami yang menentukannya nanti.

Untuk para orangtua yang anaknya mengalami microtia, jangan “malu” dengan kondisi anak kita. Allah tidak akan pernah salah dalam menciptakan makhlukNya.

8 Comments

  1. avatar
    hanana fajar October 3, 2016 8:20 am

    Neysa anak yang cantik dan pinter:) Insya Allah Neysa akan tumbuh menjadi gadis yg percaya diri dan selalu sehat ya...tfi mama Lhya..

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Cindy Vania October 1, 2016 8:36 am

    Neysa dari bayi udah cantik yaa. :)

    Aku baru tau tentang microtia ini, terimakasih untuk penjelasannya ya mama Lhya.

    Semoga Neysa sehat selalu yaa :)

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    nurlyah September 29, 2016 6:51 am

    mbak zata: Waaah ternyata bagian dari keluarga microtia juga.. *peluk.. Alhamdulillah, emang harus di ajarin menerima keadaan ya mbak sama pede.. Insya Allah keluarga besar tidak mempermasalahkan keadaan neysa..

    Mbak Febifebi : Sependek pengetahuan saya, belum ada yang tau penyebab microtia ini mbak. waktu hamil kemarin pun juga saya tidak merasakan apa-apa ya, makanya saya "santai", heheh.. Iyaaa, semua orang yang lihat bilang neysa cantiiik.. tidak ngikut muka ibunya yang standar..hahaha..

    Mbak woroluvpink : iyaaa betuuul.. saiah selalu bersemangat.

    Mbak eka :aamiin.. Makasih mbaaak.. :*

    Terimakasih udah dipublish. Semoga berguna. Saya sambil benerin profil dulu.. ga punya poto, nanti dikira penyusup.. :)

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Eka Gobel September 28, 2016 5:56 pm

    Ah terharu bacanya. Keren deh, mama lhya dan suami. Nesya semoga tumbuh sehat dan baik hati yaa :*

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    Woro Indriyani September 28, 2016 3:49 pm

    Salut sama mama Lhya, semangat selalu yah mam. Semua anak terlahir sempurna :)

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.