Co Housing, Alternatif Memiliki Rumah Idaman

Salah satu permasalahan yang sering terjadi pada keluarga muda saat ini adalah sulitnya memiliki rumah idaman dengan desain yang bagus, berlokasi di area yang strategis namun dengan budget terbatas. Cara mengakalinya sering kali kita mau tidak mau berusaha mencari lokasi di pinggir kota atau di area yang jauh dari tempat beraktifitas agar dapat sesuai dengan budget yang dipunyai.

Namun, apakah menurut urban mama dan urban papa mencari rumah yang nyaman, berlokasi tidak begitu jauh dari kota, dan dengan harga yang tidak begitu mahal itu masih memungkinkan? Jawabannya tentu saja bisa, selama kita kreatif dan mau berpikiran terbuka.

Sebenarnya, permasalahan keterbatasan lahan untuk pembangunan rumah ini bukan cuma terjadi di negara kita saja. Di luar negeri, masalah ini sudah lama terjadi sehingga telah muncul berbagai konsep untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satunya adalah konsep yang diberi nama ‘CoHousing’ atau kependekan dari ‘Community Housing’.


Ide dari konsep CoHousing adalah mengembangkan sebuah perumahan dengan cara mengumpulkan orang-orang yang berminat di satu lokasi yang kemudian membangunnya secara bersama-sama. Proses perencanaannya pun dapat dilakukan dengan proses musyawarah di antara calon penghuni tersebut.

Ide yang seru bukan? Bayangkan jika urban mama dan urban papa bisa mempunyai rumah yang bersebelahan dengan beberapa sahabat atau keluarga, suasana yang tercipta sudah pasti akan lebih meriah dibandingkan dengan tinggal di kompleks perumahan konvensional yang seringkali terkesan dingin dan tidak mengenali tetangga kanan-kiri.

Tidak mau ketinggalan dengan negara lain, di Indonesia juga sudah berkembang beberapa komunitas yang ingin merencanakan rumahnya dengan konsep CoHousing. Sebut saja Komunitas Rumah Bersama yang sudah berdiri sejak November 2013 dan DFhousing yang didirikan setahun setelahnya. Komunitas tersebut terus mencoba mengimplementasikan konsep CoHousing agar dapat digunakan di Indonesia.

Ada berbagai cara memodifikasi konsep CoHousing ini agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap peminat. Urban mama dan urban papa bisa memulainya dengan mengajak beberapa teman atau keluarga untuk mencari lahan yang sekiranya dapat dihuni bersama-sama. Setelah lahan dirasa cocok, baik dari segi bentukan maupun harga, urban mama dan urban papa dapat langsung berkonsultasi dengan arsitek untuk berdiskusi area apa saja yang bisa digunakan sebagai rumah masing-masing, berikut dengan fasilitas bersamanya. Setelah semua sepakat, barulah membeli lahan tersebut dengan cara urunan melalui bantuan bank.


 Salah satu keuntungan mengikuti konsep CoHousing ini adalah bahwa kita bisa mengatur berapa biaya pembangunan rumah yang kita inginkan. Dampaknya adalah keseluruhan biaya yang kita keluarkan pasti akan jauh lebih hemat daripada membeli rumah di developer yang tentu saja sudah terdapat berbagai biaya ‘tambahan’ di dalamnya seperti biaya promosi, marketing, dan lainnya. Belum lagi bahwa di konsep ini, kita bisa memilih tetangga yang kita inginkan, bukankah faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan kita?

Namun, di antara berbagai keuntungan yang didapat, tentu saja ada kekurangan dari konsep mendapatkan rumah dengan cara ini. Selain repot dan ribet, konsep mencari rumah  dengan cara seperti ini sangat tidak cocok untuk mereka yang ingin memiliki rumah sesegera mungkin, atau mereka yang hanya ingin berinvestasi. Mencari lahan yang cocok tentunya tidak semudah kita membeli rumah di pameran properti yang seringkali ada 3-4 bulan sekali. Terlebih lagi untuk sekedar investasi, rasa-rasanya usaha yang dilakukan terlalu banyak, tidak sebanding apabila hanya untuk ‘menyimpan’ uang lalu dijualnya pada suatu hari.

Apa pun itu, yang dapat kita simpulkan saat ini adalah bahwa banyak solusi untuk mendapatkan rumah yang kita idamkan. Pada banyak kasus, konsep CoHousing ini sangat cocok untuk kita yang baru meniti keluarga kecil, tapi tidak tertutup juga konsep ini dijadikan solusi untuk siapa saja.

Bagaimana menurut urban mama mengenai alternatif mendapatkan rumah seperti ini? Semoga artikel ini membantu urban mama dan urban papa dalam memiliki rumah idaman. Kalau ada pertanyaan, jangan sungkan ya menulisnya di kolom komentar di bawah ini.

source : Dfhousing | Archdaily

 

Related Tags : ,,

12 Comments

  1. avatar
    Mia Ummi Kaltsum November 22, 2015 7:23 pm

    Waah, ini konsepnya bagus banget. Dari dulu pengen tetanggaan sama adik2 dan keluarga/teman dekat. Bisa tanya2 ttgdfhousing community dimana?

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Fransisca M Lambe November 14, 2015 1:04 am

    keren abis...konsep ini sudah sering aku tawarin ke teman dekat ama keluarga.. nga' nyangka kalo ternyata udah ada komunitasnya.TFS ..wiih pengen banget nih segera diwujudkan.

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Putri Widyastuti November 13, 2015 1:58 am

    Uwooo.. keren kereeenn!!
    Jadi, cohousing ini konsepnya mirip cluster atau townhouse gitu yaa.. cuma tetangganya ya teman2 kita sendiri. Konsep dan bikinnya juga bareng2.

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Angie Renata November 12, 2015 4:36 pm

    Yuhuuu Mande keren banget! Selain Jakarta juga mau ada di kota lain ya? Semoga lancar yaa. Pengen banget punya rumah yang tetangganya kompak semua. Kebayang akan seru & bisa buat kegiatan sama-sama ya :)

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    Retno Aini November 11, 2015 3:49 pm

    Bagus juga ya konsep CoHousing ini. Bangunnya bareng-bareng, plus dari awal spt udah milih tetangga :D

    1. avatar

      As .