Dear Son, Fly Abandonedly into The Sun

Davincka
Jihan Davincka Simply a mom of 2, Nabil and Narda. 100% Buginese. Since 2009, living abroad along with her husband. Having many tremendous experiences from Tehran (Iran), Jeddah (Saudi Arabia) and now in Athlone (Ireland).

Memiliki anak laki-laki memang berbeda dengan anak perempuan. Kata ibu mertua, anak perempuan itu sedari kecil sudah bisa dimintai tolong. Misalnya punya adik, kakak perempuan sudah punya inisiatif mengambilkan diaper pengganti saat acara ganti popok. Kalau dibiarkan bermain berdua dengan adik laki-lakinya, naluri si kakak perempuan akan otomatis menjaga adiknya.

As for me, tidak masalah. Laki-laki, perempuan, sama saja. Melahirkan anak pertama dan kedua, sejak dalam kandungan, saya tidak pernah berharap jenis kelamin tertentu. Di USG pada trimester ke-2, baik kehamilan pertama dan kedua, saat dokter memberitahu jenis kelamin si janin, rasa bahagianya tetap maksimal.

Ada pun bila kedua bocah laki-laki saya ini menguras energi mamanya lebih banyak, tidak masalah juga Because One Day Mommy, I Won’t be This Small.

Suami saya mengaku. Dia mengharap anak perempuan agar katanya kalau kami sudah tua nanti, ada yang menjaga. Alasan suami masuk akal juga. Saya langsung berkaca tidak sebatas kepada ‘rumit’nya hubungan saya dan ibu mertua saya, tapi terhadap hubungan secara umum antara mertua perempuan dan menantu perempuannya. Menyadari saya punya 2 anak laki-laki, seketika langsung terpikir, “Sooner or later, my time will come.”

***

Dear son, hamil kalian berdua sama-sama tidak mudah bagi Mama. Kecele dengan istilah ‘morning sickness’Because in fact, rasa mual menyerang tidak hanya di pagi hari, tapi di sepanjang hari! Kompak sekali kalian . Membuat mama kewalahan dari minggu ke-5 hingga minggu ke-17. Belasan minggu yang penuh ‘warna’.

Belum lagi ‘persaingan terselubung’ penuh ‘drama’ dengan sesama mama-bunda-ibu lainnya yang tanpa sadar terus berlangsung. Mulai dari masa menyusui (ASI vs sufor), masa MPASI (buatan atau alami), memilih diaper (disposable atau clodi ramah lingkungan), jadi SAHM atau WM, etc, etc, etc. Siapa bilang menjadi mama itu murni urusan pribadi, Nak? Therefore, help your wife to get thru this someday, ya ;).

Lalu, ketika kalian masuk sekolah, profesi Mama otomatis bertambah. Dari yang tadinya sebagai perawat dan koki, Mama harus memainkan peran baru sebagai seorang guru. Aduh, mata pelajaran kalian lumayan berbeda dengan masa kecil Mama dulu. Susah, euy. Bahkan kurikulum negeri bule sekarang pun bikin Mama lagi-lagi kecele. Kata siapa kurikulum bule enggak seribet di tanah air?

Lalu, kalian akan abege dan remaja, makin sibuklah Mama jadi satpam. Hingga akhirnya, kalian akan dewasa kemudian… jatuh cinta kepada perempuan lain.

Lalu, kalian akan menikahi pujaan hati kalian dan mengayuh biduk kecil kalian, perlahan menjauhi kami, Mama dan Papa. Di situlah mungkin Mama akan mempertaruhkan rasa keikhlasan Mama. Karena Mama juga manusia biasa.

Masa iya, setelah susah payah merangkai kalian hingga suatu hari menjadi sehebat yang kalian bisa, Mama bisa santai-santai saja ketika tiba saatnya harus berbagi cinta dengan perempuan lain. Apalagi jika ternyata, perempuan itu berbeda dengan yang Mama harapkan.

Di titik inilah, Mama akhirnya sadar, “Apa yang kau tanam itu yang kau tuai.” Mama harus pandai-pandai mempersiapkan diri. Dimulai dengan menjalin hubungan baik dengan oma kalian, Mamanya papa. Mungkin semua kekhawatiran mama masih dalam angan-angan, sementara Oma sudah harus berhadapan langsung dengan kenyataan itu… sekarang.

***

Dear son, Mama juga ingin mempersiapkan yang lain. Dari sekarang, Mama mati-matian menjaga kesehatan. Sejak awal tahun ini Mama serius menjalani pola hidup sehat ala food combining. Tidak semata-mata karena mama ingin sekeren Angeline Jolie tapi lebih karena alasan kesehatan. Mama ingin tetap bugar di masa tua nanti agar kalian tak perlu mengkhawatirkan Mama.

Maafkan Mama juga ya, kalau suka kebablasan di depan laptop. Walau Mama melepaskan karier di kantor tapi tidak ingin mengabaikan kebahagiaan Mama sepenuhnya. Mama serius menjalani hobi menulis Mama agar di masa tua nanti Mama punya kesibukan. Untuk mencegah Mama menghabiskan hampir sepanjang waktu melirik layar ponsel berharap kalian menelepon Mama. Dan kalau kalian tidak menelepon, Mama takut Mama akan berprasangka buruk pada istri kalian.

Dear Son, Mama percaya, tak ada kebahagiaan yang bisa Mama bagikan untuk kalian bila Mama sendiri kesulitan berdamai dengan kebahagiaan Mama sendiri. Tapi tenang, sekarang ini, kalian adalah prioritas Mama. Tanya sama Papa, deh ;). Sebesar apa pun cinta Mama untuk kalian, Mama minta sedikit pengertian bahwa Mama ini tidak sempurna-sempurna amat.

Biar kelak kalian bisa membanggakan Mama di hadapan istri kalian, di depan cucu-cucu Mama, “Eh, Nenek itu penulis ternama, lho. Keren ya Nenek.” Aamiin. Itulah yang sedang Mama perjuangkan dari sekarang.

Dear son, walau sedari sekarang Mama berusaha keras memupuk rasa ikhlas dan mempersiapkan diri jika saatnya kalian berlayar di dunia kalian masing-masing, sadarilah. Mungkin di saat itu, sekali-sekali Mama akan cemburu atau iri. Sekali lagi, Mama manusia biasa :).

But I’ll do my best ;). Untuk membiarkan kalian menjadi yang kalian mau, memilih jodoh yang kalian inginkan, mengikhlaskan apa pun jalan yang kalian pilih, semata-mata karena cinta. Yang konon katanya, “Cinta itu berarti sanggup melihat orang yang kita cintai bahagia walau kita tidak termasuk dalam kebahagiaan itu.”

Tapi Mama yakin. Cinta kita, antara Mama dan kalian, selamanya akan memiliki tempat khusus di hati kita masing-masing. Tempat yang tidak akan terganggu walau kita tak akan bersama dalam satu atap lagi. Suatu hari nanti.

Kalau pun tak mungkin membawa serta Mama ke mana pun kalian melangkah nanti, tapi Mama harap kalian tak pernah lupa merapalkan nama Mama dalam doa-doa kalian. Bahkan sampai ketika nanti Mama tak ada di dunia lagi. Semoga Mama tetap bergema dalam hati kalian.

Dear Son, pada akhirnya Mama mengambil kesimpulan bahwa membesarkan kalian seperti merawat seekor kupu-kupu. Pas sekali dengan lirik lagu Tante Mariah Carey yang satu ini,  ”Butterfly.”

Butuh energi lebih untuk membesarkan kalian dari seekor ulat hingga bersayap sempurna. Untuk akhirnya … terbang dan pergi melanglang buana. Itulah yang memang seharusnya kalian lakukan. Pergilah sejauh yang kalian bisa. Mama sendiri sangat bahagia bisa mendapat kesempatan tinggal di berbagai tempat. My son, pengalaman adalah harta tak ternilai yang harus kalian perjuangkan hingga sejauh mana sayap kalian mampu menerbangkan kalian.

Fly my son(s), fly away my butterflies, fly abandonedly into the sun :). Adapun Mama akan tetap menjadi Mama di mana pun kalian nanti berada. Sejauh apa pun jarak yang nanti terbentang diantara kita. Selamanya akan mencintai kalian, sebesar yang Mama bisa.

Now I understand to hold you
I must open up my hands
and watch you …
Spread your wings and prepare to fly
For you have become a butterfly
Fly abandonedly into the sun
(Butterfly, Mariah Carey)

 

67 Comments

  1. mamarini
    rini September 19, 2013 at 6:20 am

    mbacanya bikin mbrebes mili,mbak jihan. anak perempuan ataupun anak lelaki sama khawatirnya kok mbak ..hiks hiks punya anak perempuan ,khawatir apakah dia nanti bisa mempertahankan diri menghadapi dunia dan berdoa tak henti2 agar kelak jodohnya baik dan sayang sama anak wedhokku.. memang menjadi ibu adalah proses pembelajaran..love your writing,mbak jihan

  2. ninit
    ninit yunita September 19, 2013 at 6:47 am

    jihaaan,
    terharuuu bacanya. kita sama banget… dua anak laki-laki. samaaa banget yang kepikiran :)

    yah kita nikmati yaa masa2 mereka masih dengan kita. anakmu ganteng2 deeeh jihan :)

  3. eka
    Eka Wulandari Gobel September 19, 2013 at 7:31 am

    Jihaan.. toss dulu deh kita sesama ibu dr 2 anak laki2. Anak udah sekolah aja udah berasa kangen krn ditinggal di rumah :) lg menikmati bgt masa2 bareng anak :)

  4. tatabayu
    Pritta Edison September 19, 2013 at 7:32 am

    pagi-pagi baca ini bikin terharu berhasil tertegun membayangkan bbrp puluh tahun lg, saat mereka menikah.. sama2 punya anak laki2,, aku juga berusaha menempatkan diriku di posisi ibu mertuaku, sebisa mungkin aku memberikan waktu utk suami & ibu mertuaku punya waktu utk mereka berdua, sekedar ngobrol di telfon atau jalan bareng.. sekarang saatnya kita nikmatin masa2 mereka bersama kita.. :)

  5. kadekalmaniora
    Kadek Almaniora September 19, 2013 at 7:33 am

    aaaa…mbak jihan…aku nangis loh baca ini…mengingat anakku jg cowok…n aku posesif…ga kebayang ntar klo dya punya pacar apalagi istri…aku pasti cemburu berat…hiks… :’(

    semoga nantinya aku bisa jadi mertua yang baik bwt mantuku… amien…

  6. adyn
    Dinny Pratami September 19, 2013 at 8:08 am

    Aiiiih… Pagi2 udh mrebes mili. Makasih sudah berbagi mama Jihan :)

    Jadi kangen anak nih!

  7. Ningning
    Ningning September 19, 2013 at 9:34 am

    Hiks… *nyaritissue*

  8. Shinta_daniel
    Shinta Daniel September 19, 2013 at 10:05 am

    Jihan, pilihan kata2nya maknyess banget deeeh :’).. punya anak laki atau perempuan sama2 punya tantangan tersendiri.. group hugs sama urban mamas semua.. semoga kita bisa jadi orang tua yang ‘terbaik’ untuk anak2 kita..

  9. wully
    wully September 19, 2013 at 10:12 am

    sukaaaa sangat dengan tulisan mbak jihan..mbacanya plus nangis sambil sembunyi2 *malu* he…jadi makin mengingatkan bahwa aku ga boleh egois dan harus berusaha memahami perasaan ibu mertuaku ;) thanks ya mbak jihan *kiss2*

  10. leeca
    leeca September 19, 2013 at 10:26 am

    aahh.. jd membayangkan beberapa belas/puluh tahun lg..
    smoga nanti aku bs jd mertua yg baik seperti ibu mertuaku.. amiiinnn
    Tfs ya mbak jihan :)

  11. novi haryanti
    nupp September 19, 2013 at 10:43 am

    adek dan kakak lucu banget, ekspresif!
    terharu sekali ngebacanya.
    saya selalu ingat nasehat papanya anak2 (yang notabene anak ibu banget, sangat menyayangi dan mengidolakan ibunya) dan bersyukur sekali saya sangat dekat dan akrab dengan ibu mertua.
    “Buatlah legenda mama sendiri di hati anak-anak, sehingga mereka akan selalu mengenang mama walaupun mama sudah tidak ada di dunia ini” huft… my child, i love u much…..

  12. bethesdita
    bethesdita tarigan September 19, 2013 at 11:15 am

    aaaah, langsung nyes deh baca tulisan ini..
    thanks for share mbak Jihan :)

  13. wiwien09
    wiwien09 September 19, 2013 at 11:55 am

    mbrebes mili ra karuan…jadi pengen uwel2an ma anak di rumah..

  14. Tamie Chan
    Lestari Utami September 19, 2013 at 11:58 am

    Mbak Jihan tulisannya selalu bagus, bikin terharu dan jadi berkaca sama diri sendiri.
    Sama persis yg dipikirin nih, krn anak pertama saya laki-laki.
    Kata almarhumah mamah saya “anak laki-laki yang dekat dengan ibunya itu biasanya lebih bs menghargai&mengormati perempuan”
    Semoga anak-anak kita nanti bisa menjadi imam yang baik yah buat keluarganya :) Amiiin…

  15. heraaidil
    Hera Eka Putri September 19, 2013 at 1:06 pm

    Mbak Jihan, terharuu banget baca tulisannya.. It’s so me.. anakku dua2nya cowo.. baru belajar ikhlas jadi orang tua dari sekarang, walo belom tau nih when the time comes by, bener2 bisa ikhlasin.. thanks for sharing ya mbak..:)

  16. Kira Kara
    Bunda Wiwit September 19, 2013 at 3:30 pm

    haduuuhh… kok berasa ketebak lamunanku ya. tadi otw ke kantor, di jalan lagi ngelamun kalo anak2 nikah dan punya menantu. rasanya jadi mertua, dan bla..blaa… hiks… it did beat me! slap me! Thanks a lot for remaining me to prepare everything ^^ *bighug jihan*

  17. vie2heroes
    Vivie Pambudi September 19, 2013 at 3:58 pm

    Terharu bacanya. Berfikir hal yang sama, kelak akan merasakan sebuah kekhawatiran kehilangan jagoan2 kecil saat mereka mulai memiliki dunia mrk sndiri, huaaaa….

    But that’s life…akan berjalan seperti itu dan kita harus menjalaninya.
    Thank’s for sharing, semangat mamaaaaaaa…. hugs.

  18. dewiamel
    dewiamel September 19, 2013 at 4:03 pm

    uhuk…. anak gw juga 2cowok. kakak2 jg anaknya cowok semua. pemikiran kalau suatu hari nanti akan menjadi mertua memang sedikit menakutkan. tp ya harus ikhlas. dan gak lupa berdoa “semoga pada saatnya nanti, gw gakan jadi mertua yang hari ini gw gak sukai”
    dan “semoga anak2 tetap sayang n senantiasa mendoakan si bubun yang udah nenek2″ :)

  19. sypuspa
    Desy Puspa Andriany September 19, 2013 at 4:13 pm

    Terharu….
    Teringat anakku yg juga 2 cowok.
    Mereka hanya titipan, tugas kita hanya sebatas mendidik, membesarkan, mengarahkan, tak punya hak menuntut.
    Pilihan hidup ada pada diri mereka sendiri.
    Kita nikmati saja dulu masa kecil mereka sekarang…. :)

  20. Bety Kurnia
    Bety September 19, 2013 at 4:19 pm

    sama nasib kita mba…dua2nya cowok…hikss *nahan air mata yang mau netes, malu dilihat temen kantor*

  21. Silpe
    Silfa Reskhy September 19, 2013 at 4:31 pm

    Terharu bacanya
    Terima kasih untuk tulisan manisnya ya mba Jihan :)
    Jadi tambah kangen sama anak laki lakiku… :’(

  22. Sella
    Ananda Ansella September 19, 2013 at 4:42 pm

    Bacanya sambil megang tissue, pura2 lg pilek pdhal nahan air mata… Sama bgt, insha Allah anakku mau 2 cowok (lahiran anak ke-2 bln dpn). Mudah2an kita semua bisa jadi mama2 yg membuat anaknya bangga ya…

  23. bilarina
    Nabila Syafrina September 19, 2013 at 5:08 pm

    Mba, tulisannya bener-bener menyentuh .. :(
    Aku langsung ke toilet malu kalau keliatan orang-orang kantor lagi berkaca-kaca.
    InsyaAllah kita semua diberi umur panjang untuk bisa melihat anak-anak kita besar nanti. Amiin.

  24. yanasaphira
    Yana Saphira September 19, 2013 at 6:50 pm

    uhuuuu…sama aja mba Jihan, waktu aku melahirkan anak pertama (perempuan)dan yang kedua (juga perempuan) udah ngebayangin ditinggal nikah hehe *lebay*

  25. ZataLigouw
    Zata Ligouw September 19, 2013 at 9:47 pm

    keren banget tulisannya euy.. ikutan terharu, ngbayangin dua anak cowok di rumah tumbuh besar dan yang cwek juga.. duhh..emang musti siap2 dari sekarang..

  26. tari quennell
    lestari yudiastuti September 20, 2013 at 8:12 am

    tulisan ini sama persis dengan perasaanku bahkan sebelum aku punya anak, dan akhirnya anakku laki-laki, dan satu-satunya anak kami, semua orang tua pasti mengalami dan saya yakin apa yang kita lakukan skr baik (pada anak, suami, orang tua kandung terlebih mertua) akan baik untuk kedepan saat kita tua dan anak suadh mempunyai kehidupan sendiri.
    jihan makasih untuk berbagi apa yg kamu rasakan :)

  27. funnyfunky
    funnyfunky September 20, 2013 at 9:13 am

    Bagus banget mba tulisannya. Aku pun ibu dari 2 anak laki2 dan merasakan hal yg sama. Tks ya, ini inspiratif banget…

  28. starzblinky
    starzblinky September 20, 2013 at 10:03 am

    aakkk bagus banget tulisan mba jihannn ;)) ada rasa “merinding di hati” meskipun kadang ngerasa iri sama ibu mertua yang selalu pengen nempel ama suami tpi suatu saat nanti kitapun seperti itu juga maunya diperhatiin terus sama anak. terimakasih sharingnya mbaaaa

  29. siti
    siti September 20, 2013 at 10:53 am

    temen2 ku bilang, klo aku berfikiran terlalu jauh, dengan membayangkan “seni” nya hamil, melahirkan di SC, bangun tengah malam, waktu tidur terganggu, lalu mereka mulai besar, hingga akhirnya mereka akan pergi meninggalkan kita untuk mencari kebahagian mereka..laki2 dan perempuan sama aja mba…kalau saya merasa mertua mulai meminta perhatian suami, saya harus berusaha ikhlas. karena one day i’ll becoming her :)… makasih atas share n tulisannya mba :*

  30. anggun79
    anggun79 September 20, 2013 at 12:07 pm

    mba, anakku cowo baru masuk 5 bulan hari ini. tapi selesai baca tulisanmu, langsung kebayang rasa sedihnya ketika harus “melepaskan” dia.

  31. gabe1981
    Seymour Magabe September 20, 2013 at 2:57 pm

    :( langsung mewek bacanya…..punya anak laki baru satu dan baru satu tahun aja berjuta rasanya.

  32. dwiatmi
    dwiatmi September 20, 2013 at 3:25 pm

    whaaa….jadi ngebayangin kalau kelak Alesha sdh tumbuh dewasa, melalang buana mengejar impiannya. kayak bundanya skrg yg jauh dari kokong sama titi alesha.
    kangen kokong sama titi juga…
    peluk2 Alesha, nikmati moment kasih ASI ataupun ASIP…suatu saat pasti kangen moment ini,

  33. Davincka
    Jihan Davincka September 20, 2013 at 4:18 pm

    Komentar-komentarnya kok banyak yang malah merasa sedih, ya? Hehehe. Don’t be, Moms :). Sama-sama semangat yuk untuk mempersiapkan mereka untuk yang terbaik :D.

    Jadi ingat pesan Kahlil Gibran, “Anakmu bukan anakmu…” Kalau suatu hari ada rasa sakit hati, “Ealah, gue yang gedein, bininya yang dapet enak-enaknya!” Nah, baca lagi deh tulisan yang satu lagi ‘Because One Day Mommy, I won’t be this small’ hehehe.

    Kalau dipikir-pikir, yang minta mereka lahir siapa? Kalau mereka masih kecil dan terkapar sakit, siapa yang heboh? Kita sedih kala mereka sakit bukan karena berharap mereka suatu hari akan membalas perawatan kita, kan? Karena sesungguhnya, kita juga ikut-ikutan mau mati rasanya kalau anak sakit simply because we don’t want to lose them :). Kita yang butuh mereka, iya kan ya? :D.

    Misalnya begini, terjadi suatu keajaiban nih. Kita bisa diperlihatkan suatu cermin ajaib di masa depan. Saat ini, para bocils masih balita. Lagi unyu-unyunya. Pipinya serasa minta dicium tiap saat.

    Tapi, tergambar di cermin ajaib bahwa suatu hari nanti, ketika dewasa, anak-anak malah nyuekin kita dan malah pergi menjauh seolah-olah enggak peduli. Pokoknya sikapnya menyakitkanlah.

    Lalu, Tuhan memberi pilihan, “Gimana, anaknya tetap mau digedein sendiri apa dibalikin ke saya aja?”

    Apa jawaban kalian, Mommies? :).

  34. ratna krasivaya
    ratna krasivaya September 20, 2013 at 7:04 pm

    Je, tulisannya ngena meskipun gw belum punya anak! :)
    Pernah baca juga tulisan Kahlil Gibran soal anak “patut kau berikan rumah bagi raga mereka tapi tidak bagi jiwa mereka”. Nah, berarti kita emang harus “melepas” mereka pada saatnya nanti.
    anyway, ibuku juga selalu bilang kalo TEMAN itu salah satu “investasi” hari tua. maksudnya mungkin sama –> untuk mencegah Mama menghabiskan hampir sepanjang waktu melirik layar ponsel berharap kalian menelepon Mama. Jadi punya kesibukan juga sama teman2 selain sama anak/mantu/cucu yah ;)

  35. Megha Setyawan
    Megha Setyawan September 21, 2013 at 6:39 pm

    serasa membaca kisah sendiri hikhikhik, sy juga berputra malah 3

  36. liawijayanto
    liawijayanto September 21, 2013 at 7:53 pm

    Setuju mbak jihan…aku selalu inget kata kata khalil gibran ituhhh…memang kita sebagai ibu harus memiliki kehidupan pribadi..punya waktu buat mengembangkan hobby dan menikmati waktu bersama suwami…
    Anak cewek dan cowok sama saja…mereka titipan sajahhh…tugas kita memberi kesempatan buat anak2 kita untuk memaksimalkan potensi ya diberikan olehNya..

  37. mommy ehan
    mommy ehan September 22, 2013 at 3:41 am

    Pagi2 da bikin berkaca2 nih mba jihan, sy ke anak cenderung protektif (& aga posesif jg sih,haha..) gimana nanti?huhu…baca tulisan mba jihan serasa ditampar deh, memang harus menyiapkan diri untuk ikhlas dr sekarang,hiks…
    Untungnya sama mertua lmyn deket coz rumahnya jg lebih dekat jd Klo ada apa2 suka ke mertua dulu,hehe…

  38. Fanny Hutadjulu
    Fanny Hutadjulu September 22, 2013 at 12:35 pm

    halo mba jihan salam kenal…..

    pagi ini baca tulisan mba jihan bikin saya berkaca mba…. secara saya sm seperti mba jihan…. anak saya tiga laki2 semua…. dr sekarang saya juga lg belajar mba…. belajar siap melepas mereka pada saat besar nanti…. dan berusaha bersikap baik terhadap nenek mereka krn nantinya saya juga akan di posisi yang sama….apa yang mba jihan tulis itu persis dengan apa yang saya rasakan…. belum tau besok kita bisa apa engga ya mba… tapi ya itu…. I’II do may best… :)

  39. Momma
    Indah Puspita September 22, 2013 at 3:46 pm

    Lamaaa nggak masuk TUM (Aidan sedang asik2nya berperan jadi umur 2 tahun yang ruarrr biasa :D), tiba2 baca artikel ini. Nangiiiissss T___T karena ini yang hampir tiap hari saya renungkan juga.

  40. citraci2t
    citraci2t September 23, 2013 at 11:38 am

    wah… tulisannya bikin mewek pagi2 nih mba, akupun punya anak cowo.. dan langsung jleb.. aku juga berusaha untuk gak bikin suami jauh dari ibunya, dengan harapan kelak dapet mantu yg gak bikin anakku jauh nanti dari kau..
    i’ll do my best too :*

  41. citraci2t
    citraci2t September 23, 2013 at 11:40 am

    wah… tulisannya bikin mewek pagi2 nih mba, akupun punya anak cowo.. dan langsung jleb.. aku juga berusaha untuk gak bikin suami jauh dari ibunya, dengan harapan kelak dapet mantu yg gak bikin anakku jauh nanti dari aku..
    i’ll do my best too :*

  42. Bunda MedinaMecca
    Bunda MedinaMecca September 24, 2013 at 8:24 am

    ah yaa, every cliche about kids is true; they grow up so quickly, you blink and they’re gone (suka banget sama artikel Because One Day Mommy-nya)
    anak perempuan pun kelak dibawa suaminya ya mbak jihan (mungkin kalau kami nanti, giliran ayahnya yang merasa saingan sama mantu :)

  43. Devina
    Devina September 24, 2013 at 2:23 pm

    baca ini di kantor dgn anak2 magang yg berseliweran…kl ga ada mereka dh mewek nih..hiks..berkaca-kaca deh..
    langsung keinget Attila, gmn nanti kl dia udh besar yah..
    nice writing mba :)

  44. September 24, 2013 at 2:35 pm

    nangis bacanya. Iya ya…kita sebenarnya yang butuh anak-anak kita, bukan sebaliknya. Anak gw baru 4 thn, tapi udah ada perasaan cemburu dari sekarang kalo ngebayangin dia dah punya istri dan anak, hiks ……

  45. mamiraz
    Miranti Andi Kasim September 24, 2013 at 7:44 pm

    Nice thoughts. Saya juga suka bayangin kalo anak perempuan saya udah besar nanti, udah siap berumahtangga, kaya apa rasanya. Padahal sekarang dia baru mau 2 tahun..masih lama waktunya, hehe..
    Apapun jadinya nanti, semoga anak-anak bisa jadi pribadi yg baik saat dewasa nanti ya.

  46. vanny pratiwi
    vanny pratiwi September 25, 2013 at 7:37 am

    Alo Mba Jihan,
    Tulisannya sukses bikin aku berkaca-kaca ditengah kesibukan kerja,Nice!terima kasih sudah mengingatkan, Harus lebih sayang nih sama mama mertua,hihihi

  47. pitasie
    pitasie September 25, 2013 at 1:17 pm

    Ketakutan2 membayangkan anak menjadi dewasa suatu saat nanti terkadang terbersit dipikiran. Susah gak ya jadi mertua? Semoga ak bisa jadi mertua yang baik dan deket dengan menantu. Amiinn.
    Jujur, ak sama mertua kurang deket. coz gak tahan sama cerewetnya. Iya nih, harus berusaha lebih sayang sama mertua. Kan beliau sudah jadi ibuku juga :)

  48. Annisya Yasmin
    Annisya Yasmin September 26, 2013 at 7:55 am

    Senengnya baca tulisan ini dan lihat komen” nya moms. Ternyata yg punya pemikiran ini ga cuma aku aja tp banyak ibu”…

    Thanks a lot for sharing the lovely thought, mba Jihan. smoga cita” nya terkabul yah, aamiiin aamiin yra.

    ^_^
    bundanyadragons

  49. citracalista
    Citra September 26, 2013 at 8:02 am

    Mba Jihan .. pagi2 dikantor udah bikin terharu bacanyaa.. mau mewek rasanya :’( walaupun anakku cewek tapi aku bisa ikut ngebayangin gimana nantinya.. Anak cowo/cewe sama aja semua itu titipan Allah.. Suatu saat nanti kita harus siap ikhlas utk melepasnya menjalanin kehidupan mereka nanti.. Doa kita selalu yg terbaik untuk mereka. Hug Mba Jihan :)

  50. avee
    Avianti Siddik September 26, 2013 at 9:37 am

    “Maafkan Mama juga ya, kalau suka kebablasan di depan laptop. Walau Mama melepaskan karier di kantor tapi tidak ingin mengabaikan kebahagiaan Mama sepenuhnya. Mama serius menjalani hobi menulis Mama agar di masa tua nanti Mama punya kesibukan. Untuk mencegah Mama menghabiskan hampir sepanjang waktu melirik layar ponsel berharap kalian menelepon Mama. Dan kalau kalian tidak menelepon, Mama takut Mama akan berprasangka buruk pada istri kalian.”

    pingin share kutipannya di fesbuk tapiiiii….ntar dikira nyindir & ada yg tersinggung… :D

  51. diny_oktarini
    diny oktarini September 26, 2013 at 9:57 am

    salam kenal mom,
    ketakutan ini bukan saya saja ya yg ngerasain. berbekal bismillah…“Sooner or later, my time will come.” :)

  52. yantiDjumadi
    yantiDjumadi September 26, 2013 at 11:53 am

    menitikkan air mata…. segera ingin memperbaiki diri menjadi istri yg baik,ibu yg baik,menantu yg baik &anak yg baik ….apa yg kau tanam itu yg kau tuai…

  53. fazzahra
    Fatimah Azzahra September 26, 2013 at 1:15 pm

    Mb jihaaan nangis bacanyaaaa :( saya jg pnya hub yg “rumit” dgn mertua,maklum suami ank trakhir dan dket pula sm mama nya,tapi pas bca tulisan ini jd berasa dicubit,saya psti sedih n iri klo sdh besar n wkt nya mreka menikah mreka lbh sibuk dgn kluarganya sndiri sdngkn sya sdh mmbesrkn mereka, sprti kutipan mb jihan “Ealah, gue yang gedein, bininya yang dapet enak-enaknya! (Mngkin mertua saya mikir kyk gt kli ya hehe)
    Spertinya saya hrus trus berbuat baik dgn mertua,jg orgtua saya,agar suatu hri nnti saya ikhlas melepas ank saya..

  54. Ati Yuliarti
    Ati Yuliarti September 26, 2013 at 3:08 pm

    sukaaa deh tulisannya,,,saya jg punya 1 putera,suka menghayal bagaimana dia besar nanti dan bagaimana pula wanita yang kelak menjadi menantu saya hehehh
    membaca tulisan ini jadi ingin segera menelepon dan menanyakan kabar mama mertua, karena kami beda pulau jd jarang ketemu dan selain itu jg karena sifat dasar saya yang kurang bs basa basi dan suamipun demikian terhadap ortunya (menghubungi hanya saat ada kepentingan tertentu saja), tapi dalam do’a saya berharap mereka selalu dalam keadaan sehat :)

  55. neni.wahanani
    neni.wahanani September 26, 2013 at 9:28 pm

    mbak jihaaaannn…mbrebes mili bacanya :(

  56. loeloe17
    Lulu Anandiasari September 27, 2013 at 12:38 pm

    Halo mba, salam kenal…baca ini baru pembukaan aja udah gak tahan gak keluar air mata…anak saya jg 2 laki-laki :)
    thanks for sharing mba..
    sekarang sy suka bilang sama anak2…nanti kalau sdh besar tetep sayang sama mama ya….

  57. rianti maharani
    rianti maharani September 27, 2013 at 1:56 pm

    terenyuuuuh banget,apalagi baru ja ngerasain punya baby cowo 27 hari…seakan dibuka pandangan kedepan..mesti gimana dan apa yg akan terjadi nantinya…thx tulisannya mba jihan :)

  58. murtiyarini
    murtiyarini September 27, 2013 at 10:59 pm

    Pas baca lagi dan lagi, jadi ikut terharuuuu… >_<

  59. Dien Anggie Ayuningtyas
    Dien Anggie Ayuningtyas October 4, 2013 at 9:19 am

    huaa…sedihnya..baru punya anak 1 dan laki-laki lsg membayangkan klo dia berbagi cinta nanti ke istrinya..ga relaa sihh tp ya..anakmu bukan anakmu ya..bismillah :)

  60. Mrs. Kiki
    Etta Novretta October 17, 2013 at 1:26 pm

    Baca ini abis makan siang di kantor lgs berkaca-kaca *lap eye liner yg bleber*. Anakku juga cowo Mba Jihan, baru 1 usia 7 bulan. Tp dari sekarang udah dibilang “posesif” sama Ayahnya gara2 suka ngomong sm si anak, “nanti klo punya pacar harus yang baik yaa, bla blabla….” dan ditanggapi oleh anakku dengan gulang guling sambil nyengir, sementara bapakke senyam senyum dipojokkan.

    Anyway, thanks for sharing Mba…. :)

  61. hananafajar
    hanana fajar October 23, 2013 at 11:16 am

    always…
    artikelnya mba jihan lagi2 bikin berkaca2 dehhhhT_T
    mariii menikmati masa-masa dimana anak kita masih bisa kita peluuk ciuum godain ampe meweeek hihi aaahhhh time flies so fast…

  62. Ibunya DzakyFai
    Fitri anita December 5, 2013 at 12:31 pm

    meleleh gak berasa mba, secara anakku 3 laki-laki semua mba.

  63. taniya_luph January 6, 2014 at 12:59 am

    hiks…sedih aku bacanyaa… aku juga mommy dari 2 anak laki2… aaaa..terharuuu….smoga kita smua bisa jadi mama yang terbaik yaa:)

  64. teta
    teta January 20, 2014 at 8:57 pm

    Walopun telat bacanya, mau komen..
    Iya sukses bikin terharu artikel nya mbak Jihan. Seneng deh sama tulisan tulisan mbak Jihan. Anak keduaku juga diprediksi laki-laki lagi. Wah, emang ilmu ikhlas mesti dipelajari terus ya, naik turun nih.. Semoga kita jadi mama dan mertua yang baik aaminn

  65. nioanio
    nioanio February 13, 2014 at 1:08 pm

    menahan tangis ini bacanya..wkwkwk..secara bacanya pas acara rapat.. memang benar yah..segalanya butuh ketulusan dan keikhlasan..bismillah..

  66. nur maliyanti
    nur maliyanti July 5, 2014 at 8:13 am

    Mbak Jihan, salam kenal, tulisannya bagus banget :’) saya ikut share tulisannya ya mbaak :) Makasih.

  67. bunda_rizma
    bunda_rizma November 25, 2014 at 11:12 am

    baru baca, terharu. jd inget mama mertua… tfs ya mba jihan

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.