Disiplin dengan Kasih Sayang

anggiabonyta

Sadar diri karena tidak memiliki bekal ilmu parenting yang cukup, saya senang sekali ketika Abah Ambu mengadakan seminar bertema Disiplin Dengan Kasih Sayang. Pembicaranya adalah pakar psikolog, Ibu Elly Risman. Acaranya diselenggarakan Sabtu 10 Mei 2014 lalu, bertempat di ruang auditorium Politeknik Kesehatan Jl. Pajajaran 56 Bandung dan dihadiri oleh 400 peserta yang antusias dan semua kursi terisi penuh. Luar biasa bukan?

Berbicara mengenai disiplin, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Malah menurut Ibu Elly, disiplin adalah masalah terumit di dunia. Rumit karena biasanya terjadi inkonsistensi antar pasangan karena pengalaman masa kecil mempengaruhi gaya disiplin sekarang. Ditambah dengan pengetahuan parenting yang terbatas, terkadang kita secara tidak sengaja kemudian meniru atau menggunakan cara-cara lama untuk menerapkan disiplin kepada anak kita: mengancam, menghukum, atau bahkan memukul.

Berikut Ibu Elly Risman membahas beberapa gaya disiplin populer:

  • HUKUMAN: hukuman ternyata hanya membuat anak TAKUT, dan tidak membuat anak belajar dari kesalahannya. Hukuman kurang efektif karena datang dari luar diri anak. Hukuman tidak mengajarkan kontrol internal agar perilaku itu tidak terulang dan tidak pula menangani emosi sehingga anak tahu bagaimana bertingkah laku sesuai dengan harapan orangtua. Akibat hukuman: merusak harga diri anak karena menyakitkan secara fisik dan perasaan, takut pada ortu, melawan ortu, berbohong, melakukan sesuatu diam-diam. Tidak efektif jika terlalu sering digunakan.
  • PUKULAN: pukulan tidak mengajarkan apa yang seharusnya ia lakukan, melainkan apa yang tidak boleh saja. Anak yang dipukul cenderung berperilaku menyimpang seperti mudah frustasi, temper tantrum serta gampang memukul orang lain. Pukulan menanamkan lebih banyak ketakutan dibandingkan pengertian. Jadi jangan memukul jika hanya untuk menyakiti, karena pukulan membuat anak merasa “Saya jelek” atau “Saya tidak berguna”. Penelitian dari Duke University menunjukkan bahwa bayi 12 bulan yang dipukul memiliki skor tes kognitif yang lebih rendah dari anak-anak yang tidak dipukul pada usia 3 tahun. Penelitian dari Tulane University menemukan sekitar 2.500 anak-anak yang diteliti yang biasa atau sering dipukul pada usia 3 tahun akan cenderung lebih agresif pada usia 5 tahun.
  • HADIAH: kalau kita sering menggunakan hadiah agar anak menuruti kita, maka ini yang harus diperhatikan. Hadiah mengajari anak kalau mereka punya hak mengharapkan bayaran untuk melakukan sesuatu, bukan untuk bekerjasama. Hadiah memang berakibat lebih baik dan menyenangkan tetapi tidak bisa terus-menerus. Perlu diingat, kalau hadiah itu bukan sogokan. Hadiah tidak selamanya harus benda, tapi bisa berupa pelukan yang lama.

Jadi, apa itu disiplin?

Disiplin bukan hukuman, latihan dan kepatuhan. Disiplin itu memberikan petunjuk berperilaku. Sedangkan makna disiplin adalah pengasuhan, mengajar kelakuan, jadi bisa dibilang disiplin adalah mengasuh tingkah laku. Disiplin juga membangun kontrol dalam diri, memahami perasaan diri dan orang lain, mampu bekerjasama dengan baik, sehingga membentuk pribadi yang menyenangkan. Adapun dasar disiplin adalah menyadari bahwa anak itu merupakan anugerah dan amanah, sehingga perlakukan sebaik mungkin dan ajarkanlah akhlak yang baik. Kalau semuanya sudah dipahami, maka kita bisa mengerti kalau fungsi disiplin sebenarnya adalah memberitahukan kepada anak untuk membentuk kebiasaan serta meninggalkan kenangan.

Ada banyak sebab mengapa anak bertingkah laku tidak seperti yang diharapkan. Jawaban pertama adalah belum mampu, karena perlu diingat kalau sistem otak anak belum bersambungan. Sebab lainnya adalah anak mungkin ingin tahu, capek, sakit, lapar, bosan, canggung, atau sekedar minta perhatian, meniru orangtua, merasa diri tak berharga, melindungi dirinya, ditambah lagi dengan aturan yang tidak jelas.

Saya juga baru tahu kalau kenapa orangtua suka menghukum adalah karena kecewa, marah, khawatir takut atau bingung. Satu hal yang harus digaris bawahi bahwa sikap kasar dan hati keras hanya akan membuat anak kita lari. Maka sebelum masuk ke bahasan Disiplin dengan Kasih Sayang, ada yang yang harus dilakukan pertama kali yaitu: menyelesaikan urusan dengan diri sendiri dan juga dengan pasangan. Caranya, maafkan masa lalu dan berdamailah dengan itu. Kemudian SEPAKAT dengan pasangan untuk sama-sama mulai menyadari bahwa dengan tantangan zaman yang semakin besar dalam pengasuhan anak, kita tidak bisa lagi menggunakan disiplin dengan gaya lama yang diadopsi dari cara orangtua kita dulu. Orangtua juga harus mengubah kebiasaan pengasuhan yang impulsif, dengan selalu berpikir, “Kalau saya melakukan ini kepada anak saya, apa akibatnya saat dia nanti sudah besar?”.

Melalui pendekatan Disiplin dengan Kasih Sayang, orangtua bisa mengambil keputusan bagaimana mencegah atau merespon dengan tepat terhadap kenakalan atau tingkah laku yang tidak patut. Kemudian mempertimbangkan perasaan dibalik perilaku, sehingga membantu anak sadar diri untuk menggunakan pikirannya baru mengambil tindakan yang bertanggung jawab, serta menekankan pada proses belajar yang pada akhirnya mencapai makna sebenarnya dari kata DISIPLIN.

Adapun kelima pendekatan Disiplin dengan Kasih Sayang (DKS) yang bisa digunakan orangtua:

1. Pikirkan perasaan anak. Kita sering mempunyai anggapan yang keliru bahwa sebagian besar tingkah laku didorong oleh perasaan atau emosi daripada hasil pemikiran. Tugas orang tua adalah mengubah Emosi- menjadi Pikiran- baru kemudian Aksi. Karena biasanya anak-anak melakukan sebaliknya: Emosi- Aksi- Pikiran sebagai akibat dari pusat otaknya belum bersambungan. Jangankan anak-anak, kita pun jika menghadapi sebuah peristiwa kadang mengutamakan emosi dan beraksi dulu baru berpikir kemudian, bukan? Jadi rasanya tidak pantas menghukum anak-anak karena ketidaktahuan mereka. Untuk mendisiplinkan anak, pikirkan perasaannya, kemudian pelan-pelan alihkan ke proses berpikir. Bila anak bertingkah laku tidak sesuai harapan ingatlah langkah SLP-B berikut: Stop, Lihat & dengar, Pikirkan apa perasaan anak yang mendorong perbuatannya, kemudian baru Bertindak.

2. Mengajukan pertanyaan untuk mengubah tingkah laku. Mengapa harus BERTANYA? Karena pertanyaan menimbulkan kesadaran diri, membuat anak berfikir sebelum merespons, tahu apa yang akan dilakukannya lain kali sehingga menghasilkan otoritas internal. Jika kita hanya memerintah, yang terjadi adalah sebaliknya. Adapun syarat bertanya adalah tidak dalam nada menuduh, menyindir, menunjukkan bahwa anak bodoh dan tidak paham. Contoh dialog bertanya saat anak berlari dalam rumah:

Dialog yang lazim: “Stop! Jangan lari-lari dalam rumah!”

Dialog sebaiknya:

Ibu: “Dek, adek lagi ngapain?”
Anak: (anak memeriksa dirinya) “Lari.”
Ibu: “Seharusnya adek bagaimana kalau dalam rumah?”
Anak: “Berjalan.”
Ibu: “Bisakah adek melakukannya?”
Anak: “Bisa.”
Ibu: “Terima kasih ya, Nak.”

Langkah Otoritas Internal adalah membuat aturan, sepakati bersama, diterapkan dengan bertanya, kemudian jalankan dengan konsekuensi serta evaluasi. Terangkan juga kepada anak mengapa aturan itu perlu: “Ayah dan Ibu sayang dan peduli sama kamu”, “Kami ingin kamu terlindungi dan aman”, “Kami ingin kamu mandiri dan bertanggung jawab.”

3. Ajarkan keterampilan untuk tidak mengulangi tingkah laku negatif. Anak harus diajari tidak bereaksi atas dasar emosi. Kemudian memikirkan konsekuensi dan bagaimana membantu diri sendiri melakukan apa yang mereka tidak suka dan ini adalah PROSES.

4. Gunakan kalimat singkat dengan Aturan Dua-Kalimat. Menurut Sandra Halperin Ph.D, berpeganglah pada aturan dua-kalimat: berhenti berbicara setelah mengatakan dua kalimat, karena semakin panjang maka akan semakin diabaikan. Mengapa kalimat singkat lebih efektif? Karena segera setelah mendengar pesan positif berkali-kali, mereka akan mengulang bagi dirinya sendiri sehingga tidak membutuhkan dorongan dari luar dan tidak membutuhkan banyak tenaga dari orangtua. Hindari kata “jangan” dan lebih baik gunakan kata “lakukan”. Hindari juga berkomentar negatif atas ketidakmampuan anak seperti meremehkan atau mengecilkan hati anak. Pilih kalimat dengan hati-hati.

5. Fokuslah pada hal yang positif. Hal yang perlu diperhatikan adalah:

  • Anak-anak peka terhadap harapan orang dewasa,
  • Seringlah memuji,
  • Pujilah perbuatannya, bukan orangnya. Contoh: “Bapak lihat cara kamu menolong adikmu dengan membuatnya tertawa, itu KEREN BANGET! Sangat baik dan pintar untuk dilakukan. Terimakasih ya nak.”
  • Pujian sederhana juga berhasil,
  • Bantu anak-anak menggambarkan masa depan dengan berkata pada mereka: “Yang mama/papa sukai dari kamu adalah….”  atau ”Mama/papa bisa melihatmu suatu hari sebagai ……”,
  • Bantu anak-anak menggambarkan masa depan dengan istilah yang emosional, “Yang mama/papa sukai dari kamu adalah kamu itu pintar melukis, dan mama/papa bisa melihatmu suatu hari sebagai seniman hebat yang menciptakan karya seni terindah yang bermanfaat buat banyak orang”.

Urban mama, selamat mempraktekkan kelima pendekatan DKS tersebut agar anak-anak menjadi anak-anak yang bahagia dalam hidupnya. Mari mulai mendisiplinkan diri sendiri untuk mengubah gaya asuh masa lalu, tak lain agar kita menjadi teladan yang baik bagi mereka. Seperti pesan Ibu Elly, “Teladan lebih dari berjuta kata-kata”.

12 Comments

  1. rainiw
    Aini Hanafiah May 29, 2014 at 3:18 am

    Ini abis baca rangkuman seminarnya bu Elly aja rasanya ‘kena’ banget di hati… Gimana kalau dengar langsung dari bu Elly yah xD Thanks utk sharingnya ya Anggi, bagus banget ilmunya.

  2. ninit
    ninit yunita May 29, 2014 at 1:23 pm

    wowww anggi! makasih banget loh artikelnya. meski ga bisa dateng ke acaranya, tetep kebayang gimana bu elly menerangkan hal yang anggi tulis.

    luar biasa ya bu elly, selalu seneng deh kalo acaranya bu elly. banyak manfaat dan ilmu.

  3. ZataLigouw
    Zata Ligouw May 29, 2014 at 10:08 pm

    Iya Nggi lengkappp banget liputannya. makasih yaaa….

  4. anggiabonyta
    Anggi May 30, 2014 at 10:59 am

    @Aini banget ya kena di hatinya hihi… waktu itu sambil dengerin Bu Elly, dikit-dikit mewek terus :D Sama-sama Aini, semoga bermanfaat yaa..

    @Teh Ninit : Sama-sama teh..Iya bener, Bu Elly emang juara deh *kasih 4 jempol* :)

    @Zata : Iya, sama-sama Zata..semoga bermanfaat buat semuanya :)

  5. bunda_rizma
    bunda_rizma May 30, 2014 at 11:04 am

    makasih sharingnya ya mb’Anggi… bermanfaat banget pelajarannya :)

  6. eka
    Eka Wulandari Gobel May 30, 2014 at 2:00 pm

    makasih anggi, artikelnya bagus banget. detil deh liputannya. jadi tambah ilmu parenting nih, suka banget deh sama materinya bu elly risman.

  7. hananafajar
    hanana fajar June 4, 2014 at 10:30 am

    artikelnya bagus banget mom Anggi..semoga bisa nerapin ke anak nantinya..

  8. anggiabonyta
    Anggi June 4, 2014 at 7:10 pm

    Hi @bunda rizma, sama-sama lho, semoga bermanfaat dan bisa dipraktekin ya *mari latihan hehe..

    Sama-sama loh neng @Eka *kecups :) Hidup Bu Elly :)

    @hanana fajar : Amiin! Pasti bisa, yuk sama-sama latihan :D

  9. felisya sjahir
    felisya sjahir June 5, 2014 at 10:44 am

    wahh nuhun teh anggi saya diingetin lagi, walopun saya ikut seminar ini tp kebanyakan ngahuleng ama nangisnyaaa (apalagi pas dikasih video2nyaa)

    *hidup bu elly :)

  10. enjimagetsari
    Enji Magetsari June 14, 2014 at 6:39 am

    Anggiiii…dr kmrn uda aku bookmark and baru sempet dibaca, nuhun for sharing ya ngiing, pgn bgt ikutan seminar ibu elly, mudah2an beliau diundang kbri singapur..

  11. anggiabonyta
    Anggi June 20, 2014 at 1:19 pm

    @felisya ahahaha iya banget ya, tiap abis video trus nangis terisak-isak *asa pengen pulang trus peluk anak hehehe *hidup bu elly! :) pesan moral : jangan lupa bawa tissue kalo seminar sama bu elly hehehe

    @enji sama-sama Enji…iya harus banget ikutan seminarnya..Semoga kbri juga ngundang aku *apeu ahahahaha :*

  12. yennips
    yennips May 23, 2016 at 10:49 am

    mbak anggie….aku baru nemu artikelnya,,,lagi mengalami problem berkaitan dengan ini nih….

    makasih ya mb

    btw kalo mau lihat jadwal seminar bu elly dimana ya? pengen ikutan euy…

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.