Hikmah yang Bisa Kita Petik dari Belanda

Melanjutkan tulisan sebelumnya di sini, sekarang saya ingin membahas tentang berbagai hikmah yang bisa kita petik dari Belanda. Pertama mari kita lihat dari sarana dan prasarana yang pemerintah Belanda siapkan untuk calon pemimpin masa depan negaranya. 

Belanda memiliki lebih dari 150 taman bermain (playground), atau disebut speeltuin dalam bahasa Belanda, di seluruh penjuru negeri. Bahkan the largest playground di Eropa ada di Belanda yaitu Linnaeushof yang berlokasi di Bennebroek dan memiliki kira-kira 350 jenis permainan manual atau tradisional indoor dan outdoor.

Nah, untuk speeltuin sendiri, ada yang gratis ada yang berbiaya. Sekalipun dikenakan biaya keanggotan, biasanya hanya memakan biaya anggota untuk perawatan playground kurang lebih €15 per tahun. Itu baru tentang speeltuin yang mayoritas berada di luar ruangan dan cenderung gratis. Wahana permainan indoor di Belanda juga banyak dan variatif. Anak-anak di Belanda jadi memiliki lebih banyak opsi untuk menyalurkan energi mereka pada hal-hal yang positif untuk perkembangan motorik, soft skill, sensorik, dan kognitif mereka. Di speeltuin anak-anak bisa bermain ayunan, memanjat, bermandi lumpur, dan lain-lain. Mereka bisa bermain sepuas hati mereka di lokasi yang memang tertata sehingga relatif lebih aman.

Tak hanya sampai di situ, Belanda juga menyediakan toys library (speelotheek) untuk para penduduknya. Di Belanda sendiri, perpustakaan mainan pertama kali ada di pertengahan tahun 1970. Sudah lama sekali memang. Inisasi awalnya bermula dari para orangtua untuk membantu menyediakan mainan untuk anak-anak berkebutuhan khusus karena biasanya mainan tersebut cenderung lebih mahal. Dari situ, kelompok masyarakat mulai menyadari keuntungan kegiatan pinjam-meminjam mainan hingga pada akhirnya komunitas-komunitas sosial di Belanda mulai merintis speelotheek yang bisa diakses oleh semua anak tak hanya yang berkebutuhan khusus saja. Dan akhirnya, speelotheek ini menyebar ke seluruh wilayah di Belanda dan memiliki badan organisasi resmi tingkat nasional (Vereniging Speelotheken Nederland).


Speelotheek (toy library) Pinokkio di Leiden

Kini, setidaknya ada kurang lebih 100 speelotheek di Belanda yang menyediakan beragam mainan menarik nan edukatif untuk anak-anak usia 0-12 tahun. Mulai dari berbagai puzzle, lego, sampai sepeda dan scooter, semua bisa dipinjam dengan biaya keanggotan yang cukup murah sekitar €6 dan biaya peminjaman €0.15 per item/ per pekan. Yang lebih menarik dari speelotheek ini adalah perpustakaan ini dijalankan oleh para sukarelawan yang tinggal di wilayah tersebut. Jadi, dengan prinsip ‘together makes expensive, cheaper’, mereka gotong royong untuk memberikan pelayanan bagi setiap keluarga di wilayah mereka sendiri untuk memiliki akses bermain sepuas-puasnya. Negara juga bersama pemerintah lokal turut andil memberikan grants (hibah) untuk menyediakan mainan untuk setiap speelotheek. Walaupun ada pula speelotheek yang dikoordinasi oleh lembaga private yang mainan dan biaya operasionalnya dikumpulkan dari donatur dan warga setempat, meski sesekali mereka tetap mendapat bantuan dana untuk penyewaan gedung speelotheek dari Municipal Council (pemerintah wilayah).

Belanda sendiri pada Mei 2017 lalu, juga menjadi tuan rumah untuk International Toy Library Conference ke-14 di mana mereka mengajak pustakawan toy library dari seluruh dunia untuk sama-sama menelurkan revolusi untuk segala permasalahan dan ide-ide baru terkait dengan pengelolaan toy library.

Lebih lanjut, Belanda juga menyiapkan peternakan anak hewan (kinderboerderij) yang bisa dikunjungi oleh masyarakat. Dengan adanya kinderboerderij anak-anak bisa mengenal berbagai jenis hewan ternak dari dekat bahkan menyentuhnya. Melalui fasilitas tersebut mereka terdidik untuk lebih menyayangi makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Kurang lebih ada 280 kinderboerderij tersebar di 12 provinsi di Belanda. Leiden sendiri memiliki satu children’s farm di Merenwijk dan satu di daerah Leiderdorp.


Setiap anak yang lahir di Belanda, diberi koper hadiah dari pemerintah dan library setempat, namanya "Boek Start" yang berisi paket buku untuk anak usia 0-1 tahun.

Ah, rasanya banyak sekali fasilitas yang disediakan oleh negara untuk mendukung tumbuh kembang anak-anak di Belanda. Ramainya perpustakaan oleh berbagai koleksi jenis buku bacaan anak untuk segala usia dengan berbagai tema. Bagusnya museum-museum di Belanda yang dibangun dengan niat dan kesungguhan sehingga tak pernah gagal membuat saya terkagum-kagum setiap kali masuk ke dalamnya. Ada lebih dari 400 museum di Belanda, dan lebih dari dua pertiganya child-proof atau child-friendly. Sebut saja museum-museum seperti Kinderboeken museum Den Haag, Nijnjte museum Utrecht, Naturalis Biodiversity museum Leiden, Micropia di Amsterdam, Spoorweg museum di Utrecht dan masih banyak lagi. Semuanya pernah saya datangi dan saking bagusnya membuat saya jadi ketagihan dan ingin ke sana lagi dan lagi.

Faktor apalagi yang membuat anak-anak Belanda menjadi paling bahagia?

Karena mereka makan meses (chocolate hagelslag) setiap pagi,” kata banyak orang. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tapi, memang siapa sih yang tidak bahagia jika memulai hari dengan yang manis?

Dari kacamata UNICEF sendiri, sebenarnya ada 6 jenis kriteria yang diukur untuk menentukan negara mana yang lebih bahagia, seperti “material well-being, health and safety, education, peer and family relationships, behaviours and risks, and young people’s own subjective sense of well-being”, di mana setiap dimensi tersebut memiliki indikator-indikatornya masing-masing. Tetapi saya tidak akan membahas detail sampai di situ. Karena bagi saya, ketika negara sudah menyediakan beragam fasilitas untuk anak, kebahagiaan mereka juga turut bergantung dengan bagaimana peran para orangtua di Belanda dalam membesarkan anak-anak mereka.

Dalam buku “The Happiest Kids in the World: How Dutch Parents Help their Kids by Doing Less”, sang penulis menjelaskan bagaimana anak-anak Belanda belajar dari orangtua mereka cara untuk bahagia. Anak-anak dibebaskan untuk bersepeda ke sekolah, bermain di luar tanpa penjagaan, sampai pada hal-hal penting seperti kemandirian.

Pendidikan kemandirian bisa dilihat setiap King’s day event (perayaan ulang tahun raja) di Belanda. Dimana anak-anak Belanda belajar untuk menghasilkan uang sendiri melalui berjualan di pasar kaget (flea market). Mereka menjajakan makanan buatan mereka hingga mainan atau pakaian bekas untuk mendapatkan uang jajan recehan. Dari situ mereka belajar bahwa perlu usaha untuk mendapatkan uang. Dan setiap sen itu sangat berarti. Dari situlah mereka terdidik untuk menjadi manusia yang lebih bahagia atas apa yang mereka punya.

Orang-orang Belanda juga terkenal dengan istilah “Doe maar gewoon,” atau “just act normal” yang mereka terapkan dalam masyarakat. Anak-anak bahkan setiap individu di Belanda dididik untuk tidak merasa tinggi hati atau lebih baik dari orang lain. Istilah tersebut tercermin dari putri mahkota Belanda, Princess Amelia yang bersepeda ke sekolah seperti anak-anak Belanda pada umumnya. Dalam masyarakat Belanda yang cenderung liberal namun konvensional, untuk menjadi pribadi yang berbahagia, mereka harus selesai dengan diri mereka sendiri. Ketika kebanyakan orang melihat sukses sebagai jalan menuju kebahagiaan. Orang-orang Belanda memegang prinsip bahwa kebahagiaanlah sarana untuk sukses. Karena dari perasaan bahagia itu mereka jadi memiliki ‘self-awareness’ bahwa diri mereka bernilai. Bahwa melalui kemandirian dan motivasi intrinsik, karakter tersebut bisa memudahkan mereka dalam meraih kesuksesan.

Lebih jauh, Belanda juga dikenal sebagai negara yang memiliki work-life balance yang sangat baik berdasarkan “Better Live Index”. Mereka memiliki work-life balance terbaik ke-3 di antara negara-negara OECD, di bawah Denmark dan Spanyol pada posisi pertama dan kedua. Meski memiliki waktu kerja sedikit dengan rata-rata 29 jam per minggu, ditambah kenyataan bahwa persentase ibu muda Belanda yang berada di dunia kerja jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan banyak negara-negara maju, mereka tetap masuk top ranks dalam hal penghasilan dan kualitas hidup. Dari fakta tersebut, peluang setiap orang tua untuk memiliki waktu yang jauh lebih banyak bersama anak-anak mereka lebih besar. Efeknya, anak-anak di Belanda memiliki kualitas hubungan yang lebih kuat terhadap keluarga karena memang dibesarkan pada lingkungan yang mendukung.

Meski hubungan kekeluargaan mereka cenderung dekat, para orangtua terbiasa untuk tidak memanjakan anak-anak mereka. Jika diperhatikan, Belanda dikelilingi oleh kanal-kanal di setiap kotanya, namun nyatanya, tak satupun kanal di Belanda yang diberi tanggul/pembatas layaknya sungai-sungai di Indonesia. Kenapa?

Karena masyarakat Belanda terbentuk pola pikirnya. Dibandingkan fokus pada risiko, para orangtua justru mendidik setiap anak yang lahir di Belanda untuk bisa berenang! Tindakan preventif yang lebih logis daripada memasang tanggul di setiap kanal yang jumlahnya ratusan.

Anak-anak yang bebas bersepeda atau keluar tanpa pengawasan orangtua sedang diajari “street wisdom”, yaitu potensi bahaya yang ada di jalanan sehingga anak-anak mampu menilai sendiri bahaya yang mungkin mereka hadapi dan cara menghindarinya. Namun, perlu diingat bahwa budaya seperti ini sudah tersistem dengan baik karena “social safety net” di Belanda sudah kokoh, di mana tanpa disadari, masyarakat sudah satu paham bahwa mereka juga memiliki kewajiban yang disebut “share responsibility” dalam bermasyarakat. Masyarakat turut andil untuk menjaga keamanan dan keselamatan para anak atau siapa pun yang mereka temui mendapatkan masalah di tempat umum, sehingga orangtua pun merasa yakin jika terjadi sesuatu pada anaknya, pasti ada orang yang akan segera menolong anak-anak mereka.

Dari beberapa gaya parenting yang diterapkan dalam membesarkan anak-anak mereka, bisa dilihat bahwa orangtua turut andil dalam memaksimalkan potensi kebahagiaan anak-anaknya. Ketika Belanda dengan kesadaran penuh tahu bahwa ukuran kesuksesan negaranya juga diukur dari seberapa besar peran negara dalam memperhatikan nasib bibit-bibit penerus pemimpin masa depan negaranya, orangtua juga tak mau kalah dalam memastikan bahwa anak-anak mereka tumbuh berkarakter sehingga apapun fasilitas yang tersedia mampu dimanfaatkan dengan baik dan bijaksana.

Terakhir, bukan ingin membandingkan, tapi alangkah indahnya jika Indonesia dalam waktu dekat dapat mengadopsi kebijakan-kebijakan Belanda dalam memperlakukan anak-anak. Sesederhana memperhatikan faktor-faktor yang diukur UNICEF dan melakukan revolusi di enam dimensi tersebut. Sambil perlahan membuka dan menciptakan kesempatan untuk setiap anak memiliki sarana dan prasarana untuk bermain dan belajar yang luas dan merata di lingkungan rumahnya sendiri, dari Sabang sampai Merauke.

5 Comments

  1. avatar
    Retno Aini January 5, 2018 2:45 pm

    Baca yang bagian anak2 Belanda harus bisa berenang, saya yang kepikir "Iya ya... Benar juga ya!?" :D Tapi setuju banget, penerapan di Belanda sudah bagus karena social safety net-nya sudah terbentuk kokoh, nilai2 'shared responsibility'nya jadi beneran jalan. Btw, ajaran 'just act normal' itu persiiiiisss banget dengan budaya norwegia yang namanya jantesloven :P

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    dieta hadi January 3, 2018 4:35 pm

    ihhh keren ya di Belanda, anak-anak disana pasti happy banget yaaa. Smeoga di Indonesia bisa begitu juga, aamiin

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Imelda Sutarno January 2, 2018 11:00 am

    mudah2an negara kita bisa ketularan Belanda ya. Baca artikel ini berasa adem deh :) TFS mama ervina

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Cindy Vania January 2, 2018 10:55 am

    Wah, baca artikel ini bikin aku terkagum-kagum sama Belanda.
    Semoga ya Indonesia bisa "mencontek" sedikit dan menjadi negara yang ramah dan aman untuk anak-anak.

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    ninit yunita January 2, 2018 10:51 am

    yes! ini dia lanjutan artikel yang ditunggu-tunggu :)
    duh seneng yaaa bacanya... ga heran yaa kalau anak-anak Belanda menjadi paling bahagia :) semoga Indonesia juga bisa.

    1. avatar

      As .