Kita Semua adalah Pelindung Anak

Berita yang paling tidak ingin saya dengar adalah berita tentang kekerasan, terutama terhadap anak di Indonesia. Tapi sayangnya, berita ini tidak jarang kita dengar, kita baca di surat kabar, dan bahkan sampai menjadi berita berhari-hari di televisi.

Itu berita yang muncul ke permukaan, yang tidak muncul tentunya tidak sedikit.

Saya sering tidak habis pikir, kok bisa-bisanya ada kekerasan terhadap anak?
Hanya karena fisik anak yang lebih kecil daripada orang dewasa, beberapa orang berpikir bisa melakukan apa saja termasuk kekerasan.

Kekerasan terhadap anak meliputi empat kategori yaitu:
1. Kekerasan fisik (segala sesuatu yang melibatkan kekuatan fisik terhadap anak seperti memukul, menendang, menampar, menarik telinga anak, mengguncang).
2. Kekerasan seksual/ pelecehan seksual.
3. Kekerasan emosional/psikologis (mengancam, menolak, menghina harga diri anak, mengolok-olok).
4. Mengabaikan/menelantarkan anak.

Kekerasan terhadap anak di Indonesia adalah sesuatu yang masih dianggap tabu untuk dibicarakan dan sulit karena bisa dianggap mencampuri urusan orang lain. Tetapi sampai kapan? Akankah kita menjadi orang yang akan membiarkan pihak-pihak yang melakukan kekerasan terhadap anak terus melakukannya? Saat ini yang kita perlukan adalah tindakan untuk memutus siklus kekerasan terhadap anak yang berulang.

UNICEF melihat urgensi atas hal ini dan meluncurkan Kampanye Pelindung Anak untuk mengajak setiap orang di Indonesia agar mendukung dan berperan dalam mencegah perlakuan yang tidak selayaknya terhadap anak. Kita dapat langsung melapor bila melihat tindakan kekerasan terhadap anak melalui portal pelindunganak.org.

"Semua anak adalah anak kita" merupakan slogan yang ditanamkan dalam campaign ini agar rasa kepedulian itu tidak sebatas pada lingkaran kecil keluarga kita saja. Dengan slogan semua anak adalah anak kita, kembali mengingatkan kita kepada akar tradisi bangsa Indonesia yaitu gotong royong. If it takes a village to raise a child, it also takes a village to protect a child.

Anak-anak yang mengalami kekerasan secara fisik, seksual, emosional memiliki risiko yang tinggi untuk melakukan hal yang sama saat mereka dewasa. Sehingga menjadi siklus yang berulang. Karenanya kita harus bekerjasama, gotong royong untuk mengatasi hal ini. Kita semua adalah pelindung anak. Jangan biarkan ini terus berjalan. Semakin banyak yang menjaga, semakin jauh kekerasan dari mereka.

Related Tags : ,

18 Comments

  1. avatar
    Retno Aini November 26, 2015 3:57 pm

    Tfs ya teh Ninit... bagus banget videonya, Smg lewat pelindunganak.org ini semakin banyak orang yg menyadari bahwa tugas orang dewasa adalah melindungi & memperhatikan kesejahteraan anak2.

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Honey Josep November 23, 2015 10:19 am

    Tfs teh Ninit,

    akhirnya ada organisasi yang bisa menjadi tempat berlindung bagi anak-anak yang menjadi korban sekaligus sebagai wadah pembelajaran bagi orangtua agar menjadi ortu yg siap dan penuh cinta mengasuh anak :)

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    musdalifa anas November 22, 2015 6:20 am

    Benar banget teh, biasanya kita gak berani negur/lapor karena takut disangka mencampuri urusan rumah tangga orang. Soalnya pernah ada tetangga dulu di makassar kasian banget anaknya suka dipukulin, kalau dimarahin kita di rumah sebelah bisa dengar. Pernah dikasitau ke orang rumah tsb tapi tanggapannya negatif, malah balik gak pernah menegur kami tetangganya.
    Tp dengan adanya web pelindunganak.org ini bisa menjadi solusi.
    Tfs teh ninit.

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Siska Knoch November 21, 2015 10:05 pm

    Makasi infonya teh, berguna sekali! harapannya semoga dengan adanya pelindungan anak ini paling tidak persentase kekerasan anak di indonesia turun karena semua ikut bertindak (salah satunya dengan melapor).

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    ninit yunita November 20, 2015 1:57 pm

    @yana - yanaaa idemmm!!! Suka mikir kok bisa-bisanya yaaa... semoga dgn pelindunganak.org memberikan dampak positif yah yan.

    1. avatar

      As .