Kontrasepsi Andalan Keluarga Berencana

Awalnya, saya bukan seorang yang pro kontrasepsi. Saya ingin memiliki banyak momongan, supaya rumah ramai dengan senda gurau anak-anak. Namun, sejak melahirkan anak pertama, saya dan suami sepakat untuk menunda memiliki momongan lagi. Paling tidak sampai usia sang kakak menginjak tiga tahun. 

Sayangnya pada saat itu, kesepakatan kami tidak diikuti dengan aksi nyata. Padahal dokter kandungan saya sudah mengedukasi pentingnya penggunaan kontrasepsi. Tapi karena takut, akhirnya saya memilih untuk menunda penggunaan kontrasepsi apa pun. 

Jadilah saat itu, kami 'hanya' mengandalkan kontrasepsi alami, yakni dengan menyusui. Saya pernah membaca, bahwa semakin sering menyusui bayi, maka otak kecil ibu mampu memproduksi hormon prolaktin lebih banyak. Semakin banyak hormon prolaktin, maka bisa menekan masa subur (ovulasi) dan membuat ibu menyusui menjadi tidak subur.

Kebetulan saya baru menstruasi kembali setahun setelah melahirkan. Pola menstruasi juga masih belum teratur. Jadi saya pikir, mungkin saya belum subur. Akhirnya, setelah tiga kali menstruasi, saya kembali mengandung. 

Tentunya saya bersyukur kembali diberi kepercayaan. Namun dalam hati ada sedikit kekhawatiran. Diantaranya, saya masih menyusui sang kakak, meski memang kebutuhannya akan ASI tidak se-esklusif ketika masih bayi. Belum lagi nantinya, saya harus membagi perhatian antara sang bayi dan sang kakak yang mulai aktif berkembang.

Akhirnya, setelah melahirkan anak kedua, saya pun mantap memakai kontrasepsi. Bukan lantaran kapok melahirkan dan memiliki anak lagi ya. Lebih kepada ingin memberi yang terbaik bagi anak-anak kami kelak. 

Saat di hadapan dokter kandungan, saya masih berdiskusi panjang lebar memilih kontrasepsi yang cocok. Pilihan kami akhirnya jatuh pada kontrasepsi IUD. Sebagai informasi, IUD (intrauterine device) adalah alat kontrasepsi yang dipasang dalam rahim, tanpa hormon dan tidak mengganggu kesuburan.

Pertimbangan saya dan suami dalam memilih kontrasepsi IUD ini antara lain karena IUD efektif untuk jangka panjang. Sekali pasang, bisa tahan hingga bertahun-tahun. Saya sendiri menggunakan IUD dengan masa sepuluh tahun, dan sekarang sudah memasuki tahun keempat. Alhamdulillah semua lancar.

Kami mantap memilih IUD karena IUD merupakan kontrasepsi non-hormonal. Selain terhindar risiko ketidakstabilan atau ketidakcocokan hormon, IUD tidak akan mempengaruhi produksi ASI. Sehingga sangat cocok untuk ibu menyusui, seperti saya kala itu.

IUD juga praktis dan ekonomis. Harga IUD relatif terjangkau mengingat masa kerjanya yang relatif panjang. Dan saya hanya perlu kontrol posisi IUD setahun sekali. Jadwalnya bisa sekalian disatukan papsmear. Sekali datang, dua keperluan ibu terpenuhi. 

Asal rutin melakukan pemeriksaan, IUD relatif aman dan nyaman digunakan. Selain tidak mengganggu kebersamaan dengan suami, IUD juga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Sebagai guru yoga dan ibu dua anak, tanpa asisten rumah rumah tangga, saya hampir tidak pernah merasakan gangguan berarti selama memakai IUD. 

Jadi, urban mama tidak perlu ragu lagi untuk memasang IUD setelah melahirkan.

Bagi saya (dan suami) memilih dan menggunakan kontrasepsi bukan hanya perkara mencegah, menunda atau merencanakan kehamilan semata. Lebih dari itu, kontrasepsi mengambil peranan penting dalam merencanakan masa depan keluarga, yang bahagia dan berkualitas. 

 

8 Comments

  1. avatar
    GungWie March 18, 2017 10:14 pm

    Anak pertama dan kedua pakai pil KB, tapi masih sering lupa2an. Sekarang lagi memantapkan hati untuk pasang IUD

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Honey Josep March 16, 2017 11:28 am

    Tfs Indah :)

    Ternyata berkontrasepsi tidak seseram yang dibayangkan, yuk mama mama segerakan berkontrasepsi :)

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    dieta hadi March 15, 2017 6:39 pm

    gw pernah pake iud pas melahirkan, karena sc jd bisa langsung pasang. tetapi sayangnya entahlah sudah 2 bulan iud itu melorot jd perlu diambil, akhirnya blom berani pake iud lagi. tapi sekarang memang mau rencana pasang iud lagi nih, nunggu haid datang dulu deh hehe

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Eka Gobel March 15, 2017 4:32 pm

    Toss indah!
    Aku jg dulu sempat pake pil sebelum pindah ke iud. Lebih praktis dan alhamdulillah cocok.

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    Cindy Vania March 15, 2017 4:18 pm

    Ka indaahh.. aku masih dalam tahap pilih-pilih kontrasepsi nih. Temen-temen sih nyaranin IUD, tapi masih belum berani >.<

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.