Learning is Not a Race, It’s a Journey

Lilik

Learning is not a race, it is a journey. Kami suka dan setuju sekali dengan slogan yang ada di stiker dari sekolah anak-anak. Ya, setiap anak mempunyai bakat masing-masing, setiap anak mempunyai keunikan sendiri. Tidak perlu anak diberi label “bodoh” misalnya, karena anak punya kemampuan dan keunikan masing-masing.

Dan siapa sebenarnya yang membuat learning itu bagaikan a race? Menurut kami, justru orangtualah yang membuat race itu. Bahkan sejak anak belum sekolah, race itu sudah dimulai.

Saat anak baru berusia setahun, kita sering mendapat pertanyaan “Anaknya sudah bisa jalan belum, Bu?”. Jika kita jawab belum, akan ada kelanjutan “Wah anak saya sebelum setahun sudah jalan loh, Bu”. Umur dua tahun, muncul pertanyaan lagi “Anaknya sudah lancar bicaranya belum, Bu?”. Jika belum, akan muncul kelanjutannya “Wah, anak saya (atau anak si A), saat umur 2 tahun sudah ceriwis sekali, lho“. Umur 5-6 tahun, akan muncul pertanyaan lagi, “Anaknya sudah bisa baca tulis belum, Bu?”. Jika belum, akan ada kelanjutan lainnya lagi.

Nanti saat usia SD, muncul pertanyaan lagi “Anaknya ikut les apa saja?”. Dan ketika masa terima rapor, akan selalu muncul pertanyaan “Anaknya ranking berapa, Bu?”. Untuk pertanyaan terakhir ini, kami punya jawaban jitu “Oh, di sekolah anak-anak tidak mengenal sistem ranking”.

Bahkan lagi dengan maraknya social media sekarang ini, status “alhamdulillah, anak saya ranking 1″, “selamat Nak, nilai kamu bagus” bahkan sampai memajang nilai rapor anak, danĀ  seterusnya akan banyak ditemui. Apakah hal itu salah? Ya tidak bisa dikatakan demikian. Orangtua mana sih yang tidak bangga kalau anaknya berprestasi? Menurut kami, hal itu sangat wajar.

Bahkan sampai saat kita sudah menjadi orang dewasa pun, pertanyaan-pertanyaan semacam ini seperti tak ada habisnya. Tapi menurut kami, nilai itu bukan segalanya.

Anak harusnya berlomba dengan dirinya sendiri. Artinya, kalau dulu ia belum menguasai tema pelajaran tertentu (untuk anak SD), setelahnya dilihat apakah ia sudah bisa menguasai materi tersebut. Atau kalau mau melihat nilai akademis, misalnya dulu rata-rata di semester 1 adalah 7, semester depannya hasilnya 7,5, berarti kita bisa melihat adanya kemajuan dari anak itu.

Bagaimana dengan kami sendiri? Tentu masih jauh dari kriteria orangtua ideal. Kami selalu berusaha tidak terbawa arus, karena kami sadar dan berusaha selalu sadar, pertanyaan-pertanyaan di atas tidak akan ada ujungnya. Makin besar anak kita, tidak akan ada habisnya kalau harus mengikuti “tekanan” lingkungan. Kami berusaha mengingat akan slogan di atas, bahwa proses pembelajaran anak, bukan suatu pertandingan antar orangtua, justru itu suatu proses yang harus anak jalani untuk menerima hasilnya. Apakah baik atau kurang memuaskan hasilnya? Tentunya semua akan menjadi pembelajaran, baik untuk anak itu sendiri, ataupun untuk orangtuanya.

Kita tidak bisa mengendalikan bagaimana sebaiknya sikap atau pendapat orang tua lain, yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan sikap kita sendiri sebagai orang tua. Kalau kita tidak setuju dengan cara orang lain bersikap, apakah kita akan marah-marah dan kesal? Tentu tidak bijak kita bersikap seperti itu, kembali saja ke panutan yang kita pegang, tutup telinga dan tidak mengikuti hal yang kita tidak setujui itu. Karena, seperti tagline The Urban Mama, there is always a different story in every parenting style.

10 Comments

  1. eka
    Eka Wulandari Gobel February 12, 2013 at 7:49 am

    setuju deh, mama lilik. saya sendiri, yg jadi fokus skrg (anak2 usia balita) di kesehatannya. rasanya lega, kalau lihat anak sehat, ceria, lincah. kalau ternyata berprestasi, alhamdulillah itu bonus :)

  2. Mommy Isha
    Mommy Isha February 12, 2013 at 12:52 pm

    This is a good one!
    Makasih Mbak Lilik sdh diingatkan ^^

  3. Kira Kara
    Bunda Wiwit February 12, 2013 at 3:03 pm

    setuju sekali. Setiap individu itu unik. Bahkan 2 anak kembar saja bisa memiliki perkembangan yang berbeda, apalagi anak yg dibesarkan di rumah yang berbeda yaa.. Great Share, mama Lilik :)

  4. marce febriyanto
    marce febriyanto February 12, 2013 at 11:46 pm

    setuju mom lilik,yg penting sebagai orang tua kita mengenal dan paham anak kita… yg penting sehat n aktif.TFS mom

  5. iva
    iva rahayu February 13, 2013 at 9:34 am

    setuju banget..!!TFS Mom Lilik. a reminder for us. Good parents ga selalu dilihat dari seberapa besar pencapaian anak di umur sekian, tetapi bagaimana kita mendampingi mereka melalui setiap proses dan bagaimana kita mensyukuri serta menghargai setiap pencapaian mereka. Sekecil apapun. Every single little thing means a big score for them. When it means a big score to them, then it means bigger to us, i think.

  6. Lilik
    Lilik February 13, 2013 at 1:29 pm

    terimakasih mamas semuanya.
    tulisan ini lebih mengingatkan ke diri sendiri sebenarnya ;)
    agak2 curcol menjelang UN pertama anak sulung kami *UN oh UN*

  7. hapsari.ayik
    hapsari.ayik February 13, 2013 at 1:41 pm

    i agree :)

  8. niken.adianto
    niken adianto February 19, 2013 at 3:54 pm

    baguuus mb…thanks for sharing :)

  9. umitimur
    ari mutiarasanti February 19, 2013 at 10:17 pm

    Kalo ini social media, i would like say likes these!!!!!!!
    Hehehe,gw banet nih mbak.
    Anak gw br bs jalan umur 14m, dan tiap sapaan ma org yg dtanya : anaky uda bs jalan blm? Ko blm bs jalan? Uda bs ngomong apa?
    Duuuuuuh rasay waktu itu miris bgt deh,antara kurang ngelatihy atau ada kelainan dkakiy,smp browsing2…..trs prlahan2 suami ngingetin n tiba2 dia bilang “kalo hasbi mmg tryt ngga bs jalan,mmg bukan anak qt jadinya???” Rasanya jlep bgt,iya jg y…apapun adanya dianak qt,wlaupun brbeda dg anak lainnya,dia tetep anak qt n qt trs berikan yg trbaik. Habis itu gw nazar dan itu jauh lebih manjur,alhamdulillah…. trutama mengolah sabar. Sebulan kemudian hasbi bs jalan tanpa proses rambatan yg lama. Itupun jg kebetulan krn dia pengen megang kucing. Duh, happy luar biasa…. :)

  10. lucky.savitri
    lucky.savitri April 23, 2013 at 12:45 pm

    Lega banget baca ini. Bener banget, kita ngrasa orang tua lama2 kok kayak kompetisi ya. Kasian anak, dibandingkan sama anak2 lain, sedangkan kita sendiri yakin & percaya bahwa setiap anak adalah unique.
    Thank you for reminding us ya mbak :)

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.