Level Ideal Dana Darurat Keluarga

JrPlanner
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Saya yakin kita semua sudah familier dengan dana darurat. Jika belum, bisa masukkan kata dana darurat di google dan Urban Mama akan memperoleh banyak penjelasan mudah tentang topik ini. Intinya simpel saja, kita harus punya dana yang cukup sebagai perisai dalam menghadapi rainy days. Sekarang mari kita masuk sedikit lebih dalam.

Kali ini saya ingin membahas tentang “berapa sih jumlah dana darurat ideal yang harus dimiliki?”. Ini merupakan pertanyaan yang paling sering diajukan walaupun secara umum saya yakin kita sudah sering membaca tentang jumlah dana darurat ideal. Kenapa banyak yang bertanya lagi? Mayoritas karena merasa jumlah dana darurat itu terlalu besar atau merasa sayang jumlah dana sebesar itu hanya bisa menikmati bunga kecil di tabungan atau instrumen lain yang sejenis. Sayang sekali, lebih baik diinvestasikan.

Saya sendiri setuju jika dana darurat ini tidak harus sebesar apa yang menjadi konsensus kita selama ini. Dari hasil membaca banyak referensi tentang dana darurat ini, saya berkesimpulan bahwa jumlah ideal dana ini bisa saja berbeda untuk setiap orang/keluarga tergantung dari kondisi dan karakternya, tidak hanya secara sederhana tergantung dari status (lajang/menikah) serta berapa jumlah anak atau tanggungan dalam keluarga. Pasti sampai sini banyak yang merasa senang.

Sebelum masuk ke level dana darurat ideal ini, kita bahas dulu faktor yang menjadi dasar perhitungan dana darurat ini. Ada beberapa pendekatan, dan bisa diaplikasikan sesuai dengan kondisi kita:

  • Pendapatan bulanan. Ini yang paling gampang, karena jumlah dana darurat tinggal dihitung dari besarnya angka di slip gaji dikalikan faktor pengali yang sesuai. Bagaimana bagi pengusaha atau pekerja lepas? Pakai saja pendapatan rata-rata bulanan, bisa dengan membagi penghasilan 1 tahun terakhir dengan 12 (lebih baik lagi jika menggunakan rata-rata pendapatan bulanan selama 3-5 tahun terakhir, jika memungkinkan).
  • Biaya hidup bulanan. Umumnya yang digunakan adalah pengeluaran rutin keluarga dalam sebulan, mencakup biaya rumah tangga, biaya asuransi, sedekah, cicilan hutang, tabungan, dan investasi. Namun ada juga yang mengeluarkan alokasi tabungan dan investasi dari perhitungan ini dengan asumsi pada saat darurat, investasi dan tabungan akan ditunda dulu sampai keadaan kembali membaik.
  • Biaya hidup primer. Ini meliputi semua pengeluaran rutin yang bersifat pokok, tidak termasuk biaya entertainment, biaya makan dan transportasi di hari kerja, serta biaya lain-lain yang dikeluarkan jika kita masih bekerja. Asumsinya, semua biaya ini pasti akan ditekan saat kita tidak memiliki penghasilan.

Mana yang paling cocok untuk digunakan? Tergantung Urban Mama. Paling mudah adalah menggunakan pendapatan bulanan sebagai patokan, karena umumnya banyak orang yang tidak bisa menghitung berapa biaya bulanan mereka.

Mari lanjut lagi, kembali ke topik utama. Jadi, berapa level ideal untuk menghitung jumlah dana darurat ini? Apakah harus sesuai dengan patokan seperti yang sering disebutkan? Satu hal yang pasti, saya belum menemukan satu pun referensi internasional yang secara jelas menjelaskan argumentasi mengapa dana darurat ini harus bertambah 3 bulan biaya hidup setiap ada penambahan 1 orang tanggungan. Umumnya, setiap orang/keluarga disarankan untuk memiliki dana darurat sebesar 3-6 bulan biaya hidup. Itu saja. Tanpa ada embel-embel lain. Mau lajang, sudah menikah, punya tiga anak, semua sama. Memang, lebih dianjurkan lagi jika dana ini bisa ditambah menjadi 9-12 bulan, tapi itu bukanlah sesuatu yang harus dipenuhi. Dengan penambahan anggota keluarga atau tanggungan, biaya hidup dengan sendirinya akan meningkat. Otomatis, dana darurat pun akan meningkat walaupun pengalinya tetap. Belum lagi jika Urban Mama mulai melakukan hitung-hitungan, seandainya biaya hidup keluarga (2 anak) per bulan sebesar Rp 20 juta, artinya anda harus menyiapkan dana darurat sebesar Rp 240 juta dalam tabungan. Rela? Pasti banyak yang geleng-geleng kepala…

Setelah saya rangkum dari beberapa sumber, sebenarnya dana darurat ini tergantung dari beberapa hal penting, khususnya yang terkait dengan PHK, antara lain:

  • Bidang pekerjaan. Jika Urban Mama bekerja di industri yang keahliannya banyak dibutuhkan di berbagai bidang, atau bisa dikatakan tidak akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan baru, maka kebutuhan dana darurat yang besar sebenarnya tidak menjadi keharusan. Pekerjaan apa saja yang seperti itu? Pasti kita sama-sama tahu. Belum lagi kalau Urban Mama bekerja di perusahaan yang sudah well established, yang jika terjadi PHK akan dikompensasi dengan pesangon yang besar, otomatis ada tambahan keamanan untuk masa darurat.
  • Kestabilan pekerjaan. Jika Urban Mama berada di indutri yang relatif stabil, seperti pegawai negeri, maka kekhawatiran untuk dipecat menjadi lebih kecil daripada di sektor lainnya. Dana darurat yang dibutuhkan lebih diutamakan pada proteksi jika terjadi masalah dalam kesehatan atau hal-hal lain yang terkait dengan keluarga. Di sini biaya yang mungkin terjadi bisa anda perkirakan juga dan berbeda untuk setiap orang.
  • Profil risiko. Seperti juga dalam hal pemilihan instrumen investasi yang sesuai, setiap orang memiliki pandangan terhadap risiko yang berbeda. Seorang yang kreatif dan suka tantangan akan lebih yakin mengenai kemampuan dirinya untuk bertahan dalam rainy days dibandingkan orang-orang yang suka berada dalam comfort zone. Orang-orang kreatif ini umumnya lebih yakin bahwa mereka bisa melakukan sesuatu yang lebih selama rainy days dan tidak perlu bergantung pada lowongan pekerjaan baru. Mereka akan lebih memilih untuk mencari pendapatan secara mandiri dengan memanfaatkan keahlian dan kreativitas mereka.

Berbicara mengenai profil risiko, saya pribadi percaya bahwa setiap orang memiliki naluri untuk bisa survive dalam keadaan sulit. Banyak contoh pengusaha yang bisa lahir dari kondisi seperti ini, yang faktor pemicunya sering disebut “The Power of Kepepet” (berdasarkan buku karya Jaya Setiabudi). Terkait dengan hal ini juga, saya suka sekali, saya ulangi: SUKA SEKALI dengan tulisan salah satu moderator The Urban Mama, Fanny Hartanti:

Kalaupun rainy days datang menghampiri (knocking on woods), I know I have an umbrella. It may be not the biggest, strongest, most expensive one, but i have it. And when the umbrella is no longer available, deep down I believe I can face the rain anyhow. So, I will get wet, but I will fight. Hell, I might even dance in it.

Jika Urban Mama punya mental dan kemampuan seperti teman saya ini, tidak ada alasan untuk menumpuk uang di tabungan. Go find something else.

Jadi, berapa level ideal dana darurat masing-masing? Coba baca dan renungkan lagi detail yang telah saya tulis di atas, dan tanyakan pada diri sendiri, di mana posisi Urban Mama dan bagaimana cara menilai masa depan. Saran saya, dana darurat minimum yang wajib ada sebaiknya berkisar antara 3-6 bulan biaya kebutuhan primer keluarga. Tentu saja lebih besar akan lebih baik. Hitung-hitung sebagai cadangan jika ada peluang investasi menarik datang di depan mata.

Sekian dulu tulisan saya tentang dana darurat ini. Semoga berguna dan bisa dijadikan bahan diskusi lebih lanjut. Selamat menghitung dana darurat!

Image: www.gobankingrates.com

 

11 Comments

  1. ipeh
    Musdalifa Anas November 6, 2012 at 7:28 am

    Bener selama ini selalu mendengar kalau dana darurat itu (kalau punya anak 2 berarti mesti dikali sepersekian dari total pengeluaran), lumayan juga ya.

    Tapi setuju, dana darurat ini penting banget, beberapa bulan yang lalu suami saya jobless yang berarti gak ada penghasilan saat itu, sementara pengeluaran rutin gak bisa dihindari. Untungnya ada dana darurat, gak besar tapi dapat menutupi pengeluaran rutin tsb.

    Thanks artikelnya Junior Planner :)

  2. amaliaputri
    Amalia Putri November 6, 2012 at 7:49 am

    thanks artikelnya..

    Persis seperti apa yang ada di pikiran saya selama ini.. Mau menyimpan dana darurat (yang berarti besar pendapatan/pengeluaran bulanan dikali sekian bulan) rasanya sayang bila terlalu banyak dan lama mengendap di tabungan begitu saja..
    menanam dana darurat dalam investasi sepertinya akan lebih ‘menantang’ yah :)

  3. mamarini
    rini November 6, 2012 at 8:23 am

    thanks for the article jrplanner,
    dilema bagi saya dan suami yg “telat” memetakan keuangan keluarga padahal banyak kebutuhan pengeluaran tak bisa dihindari dengan hadirnya tiga buah hati tercinta kami *curcol hehehe*.. sehingga sering bimbang apakah dana longgar yg tidak banyak ini akan kami investkan ato masuk dana darurat. any suggestion for us,jrplanner? :)

  4. Kira Kara
    Bunda Wiwit November 6, 2012 at 11:22 am

    wah.. pas sekali. Pas sedang tahap mempersiapkan dana darurat.. jadi plong deh gak harus sebesar patokan yang pernah saya baca.. ternyata beda orang beda patokan ya, bergantung banyak hal… *semangaattt*

  5. otty
    Pangastuti Sri Handayani November 6, 2012 at 12:54 pm

    Artikelnya bagusss… Dan bener gue juga terhenyak kalo baca dana darurat harus sekian sekian besarnya, haduh banyak banget! Emang harusnya disesuaikan dengan kondisi masing2 lagi.

  6. JrPlanner
    Tofan Saban November 6, 2012 at 4:44 pm

    Terima kasih untuk semua tanggapannya, semoga berguna yah. Tapi benar-benar harus disesuaikan dengan profil dan kondisi masing-masing keluarga yah, jangan jadikan tulisan ini sebagai pembenaran untuk mengecilkan pos dana darurat ;)

    @rini: Jika investasi yg dimaksud adalah untuk pendidikan anak maka mau ngga mau investasi dan dana darurat harus dijalankan bersamaan. Keduanya memiliki posisi yang sama-sama penting dalam keuangan keluarga. Sebaiknya dana darurat ini bisa disiapkan minimal sebesar 1x biaya hidup dulu, kemudian sisanya dikumpulkan pararel dengan investasi untuk anak.

  7. fanny
    Fanny Hartanti November 6, 2012 at 6:06 pm

    itu quotenya sungguh keren *uhuk*
    *nenggak benadryl*

    but seriously… TFS buat artikelnya yang Tofan.
    ternyata banyak yah yang sepemikiran, tapi tetep perlu emang ini dana darurat..so, mari giat menabung lagi :)

    1. JrPlanner
      Tofan Saban November 9, 2012 at 1:06 am

      Thanks jg Fanny utk quote keren yg sangat inspiratif :) Dipatenin aja mendingan, trus dijadiin poster, kita jual deh di gramed, hihihi…

  8. eka
    Eka Wulandari Gobel November 11, 2012 at 11:43 pm

    dan saya suka sekali tulisannya tentang dana darurat :)
    jadi pengingat utk kita semua, berkaca dan introspeksi. Hyuuk cemungud nabung! :)

    wiih canggih deh jeung fanny quote-nya.. ikutan dancing in the rain ah..biar kayak model2 video clip!
    *sepertinya salah fokeus yaa*

    1. JrPlanner
      Tofan Saban November 12, 2012 at 4:50 am

      Terima kasih. Semoga berguna dan jadi lebih semangat ngumpulin dana darurat :)

  9. mamashiloh
    mamashiloh January 23, 2013 at 7:49 am

    jadi pencerahan buat saya… trims ya :)

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.