Mama's Sick Survival Kit

Urban Mama pasti pernah mengalami situasi berikut: anak sakit, biasanya si kakak -yang sudah bersekolah- yang duluan sakit. Flu, batuk, pilek, diare, atau sakit yang lainnya, sama saja hebohnya. Selang beberapa hari kemudian, giliran adiknya yang sakit. Kalau anak-anak berbarengan sakit, berarti harus bolak-balik ke dokter berbarengan, atau kalau diopname harus bolak-bali antara rumah dan rumah sakit. Belum lagi melewati episode malam-malam mengganti seprai karena si kakak muntah, atau si adik menangis keras menolak minum obat dan dimuntahkan juga. Tidak jarang pula kala anak-anak masih sakit, kini giliran Mama -yang tenaganya sudah terkuras habis- tumbang kena sakit. Belum lagi kalau si ayah juga sakit, atau misalnya sehat pun tetapi tidak dapat izin dari kantor untuk mengurus Mama dan anak-anak di rumah, atau ternyata sedang ditugaskan ke luar kota. Lalu saat Mama membuka kulkas ternyata susu habis, telur habis, dan air galon belum diganti, sementara anak-anak meminta makanan yang tumben-tumbennya hanya makanan tersebut yang mau mereka makan saat sakit. Things just got real. 

Familiar dengan situasi tersebut? Jujur saja, membayangkan harus mengurus anak sakit saja cukup membuat saya menghela napas, belum lagi kalau saya ikutan ketularan sakit (seringnya sih seperti ini). Taking care of someone who is sick consumes a lot of energy and time, especially when you are sick, too. Kalau ada bantuan asisten rumah tangga, mungkin mengurus keluarga di kala Mama ikutan sakit bisa agak terbantukan. Namun berbeda kondisinya kalau Urban Mama hanya dapat mengandalkan diri sendiri. Kadang kita sudah rajin-rajin menjaga kesehatan, tetapi tetap saja bisa tertular sakit sementara tugas mengurus keluarga harus jalan terus.

Suatu hari saat suami sedang bertugas jauh dari rumah, kok ndilalah anak sakit dan saya juga ketularan. Waktu itu susu di rumah habis. Dan saya harus mendorong stroller di tengah salju lebat ke ke toko terdekat untuk membeli susu, makanan dan tisu karena di rantau tak ada satu teman pun yang tinggal dekat area rumah kami dan bisa dimintai bantuan. Saat di supermarket, saya berpikir: tidak bisa begini lagi, sakit-sakit malah tidak bisa istirahat. Namun saya tidak bisa bermanja-manja menikmati bantuan tiap kali sakit. I have to do something.

(Kredit gambar: www.pixabay.com)

Akhirnya saya membuat 'Sick Survival Kit'. Sick Survival Kit ini saya siapkan di rumah untuk berjaga-jaga, terutama di musim-musim pancaroba dimana tinggi sekali kemungkinan anggota keluarga terkena sakit. Isinya sederhana saja, mungkin Urban Mama dapat menyediakannya juga di rumah. Apa saja isinya?

1. Sup, beras, makanan-minuman instan, dan biskuit. Ya, saya selalu punya stok sup krim instan dan sup ayam beku. Kalau lapar, tinggal hangatkan saja supnya. Saya juga sedia stok pasta makaroni yang sudah dimasak dan dibekukan, satu-satunya makanan yang mau dimakan si kecil kalau sakit. Selain itu juga ada beras instan sachet, tinggal dimasak seperti biasa jadi bubur atau nasi. Siapkan juga stok minuman seperti minuman jahe instan, teh celup, susu bubuk cokelat instan dan camilan biskuit untuk anak. Kadang saya juga menyimpan 2 bungkus mie instan untuk saya makan sendiri malam-malam setelah lelah bergelut dengan si kecil yang menolak minum obat atau rewel tidak mau tidur. When all else fails, micin prevails, right?

2. Sedotan. Saat terkena flu dan susah rasanya meneguk air dari gelas, sedotan cukup membantu untuk pelan-pelan minum air. Kebetulan anak saya kalau sakit juga hanya mau minum kalau pakai sedotan, makin berwarna-warni sedotannya makin bagus. So, it's a win-win.

3. Stok obat-obatan dan vitamin. Ini pasti ya. Ada satu kotak kecil dalam kulkas yang saya siapkan berisi obat sirop penurun panas, bubuk oralit, obat batuk, tablet flu, tablet parasetamol, obat alergi, minyak kayu putih dan obat gosok, permen antiseptik tenggorokan, sebotol madu serta vitamin. Tidak perlu disiapkan banyak-banyak, cukup siapkan obat untuk persediaan seminggu. Mengapa diletakkan dalam kulkas? Agar awet disimpan dalam kondisi dingin, dan mudah ditemukan oleh pak suami -yang seringnya kalau diminta mengambilkan obat saja bisa menggeledah seisi rumah.

4. Tisu. Baik tisu kotakan, wet wipes, dan tisu toilet. Biasanya saya sediakan barang 2 kotak dan satu bungkus besar tisu toilet, disimpan dalam lemari pantry untuk membedakannya dengan yang dibutuhkan di kamar mandi. Kalau si kecil masih pakai popok, siapkan juga stok popok sekali pakai cadangan untuk si kecil ya Mama. Oh, dan siapkan pula stok pembalut cadangan untuk Mama.

5. Piring dan mangkuk kertas, dan gelas-sendok-garpu plastik sekali pakai. Masih mau cuci piring kalau sedang sakit dan harus mengurus anak sakit?

6. Baju tidur terenak dan ternyaman yang pernah Mama punya. Like, the softest pajama, 'daster', or bathrobe kimono you can have and you don't mind wearing it for 3 days in a row. Pernah saya bercanda ke suami, bilang kalau selama saya mengenakan seragam sakit berupa piyama berbahan adem lembut ini status saya adalah sedang 'cuti sakit' dan saya berhak untuk bergelung di bawah selimut tidur sampai badan terasa enakan... kalau bisa, ya.Kalaupun tidak bisa, setidaknya saya mengenakan baju berbahan enak dan hangat selama badan sakit-sakitan.

 

This is the harsh truth of being a mother: even when we got sick, we cannot afford to be sick. But we are strong, we are mothers and mothers don't have sick days... We have a survival kits. Ada Urban Mama di sini yang juga menyiapkan perlengkapan serupa?

3 Comments

  1. avatar
    Nisa Mustikasari April 3, 2018 9:32 am

    Salam kenal mbak Aini :)
    Sebagai ibu rantau yg gak ada ART plus jauh dr keluarga aku jg suka sugestiin "mamak kudu setrong" "mamak ga boleh sakit", tapi yaa namanya manusia kadang ada aja waktu ambruknya.

    Tfs mbak, menginspirasi banget. Langsung deh ah mau nyiapin survival kit, tp semoga sehat selalu aja semuanya..

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Cindy Vania April 3, 2018 5:42 am

    Mba Ai.. i feel you!
    Setelah rawat 3 anak yg gantian sakit, biasanya aku bakalan tumbang juga.

    Dulu, setiap anak2 sakit gitu, aku langsung belanja banyak karena udah ada feeling bakal kena juga.
    Nah sekarang rada santai, soalnya udah ada ojek online yg bisa dimintain tolong.

    Semoga mba Ai sehat selalu yaa.. ga kebayang booww lagi lemes tapi harus menerjang salju gitu

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    ninit yunita April 2, 2018 4:24 pm

    aini,
    terus terang belum punya survival kits. baca artikel ini jadi sadar kalau kita perlu banget punya survival kits. namanya juga mama, segala macam harus siap yaa.

    thanks ai udah menyadarkan pentingnya punya survival kits saat kita sakit. semogaaa kita semua sehat selalu yaaa.

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.