Melihat Dengan Mata Hati

dieta hadi

Sebagai manusia, lebih-lebih lagi sebagai orangtua, kita ingin sekali menjadi orangtua yang sempurna untuk anak-anak kita. Bisa mendidik dan melihat tumbuh kembang anak kita dari lahir hingga besar dengan mata kepala kita sendiri. Saya yakin hampir semua orang ingin seperti itu, melihat seluruh perkembangan anaknya dengan matanya sendiri, ya matanya sendiri. Lalu bagaimana jika kita tidak bisa melihat itu semua dengan mata kita sendiri? Bukan karena sudah dipanggil oleh Tuhan (meninggal dunia) tetapi lebih karena mata sebagai  indra penglihatan kita diambil oleh Tuhan alias tidak bisa melihat? Bagaimana kita bisa melihat perkembangan anak jika tidak bisa melihat? Lalu bagaimana perasaan kita?

Awalnya saya amat ketakutan ketika membayangkan, bagaimana jika saya tidak bisa melihat tumbuh kembang anak-anak saya karena keterbatasan? Apakah saya akan menangisi hidup dan menyalahkan Tuhan? Tentu saja saya takut jika Tuhan memberikan ujian seperti itu sampai akhirnya saya bertemu dengan seseorang Ibu yang sekarang menjadi ibu mertua saya dan kejadian yang menimpa saya sehingga membuat saya belajar untuk menjadi manusia yang ikhlas, walaupun sulit.

Ibu mertua saya adalah ibu rumah tangga biasa, ia mengurusi suami, anak, dan rumah dengan segala suka cita. Ibu Mertua adalah seorang wanita yang sesungguhnya, cantik (melihat fotonya ketika muda walaupun sampai sekarang masih cantik), baik dan sangat bersahaja. Menurut anak-anaknya, beliau tidak pernah marah, padahal mereka bertiga sangat lincah dan aktif. Beliau hanya berbicara dengan lemah lembut ketika anak-anak berebut mainan atau melakukan hal lain yang kadang membuat kita gemas dan kesal. Sebagai Ibu, tentu saja mertua saya ingin sekali melihat anak-anaknya tumbuh besar, sukses, dan melihat cucu-cucunya dengan matanya sendiri, tetapi sayang, Tuhan berkata lain, ketika anak-anaknya masih kecil, Ibu Mertua tiba-tiba tidak bisa melihat. Apa penyebabnya? Saya sendiri tidak tahu dan tidak berani menanyakan langsung, suami tidak tahu karena ia juga tidak mau menanyakan langsung. Yang suami saya ceritakan adalah pada waktu itu dokter berkata bahwa mata Ibu Mertua bisa diselamatkan dan bisa melihat lagi walaupun prosesnya sangat lama dan hasilnya 50-50 serta memakan biaya yang lumayan mahal. Karena hal ini, Ibu Mertua mengambil keputusan untuk tidak mau mengambil tindakan penyelamatan matanya itu, Ibu lebih memilih tidak bisa melihat dengan alasan yang terkadang tidak saya mengerti, yaitu, “Saya sudah mulai terbiasa dengan penglihatan seperti ini”. Lalu apakah keluarga suami tidak memaksanya? Tentu saja memaksanya, tetapi Ibu Mertua tetep dengan pendiriannya dan mengatakan “Saya masih punya mata hati yang diberi oleh Tuhan, dan saya bisa melihat dunia ini dengan mata hati saya”. Jika sudah seperti itu, mau bagaimana lagi?

Dengan keterbatasan itu, Ibu Mertua tetap membesarkan anak-anaknya, tetap menjadi ibu rumah tangga yang selalu menyiapkan makanan untuk anak-anak dan suaminya. Ya, Ibu Mertua masih memasak hingga sekarang walaupun beliau tidak bisa melihat. Beliau masih melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, mengepel, menyapu, menyetrika, dan hal-hal lainnya seperti layaknya manusia yang memiliki mata. Entahlah, waktu pertama kali mendengar ceritanya, saya tidak percaya sampai akhirnya melihat langsung. Pada saat itu saya berpikir, jika saya seperti beliau, apakah saya bisa seikhlas beliau? Saya rasa tidak! Pasti saya sudah menangis dan menyalahkan diri sendiri dan sampai pada akhirnya Tuhan memberikan cobaan sesaat pada saya yang membuat saya tahu dan bisa merasakan apa yang Ibu Mertua rasakan. Ya, Tuhan sempat memberikan saya ujian yaitu tidak bisa melihat dunia alias buta ketika saya harus melahirkan anak saya Mika karena pre-eklamsia. Benar, saya tiba-tiba buta saat itu, tidak bisa melihat apa-apa selain warna hitam. Tetapi entah kenapa pada saat itu saya tidak merasa panik dan takut jika Tuhan harus mengambil mata saya. Pada saat itu saya hanya bisa pasrah dan percaya pasti Tuhan akan memberikan jalan terbaik jika saya ikhlas. Tuhan mendengar doa saya dan memberikan kembali penglihatan kepada saya. Di sini saya baru merasakan apa yang Ibu Mertua saya rasakan, tidak bisa melihat bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa. Ikhlas kepada Tuhan akan membuat kita menjadi tenang dan nyaman menjalani kehidupan ini dan itu terjadi pada Ibu Mertua saya.

Yang jelas, saya sebagai menantu sama sekali tidak merasakan malu dengan kekurangan Ibu Mertua. Keluarga suami saya saja tidak merasakan hal itu, mereka sangat mengerti dan menjembatani kebutuhan Ibu Mertua. Oh ya, Ibu Mertua bisa tahu rupa seseorang, padahal beliau kan tidak melihat, ya? Ya, jika bertemu dengan seseorang, Ibu Mertua pasti bersalaman dan cium pipi kiri kanan baik dengan pria atau wanita, dengan begini beliau akan mengetahui rupa orang itu, karena biasanya dia akan bertanya kepada kami apakah orang tersebut mirip dengan seseorang yang beliau kenal. Seperti ketika bertemu dengan papa saya, setelah itu beliau bertanya kepada anak-anaknya, papa saya mirip dengan Bapak A ya?  Dan memang papa saya mirip dengan Bapak A itu. Kami selalu menceritAkan setting suatu ruangan atau keadaan ketika kami mengajak ke suatu tempat, agar Ibu Mertua juga bisa membayangkan tempat tersebut dan melihat dengan mata hatinya. Begitu juga dengan barang-barang yang kami beli untuk Ibu Mertua, ya semua itu kami lakukan supaya ia juga bisa melihatnya.

Saya sungguh kagum dengan ibu mertua saya ini, dengan keterbatasan yang dimiliki, beliau masih bisa membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan baik, dengan penuh cinta dan kasih sayang. Tidak pernah menyesali keadaan yang dirasakan dan dihadapi, selalu pasrah dan ikhlas menghadapi kehidupan dan ujian yang Tuhan berikan kepadanya. Dari Ibu Mertua, saya belajar untuk bisa menerima kenyataan kehidupan ini, belajar untuk bisa ikhlas dan belajar untuk lebih sabar lagi menghadapi segala hal.

Mama, begitu banyak hal yang Mama berikan dan contohkan kepadaku, begitu hebatnya dirimu sehingga membuatku untuk selalu terus mencintaimu tanpa batas.

28 Comments

  1. ninit
    ninit yunita April 25, 2012 at 6:24 am

    dietaaa…
    nangis deh bacanya :’)
    luar biasa banget ibu mertuamu. iyaa keliatan cantik diet :) salam yaa untuk beliau.

    1. dieta hadi
      agwina dieta April 25, 2012 at 12:44 pm

      hehe aku nulisnya mewek teh, nanti disalamin ke mama. tengkyu teh

  2. dewiastri
    Dewi Astri April 25, 2012 at 6:54 am

    terharu bgt..:’) thanks for sharing this inspiring story yaa..salam buat ibu mertua :)

    1. dieta hadi
      agwina dieta April 25, 2012 at 12:46 pm

      Thanks ya dewi, nanti disampaikan salamnya

  3. eka
    Eka Wulandari Gobel April 25, 2012 at 7:17 am

    dietaa..walopun udah berkali-kali diceritain ttg ibu mertua, ttp aja berkaca2 baca ceritanya :’)
    salam hormat utk mama yaa

    1. dieta hadi
      agwina dieta April 25, 2012 at 12:50 pm

      siapppp ekaaa hehe

  4. morningtea
    morningtea April 25, 2012 at 7:59 am

    Mbak Dieta, ini gak dimasukin pas lomba kartinian kemaren ya (eh ga boleh karena moderator kah?)

    Bagusss banget penulisannya, trus kagum banget juga sama mama mertuanya.

    1. dieta hadi
      agwina dieta April 25, 2012 at 12:51 pm

      haha kemaren masukin koq tapi cuman sebagai penggembira karena aku sekarang bagian dari TUM Family, yg pasti ga akan menang-menang hihi. hanya meramaikan saja.

      Thanks ya

  5. crey
    Chrisye Wenas April 25, 2012 at 9:12 am

    Wow, takjub banget deh bacanya… She’s really a superwoman! Age & elo must be proud ya diet punya mama seperti beliau :’)
    Salam hormat buat beliaauuu ya diet *cium tangan*

    1. dieta hadi
      agwina dieta April 25, 2012 at 12:52 pm

      hai crey, iya gw salut sama beliau, tengkyu ya crey nanti gw salamin sama beliau

  6. iyu
    yuliana karang April 25, 2012 at 9:19 am

    salam hormat buat ibu mertua mbak dieta :)
    speechless *peluk*

    1. dieta hadi
      agwina dieta April 25, 2012 at 12:53 pm

      Tengkyu yuu, nanti disampaikan salam nya

  7. bundanadiandra
    bundanadiandra April 25, 2012 at 9:47 am

    ditulis dengan sepenuh hati maka akan sampai ke hati pembaca juga.. :)
    nice share mba.. coba bisa diikutin lomba kemarin, pasti menang deh.. :)

    1. dieta hadi
      agwina dieta April 25, 2012 at 12:54 pm

      Tengkyu ya. Kemaren ikutan koq tapi aku ga bakal menang karena aku sekrang bagian dari TUM Family, hanya meramaikan saja kalopun ikutan.

  8. wikit
    wikit April 25, 2012 at 9:48 am

    MIL yang HEBAT!!!
    Sharing yang indah :)

    TFS

    1. dieta hadi
      agwina dieta April 25, 2012 at 12:55 pm

      Tengkyu!

  9. April 25, 2012 at 9:52 am

    aduh, ceritanya mengharukan bangeeet, diet! mama mertua hebat sekali yaaa. saluuuut deh.

    1. dieta hadi
      agwina dieta April 25, 2012 at 12:56 pm

      hihi iya thal, gw pun salut ngeliat beliau. tengkyu ya thal

  10. Kira Kara
    Bunda Wiwit April 25, 2012 at 11:01 am

    aduuhh.. pagi-pagi udah dibikin mewek deh.. hiks.. terharu.. salut untuk ibu mertuanya.. salam dari kami para MAMAs TUM

    1. dieta hadi
      agwina dieta April 25, 2012 at 12:56 pm

      tengkyu ya, nanti disampaikan salamnya

  11. rachanlie
    mira a April 25, 2012 at 11:19 am

    Dieta… Mewek deh gw bacanya… You are so lucky to have a mother in law like her.. So very lucky… TFS ya dear.. :-*

    1. dieta hadi
      agwina dieta April 25, 2012 at 12:57 pm

      Alhamdulillah mir gw dapet mertua kayak nyokap, bener-bener beruntung. Thanks ya mir.

  12. mamaqilla
    sari April 25, 2012 at 3:18 pm

    TFS ya mba diet,,,
    spti tamparan nih, MILmu dg rajin&segenap hatinya melakukan “bebenahan printilan”rumah, sedangkan kita upss aq deh:D terkadang u/melakukan pekerjaan semua itu masih suka mls(dg alasan WM,plg gawe capek), *mulai skrg hrus bebenah diri&belajar dikit2 rajin*

    salam yah wat ibu:)>cantik rada bule2 gitu

    *pertanyaan ter OOT :D,,itu pic sumamimu waktu kecil?

  13. marce febriyanto
    marce febriyanto April 25, 2012 at 9:55 pm

    terharu kekurangan’y ibu jadi kelebihan’y y….. ikhlas’y itu yg ga nahan.sebagai org yg “sempurna fisik”harus msh latihan banyak y,,,,,

  14. arninta
    arninta pusiptasari April 26, 2012 at 3:37 pm

    nangis bacanya :’)

  15. Honey Josep
    Honey Josep April 27, 2012 at 11:39 am

    :’)

  16. mommyaira
    jarvi kurnia lestari April 28, 2012 at 8:57 am

    Can’t say a word…gak berhenti senyum2 terharu aku bacanya…salam hormat untuk beliau ya mbk :)

  17. hys_vina
    Harning Yuangvi Setiarini April 28, 2012 at 11:48 am

    terharu bgt mb…

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.