Memperkenalkan Konsep Kesetaraan Gender pada Anak-anak

“Anak laki-laki rambutnya harus pendek, nggak boleh panjang kayak perempuan.”

“Pilih warna yang lain saja, ya. Pink warna anak perempuan, kan.”

“Loh kok nonton Little Pony? Itu kan film buat anak perempuan.”

“Aduh anak perempuan ngapain panjat-panjat pohon?”

Saya ingat dan sadar kalau dibesarkan dengan banyak mendengar ucapan-ucapan seperti itu. Tidak bisa dipungkiri anak perempuan dan anak laki-laki dipisahkan dengan stereotip gender yang kadang membuat saya gemas. Walaupun mungkin tidak sekaku zaman dahulu, sekarang stereotip gender laki-laki dan perempuan misalnya blue for boys and pink for girls tetap bertebaran di mana-mana. Hal ini juga bisa kita temukan  di area yang ditujukan untuk anak-anak termasuk dalam film, buku cerita, dan seabrek produk untuk mereka yang diiklankan lewat berbagai jenis media.

Dari beberapa artikel, baik artikel ilmiah maupun sosial, saya mengenal istilah gender-neutral parenting yang intinya adalah mengasuh anak tanpa mementingkan jenis kelamin. Pada praktiknya, ada orang tua yang ekstrem, tetapi ada juga yang melakukannya dengan cara yang lebih halus. Contoh yang ekstrem misalnya ada orang tua di Toronto yang punya anak sudah berusia 3 tahun dan tidak diberi tahu apa jenis kelaminnya. Mereka ingin si anak bebas dalam bereksplorasi tanpa terkungkung gender yang dimilikinya. Cara yang lebih halus dilakukan misalnya dengan memilih warna-warna netral untuk berbagai benda, membebaskan anak memilih mainan, dan memilih pakaian sendiri. Banyak orang tua di Eropa yang mulai menganut pola pengasuhan dengan label gender-neutral ini.

Melihat contoh ekstrem seperti pasangan di Toronto, saya merasa itu bukan pilihan gaya pengasuhan yang tepat untuk saya. Menurut saya, setiap anak tetap harus bisa mengidentifikasi dirinya sendiri lewat jenis kelamin. Ketidakmampuan mengidentifikasi akan membuat mereka bingung dan malah menyebabkan krisis identitas. Namun demikian, saya juga ingin mengajarkan anak tentang kesetaraan gender. Hal ini ingin saya lakukan dengan cara yang lebih halus, disesuaikan dengan kondisi lingkungan budaya Indonesia serta tak ketinggalan juga budaya keluarga sendiri. Istilah yang lebih cocok mungkin gender-balanced. Tujuan gender-balanced parenting bagi saya bukan untuk menghapus keberadaan gender, tetapi untuk mengurangi dampak stereotip yang membatasi anak. Saya ingin memberikan anak-anak kebebasan untuk bereksplorasi dengan apa yang mereka suka, memastikan mereka bisa memilih dan mendapatkan kesempatan untuk mengalami berbagai hal positif tanpa dibatasi gender. Saya mendorong anak untuk memahami kesetaraan gender malalui beberapa hal.

Menghilangkan blue for boys pink for girls sedini mungkin

Saya membiarkan anak memilih warna sesuai dengan apa yang dia suka atau inginkan. Dalam buku anak best seller The Day the Crayons Quit ada contoh bagus. Krayon berwarna pink meminta Duncan, karakter anak laki-laki dalam buku, supaya menggunakannya untuk menggambar dinosaurus, monster atau bahkan koboi. Pengarang buku Drew Daywalt mencoba membuka wawasan anak bahwa warna pink bukan untuk princess semata tapi bisa bebas untuk yang lain. Saya sering merasa gemas karena melihat banyak iklan, mainan, area anak yang didominasi warna biru untuk anak laki-laki dan merah jambu untuk anak perempuan. Jadi warna apa pun yang dipilih anak untuk mainan, alat tulis, pakaian, saya bebaskan saja.

Mainan tidak punya gender, bebaskan anak memilih

Menurut beberapa penelitian, anak usia 2-6 tahun belajar stereotip gender dari mainan karena mainan tersebut diasosiasikan dengan gender tertentu. Bagi saya tidak ada istilah mainan anak laki-laki dan mainan anak perempuan. Selama mainan itu bermanfaat untuk perkembangan anak, silakan pilih mana yang disuka. Mainan yang dimainkan anak sangat penting untuk perkembangan mereka dan punya dampak serius terhadap kemampuan kognitif, cita-cita dan banyak aspek perkembangan fisik dan psikologis mereka. Mainan tidak punya gender. Mainan seperti Lego bermanfaat mengembangkan keterampilan spasial anak. Jika anak perempuan memilih Lego truk yang biasanya digemari anak laki-laki, mengapa tidak? Bermain boneka memperkenalkan anak dengan konsep nurturing. Jika anak laki-laki bermain boneka, ia bisa belajar konsep itu. Jadi boy toys, girl toys malah akan membatasi perkembangan keterampilan mereka.

Jeli memilih tontonan dan bacaaan untuk anak

Saya mengizinkan anak laki-laki saya menonton Sophia the Princess atau Dora the Explorer. Karena saya tidak pernah memberi komentar atas dasar stereotip gender, dia bisa menikmatinya sama seperti menikmati serial lain yang didominasi karakter anak laki-laki atau figur maskulin seperti Diego, Blaze the Monster Truck, dll. Memang banyak tontonan dan bacaan anak yang masih penuh dengan stereotip gender. Nah, saya menghindari yang seperti itu, salah satunya adalah film dan cerita Disney klasik. Saya memilih menghindar karena terlalu banyak stereotip gender misalnya perempuan memasak di rumah sementara laki-laki beraktivitas di luar (Snow White, Cinderella) serta akhir cerita saat pangeran selalu menyelamatkan putri yang kesannya tidak berdaya (Sleeping Beauty). Untungnya saat ini sudah mulai ada perubahan menuju gender-balanced dalam beberapa serial. Salah satu contohnya adalah Thomas and Friends. Kalau dahulu, karakter lokomotif perempuan hanya tampil sekilas saja tanpa ada peran yang jelas, kini di edisi yang baru bermunculan karakter gender perempuan yang memiliki kemampuan dan peran yang sama dengan karakter laki-laki. Perubahan ini terjadi karena campur tangan PBB yang menyerukan pembuat serial yang dicintai anak-anak di seluruh dunia ini untuk lebih gender-balanced. Untuk bacaan ada yang sudah pernah dibaca dan menurut saya bagus. Buku The Paperbag Princess berkisah tentang seorang putri yang menyelamatkan pangeran yang diculik seekor naga. Ada juga buku Derek, the Knitting Dinosaur, kisah dinosaurus yang lebih suka merajut dibanding bermain permainan anak laki-laki dengan saudara laki-lakinya.

Bermain bersama anak laki-laki dan perempuan

Ajak anak untuk melakukan aktivitas bersama anak lain dalam kelompok dengan gender yang berbeda. Hal ini nantinya akan berdampak dalam kehidupan mereka saat dewasa. Ketika harus bekerja sama dengan berbagai orang dengan gender berbeda di sekolah atau di tempat kerja maka anak akan jadi lebih percaya diri karena tidak merasa memiliki perbedaan kemampuan berdasarkan stereotip. Misalnya kalau perempuan dikatakan memiliki naluri merawat yang lebih baik, maka kaum laki-laki juga bisa. Terbukti saat ini sudah banyak perawat laki-laki, padahal profesi perawat adalah dominasi perempuan di masa lalu. Sebaliknya untuk perempuan, kini sudah banyak menekuni profesi yang dulu didominasi kaum pria seperti pilot, teknisi, sampai pembalap mobil. Salah satu perubahan besar yang baru-baru ini terjadi adalah keputusan dihilangkannya grid girls dari ajang balap mobil bergengsi dunia F1, dengan tujuan mendukung kesetaraan gender. Keputusan ini dibuat karena saat ini sudah banyak perempuan berkarier menjadi mekanik atau teknisi di dunia otomotif dan bahkan menjadi pembalap. Yang perlu diingat soal bermain bersama ini, saya selalu memastikan hal ini dilakukan di dalam lingkungan yang aman, di bawah pengawasan orang tua atau orang dewasa yang dipercaya.

Memberi contoh melalui pembagian tugas di rumah antara orang tua

Sebagai orang tua, saya dan suami tidak pernah membagi pekerjaan rumah berdasarkan sterotip gender. Kami bergantian tugas memasak, mencuci mobil, membuang sampah, mencuci dan membereskan baju, serta pekerjaan rumah lainnya. Suami saya tidak keberatan menjahitkan emblem untuk seragam taekwondo anak, dan saya menganggap mengangkat galon air mineral atau tabung gas adalah hal yang biasa saja. Sejak dini juga sesuai usia, kami membimbing anak untuk belajar melakukan pekerjaan rumah tidak berdasarkan stereotip gender. Jadi anak bebas belajar memasak dengan ayahnya atau belajar memperbaiki rantai sepeda dari ibunya.

Menurut Jayneen Sander, pengarang buku anak No Difference Between Us, anak tidak lahir dengan pemikiran bahwa satu gender lebih baik dari yang lainnya. Sebaliknya, mereka berpikir dua gender ini setara, kok. Lebih jauh Sander mengimbau orang tua untuk melihat anak sebagai seorang individu, lebih memberikan perhatian kepada apa yang dipikirkannya, apa minat dan keinginannya, terlepas dari apakah dia anak laki-laki atau perempuan. Hal ini dipercaya juga akan membuat anak tumbuh dengan lebih bahagia dan berkembang secara positif.

4 Comments

  1. avatar
    dieta hadi February 12, 2018 3:07 pm

    Setuju dengan semuanya mom, artikel yang bagus banget. Memang gender ini masih jadi hal yang gimana gitu ya, saya juga sering dapat omongan-omongan aneh ketika anak saya ya saya biarkan gondrong atau bermain boneka.

    1. avatar
      Yokewulansari February 13, 2018 4:23 am

      Hai Dieta, betul sekali soal gender masih agak sensitif karena faktor budaya kita. Semangat terus ya.

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  2. avatar
    Cindy Vania February 12, 2018 2:02 pm

    Artikelnya bagus sekali mama Yoke!
    Senang deh bacanya. sayang sekali di lingkungan tempat saya tinggal masih banyak yang berpikiran "jadul".

    Dulu anak the boys pede aja bawa barang or pakai pakaian berwarna merah muda, tapi setelah di goda oleh ibu-ibu di sekolahan (waktu acara bebas) dan akhirnya anak-anaknya ngikut menggoda, jadinya dia gak pede dan suka uring-uringan.

    Mau aku share aahh :)

    1. avatar
      Yokewulansari February 13, 2018 4:16 am

      Hello Cindy. Iya, kadang lingkungan kurang mendukung, ya. Tetap semangat!

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.