Menyapih dengan Damai

Weaning my baby to stop breastfeeding is one of one my parenting goals this year. And we made it. Setelah “terlambat” 4 bulan untuk menyapih, akhirnya Gio (2 tahun 4 bulan) berhasil lepas dari menyusu.

Mengapa saya katakan terlambat? Banyak kerabat yang sering bertanya mengapa Gio belum disapih? Pertama mungkin karena saya juga belum siap untuk menyapih Gio. Urban mama yang menyusui pasti tahu betul bagaimana bonding terjadi ketika sedang menyusui. Kedua, saya sebenarnya sudah mencoba cara paling “idealis”. Teman saya yang sukses menyapih anaknya pada usia 2,5 tahun dengan cara selalu mengobrol dan memberi pengertian seperti “Nak, sudah dua tahun, tidak nenen lagi ya, sudah besar, minum susu biasa saja ya.” Saya pun mencobanya sejak Gio menjelang umur dua tahun sampai beberapa waktu lalu. Namun ternyata tidak berhasil. Gio malah menjadi kesal kalau saya mulai membahas agar ia berhenti menyusu.

Saat saya membawa Gio berkonsultasi pada dokter spesialis pencernaan anak, Prof. dr. Agus Firmansyah, beliau menyarankan agar Gio mulai berhenti menyusu. Saya bahkan minta agar beliau berbicara langsung pada Gio, tetapi Gio hanya berpaling saat diajak bicara. Dokter lalu menyarankan agar saya mengoleskan bratawali pada payudara.

Keesokan harinya, saya pun memanggil penjual jamu yang memang setiap pagi lewat di depan rumah. Saya membeli bratawali yang sudah direbus dan ternyata ibu penjual jamu juga memberikan batang bratawalinya. Saya hanya tinggal memotong ujungnya, lalu bisa langsung dioleskan ke bagian areola.

Saya lalu mempraktikkannya dan ternyata berhasil. Gio langsung melepaskan dan berkata, “Susunya pahit. Tidak suka.” Malam saat mau tidur, Gio pun sudah tidak mau lagi menyusu.

Alhamdulillah... saya lega akhirnya berhasil menyapih Gio dengan cara yang cukup mudah, damai, dan tanpa drama. Senang sekali rasanya ketika melihat Gio sudah bisa tidur sendiri tanpa ketergantungan harus meyusu dulu sebelum tidur. Saya sangat bersyukur telah berhasil melewati masa menyusui selama dua tahun dengan segala tantangan dan perjuangan. Tentunya, semua itu tidak lepas dari peran penting suami, keluarga, dan teman-teman yang merupakan bagian dari support system selama menyusui ini.

Menyapih merupakan salah satu momen yang akan dilalui para ibu menyusui. Cara apa pun yang digunakan, pastikan itu yang terbaik bagi si kecil dan mama. Ini adalah cerita saya menyapih dengan damai. Bagaimana dengan cerita urban mama yang lainnya?

6 Comments

  1. avatar
    Woro Indriyani July 25, 2017 2:52 pm

    Waaaah akhirnya Gio disapih juga yay! Hihihi banyak banget ya Mama Dewi cara menyapih, yang penting paling nyaman buat ibu dan anaknya :).

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Eva Maria July 24, 2017 11:49 pm

    Anak saya masuk 22 bulan dan saya sudah mulai sounding untuk dia berhenti menyusu.. Mudah mudahan lancar.. Ikutin cara mama gio aja deh.. Kalo sudah lewat duatahun belum berhenti juga baru deh nyoba brotowalinya. Mudah mudahan no drama

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    dieta hadi July 24, 2017 1:13 pm

    Wah Gio udah disapih ya. Dulu waktu Jibril juga nyoba berbagai cara akhirnya berhasil dengan nyapih pake plester haha. Dan untungnya no drama.

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    ninit yunita July 23, 2017 10:51 am

    wahhh gio udah disapih...
    momen sapih ini memang bikin gimanaaa gitu yaaa. antara senang dan sedih. setuju sama cindy, cara sapih apapun pastinya setiap mama punya pertimbangan terbaik... there is always a different story in every parenting style.

    sehat selalu yaaa gio! :)

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    Musdalifa Anas July 20, 2017 8:38 am

    mama dewi, akupun termasuk 'terlambat' dulu saat menyapih yoona, kalau gak salah disapih itu pas yoona usia 2tahun 9bulan dan alhamdulillah tanpa drama, dan berhasil menerapkan weaning with love. Setuju, apapun caranya yang penting mama dan anaknya no drama ya. Tfs ya wi.

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.