Monkeys See Monkeys Do

fitri QM
Fitriavi Noeriman ST, AEPP, CFP Lulusan jurusan Teknik Pertambangan ITB. Perencana Keuangan Independen.
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Istilah monkeys see monkeys do ini, cukup sering di dengar kan? Namun tentunya artikel ini tidak akan membahas detail soal kelakuan monyet, tapi akan membahas bahwa perilaku seseorang, khususnya kita sebagai orangtua akan langsung ditiru oleh anak kita.

Pertanyaan yang sulit untuk dijawab, apakah kita sudah menjadi orang tua yang baik? Sudah memberikan contoh teladan untuk anak-anak kita?

Untuk menjadi contoh terbaik, tentunya sulit karena orangtua juga manusia, kita pasti memiliki kekurangan. Saya pun sebagai orangtua masih banyak sekali kekurangannya, masih kurang sabar, kurang banyak waktu dengan anak-anak. Dalam hal perilaku yang berhubungan dengan uang khususnya saya masih sangat hobi belanja. Padahal saya ingin mengajarkan dan memberi teladan pada anak saya agar nanti saat mereka besar, jangan menjadi seorang shopaholic yang parah.

Namun setidaknya kita berusaha memberikan yang terbaik untuk menjadi teladan. Karena saya pun sampai dengan sekarang masih terus berusaha keras untuk menjadi contoh yang baik. Hobi belanja sudah mulai harus direm, karena kalau saya dalam sebulan beli baju lima potong, maka anak akan meminta hal yang sama. Atau saat saya belanja online dan tiba-tiba kiriman datang. Anak saya, Zaira akan bertanya, “Kok Mama belanja, aku engga?” Duh.. langsung perasaan bersalah datang seketika. Jadi sekarang rem saya adalah anak-anak.

Itu adalah sepenggal cerita saya, banyak cerita-cerita lain yang mungkin mirip. Karena hobi perempuan rata-rata sama: hobi belanja! Tapi bukan berarti belanja adalah hal yang dilarang dalam perencanaan keuangan. Boleh tetap belanja, namun belanja yang benar, bertanggungjawab, sesuai kemampuan, dananya siap, dan tidak berhutang. Belanja menjadi salah satu stress relief, rasanya selesai belanja, perasaan hati langsung senang, riang, gembira. Mama yang bahagia akan membuat keluarga dan anak-anak ikut bahagia. Ada saja ya alasan untuk membenarkan hobi belanja. Kegiatan berbelanja ini harus dilakukan dengan baik dengan penjelasan untuk anak. Karena dalam kehidupan nyata, kita akan lebih sering mengeluarkan uang untuk berbelanja daripada menabung. Dalam satu bulan, kegiatan menabung mungkin maksimal 3x, tapi kegiatan berbelanja bisa berkali-kali. Apalagi untuk Mama yang memiliki anak perempuan, saya punya dua anak perempuan. Sudah terlihat, hobi belanja saya menular pada mereka. Saya berusaha mengarahkan agar kegiatan berbelanja anak-anak menjadi kegiatan yang positif bukan negatif. Karena saat mereka besar, saya pun ingin melihat mereka menjadi anak gadis yang berpenampilan rapi, modis, pintar belanja, tapi juga pintar mengelola pengeluarannya. Dulu sewaktu saya kecil, saya tidak diperkenalkan dengan konsep berbelanja ini, hanya disuruh menabung dan menabung. Akhirnya saat saya memiliki uang sendiri, saya menjadi sangat kalap dalam hal belanja.

Sekarang saya berusaha untuk mencari cara terbaik untuk mengajarkan hal ini. Beberapa hal yang saya ajarkan pada anak-anak adalah:

  1. Mengajak belanja dalam 1 bulan 1 kali.
  2. Saya berikan uang untuk belanja pada mereka, sebelum sampai di toko/ tempat belanja, biarkan mereka merasa “dewasa” karena memegang uang sendiri.
  3. Saya buat perjanjian dengan mereka, uang tersebut gunakan dengan baik, cek harganya sebelum membeli, dan uang nya harus dicukupkan.
  4. Pilih-pilih barang dan bandingkan harganya.
  5. Menawar harganya.
  6. Mengingatkan bahwa dari uang yang saya berikan, ada bagian untuk diamalkan dan ditabung.

Kegiatan ini memang baru saya lakukan saat anak perempuan saya, Zaira sudah mulai mengerti uang dan bisa berhitung. Awalnya saat saya berikan uang sebesar 50rb, dia langsung kalap, belanja 1 jenis barang, uangnya habis, kemudian dia menyesal. Karena ternyata dengan 50rb dia bisa berbelanja beberapa jenis barang. Sekarang, Zaira sudah mulai mengerti konsep berbelanja, menawar, memilah barang, dan menyisihkan uangnya.

Sebagai Mama, kita memang harus terus belajar. Mudah-mudahan setelah membaca artikel ini, para urban Mama dapat membagi cerita dan pengalamannya sehingga kita semua mendapatkan ilmu yang baru dan bertambah cerdas.

4 Comments

  1. distiana
    distiana harset April 11, 2013 at 1:06 pm

    Mba,.. Boleh tau mulai usia berapa Zaira diperkenalkan konsep uang?

  2. fitri QM
    fitriavi noeriman April 11, 2013 at 1:58 pm

    Sdh sejak umur 4thn mba…tp msh baru kenal dgn uang,mulai semakin mendetail soal hitung2an umur 6 thn

  3. distiana
    distiana harset April 11, 2013 at 10:55 pm

    Lumayan dah agak besar ya. Anakku masih 2 tahun 8 bulan. Kmrn sempet ngobrol sama bapaknya kapan baiknya mulai dikenalkan. Makasih artikelnya mba :) Salam buat kakak Zaira :)

  4. liabamby
    liabamby November 12, 2013 at 10:20 am

    wah bener banget ya mba anak perempuan seneng banget kalo di ajax belanja. apalagi oleh ayahnya sll dibelikan apa yg di minta. justru anak laki saya yg kritis skali soal harga :p. thanx ya mba, akan sy praktekan ke anak perempuan saya.

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.