MPASI, Kuning pada Bayi (Jaundice), Demam Dengue (DD), DBD, dan Tifus

dewi_apriel
suasana saat diskusi

goodie bag PESAT-12 jakarta sesi V

Saya mendapat kesempatan dari theurbanmama untuk mengikuti PESAT-12 Jakarta Sesi V.  Topiknya sangat menarik dan berguna sekali, yaitu tentang MPASI, Kuning pada Bayi (Jaundice), Demam Dengue (DD), DBD, dan Tifus. Semuanya sangat menarik dan penting diketahui oleh  para orangtua atau calon orangtua.

Topik 1: Mpasi dan Nutrisi Tepat untuk Tumbuh Kembang Anak

Waktu yang tepat untuk mulai MPASI adalah setelah bayi berusia 6 bulan, karena sebelum 6 bulan sistem pencernaan belum sempurna, risiko alergi dan terpapar penyakit lebih besar. Tanda bayi siap makan adalah kontrol kepala dan leher baik, dapat menopang badan dengan pertolongan, masih lapar meski sudah diberi ASI.

Konsep pemberian makan bagi anak kita sebaiknya adalah makan bukan sekedar agar BB naik, jangan terlambat atau terlalu cepat, merupakan tahapan tumbuh kembang, berikan makanan buatan rumah, jadikan sebagai petualangan, buatlah semenyenangkan mungkin, dan jadilah panutan bagi mereka.

Strategi pemberian makan antara lain: Batasi waktu; Gunakan kursi makan; Perkenalkan sendok dan gelas bertahap; Tanpa paksaan; Jadwal makan fleksibel; Tingkatkan variasi dan tekstur secara bertahap; Berikan setiap jenis makanan baru selama 3-4 hari; Perhatikan minat bayi; Biarkan bayi memegang alat dan makanannya; Dipangku bila perlu; Entertaining; dan Kontak mata.

Cara masak yang sehat: Pilihan cara pengolahan (kukus, rebus, tumis, panggang); Pilih bahan yang segar; Masak jangan terlalu lama; Kurangi penggunaan minyak; JANGAN beri gula-garam sampai usia 1 tahun; Manfaatkan bumbu dan rempah alami; Hindari penyedap rasa nonalami.

Masalah yang sering terjadi pada saat pemberian makan pada anak (jadi jangan panik dan merasa sendiri waktu terjadi, ya mamas): Konstipasi; Alergi makanan; Pemilih makanan; Obesitas.

Topik 2: Kuning pada Bayi (Jaundice)

Jaundice atau ikterus adalah warna kekuningan yang didapatkan pada kulit dan mukosa sebagian neonatus.

Tanda/gejala bayi kuning:

  1. Kuning di kulit; kuning di mata (lakukan dibawah cahaya matahari –> tekan jari di kening, puncak hidung; tampak kuning, periksa putihnya bola mata.
  2. Kadang bayi tampak tidak sehat; menyusu tak kuat, merintih, lunglai, dan tidak responsif.
  3. Kuning pertama kali tampak di muka; selanjutnya dada, perut, juga bisa kaki. Jika sudah sampai ke tangan, segera ke dokter!
  4. Tampak pada hari ke 2-3 setelah bayi lahir.

Perlu diingat bahwa jaundice yang timbul >24 jam umumnya tidak bermasalah.

Jenis-jenis Jaundice

Jaundice Fisiologis

Jaundice Patologis

  • NORMAL
  • Muncul 2-3 hari, memuncak 4-5 hari, menghilang dalam 2 minggu
  • Disebabkan oleh belum matangnya fungsi hati
  • Bayi ASI dan prematur bisa lebih lama
  • TIDAK NORMAL
  • Timbul <24 jam
    • Rhesus incompatibility
    • ABO incompatibility
    • Infeksi berat (sepsis)
    • G6PD
    • Memar berat

Faktor Risiko Bayi terkena jaundice :

  • Bayi prematur
  • Saudara kandung juga jaundice
  • Bruising (pendarahan di bawah kulit)
  • Feeding: bayi kurang minum, jarang BAB
  • Ketidakcocokan golongan darah, penyakit hemolitik
  • Early jaundice

Ada 2 Macam Jaundice Fisiologis

Breastfeeding Jaundice: 5-10% bayi baru lahir akan mengalaminya dan terjadi pada minggu pertama setelah lahir pada bayi yang tidak memperoleh cukup ASI.

Catatan: jangan berikan air putih atau air gula!!

Breastmilk Jaundice: terjadi pada 1% bayi baru lahir, biasanya dalam 4-7 hari setelah lahir, terjadi karena zat dalam ASI yang dapat menghambat pengolahan bilirubin oleh hati, akan menghilang seiring dengan makin matangnya fungsi hati bayi pada usia 3-10 minggu

Catatan: Lanjutkan ASI!! Jangan hentikan pemberian ASI!!

Tata Laksana Jaundice:

1. Tentukan jenis ikterus dan cari penyebabnya.

2. Ikterus fisiologis tidak membutuhkan penanganan khusus, berikan ASI yang cukup.

3. Terapi sinar dilakukan berdasarkan kadar bilirubin, usia gestasi (kehamilan) saat bayi lahir, usia bayi saat jaundice dinilai, dan faktor risiko lain yang dimiliki bayi yang dapat dilihat pada tabel berikut.

Panduan untuk Penanganan Hiperbilirubinemia pada Neonatus Cukup Bulan Sehat

Usia (Jam)

Kadar Bilirubin Serum Total (mg/dL)

Pertimbangkan terapi sinar Lakukan terapi sinar Lakukan transfusi tukar jika terapi sinar gagal* Lakukan transfusi tukar
25-48** ≥12 ≥15 ≥20 ≥25
49-72 ≥15 ≥18 ≥25 ≥30
>72 ≥17 ≥20 ≥25 ≥30

*   Paling sedikit terapi sinar ganda menggunakan dua lampu terapi sinar.

** Neonatus cukup bulan yang secara klinis mengalami ikterus pada usia ≤24 jam termasuk patologis dan membutuhkan evaluasi lebih lanjut.

4. Transfusi tukar (exchange transfusion) dilakukan dengan segera pada bayi dengan gejala acute bilirubin encephalopathy.

5. Pemberian γ-globulin (gamma globulin) pada penyakit hemolisis autoimun direkomendasikan jika TSB tetap meningkat dengan terapi cahaya atau TSB berada 2-3 mg/dL dari batas perlunya transfusi tukar.

6. Penghentian terapi cahaya ditentukan oleh usia bayi saat dimulainya terapi tersebut, kadar bilirubin, dan penyebab jaundice.

Jangan dilakukan ketika Jaundice:

  1. Jangan berikan questran
  2. Jangan berikan luminal
  3. Jangan berikan infus albumin
  4. Jangan stop ASI
  5. Jangan jemur bayi
  6. Jangan tergopoh-gopoh memberikan sufor kecuali bayi dehidrasi

Topik 3: Demam Dengue (DD), Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Demam Typhoid

DD dan DBD disebabkan virus dengue. Dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti, nyamuk Aedes albopictus, Aedes polynesiensis, dan beberapa spesies lain.

Diagnosis DD ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan penunjang, dan tidak ditemukan adanya tanda-tanda perembasan plasma. Kriteria: Demam akut selama 2-7 hari, disertai 2 atau lebih manifestasi berikut: nyeri kepala, nyeri belakang bola mata, nyeri otot/ tulang/ sendi, ruam, manifestasi pendarahan (petekie dan uji torniquet positif) dan leukopenia.

Tanda DBD antara lain: Demam tinggi mendadak 2-7 hari disertai nyeri kepala, nyeri belakang bola mata, nyeri otot/tulang/sendi, ruam. Terdapat minimal manifestasi pendarahan. Jumlah trombosit < 100.000/ml. Terdapat minimal 1 tanda kebocoran plasma. Beberapa penderita mengalami nyeri menelan, namun jarang ditemukan batuk pilek. Dapat ditemukan nyeri perut, mual, muntah. Masa kritis terjadi pada akhir fase demam, pada saat ini terjadi penurunan suhu yang tiba-tiba disertai dengan gangguan sirkulasi yang bervariasi. Pada gangguan sirkulasi ringan perubahan yang terjadi minimal dan sementara, pada kasus berat penderita dapat mengalami syok.

Sindrom Syok Dengue (SSD)

Menifestasi klinis seperti DBD disertai kegagalan sirkulasi (syok). Syok biasa terjadi pada saat atau segera setelah suhu turun, antara hari ke3 sampai hari sakit ke-7. Dengan gejala adalah:

  • Lemas, gelisah, hingga penurunan kesadaran
  • Nadi cepat, teramat lemah hingga sulit teraba
  • Tekanan darah turun dan nadi < 20 mmHg
  • Kulit dingin-lembap, sianosis (pucat-kebiruan) sekitar mulut
  • Jumlah urine berkurang atau tidak buang air kecil

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk DD dan DBD: kadar hemoglobin, kadar hematokrit, jumlah trombosit, jumlah leukosit dan hapusan darah tepi untuk melihat adanya limfitosis relatif (sejak hari ke-3).

Penatalaksanaan Pasien DD dapat berobat jalan sedangkan pasien DBD dirawat di ruang perawatan biasa. Tetapi pada kasus DBD dengan komplikasi diperlukan perawatan intensif. Diagnosis dini dan memberikan nasihat untuk segera membawa pasien ke rumah sakit bila terdapat tanda mengarah ke syok, merupakan hal yang penting untuk mengurangi angka kematian.

KELUHAN DBD (Kriteria WHO 1997)

  1. Hb, Ht Trombo normal –> Observasi, Rawat jalan, Perikasa Hb, Ht, Leuko, Trombo/24 jam
  2. Hb, Ht normal Trombo 100.000-150.000 –> Observasi, Rawat jalan, Perikasa Hb, Ht, Leuko, Trombo/24 jam
  3. Hb, Ht normal Trombo <100.000 –> Rawat
  4. Hb, Ht meningkat Trombo normal/turun –> Rawat

Pencegahan DD dan DBD

  • Bersihkan (kuras) tempat penyimpanan air
  • Tutuplah rapat tempat penampungan air
  • Kuburlah/buanglah barang bekas yang dapat menampung air
  • Lipatlah kain/pakaian yang bergantung
  • Untuk tempat air yang sulit dibersihkan/dikuras, taburkan bubuk ABATE
  • Fogging insektisida
  • Hindari gigitan nyamuk

Hal yang keliru seputar DD dan DBD :

  • Harus dirawat inap
  • Harus dapat antibiotik
  • Pertahanan tubuh melemah sehingga sering terinfeksi penyakit lain
  • Harus dapat isoprinosin, ecchinacea, (supplemen vit) supaya cepat sembuh
  • Harus dapat suntikan steroid (dexa)
  • Jika trombosit turun harus transfusi darah

Demam Tifoid

Demam tifoid atau tifus: penyakit infeksi akut disebabkan oleh kuman gram negatif Salmonella typhi. Salmonella typhi ditularkan melalui air atau makanan yang terkontaminasi oleh komponen feses (tinja) atau urin penderita tifoid.

Tanda dan Gejala Klinisnya:

  1. Ada gejala seperti flu ringan sampai sakit berat
  2. Demam merupakan gejala utama yang dapat berlangsung lebih dari 7 hari
  3. Lidah terlihat kotor, ditutupi selaput putih, sementara ujung dan tepi lidah kemerahan dan tremor
  4. Nyeri pada perut, terutama ulu hati
  5. Pembesaran hati dan limpa
  6. Gangguan kesadaran

Pemeriksaan Penunjang yang dapat dilakukan:

  1. Biakan
  2. Uji Widal
  3. Tes Diagnostik (Mikrobiologi, Molekular, Serologis)

Penatalaksanaan:

  1. Jika gejala klinis ringan, tidak ada tanda-tanda komplikasi serta tidak ada penyakit penyerta yang membahayakan, kesadaran baik, dapat makan dan minum dengan baik dapat dirawat di rumah
  2. Tirah baring (bed rest)
  3. Antipiretik
  4. Berikan steroid untuk tifoid berat
  5. Cukup asupan cairan
  6. Diet mengandung kalori dan protein yang cukup

Pencegahan Tifoid :

  • Imunisasi
  • Higiene perorangan, cuci tangan, cara membersihkan kemaluan dan dubur yang baik
  • Higiene makan dan minuman
  • Penyediaan air bersih, perbaikan sanitasi lingkungan, pengelolaan air limbah, kotoran, dan sampah yang memenuhi syarat

Demikianlah ilmu yang bisa saya bagi, semoga bermanfaat ya.. :)

Oh ya, terakhir kami diberikan buku gratis oleh perwakilan WHO, judulnya Penuntun Hidup Sehat, menurut beliau jika ada instasi atau organisasi yang membutuhkan buku tersebut, maka mereka akan berikan/sediakan secara gratis.  Hanya tinggal hubungi mereka. Bukunya sangat bagus dan informatif. ;)

11 Comments

  1. eka
    Eka Wulandari Gobel April 5, 2012 at 5:54 am

    wah, lengkap sekali infonya, dan memang sedang musim penyakit jg. TFS ya, semoga kita selalu sehat! :)

  2. Shinta_daniel
    Shinta Daniel April 5, 2012 at 8:47 am

    bagus sekali sharingnya, thank u yaa.. pengen ikutan seminar PESAT juga nii…

  3. avee
    Avianti Siddik April 5, 2012 at 9:14 am

    jadi ngga sabar ikutan Pesat Bogor… :)

  4. silvia pridana
    silvia pridana April 5, 2012 at 9:30 am

    Sekali mba.. terimakasih sudah berbagi cerita mba. oh ya cara menghubungi who bagaimana ya? sayatertarik dengan bukunya..

  5. dewi_apriel
    aprie April 5, 2012 at 12:30 pm

    amin. moga kita selalu sehat ya.. :)

  6. iyu
    yuliana karang April 5, 2012 at 1:45 pm

    TFS mom, semoga keluarga kita selalu diberikan kesehatan :)

  7. naylanai
    nayla naylanai April 6, 2012 at 12:09 pm

    TFS ya mom, infonya berguna bangeet :)

  8. adesita
    Sita April 6, 2012 at 11:42 pm

    Thanks for sharing… PESAT Bogor sebentar lagi hadir juga.. hehehe *sekilas iklan* :)

  9. dewi_apriel
    aprie April 9, 2012 at 9:58 am

    Yuu n Naylanai : smoga info nya bs manfaat ya,, kluarga selalu sehat n kalo sampe sakit,, kita ga bingung *there’s clues* ;)

    Adesita : makasie udh kabarin/iklanin ya,, X) dtunggu share nya yaaa.. ;)

  10. Honey Josep
    Honey Josep April 18, 2012 at 1:17 pm

    Tfs mama Dewi :)

    infonya lengkap banget :)

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.