Naik Angkutan Umum? Mengapa Tidak?

Dua minggu lalu, kami mengajak Gendra (5 tahun) menghabiskan akhir pekan di Jakarta. Selain untuk mengunjungi Taman Legenda di TMII, kami mengajak Gendra ke Jakarta untuk mencoba angkutan umum yang hanya ada di Jakarta, bajaj!

Sebelum benar-benar merasakan naik bajaj, Gendra sudah beberapa kali saya ceritakan tentang angkutan umum beroda tiga ini melalui gambar. Sehari sebelum naik bajaj, Gendra pun sudah sempat melihat langsung kendaraan ini berseliweran di jalan-jalan di Jakarta.

Kami naik bajaj di daerah sekitar Monas pada Minggu pagi. Suasana jalanan yang tidak terlalu ramai membuat perjalanan perdana Gendra naik bajaj ini jadi terasa menyenangkan. Sepanjang perjalanan, selain mengamati gedung-gedung bertingkat, Gendra juga asyik mengamati Pak Supir mengemudikan bajajnya. Gendra baru tahu kalau ternyata bajaj itu kemudinya seperti motor, tetapi pedal rem dan gasnya mirip mobil. Gendra juga sempat mengamati bajaj-bajaj lain yang berlalu lalang di jalan. Ia sempat berkomentar, "Bu, rodanya kecil banget ya, Bu!"

Setelah kurang lebih 30 menit kami berkeliling dengan bajaj, kami lalu mengajak Gendra mencoba angkutan umum lain yang juga hanya ada di Jakarta. Ya, kali ini kami mengajak Gendra untuk naik bus Transjakarta. Mulai dari tap-in hingga mengantre untuk menunggu dan naik ke dalam bus, Gendra tampak menikmati. Ia bahkan meminta untuk tap-in sendiri. Saat kami sudah berada di dalam bus, Gendra tampak asyik mengamati detail bus Transjakarta. 

Gendra sempat bertanya kenapa ada ring gantungan di bagian atas bus. Ia juga bertanya kenapa ayahnya memilih berdiri di dalam bus bersama bapak-bapak lain dan mengapa kami tidak membayar ongkos naik bus ke kondektur bus. Kami jelaskan kepada Gendra tentang ring gantung di dalam bus yang berfungsi untuk pegangan para penumpang yang berdiri jika bus dalam kondisi penuh, supaya penumpang tidak jatuh ketika bus berjalan. Kami juga menjelaskan kepadanya tentang etika menggunakan angkutan umum, bahwa penumpang dengan disabilitas, lanjut usia, ibu hamil, atau ibu yang membawa anak/bayi harus diberi kesempatan untuk duduk. Itulah mengapa ayah Gendra memilih untuk berdiri sementara Gendra dan ibu dipersilakan untuk duduk oleh petugas dan penumpang lain. Sementara untuk menjelaskan tentang pembayaran menggunakan uang elektronik, kami jelaskan kepada Gendra bahwa ongkos naik bus Transjakarta telah dibayar saat kami tap-in menggunakan kartu sebelum antre untuk naik bus.

Sebenarnya ini bukan kali pertama Gendra naik angkutan umum. Di Bandung, kami tidak selalu naik kendaraan pribadi jika bepergian. Rasanya hampir semua jenis angkutan umum pernah Gendra coba, mulai dari angkot, bus kota, kereta lokal (di Bandung kami menyebutnya KRD), sampai becak. Bahkan jika ditanya, Gendra senang naik mobil atau naik angkot, ia malah seringnya menjawab naik angkot!

Mengapa sih repot-repot naik angkutan umum? Kan ada kendaraan pribadi di rumah.

Sebenarnya mengajak Gendra bepergian dengan angkutan umum ini merupakan salah satu cara kami untuk mengajari Gendra tentang disiplin, rendah hati, dan empati. Dengan naik KRD misalnya, ia belajar untuk tepat waktu agar tidak ketinggalan jadwal keberangkatan kereta. Naik KRD, bus Transjakarta, dan KRL juga mengajarkan untuk bersabar dengan mengantre dan berempati dengan memberikan tempat duduk kita kepada orang yang lebih membutuhkan. 

Dengan membiasakan Gendra naik kendaraan umum, kami juga ingin ia melihat dan berinteraksi dengan orang-orang di luar lingkungan terdekatnya. Bisa mengenal profesi kondektur kereta, sopir bus Damri, atau kenek angkot dan berinteraksi langsung dengan mereka adalah pengalaman yang pasti berguna buat Gendra. Kami juga berharap, dengan terbiasa menggunakan angkutan umum, dapat melatihnya untuk bersikap rendah hati. Tidak masalah jika harus naik angkot, dan tidak perlu manja harus bawa mobil pribadi ke mana-mana. Jadi suatu saat, jika harus bepergian tapi tidak ada kendaraan di rumah yang bisa dibawa, ya tidak perlu khawatir, kita naik angkutan umum saja, yuk!

6 Comments

  1. avatar
    adhisti rahadi January 6, 2018 5:31 pm

    Keren idenya!

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Aini Hanafiah January 4, 2018 4:28 pm

    baca ceritanya Gendra ini jadi ingat sama buku cerita anak yang judulnya "Last Stop On Market Street" :D setuju, mengajak anak naik angkutan umum itu banyak manfaatnya. di rantau begini baca ttg 'bajaj', eh jadi kangen naik bajaj, hihi!

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Honey Josep December 28, 2017 6:45 pm

    Bajaj! andalan banget buat aku kalau bawa toddler :)

    Pasti seru banget karena mukanya Gendra sumringah banget :)

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Elliyina Muhammad December 19, 2017 5:23 am

    Wafa juga selalu teriak teriak kalau lihat bus kota. karena setiap acara sekolah dia naik bus. alhamdulillah sekarang sudah berkurang mabukannya.

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    ninit yunita December 17, 2017 9:09 pm

    waaa gendra keliatan banget hepi :)
    memang seru yaaa naik kendaraan umum dan seperti yang ditulis dona di atas, naik kendaraan umum itu manfaatnya banyak.

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.