Naik Kereta Ekonomi

Yossi

Liburan kali ini saya dan suami sepakat mengajak anak-anak (Micca, 4 tahun 10 bulan dan Nadien, 20 bulan) mudik ke rumah mertua di Jember dengan menggunakan transportasi umum. Waktu yang dipilih sengaja sebelum Ramadhan karena belum terlalu ramai. Kami memilih kereta dengan pertimbangan bahwa anak-anak belum pernah naik kereta, bahkan melihat kereta api dengan jelas selama ini. Apalagi ongkos yang murah dan berharap perjalanan santai.

Akhirnya setelah suami resmi mendapatkan cuti kerja selama 4 hari, segera saya cari informasi mengenai rencana perjalanan kami nanti. Karena ini pertama kali membawa anak-anak naik transportasi umum dengan kondisi saya juga sedang hamil 6 bulan, saya belum tahu bagaimana reaksi anak-anak di perjalanan nantinya. Saya biasanya naik mobil pribadi atau travel ketika menempuh 5 jam perjalanan mudik, dan memilih waktu sore/malam hari.

Informasi yang berhasil saya kumpulkan pertama kali adalah:

  1. Sekarang aturan dari KAI cukup ketat mengenai tiket. Penumpang tanpa tiket tidak boleh naik, dan yang sudah punya tiket tidak boleh duduk sembarangan, harus sesuai nomo seatnya. Tiket juga bisa dipesan sebelum keberangkatan, jadi bisa pilih kursi dan nggak keburu-buru ke stasiun takut kehabisan tiket. Beda dengan pengalaman terakhir saya naik kereta api (sekitar 6 tahun lalu). Ini menghilangkan ketakutan saya bila akhirnya batal berangkat karena tiket habis, padahal uda boyongan ke stasiun.
  2. Tidak ada kereta bisnis apalagi eksekutif untuk rute Malang-Jember. Pilihannya hanya satu, KA Tawang Alun kelas ekonomi dengan jadwal keberangkatan pukul 14.00! Harga tiketnya Rp18.500,- saja per orang. Murah meriah…
  3. Saya membayangkan perjalanan naik KA Bisnis yang nyaman dan santai di malam hari bersama anak-anak setelah membaca banyak artikel. Karena banyak yang menyarankan perjalanan di malam hari bersama anak-anak supaya tidak rewel. Membawa anak-anak naik kereta api ekonomi “kemungkinan” tidak semudah naik kereta api bisnis/eksekutif..
  4. Kumpulkan tip mudik tentang naik KA ekonomi. Penting untuk pengalaman pertama saya nanti. Saran itu mulai dari bawa makanan, gadget, kipas, mainan sampe bantal tiup.

Pada hari H, kami berangkat ke stasiun Kota Baru Malang diantar orangtua saya, dengan harapan bisa membantu membawakan barang. Ternyata pengantar sekarang sudah dilarang masuk ke peron. Hanya bisa sampai di loket karcis saja. Padahal barang bawaan saya banyak: 1 koper medium (superberat), 1 kardus oleh-oleh (berat, isinya buah apel manalagi, dan jambu air putih pesanan saudara ipar yang juga sedang hamil muda), 1 tas isi bekal makanan dan minuman, 1 tas tangan dan 1 bantal tidur (saya tidak punya bantal tiup). Si kakak membawa tas troli kecilnya sendiri berisi pakaian ganti. Masuk ke peron, suasana cukup ramai. Di pintu masuk peron, seorang polisi cantik memeriksa tiket dan KTP lalu mengarahkan kami ke jalur 2. Suami membawa koper dan kardus. Saya menenteng bantal, tas tangan, tas bekal dan menggandeng si kecil Nadien yang “terpesona” melihat keramaian stasiun. Sebentar liat ini, sebentar liat itu. Si kakak, Micca, membuntuti ayahnya juga dengan paras penasaran.

Untuk menuju jalur kereta, di Stasiun Kota Baru Malang harus turun kebawah tanah dengan melalui tangga. Petugas juga sudah mengumumkan KA Tawang Alun jurusan Jember/Banyuwangi akan masuk di jalur 2. Dengan terburu-buru kami berjalan turun dan naik tangga lagi. Lumayan seperti hiking dengan bawaan banyak dan serombongan anak-anak yang sangat ingin tahu semuanya.

Kereta datang dan kami masuk. Anak-anak begitu senang melihat kereta itu datang dengan peluitnya yang ribut. Keadaan naik dan turun penumpang juga tertib. Petugas di setiap pintu membantu penumpang wanita naik, juga mengarahkan ke gerbong mana. Saya baru kaget ketika sudah duduk dan melihat tiket. Dari rencana 4 tiket dengan pilihan 4 seat berhadap-hadapan, hanya 3 tiket yang didapat suami. Saya pikir tak apalah kalo sebaris, ternyata malah beda gerbong. Ada 2 tiket di gerbong 3-3 dan 1 tiket di gerbong 3-1. Mana mungkin saya membawa 2 anak sendirian? Akhirnya sambil menunggu penumpang naik, saya berharap, bahwa ada teman 1 seat yang mau tukar tiket. Anak-anak sudah duduk tenang di tempatnya sambil sibuk melihat-lihat.

Beruntungnya kami ketika seorang mahasiswi tujuan Banyuwangi mau bertukar tiket dengan suami. Alhamdulillah, bisa dapat duduk sederet untuk tiga orang.

Baru duduk tenang sudah minta cemilan dan berebut kipas

Ketika kereta mulai jalan, kami sudah duduk tenang. Barang sudah diatas rak. Dengan 3 orang penumpang di depan seat kami (2 mahasiswi dan 1 anak laki-laki). Micca mulai dengan ribuan pertanyaannya. Mulai dari jalannya kok cepat, Mi? Ini panjangnya berapa kilo? Ada berapa gerbong? Peron itu apa? Jam berapa sampai? Kok cuma liat sawah? Mana jalannya mobil? Duduknya kok keras? Kenapa stasiun bentuknya sama semua? Sampai dengan “mana kue yang Mami bawa tadi?”….

Beda dengan si adik, Nadien yang lebih suka berdiri di lorong tengah. Masih dengan keheranannya melihat rak barang, pohon-pohon yang lewat dengan cepat, orang-orang yang masih mondar-mandir mencari tempat duduk dan lainnya. Kereta jalannya tenang dan cukup stabil, jadi tidak goyang-goyang seperti naik kendaraan umum lainnya.

Kira-kira ada 4 kali tempat duduk kami ditanya orang. Memang nomor seat sama, tapi kan beda gerbong. Salah seorang bapak bahkan ngotot dia sudah duduk di nomor yang benar, padahal nomor gerbong di tiketnya beda. Saya pikir, masyarakat masih banyak yang kaget dengan aturan KAI ini. Karena dulu, semua orang bisa naik KA ekonomi tanpa ada tiket, asal bisa duduk di lorong kereta, di pintu bahkan di atap. Duduk juga asal ada bangku kosong tidak masalah. Dulu tiketnya kecil, sekarang berupa lembaran cetak printer dengan nama pemilik tiket dan keterangan gerbong lengkap. Sama dengan naik kereta bisnis. Tiket diperiksa 2 kali, yang pertama hanya di paraf, yang kedua baru dilubangi dengan alat khusus. Saya cukup senang dengan ketertiban ini, sangat beda sama 6 tahun lalu.

Kondisi waktu berangkat sudah hampir sore, matahari ada di Barat, persis di jendela seat kami, tapi tidak terlalu panas menyengat. Dan kereta melaju ke arah depan, jadi si kakak tidak bingung kenapa keretanya jalan mundur. Cuaca sedikit mendung, tapi namanya KA ekonomi, tanpa AC dan jendelanya terbuka sedikit, suasana masih cukup gerah buat saya dan anak-anak. Untung saya bawa kipas, 2 kipas tepatnya karena sering kali anak-anak berebut benda yang sama.

Menyenangkan membawa anak-anak naik kereta api ekonomi, asal dengan bekal cukup lengkap. Kekhawatiran saya tentang si kecil rewel atau si kakak muntah juga tidak terbukti. Yang saya banggakan dari anak-anak, tidak satu pun dari mereka tertarik atau merengek meminta jajan. Padahal, ketika berhenti di setiap stasiun, banyak pedagang makanan dan jajanan naik ke KA. Kadang sambil meletakkan makanan itu di pangkuan kami sambil berjalan, sejurus kemudian kembali untuk mengambil uang atau jajan itu lagi. Anak-anak hanya suka menirukan cara pedagang menawarkan makanan, lalu tertawa-tawa sendiri merasa lucu.

Dulu, banyak pengamen dan penjaja makanan/minuman sepanjang perjalanan. Sekarang hanya saat berhenti di stasiun. Jadi perjalanan lebih nyaman dan nggak berisik. Meski begitu, anak-anak tidak ada yang tidur selama di jalan. Kalau tidak berebut kipas, ya makan/minum dari bekal yang saya bawa. Si kakak saja yang sempat tiduran sebentar, itu karena paginya dia sempat sekolah 2 jam.

Di setiap stasiun dan berhenti, yang jual makanan bermacam-macam. Mulai minuman dingin/panas, nasi bungkus, buah potong, majalah/koran, snack ringan, tape dan lain-lain.

Waktu ada pengamen, Nadien terbengong melihat 1 kumpulan pria menyanyi dengan alat musik lengkap lalu ikut bergoyang seirama lagu “iwak peyek”. Tapi hanya ada 1 pengamen itu saja di sepanjang perjalanan. Jadi nggak berisik. Sepanjang jalan, Nadien tidak mau duduk diam, bahkan dia sampai di pangku oleh penumpang lain dan sempat menghabiskan 1 bungkus molen pisang milik si penumpang. Kakaknya tertidur sebentar-sebentar. Dan saya? Punggung pegal dan kaki kesemutan, mungkin efek dari duduk lama-lama bagi seorang ibu hamil.

Bengong lihat rombongan pengamen

Makan cemilan tetangga

Sampai di Jember sekitar pukul 20.00 dan sudah dijemput adik suami. Anak-anak nggak ada yang rewel dan perjalanan cukup memuaskan. Mereka sempat melambai-lambaikan tangan dengan kereta apinya setelah turun dari gerbong.

Tip untuk naik kereta api ekonomi siang hari bersama anak-anak:

  1. Pesan tiket jauh-jauh hari untuk bisa memilih tempat duduk yang diinginkan. Lebih baik dalam 1 baris atau berhadap-hadapan. Ada tempat duduk untuk enam orang dan untuk empat orang. Datang dan langsung bayar tiket di loket KA.
  2. Kalau terpaksa berangkat siang, persiapkan kondisi anak. Sebelum berangkat makan dulu dan istirahat cukup. Usahakan anak dalam kondisi fit, tidak sakit.
  3. Datang ke stasiun jangan terlalu mepet dengan jam keberangkatan supaya tidak terburu-buru seperti saya.
  4. Perhatikan apa saja yang dibawa. Bagi tugas dengan suami, siapa membawa apa/siapa. Jangan sampai anak lepas dari pengawasan, karena stasiun cukup ramai. Kalau ketinggalan kereta hanya karena mencari-cari anak tersesat, bisa jadi panjang masalahnya.
  5. Bawa bekal makanan cukup. Snack favorit anak, air putih, susu, dan kalau perlu nasi serta lauknya. Letakkan dalam tas dan wadah yang mudah dibawa. Bawa sendok plastik. Buah potong juga bisa. Karena sebelum berangkat kami semua sudah makan, saya tidak membawa bekal nasi. Tapi saat di perjalanan, Micca minta makan. Saya belikan dari petugas restorasi yang sering lewat, nasi goreng telur ceplok seharga Rp7.000,-. Sementara air mineral sebotol seharga Rp3.000,-.
  6. Bawa perlengkapan tempur lain : tisu kering, tisu basah, kipas, bantal kecil, hand sanitizer, kantong plastik untuk darurat, saputangan, dan lainnya.
  7. Siapkan baju ganti anak. KA ekonomi biasanya tanpa AC, jadi pakaikan baju yang santai dan menyerap keringat anak. Kaus tipis dan celana cukup membuat gerak mereka leluasa. Saya membawa baju ganti, jadi ketika mereka sudah gerah dengan bajunya yang lengket, saya ganti dengan baju baru setelah diseka dengan tisu basah. Saya juga membawa diaper ganti, sabun cair, handuk kecil dan jaket tipis, saya letakkan di tas ransel Mica. Tapi jaketnya tidak terpakai karena angin di malam hari tidak terlalu kencang.
  8. Meski anak-anak tidak meminta jajan, siapkan bekal uang kecil jika mereka tiba-tiba tertarik untuk jajan. Dan pilih jajanan yang bersih. Banyak yang jual nasi bungkus, gorengan, minuman dingin, buah dan lain-lain. Waspada saja dalam memilih makanan itu. Siapkan juga uang receh untuk pengamen.
  9. Bawa mainan jika perlu. Game dan lagu-lagu anak di handphone cukup ampuh membuat Nadien duduk tenang. Bercerita tentang perjalanan kereta api juga menarik buat anak.
  10. Simpan barang berharga di satu tas yang diletakkan dengan baik dalam pengawasan. Saya membawa tas tangan yang saya taruh dipojok dekat jendela. Handphone dan dompet aman di sana. Tidak memakai perhiasan berlebihan juga penting. Meski tidak ada copet di kereta, kita tetep perlu berhati-hati di stasiun.
  11.  Jangan menerima makanan/minuman dari orang lain yang tidak dikenal terutama dengan tampang mencurigakan. Penumpang yang memberikan pisang molennya ke Nadien, membeli pisang molen itu dari pedagang yang keliatannya bersih. Tapi tetap aja ada rasa khawatir. Alhamdulillah nggak ada apa-apa.
  12. Naik kereta lebih nyaman daripada kendaraan roda empat. Karena kondisi jalan yang stabil tidak banyak goyang, tidak macet dan santai. Anak-anak bisa duduk atau jalan di lorong sesuka hati tanpa takut jatuh. Tapi tetap awasi anak ketika mereka bermain di lorong, karena kadang-kadang ada petugas restorasi lewat membawa baki makan/minuman.
  13. Saya mencoba toilet KA ekonomi. Begitulah adanya. Bawa saja tisu basah atau sabun cair untuk cuci tangan. Untuk membasuh, gunakan air yang keluar dari kran langsung ya… Atau sebelum naik KA, usahakan mampir toilet stasiun yang lebih baik.
  14. Jika anak rewel sepanjang jalan, jangan panik dan stres. Bawa anak jalan-jalan di lorong atau ke dekat pintu, di sana angin lebih sejuk, tapi tetap berhati-hati ya…
  15. Jika biasanya mabuk perjalanan, siapkan aja permen jahe, minyak angin, atau tutup pusar dengan plester. Jangan lupa plastik kecil di tempat terjangkau. Usahakan bilang ke anak “kalo mau muntah, bilang ya…” Jadi tidak sampai muntah di kursi.
  16. Untuk perjalanan malam hari, mungkin lebih baik membawa selimut kecil atau jaket tipis. Bantal leher juga enak buat istirahat. Kalo kereta ekonomi, sandaran bangkunya tegak, tidak bisa disetel.

Tidak banyak yang bisa saya dokumentasikan selama pengalaman pertama bersama kereta api. Pertama karena anak-anak susah duduk untuk berpose, kereta api goyang-goyang sehingga foto sering blur dan juga saya yang udah kelelahan untuk memotrek mereka.

Nikmati saja perjalanan ini. Semoga tip ini bermanfaat buat yang akan mencoba perjalanan dengan KA ekonomi.

8 Comments

  1. amaliaputri
    Amalia Putri August 16, 2012 at 7:10 am

    Wahhhh,,, mudik yang seru buat Micca & Nadine :)

    jaman kuliah 6 tahun dulu saya juga pernah naik kereta ekonomi semarang – jakarta.. dari segi tempat duduk gak beraturan, duduk sebelahan dengan orang tak dikenal dan berganti-ganti orang, jendela bolong (beneran ada satu jendela gak ada kacanya sama sekali), lantai ada yang berlubang, jadi waktu hujan basah kuyup deh penumpangnya dan air banjir masuk ke dalam gerbong :D

    Sekarang kereta ekonomi udah tertib dan rapih yah..
    Senang! :) berarti ada perbaikan transportasi di indonesia..

  2. Yossi
    Yossi August 16, 2012 at 9:31 pm

    Alhamdulillah dimuat juga.. hihihi.. hepi deh..

    Mama Amel, ya lumayan lah kalo tertib dan rapi-nya. Mungkin yang kurang cuma kipas angin aja sih kalo untuk ke daerah “hot”.
    Yang penting sejak menteri BUMN diganti baru, semua makin tertata rapi. :)

  3. dityodwi
    Adityo August 20, 2012 at 3:43 am

    Waaah bagus nich artikelnya mom.. Micca pasti seneng banget ya naik keretanya sampai2 penuh rentetan pertanyaan :)

    Thanks for sharing ya..

  4. Kira Kara
    Bunda Wiwit August 25, 2012 at 1:54 pm

    Lebaran kemarin kami juga mudik pake KA. Dan kebetulan pulangnya kami dapat kelas ekonomi naik KA sancaka pagi. Surprisenya ternyata KA ekonomi sancaka justru pake AC lhoo.. malah berbeda dengan kelas bisnis yang pake kipas angin. Tarifnya? sama dengan kelas bisnis.
    Dan benar, anak2 jauh lebih bisa menikmati perjalanan kalo naik KA. bebas macet, lebih cepat sampai, dan bisa sambil jalan2 di gerbong kereta. Benar-benar petualangan baru yang menyenangkan.. :)

  5. hestinaira
    hestin parmawati August 27, 2012 at 10:22 am

    mommies, adakah yg bs berbagi tips perjalanan untuk bayi 6 bulan? rencana mau ke jogja (dari jakarta) naik kereta eksekutif (mudah2an dpt tiket), tp mertua maksa2 naik pesawat. masalahnya saya takut naik pesawat -kalo nggak kepepet-. gmn ya? any idea?

  6. Yossi
    Yossi August 29, 2012 at 7:36 am

    Papa Adityo, Sama-sama… iya nih, kakak Micca sangat antusias sampe saya kehabisan jawaban :)

    Mama Kira Kara, Kata temen saya, Sancaka termasuk kelas bisnis?

    Mama Hestinaira, Ada yang bisa berbagi? Naik pesawat sebenernya lebih praktis.

  7. mama_Nara
    mama Nara August 29, 2012 at 4:43 pm

    Artikelnya keren. Kami juga berencana mudik tahun depan dengan KA, untuk jarak dekat sih Nara (2,5th) sudah lumayan pernah dari kereta diesel, ekonomi non AC, dan ekonomi AC. Tapi saya masih agak kawatir dengan perjalanan mudik KA jarak jauh (JKT-SMG), tahun kemarin saja mudik perjalanan malam dengan mobil pribadi tidak tidur seharian, tidak bisa anteng & belum lepas ‘cenal-cenil’ kalo mau bobo atau kalau Nara sedang BT !!!

  8. bundairez
    bundairez December 20, 2012 at 4:45 pm

    thanks for the tips,,
    rencana akhir taun mo liburan ke bandung naek KA
    semuga bermanfaat :)

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.