Peduli Kanker Sejak Dini

Kira Kara

Melihat kampanye “breast cancer awareness” saya jadi ingat betapa berbahayanya penyakit kanker dan tumor. Saya memang tidak memiliki pengalaman yang tragis dan sangat buruk terhadap penyakit ini. Namun saya memiliki riwayat yang sangat dekat dengan penyakit kanker dan tumor.

Saya terlahir di keluarga yang memiliki riwayat penyakit tumor. Ibu saya pernah menderita FAM (Fibro Adonema Mamma) sejenis tumor jinak di payudara. Budhe dan tante saya (saudara perempuan dari ibu) pernah menderita tumor kelenjar. Dan saya sendiri pun sama seperti ibu, pernah operasi FAM.

Saya sendiri berjodoh dengan seorang suami yang memiliki riwayat kanker di keluarganya. Mama mertua saya pernah operasi kanker. Budhe atau kakak mama mertua saya meninggal akibat kanker.

Sekarang saya dianugerahi dua putri kembar yang lucu, lincah dan sehat. Riwayat keluarga dengan tumor dan kanker tersebut membuat saya ekstra waspada. Dokter Onkologi saya pernah mengatakan bila faktor genetik memiliki andil 30% dalam menurunkan riwayat penyakit tumor dan kanker. Saat ini Kira dan Kara memang baru berusia 3 tahun. Namun nantinya saya ingin memberikan pendidikan tentang perawatan kesehatan tubuh sejak dini, mengingat faktor genetik yang mereka bawa sangat riskan terhadap penyakit tumor dan kanker.

Saya bukan tipe ibu yang sangat protektif dan masih terlalu cuek dengan konsumsi bahan makanan untuk Kira dan Kara. Saat ini saya juga belum bisa memberikan pengertian yang detail tentang penyakit kanker dan tumor kepada Kira dan Kara. Namun pendidikan seks sejak dini sudah saya mulai sejak Kira dan Kara usia 2 tahun. Hingga sekarang Kira dan Kara sudah mulai mengenal perbedaan laki-laki dan perempuan. Saya juga mulai menanamkan bagaimana caranya menjaga kebersihan alat vitalnya. Saya sudah mulai mengajarkan Kira dan Kara cara membersihkan ketika selesai buang air kecil, dan di toilet mana ia boleh buang air kecil. Apalagi Kira dan Kara sudah lulus toilet training. Bila toilet kotor, saya ajak Kira dan Kara mencari toilet bersih, dan membersihkannya dengan air mengalir.

Sebisa mungkin menciptakan suasana rumah bebas asap rokok. Ini masih sangat sulit saya lakukan karena saya masih tinggal bersama mertua, di mana suami dan adik ipar saya adalah perokok. Teman-teman yang datang juga beberapa perokok. Tetapi dengan membuat aturan smoking area di rumah dapat meminimalisir anak-anak terpapar asap rokok. Tak lupa cari tempat bermain atau restoran yang “no smoking area” ketika bersama buah hati.

Bekas operasi saya juga meninggalkan luka parut yang sengaja tidak saya hilangkan. Ternyata sekarang luka parut itu bermanfaat untuk bahan cerita buat Kira dan Kara. Pada saat mandi bertiga, Kira dan Kara pernah melihat luka parut tersebut dan bertanya. Selesai mandi saya mulai bercerita bagaimana saya mendapatkan luka parut itu. Mungkin belum banyak yang bisa dipahami Kira dan Kara, namun saya berharap dari cerita tersebut Kira dan Kara mengenal tentang bahaya penyakit yang dapat mengintainya setiap saat.

Saya pun tak lupa rutin kontrol kesehatan, mulai dari SADARI (pemeriksaan payudara sendiri), kontrol rutin ke spesialis onkologi 1 tahun sekali, Pap Smear 1 tahun sekali.

Beberapa waktu lalu saya mendapat informasi dari posyandu tentang alternatif pemeriksaan leher rahim dengan biaya yang lebih terjangkau. Sekarang sudah ada pemeriksaan dengan metode IVA atau inspeksi Visual dengan Asam Asetat, yang dapat dilakukan di puskesmas kecamatan. Dengan biaya lebih murah, akurasi yang sama dengan Pap smear, sehingga wanita dapat melakukan deteksi dini terhadap bahaya kanker serviks. Jadi tidak ada lagi alasan bahwa deteksi dini kanker itu mahal.

Saya masih sering teledor dalam memilih menu makanan. Saya masih sering bolos olahraga. Saya masih sering teledor dalam menjaga kesehatan tubuh saya dan anak-anak saya. Namun dari sini, semoga saya bisa memiliki semangat untuk terus belajar. Dari teman-teman di urban mama juga saya terus dapat memiliki semangat untuk selalu menjaga kesehatan tubuh, bukan hanya untuk diri saya sendiri, namun juga untuk orang-orang yang mencintai saya.

Peduli terhadap bahaya kanker dan tumor tidak harus menunggu memiliki riwayat yang mengerikan terhadap penyakit ini, tetapi kita perlu melakukannya sejak dini, sebelum penyakit tersebut benar-benar hadir di tengah keluarga kita. Mulailah dari peduli terhadap diri sendiri dan keluarga.

image source: www.gettyimages.com

4 Comments

  1. lady.yusi
    lady.yusi October 27, 2013 at 6:45 am

    nice sharing mom :D

  2. eka
    Eka Wulandari Gobel October 27, 2013 at 9:37 pm

    tfs, wiwit. jadi ingat, harus pap smear sebentar lagi. sengaja pilih waktunya di akhir/ awal tahun utk pap smear, biar gak lupa :)
    tfs, bunda wiwit! :)

  3. feee
    feee October 28, 2013 at 9:56 am

    Anak udah 2 tapi belom pernah papsmear *selftoyor
    Thanks remindernya Mbak Wiwit…

  4. Kira Kara
    Bunda Wiwit October 29, 2013 at 12:43 pm

    @lady yusi: thank you :)
    @ teh Eka: *toss* aku juga waktunya papsmear nih..
    @feee: Ayuuukkk papsmear yuukk…!! ^^

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.