Perayaan Cinta

luhayu

Kita sering mendengar istilah bahwa anak adalah buah cinta dari orangtuanya, maka kami sebagai orangtua mau anak-anak kami tumbuh dalam kehangatan cinta dan kasih sayang. Keinginan yang wajar dari setiap orangtua, kan? Oleh karena itu sejak saat kelahiran mereka hingga sekarang, kami berusaha merayakan cinta kami terhadap mereka, salah satunya dengan memperingati setiap “pencapaian usia” berdasarkan adat istiadat dan budaya dari kami orangtuanya. Dan kebetulan kami berasal dari dua latar belakang budaya berbeda, saya dari Bali sementara suami saya Tionghoa. Dua budaya yang awalnya bagi kami sendiri adalah budaya yang sangat berbeda, tapi makin lama kami menemukan makin banyak persamaannya.

Sejak lahir, Bodhi dan Citta, sudah kami rayakan secara Bali dan Tionghoa. Ari-ari mereka kami upacarai dengan adat Bali dan ternyata kami menemukan bahwa dalam adat Tionghoa juga ada detail yang mirip, misalnya membekali dengan benda-benda tertentu sebagai simbol harapan dan doa orangtua. Ketika berusia 30 hari sesuai kalender Cina, kami merayakannya dengan telur merah dan gunting rambut sesuai tradisi Cina. Saat itu, mertua dan keluarga dari pihak suami datang untuk membantu. Tapi upacara adat Bali saat usia 42 hari kami lewatkan, karena kami pikir sudah dijalankan tradisi Cina di usia 30 hari. Lalu saat usia 3 bulan dan 6 bulan berdasarkan kalender Bali, kami rayakan dengan upacara adat Bali. Dan untuk bagian ini, ibu saya yang kebagian seksi repotnya. Kemudian saat mereka mencapai usia setahun, berbarengan dengan ulang tahun pertamanya, kami tetap tambahkan upacara tradisi Cina yaitu anak diberikan pilihan barang-barang seperti misalnya dompet/kertas angpau, buku, kalkulator, stetoskop (kalau yang ingin anaknya kelak jadi dokter), bahkan bisa jarum dan benang jahit. Mungkin harapannya nanti besar anaknya jadi designer pakaian ya.

Bagi kami, semua itu sangat menyenangkan. Selain menjaga tradisi kami juga mengambil momen itu untuk menegaskan harapan kami kepada anak-anak, harapan orangtua pada umumnya, yaitu semoga mereka selalu berbahagia. Di samping itu juga kami ingin membahagiakan orangtua kami, dengan menjalankan tradisi yang mereka dulu juga jalankan untuk kami anak-anaknya. Para kakek dan nenek terlihat begitu bersemangat menyiapkan upacara untuk para cucu tersayang.

Kalau ada yang beranggapan menjalankan tradisi adalah pemborosan, tapi bagi kami tidak sama sekali. Karena kami selalu menjalankannya dengan sederhana, sesuai kemampuan kami. Tidak perlu mengundang banyak orang, justru di saat seperti itu kami hanya ingin merayakannya dengan orang-orang terdekat. Karena bukan hebohnya acara yang kami inginkan, kami justru ingin yang santai kekeluargaan. Bahkan jika ada yang beranggapan itu hanya takhayul, kami juga tidak peduli. Karena dasar kami menjalankannya, bukan semata keinginan heroik sebagai pelestari budaya dan adat istiadat, tapi tujuan kami seperti yang disebutkan di awal semata ingin merayakan cinta. Cinta kami kepada anak-anak, juga cinta kami kepada orangtua kami.

Citta gunting rambut saat umur sebulan sesuai tradisi Cina. Saat itu yang menggunting rambut Citta adalah seorang Bikhu Buddhist yang khusus menyempatkan diri datang ke rumah kami di pagi buta. Berkah bagi Citta dan kami sekeluarga.

Upacara 3 bulanan berdasarkan adat Bali, di saat ini pertama kali Citta secara resmi boleh menginjak tanah.

Ulang tahun pertama dibarengi dengan tradisi memilih barang. Saat itu Citta memilih telur dan jarum+benang jahit. Kata mertua, anaknya akan suka makan dan calon designer.



Bodhi dan Citta, saat upacara ulang-6-bulan Citta. Berhubung upacara 6 bulan yang pertama kami sedang tidak di Bali karena berbarengan dengan saat kami merayakan tahun baru Imlek di Palembang, jadi baru diadakan Maret 2012 yang lalu. Oh ya, kalau sesuai kalender Bali, peringatan hari kelahiran bukan setahun sekali tapi 6 bulan sekali, karena dalam kalender Bali hanya terdiri dari 210 hari.

Jadi begitulah, kami tidak melakukannya dengan ketat harus sama persis, tapi lebih disesuaikan dengan waktu luang kami, semampu kami, jadi tidak ada beban tidak ada paksaan. Alasan utamanya karena yang atas nama cinta tak boleh ada kata memaksa.

13 Comments

  1. andinanina
    andina setiamihardja April 26, 2012 at 8:17 am

    Nice post, Mommy.. Very enlightening.. Selama ini mindset saya tentang acara adat adalah RIBET. Sekarang saya jadi punya bahan pertimbangan lain untuk nurut kata orangtua dan mertua untuk mengikuti dan memperkenalkan acara adat ke anak. Thanks for sharing!

    1. luhayu
      luh ayu kusuma sari April 26, 2012 at 10:27 am

      u’re welcome mom Andina.

  2. gabriella
    Gabriella Felicia April 26, 2012 at 8:35 am

    keren deh, kalo gw selama ini cari praktisnya… tapi baca artikel ini… salut deh… gak kepikirin hal itu sama saja membuat orangtua senang… bodhi dan citta lucu deh…

    1. luhayu
      luh ayu kusuma sari April 26, 2012 at 10:28 am

      hehe mba Ella udah baca duluan ya. salam dari bodhi-citta :)

  3. nanad
    swastikha nadia April 26, 2012 at 9:09 am

    kereen artikelnyaa..
    Setuju bgt klo baca artikel ini jd bikin kita ngeliat dr sisi lain..
    Bayanganku jg klo mo bikin acara adat harus full version.makanya acara adat yg pernah dilakuin k anakku cm potong rambut aja pas aqiqahnya,hehehe…
    Betewey…Bodhi n citta lucuu..!gemes bgt liatnya.. :D
    TFS yaa…

    1. luhayu
      luh ayu kusuma sari April 26, 2012 at 10:30 am

      mau bikin yang ribet dan lengkap mahal di ongkos kadang mom, eh malah nilai esensialnya nggak dapet :) tapi itu bagi saya,buat yang sanggup sih ya nggak apa kali ya hehe. makasiiii dari bodhi dan citta.

  4. iyu
    yuliana karang April 26, 2012 at 9:19 am

    uaahhh samaan ama lycka :)
    acara 30hari nya cara nyokap (tradisi cina)
    otonan pertama cara mertua (tradisi hindu)

    kita bikin otonan sederhana banget, baik itu secara banten (sajian) karena hanya keluarga inti aja. begitu dapet undangan dari sepupu acara otonannya, langsung takjub dan bangga sih, kita di jakarta ga seheboh mereka di bali :)

    nice article, TFS mbok Luh :)

    1. luhayu
      luh ayu kusuma sari April 26, 2012 at 10:32 am

      eh bisa samaan ya, toss dulu kita :D
      mau besar2an atau simple, beruntungnya kami dikasi kesempatan untuk menentukan pilihan sendiri :)

  5. sLesTa
    shinta lestari April 26, 2012 at 12:05 pm

    nice article dear, dan a good reminder for us all. kalo bukan kita yang keep the tradition alive, siapa dong? soalnya itu tradisi kekayaan bangsa kok. buat gue yang gak tinggal di indonesia, kadang kangen dan sebel karena gak bisa ngikutin semua tradisi, tapi sebisa mungkin diusahain. repot bin ribet emang, tapi seruu!

    kiss buat bodhi & citta yang lucuu!! :*

    1. luhayu
      luh ayu kusuma sari April 26, 2012 at 3:40 pm

      memang sering begitu ya mom,saat jauh dari tanah kelahiran kok jadi makin jatuh cinta :) kiss balik dari Bodhi dan Citta ^_*

  6. ndatha
    PuTRi April 26, 2012 at 12:06 pm

    baru liat fotonya aja lgsg refleks bilang “lucu bgt sih nih anak2″
    love this quote: “atas nama cinta tak boleh ada kata memaksa”
    TFS mba :)

    1. luhayu
      luh ayu kusuma sari April 26, 2012 at 3:41 pm

      makasi mom Putri, itu mereka sedang mengkhayal liat angry birds di angkasa :))

  7. LilMama
    Rizsya Arita June 4, 2012 at 2:10 am

    Duh lucu2 ya pd pake baju Bali hihihihi
    Di keluargaku jg msh adat2an ya Jawa ya Sunda tp seru,ajang kumpul keluarga jg kan jadinya :)

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.