Perkembangan Kognitif Anak (1)

AnnaSurtiNina
Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psi. Family & child psychologist di Klinik Terpadu, Fakultas Psikologi UI, Depok (021-78881150) dan Medicare Clinic, Menara Kadin, Kuningan, Jaksel (021-5274556)
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Urban Mama Papa pernah nggak mengalami kebingungan karena anak tak kunjung bicara ketika ditelepon padahal sudah bisa bicara? Pernah kesal karena anak tak mau ditinggal? Tahu nggak bahwa bermain cilukba itu penting bagi perkembangan kecerdasan anak? Ingin tahu kenapa anak marah kalau air minumnya dipindah dari botol besar ke gelas, padahal isinya sama persis? Dan ini pasti yang bikin penasaran: Kenapa ya anak harus diberi tahu berulang kali dan tetap saja kelihatan tak mengerti?


*image credit: www.gettyimages.com

Jika semua kondisi di atas membuat Anda penasaran, agaknya Anda perlu memahami bagaimana perkembangan kognitif seorang anak. Seorang psikolog Swiss, Jean Piaget (1896-1980) membuat teori berdasarkan observasi terhadap anaknya. Piaget menemukan bahwa tiap bertambah usia, kecerdasan kognitifanak berkembang secara berbeda. Teorinya dinamakan cognitive-developmental approach, dan menarik sekali untuk dipahami. Mari kita selami bagaimana perkembangan kognitif anak menurut Piaget.

Secara umum, Piaget membagi perkembangan kognitif menjadi 4 periode:
1. Tahap Sensorimotor (0-2 tahun)
2. Tahap Preoperational (2-7 tahun)
3. Tahap Concrete Operation (7-11 tahun)
4. Tahap Formal Operation (11 tahun sampai dewasa)

Kali ini, yuk kita pahami dulu tentang tahap pertama, Sensorimotor.

Tahap Sensorimotor (0-2 tahun)
Bayi mencoba memahami dunianya lewat indera atau sensori dengan gerakannya, seperti mengisap, menggenggam, memeluk, memukul-mukul, dll. Bagaimana cara dia memahami?

Piaget membagi tahap Sensorimotor menjadi 6 tahap kecil (subtahap) berikut:
a. Simple reflexes (0-1 bulan): bayi hanya gunakan refleks untuk belajar memahami lingkungan.
b. Primary circular reaction (1-4 bulan): gerakan bayi mulai bertujuan, misalnya sengaja berulangkali memasukkan tangan ke mulut karena ia menyukainya.
c. Secondary circular reaction (4-8 bulan): seperti tahap sebelumnya, bertujuan dan berulang, tapi juga melibatkan benda lain. Bedanya, tahap sebelumnya hanya melibatkan tubuhnya saja, sementara tahap C melibatkan benda lain, misalnya melempar bonekanya.
d. Coordination of secondary schemes (8-12 bulan): tujuannya sudah lebih jelas, bukan sekadar mengulang perilaku. Misalnya anak suka menekan tuts tertentu dari mainannya, bukan tuts lain, karena suka mendengar lagu favoritnya.
e. Tertiary circular reaction (12-18 bulan): anak menjadi ilmuwan, karena mengeksplorasi sisi baru dari dunianya. Salah satu penyebabnya adalah karena anak saat ini sudah bisa berjalan sendiri. Contohnya anak menemukan bahwa tombol flush di toilet bisa mengeluarkan air, maka dia akan melakukannya berulang kali, bahkan sampai rusak! :)
f. Mental representation / combination (18-24 bulan): anak sudah bisa memperkirakan apa yang akan terjadi berikutnya, berdasarkan pengalaman sebelumnya. Contohnya jika anak pernah punya kotak puzzle 3 dimensi, maka ketika dia punya mainan baru yang bentuknya mirip, maka dia mencoba memainkannya seperti yang pernah ia alami.

Object Permanence
Nah, sekarang, kenapa bayi yang sudah mengenal ibu/pengasuhnya, kalau ditinggal sebentar saja menangis keras ketakutan? Ternyata ini karena object permanence yang belum terbentuk sempurna. Object permanence adalah pemahaman bahwa suatu obyek atau benda tetap ada/permanen, walaupun tidak kelihatan. Bayi belum paham bahwa kalau ibunya tidak terlihat, sebetulnya ibunya tetap ada. Dikiranya hilang. Menurut Piaget, anak baru benar-benar paham bahwa kalau ibunya terus ada/permanen sekitar usia 18-24 bulan.

Karena object permanence belum terbentuk, penting sekali tuh kalau sedang perlu agak berjauhan dengan bayi, teruslah bersuara, agar bayi tahu ibunya tetap ada. Tetap bersuara itu akan sangat menenangkan dirinya yang belum paham bahwa ibunya tidak hilang.

Gara-gara object permanence pula, permainan Cilukba jadi stimulasi penting buat perkembangan kognitifnya. Permainan Cilukba menyembunyikan wajah ibu dari si bayi untuk sementara, dan setelah itu muncul kembali. Bayi yang awalnya mengira ibu hilang, akan segera paham bahwa ibu hanya bersembunyi sementara dan tetap ada. Dengan demikian permainan Cilukba membantu anak paham bahwa yang tak kelihatan itu tetap ada.

Deferred imitation
Meniru adalah kemampuan mengimitasi perilaku orang lain. Sedikit demi sedikit bayi mengembangkan kemampuan deferred imitation, yaitu kemampuan untuk meniru suatu perilaku yang sudah pernah diamati sebelumnya, dan ada jeda waktunya. Contohnya kemarin anak melihat anak lain melambaikan tangan kepada mamanya. Hari ini atau besok anak mungkin melakukan hal yang sama, melambaikan tangan kepada mamanya, padahal tidak ada contoh langsung pada saat itu. Tidak adanya contoh langsung, adanya jeda waktu antara kegiatan yang ditiru dengan peniruannya menunjukkan bahwa daya amat dan daya ingat anak sudah berkembang bagus.

Apa efek adanya deferred imitation buat pengasuhan anak? Orangtua perlu lebih berhati-hati dalam berperilaku dan berkata-kata. Bisa saja tanpa disadari orangtua melakukan atau mengatakan sesuatu yang tidak pantas, kemudian lega karena anak seakan tak memberikan perhatian atau tak melakukan pengulangan. Beberapa hari setelahnya bisa lho anak mengulangi perilaku atau kata-kata tersebut. Pengaruh juga bisa berasal dari lingkungan lain seperti pengasuh, tetangga, teman, dan lain-lain.

Nah, itu tadi adalah perkembangan kognitif anak berusia 0-2 tahun. Ingin tahu perkembangan kognitif anak di atasnya? Cermati terus lanjutan tulisan ini ya. :)

16 Comments

  1. Yuni Ratnasari
    Yuni Ratnasari September 15, 2014 at 7:29 am

    Hmm…pantesan Fathan kalo aku maw kerja ya nangis ajah

  2. ipeh
    Musdalifa Anas September 15, 2014 at 7:36 am

    Tfs mbak Nina. Artikelnya bagus banget mbak, sama dgn mama Yuni, anakku 16bulan jg nangis kalau ditinggal bentar, bahkan kalau ditinggal ke toilet kadang pengen ikut dan nangis.

  3. ninit
    ninit yunita September 15, 2014 at 8:09 am

    selalu seneng baca artikel mbak nina… enak dibaca & informatif banget :)
    TFS mbak…

  4. Kira Kara
    Bunda Wiwit September 15, 2014 at 8:40 am

    kangeeen sama artikelnya psikolog favorite. Keren dan Sangat bermanfaat inih. Jadi penasaran kelanjutan artikelnya.. *menunggu*

  5. netta
    netta September 15, 2014 at 9:20 am

    ga sabar menunggu pembahasan selanjutnya :D
    TFS mbak :)

  6. thesarafa
    thesarafa September 15, 2014 at 12:58 pm

    Informatif sekalii.. *thumbsup :)

  7. rainiw
    Aini Hanafiah September 15, 2014 at 2:41 pm

    Terkuaklah sudah skrg, misteri kenapa anakku nggak suka kalau minumnya dituang pindah ke gelas lain :)) terima kasih mbak Nina… nggak sabar baca pembahasan selanjutnya :D

  8. thia_marshmalove
    Syinthia Ully ✿ September 16, 2014 at 11:55 am

    Ternyata memang tahapan tumbang nya yang menyebabkan setiap perilaku lucu dan kadang membingungkan ini.
    Thanks for the knowledge Mba Nina. Menunggu artikel lanjutannya. :)

  9. eka
    Eka Wulandari Gobel September 16, 2014 at 4:22 pm

    tfs, mbak nina! seneng deh baca artikelnya, informatif banget. ga sabar nunggu artikel yg berikutnya. penasaran :)

  10. bunda_rizma
    bunda_rizma September 17, 2014 at 2:43 pm

    manggut-manggut nih bacanya.
    bagus banget artikelny. nunggu episode berikutnya ^^

  11. MJs Mommy
    MJs Mommy September 18, 2014 at 11:53 am

    waah menambah pengetahuan banget ini artikelnya.. ditunggu deh part II nya :D

  12. rysma_dev
    rysma_dev September 20, 2014 at 11:48 am

    ditunggu lanjutannya bund, kereeeennn informasinya *bighug

  13. rahmi jegeg
    Rahmi Hapsari September 20, 2014 at 1:26 pm

    Nice info..anakku 3 thn msh juga susah lepas dari bundanya. Sptnya msh suka di zona amannya. Ditunggu artikel selanjutnya ya…

  14. Tickzie
    Mustika Kusumaningtyas September 21, 2014 at 5:25 pm

    ga sabar nunggu lanjutannya!

  15. ichaaa
    ichaaa September 22, 2014 at 9:09 am

    makasih mba, pas banget sama Amaya yang baru berusia 1 tahun kemarin :)

  16. dhetiezhar
    nurasti novitasari October 9, 2014 at 4:02 pm

    tfs mbak nina..
    baru sempet baca tulisannya sekarang nih. :)

    Aina (18m) skrg jd imitator ulung. Kita bener2 hrs hati2 dalam bersikap & menjaga omongan ya.

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.