Perlukah Membuat Akun Media Sosial untuk Anak?

Penggunaan media sosial rasa-rasanya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia zaman 'now'. Tak hanya orang dewasa, anak-anak sekarang pun sudah mengenal dan menggunakan media sosial, baik itu dari 'menumpang' akun media sosial milik orangtua, atau bahkan punya akun media sosial sendiri. Alasan membuatkan akun media sosial untuk anak bisa jadi bermacam-macam, misalnya sebatas ingin berbagi dengan keluarga dan kerabat yang tinggal jauh, seru-seruan berinteraksi dengan keluarga lainnya atau bahkan sengaja membuat si anak jadi terkenal.

Sebelum memutuskan untuk membuatkan akun media sosial untuk anak, orangtua harus menyadari bahwa penggunaan media sosial ini sudah pasti ada sisi positif dan negatifnya. Memangnya apa saja sisi positif dan negatif dari akun media sosial untuk anak, seperti Instagram, Facebook, bahkan Youtube?
Banyak orang yang berpendapat bahwa lebih enak membuatkan akun media sosial untuk anak agar mudah menunjukkan foto-foto atau video menggemaskan si kecil kepada keluarga atau kerabat yang tinggalnya cukup jauh. Selain itu, ada juga anak-anak yang memiliki akun media sosial sendiri namun akun tersebut dikelola oleh orangtuanya, dengan tujuan untuk mengeksplor bakat-bakat yang ditunjukkan anak sejak usia dini. Atau yang lebih banyak dijumpai di sekitar kita, akun media sosial untuk anak ditujukan untuk menyimpan lebih banyak momen-momen perkembangan si kecil jika gadget sudah tidak mampu menampung cukup banyak foto atau video.

Tetapi bagaimanapun juga, hal-hal positif tersebut tanpa sadar adalah pemicu dari munculnya sisi negatif penggunaan akun media sosial untuk anak, jika kita sebagai orang tua terlalu bebas membuka akun media sosial untuk si kecil.

Kini makin santer terdengar berita kasus penculikan anak di bawah umur hingga perdagangan anak. Bagaimana caranya tindak kriminal yang mengancam bayi dan anak-anak tersebut dapat terjadi? Tidak lain karena foto dan video bayi dan anak dapat dengan mudah dilihat oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab, karena sangat banyak beredar di internet. Salah satu sumber terbanyak adalah dari akun media sosial yang dibuat untuk anak, seperti Instagram dan juga Facebook yang memang merupakan ‘gudang’ penyimpanan foto dan video.

Bukan hanya bahaya penculikan, mengunggah foto atau video anak pada akun Instagram atau Facebook dapat memicu bullying. Sebenarnya untuk memiliki akun media sosial seperti Facebook atau Instagram ada syarat minimal usia 13 tahun. Namun seringnya aturan ini diabaikan dan tak jarang saat ini anak berusia sekolah dasar sudah punya akun media sosial sendiri. Padahal ada alasannya mengapa akun media sosial hanya diperuntukkan bagi mereka yang berusia di atas 13 tahun, salah satunya karena anak-anak belum cukup memiliki kematangan emosi untuk siap bersosialisasi di dunia maya.

Jadi, perlukah membuatkan akun media sosial untuk anak?

(Image credit: www.freedigitalphotos.net)

 

Jika tujuan utama kita sebagai orang tua membuatkan akun sosmed untuk anak hanya untuk menyimpan semua foto, video dan momen yang dimiliki bersama si kecil, cukup simpan foto dan video tersebut dalam album foto pribadi atau media penyimpanan layaknya flashdisk, cloud account, atau harddisk. Jika ingin membagi foto dan video tersebut, pastikan terlebih dahulu hanya membaginya di media yang aman dan diproteksi, serta hanya dibagikan kepada orang-orang terdekat yang dipercaya. Pilihan ini setidaknya sangat membantu kita dan si kecil terhindar dari kejahatan dunia cyber hingga cyberbullying yang menyalahgunakan foto dan video si kecil.

Namun jika Urban Mama dan Papa masih ingin membuatkan akun sosmed untuk anak atau ingin membagi foto dan video anak-anak, sebaiknya pertimbangkan hal-hal berikut:

1. Pastikan selalu menjaga keamanan si kecil dengan tidak mencantumkan geo-tag atau location tag yang menunjukkan tempat atau lokasi dari  foto dan video yang diunggah, termasuk keberadaan si kecil saat kita ajak jalan-jalan atau bertamasya. Dengan mencantumkan keberadaan si kecil, artinya saat itu juga kita memicu orang-orang yang berniat jahat untuk lebih mudah menemukannya.

2. Membatasi pertemanan di akun media sosial anak juga merupakan tindakan penting. Di dunia maya, kita sudah pasti tidak bisa selalu tahu apakah orang-orang yang ada di dalam lingkup pertemanan akun si kecil merupakan orang-orang baik atau justru sebaliknya. Untuk menghindari hal-hal buruk terjadi, selalu follow akun media sosial anak agar mudah memantau aktivitas online-nya. Aktifkan pula mode 'private account' untuk mengatur pertemanan dalam akun media sosial sehingga akun tersebut hanya diikuti oleh orang-orang tertentu saja, misalnya keluarga dan teman dekat.

3. Jangan pernah mencantumkan informasi terlalu detail mengenai data diri si kecil, baik dalam profil biodata akun maupun caption foto dan video yang diunggah.

4. Jangan pula memasukkan foto-foto yang terlalu pribadi. Orangtua mungkin berpikir foto anak bayi sedang berenang atau mandi terlihat lucu dan menggemaskan, namun sebenarnya akan lebih banyak mengundang bahaya jika dibagikan di media sosial. Apalagi jika disertakan tagar yang memudahkan pencarian. Tak semua orang yang mencari foto dan video dengan tagar tersebut adalah orang baik-baik, bukan?

Nah, beberapa pertimbangan tersebut silakan dipikirkan baik-baik sebelum memutuskan apakah tetap ingin membuatkan akun sosmed untuk anak atau tidak.

Menurut Urban Mama dan Papa, apa sisi positif dan negatif media sosial untuk anak? Adakah Urban Mama dan Papa yang anak-anaknya aktif menggunakan media sosial dan mendapatkan sisi positifnya? Apakah ada solusi lain untuk menangani sisi negatif media sosial untuk anak? Silakan berbagi pendapatnya di bagian komentar ya!

5 Comments

  1. avatar
    Eka Gobel December 11, 2017 9:38 pm

    Setuju sama poin2 di atas. Saya membuatkan akun instagram utk kedua anak saya yg saya manage dan protect, anak2pun hanya menggunakannya sesekali saat weekend dengan meminjam HP saya atau suami yg terhubung dengan wifi. Biasanya mereka hanya bermain games. Untuk postingan instagram pun hanya dibatasi utk memposting hasil karya seperti lukisan atau hasil DIY, dan aktivitas mereka seperti event2 olahraga, musik dan bela diri. Kebetulan mereka juga tidak terlalu suka difoto. Untuk lokasi juga tidak dicantumkan, dan biasanya berupa late posting.

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Aini Hanafiah December 11, 2017 3:39 pm

    Terima kasih untuk sharingnya, Mama Ezy... mencerahkan sekali, krn poin2 tersebut pasti banyak terlewatkan oleh orangtua saat menimbang2 untuk membuatkan akun medsos untuk anak.
    Saya sampai saat ini masih belum membuatkan akun media sosial untuk anak, meski katanya sekarang sudah ada facebook versi anak2, but still.. Anak saya sudah tahu ada beberapa jenis media sosial seperti instagram dg melihat isi akun saya (saya sudah berhenti pakai facebook, bahkan suami tidak pernah punya akun facebook). biasanya saat akan posting foto anak di akun sosial media, seringnya saya kasih lihat dulu foto yg akan diposting ke anak saya, apakah dia keberatan atau tidak. Dari sini akan ada dialog untuk menjelaskan mengapa orang butuh berpikir sebelum posting sesuatu di akun medsos dan mengapa butuh consent (izin). Sepertinya 2 hal tsb yg sekarang banyak terlupakan saat berinteraksi di dunia maya.

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Femy Putri Widyastuti December 8, 2017 11:41 am

    Wah mom bagus banget artikelnya. Aku pernah berniat buat akun ig utk anakku yang masih bayi karena pingin gabung ke komunitas anak2 instagram tp dilarang sama suamiku dan ternyata bener juga sih bnyk disalahgunakan sekarang2 ini, jadi posting foto anak pake akunku sendiri aja, itupun jarang hehe kalopun posting di instastory yang 24jam langsung hilang.

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Cindy Vania December 8, 2017 7:46 am

    Hai mama Ezy, terima kasih artikelnya yaa.. bagus banget!
    Setuju sama poin2nya, kalau memang mau buat akun anak sih better di private dan pemilihan foto tetap harus disaring bener2 yaa..

    Kalau aku sih nggak bikinin akun khusus anak2, posting foto di sosmed sendiri masih, tp udah gak kayak dulu.

    Trus anak-anak masih di bawah 13 tahun semua, jd belum mainan sosmed :) mau menyimak mama yang lain aja :)

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    Musdalifa Anas December 8, 2017 7:45 am

    Terima kasih tulisannya mama Ezy, setuju dengan 4 poin diatas. Anak saya (9 thn) beberapa bulan ini punya IG sendiri. Sebelum kami sepakat untuk membuat account IG nya tentunya ada kesepakatan yang harus disepakati antara kami ortu dan anaknya. di rumah ada HP untuk testing kerjaan ayahnya, jadi anak saya pakai hp tersebut (hanya bisa wifi). Dan accountnya link ke kami ortu-nya, jadi sepenuhnya saya dan suami kontrol penggunaannya, dia follow siapa, followingnya siapa, dia like foto apa, etc. Selama ini alhamdulillah penggunaannya masih sewajarnya, sesuai kesepakatan, anak saya bisa post foto tentang kegiatannya taekwondo dan mainan squishy atau mainan lainnya.

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.