PESAT 3 Bogor

feni

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti PESAT 3 Bogor Sesi 2 dari theurbanmama. Topiknya sangat menarik dan tentu berguna, apalagi untuk calon Ibu seperti saya yang masih minim pengetahuan dalam dunia kesehatan anak. Pada sesi PESAT 3 yang saya ikuti ada tiga topik, yang pertama tentang MPASI & Nutrisi Tepat untuk Tumbuh Kembang Anak, yang kedua membahas tuntas seputar Imunisasi, dan yang ketiga tentang Layananan Kesehatan Terbaik untuk Konsumen & Rational Use of Medicine.

Ada beberapa hal yang ingin saya bagikan dari setiap materi.

MPASI & Nutrisi Tepat untuk Tumbuh Kembang Anak

Mbak Sisilia Pujiastuti (Smart Parents Milis Sehat) menekankan pada konsep pemberian MPASI pada bayi. MPASI sebaiknya dikenalkan pada bayi setelah berusia 6 bulan bukan sebelumnya. Mengapa? Karena bayi di bawah usia 6 bulan sistem pencernaannya belum sempurna dan riskan terkena alergi.

Konsep pemberian MPASI adalah membiarkan anak kita mengenali rasa lapar dan mengetahui bahwa makan adalah salah satu untuk memenuhi kebutuhannya. Jangan mementingkan makanan masuk tanpa anak belajar mengenai hal itu. Jadi, pemberian MPASI bukan sekadar “Yang penting anak makan, kenyang, Ibu senang”. Selain itu, pada proses pengenalan makanan biarkan anak mengenal respon terhadap indera perasa/pengecap saat makan serta tekstur makanan.

Pengenalan makan harus dibuat semenyenangkan mungkin, misalnya dengan menambah variasi makanan, melakukan kontak mata dengan anak, bercerita, dan lain sebagainya. Buatlah anak merasa senang dan butuh makan seperti kita merasa senang saat jam istirahat kantor tiba. Meski demikian, aktivitas menyenangkan tersebut jangan sampai mengganggu konsentrasi anak, contohnya adalah ketika anak makan sambil menonton TV lalu pada saat dia tidak sadar kita suapi makanannya. Saat itu anak tidak sadar bahwa dia sedang makan dan memenuhi kebutuhannya. Ingat, kita ingin anak belajar mengenal rasa lapar dan makan secara sadar sebagai pemenuhan kebutuhan.

Selain membahas tentang konsep MPASI, Mbak Sisilia juga menjelaskan mengenai beberapa mitos tentang MPASI:

  1. Mitos: Memasukkan jari tangan ke mulut, air liur menetes, memperhatikan orang yang sedang makan adalah tanda-tanda siap makan. Fakta: Anak sedang dalam fase oral.
  2. Mitos: Makanan yang diblender membuat semua bahan makanan dapat masuk dengan mudah. Fakta: Anak jadi tidak tahu tekstur makanan yang dimakannya.
  3. Mitos: Tata cara makan tidak masalah, yang penting anak mau makan. Entah itu makan sambil berjalan/berlari, menonton televisi, dicekoki agar makanan masuk. Fakta: Anak menjadi tidak konsentrasi/tidak sadar bahwa dia sedang makan.
  4. Mitos: Beberapa bahan makanan dianggap utama dan memiliki kandungan gizi yang baik, seperti hati ayam, ceker, wortel, bayam, pepaya, dan pisang. Faktanya: Masih banyak bahan makanan lain yang juga memiliki kandungan gizi yang baik.

Pada saat pemberian makanan, berikut peran anak dan orangtua yang perlu dicermati.

Tugas Orangtua:

  1. Menentukan jadwal makan anak
  2. Menentukan menu
  3. Memilihkan bahan makanan yang sehat

Tugas Anak:

  1. Menentukan porsi seberapa banyak yang diinginkan
  2. Menentukan rasa

Seputar Imunisasi
Materi Imunisasi disampaikan oleh dr. Endah Citraresmi, SpA.MARS secara jelas walaupun dalam waktu yang cukup singkat. Konsep dasar imunisasi adalah proses membuat seseorang kebal atau imun terhadap penyakit infeksi, melalui pemberian vaksin. Imunitas tubuh merupakan kemampuan tubuh untuk memusnahkan benda asing (bakteri/virus yang dapat menyebabkan sakit) sehingga tubuh tidak rusak (tidak sakit). Imunitas tubuh ada yang bersifat aktif dan pasif. Imunitas aktif dibentuk sendiri oleh tubuh, menghasilkan sel memori sehingga kekebalan ini berlangsung lama, sedangkan imunitas pasif diberikan kepada tubuh kita (dari ibu kepada janinnya, pemberian imunoglobin, pemberian transfusi darah) yang lama kelamaan akan hilang. Seperti diketahui, bayi sampai umur 6 bulan masih mendapatkan antibodi dari ibunya selama dikandungan sehingga jarang sakit, namun seiring pertambahan usia imunitas pasif akan perlahan menghilang sehingga bayi di atas 6 bulan lebih rentan sakit.

Jadwal untuk pemberian vaksin untuk anak maupun dewasa dapat diperoleh di sini. Jadwal pemberian vaksin bagi yang tertinggal (catch-up) juga ada.

Beberapa di antara kita mungkin pernah menunda pemberian vaksin (khususnya pada anak) karena kondisi tertentu padahal ada beberapa kondisi yang sebenarnya masih aman untuk pemberian vaksin (masih diperbolehkan), seperti:

  • Penyakit ringan
  • Terapi antibiotik
  • Terpapar penyakit atau dalam masa penyembuhan
  • Kehamilan atau anggota keluarga dengan gangguan kekebalan tubuh
  • Menyusui
  • Prematur (kecuali untuk yang Hepatitis B1)
  • Alergi yang tidak berhubungan dengan vaksin
  • Alergi bukan anafilatik terhadapt komponen vaksin

Kondisi-kondisi di atas dinyatakan aman untuk pemberian vaksin.

Mengenai vaksinasi, isu yang sedang berkembang adalah mengenai vaksin MMR yang dihungkan dengan autisme. Vaksin MMR dianggap menyebabkan autisme karena gejala autisme baru disadari pada saat usia pemberian vaksin MMR, padahal dua hal ini sama sekali tidak berhubungan. Penelitian di Inggris pada tahun 1998 tentang hubungan vaksin MMR dan autisme sudah diulang oleh peneliti lain dan tidak menghasilkan kesimpulan yang sama.

Layanan Kesehatan Terbaik Untuk Konsumen, Rational Use Of Medicine (RUM)

Dr. Purnamawati S. Pujiarto, SpAK, MMPaed. menjelaskan topik ini dengan gaya khas beliau, ringan, santai, namun sangat padat informasi.

RUM atau Rational Use of Medicine adalah Pengobatan yang rasional, artinya tidak overtreatment, undertreatment, dan mistreatment. RUM bukan berarti ANTI obat, ANTI antibiotik, dan ANTI dokter. Pasien berhak mendapatkan obat SESUAI dengan kebutuhan klinis mereka, dalam DOSIS memenuhi kebutuhan mereka dan dalam PERIODE yg tepat serta mendaptkan INFORMASI yg akurat dan BIAYA yang paling MURAH (WHO, dalam Konferensi di Nairobi 1995). Dr. Purnamawati juga menyertakan fakta-fakta aktual mengenai dunia kesehatan (khususnya di Indonesia). Beberapa fakta tersebut antara lain:

  1. Biaya pengobatan di Indonesia naik 10-13% pertahun, lebih tinggi dari inflasi dan kenaikan gaji kita. Hal ini disebabkan tingginya angka pemeriksaan medis serta pengobatan yang berlebihan.
  2. Hanya di Indonesia resep ditulis dalam bahasa Latin. Di negara lain, resep ditulis menggunakan bahasa negara tersebut, jika di Thailand, resep ditulis dalam bahasa Thailand. Hal ini dikaitkan dengan salah aspek profesional tenaga medis (dokter) yaitu transparansi. Seharusnya hubungan pasien dan dokter bersifat transparan tanpa rahasia apapun. Pasien berhak tahu obat apa yang akan dikonsumsinya dan dokter berkewajiban menjelaskan mengenai resep yang ditulisnya.
  3. Kontroversi obat puyer. Obat ini menuai kontroversi karena merupakan campuran dari 2, 3 atau 5 jenis obat sekaligus yang digerus pada alat yang diduga tidak steril. Resep obat puyer ini ternyata hanya ditemukan di Indonesia.

Mengenai RUM, pertanyaan yang sering diajukan pada dr. Purnamawati adalah “Apakah ada rekomendasi Dokter yang pro RUM?” Jawaban yang diberikan dr. Purnamawati sangat bijak, “Jadi pasien yang Pro RUM dulu, yuk!” Ajakan ini diajukan karena banyak faktor yang dapat mempengaruhi dokter yang Pro RUM menjadi tidak dan sebaliknya, misalnya banyaknya antrian pasien sehingga waktu berdiskusi terbatas, pasiennya sulit diajak pro RUM, dan lain sebagainya. Beberapa langkah sederhana untuk menjadi pasien yang pro RUM dapat dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan seperti berikut:

  1. Apa masalah atau penyebab penyakit saya? (Diagnosisnya apa). Seperti yang kita ketahui, tidak semua penyakit butuh obat, jika memang butuh, ya harus.
  2. Apa tata laksananya? (Apa yang harus dilakukan/Treatment)
  3. Apa tanda gawat daruratnya? (Tanda-tanda penyakit mengarah ke arah yang lebih serius)
  4. Apa kandungan obat, cara kerja obat, dan efek samping obat yang saya terima?

Yuk, menjadi Smart Parent yang tentunya juga Smart Patient :)
Parent is the best pediatrician for their own children.

Begitulah beberapa poin penting yang saya catat, semoga membantu. Terimakasih TUM atas kesempatannya.

6 Comments

  1. eka
    Eka Wulandari Gobel June 10, 2012 at 9:01 am

    setuju banget harus jadi pasien yg pro-ASI & pro-RUM/RUD first. biar ga tergantung sama satu dokter/nakes aja.
    Makasih sudah berbagi ya, fen! :)

    1. feni
      feni June 12, 2012 at 11:36 am

      sama-sama Mba Eka :) Menurutku klo kitanya udah pro-ASI & pro-RUM/RUD jadi lebih mudah cari dokter/nakes yang pro.
      Btw, kok tau ya namanya Feni *oot* :P

  2. sLesTa
    shinta lestari June 12, 2012 at 9:08 am

    keren banget acaranya! thanks buat liputan dan sharingnya ya, mama.. dan setuju sama tagline terakhir.. parent is the best pediatrician to their own children. *thumbs up*

    congrats buat PESAT BOGOR atas acaranya yang sukses!

    1. feni
      feni June 12, 2012 at 11:37 am

      sama-sama Mama Shinta :)

  3. avee
    Avianti Siddik June 12, 2012 at 1:26 pm

    Horeee…ada sayanya! *lol*

  4. Honey Josep
    Honey Josep June 20, 2012 at 6:30 pm

    wah keren deh artikel-nya dan sangat bermanfaat :)

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.