Semangat Memberikan ASI

bunda_layungparamesti

Saya: “Ma, beginikah rasanya sakit ketika menyusui?”
Mama: “Ya! Begitulah salah satu pengorbanan menjadi ibu.”
Petikan percakapan saya dengan Mama yang sore itu menyambangi saya di kamar ketika sedang menyusui Kafi.

Minggu, 31 Juli 2011 adalah hari terindah dalam hidup saya dan suami saat kami resmi dinobatkan sebagai orang tua. Proses induksi tidak menghalangi niat saya menjalani persalinan normal. Malah pemberian infus sebagai rangsangan induksi tersebut tidak memakan waktu lama. Pada pukul 15.43 WIB, Kafi lahir dalam keadaan sehat dan normal. Meskipun sebelumnya sempat terlilit pusar yang diduga terjadi secara spontan tanpa terdekteksi oleh kami maupun bidan. Sulit mengungkapkan kebahagiaan keluarga kami dengan rangkaian kata selain kata syukur yang tak terhingga pada Tuhan. Sebagaimana prosedur klinik bersalin, Kafi menjalani inisiasi menyusui dini (IMD) selama satu jam dengan hasil nihil. Rupanya ASI saya belum keluar.

Bak duka yang menyerang, saya merasa gagal berperan sebagai ibu saat harus merelakan Kafi mendapat asupan lain selain ASI. Kesedihan itu berlangsung hingga empat sampai lima hari pasca persalinan karena ASI saya masih belum keluar sama sekali. Ditambah rasa sakit luar biasa yang merontokkan semangat juang saya dalam memberikan ASI. Dari minggu ke minggu, rasa pedih dan sakit yang berawal dari puting payudara itu menjalar hingga sekujur badan terkena panas dingin. Padahal ASI saya belum mengalir dengan lancar sehingga harus rajin dirangsang pada bayi secara alami dan terus-menerus. Jalan satu-satunya adalah membiarkan luka itu terbuka sendiri oleh gigitan bayi dan membentuk lubang-lubang yang dianalogikan sebagai saluran air keran yang berfungsi maksimal di sekitar area payudara. Keluhan paling umum adalah luka dalam, sayatan, cuilan bahkan sampai membentuk nanah menjadi makanan sehari-hari. Tanpa dipungkiri, saya harus mengerang kesakitan dan menangis akibat luka menyusui di sekitar area puting payudara yang belum terisi ASI secara full. Rasa lelah berlebihan selama proses melatih ASI agar cepat keluar terkadang mengobarkan emosi saya sebagai ibu baru. Karena alasan psikologis tersebut, emosi saya sering naik turun, labil dan cenderung meledak-ledak terutama menghadapi orang yang kurang sependapat dengan saya.

Sempat terlintas untuk menyelingkan ASI dengan susu formula yang direkomendasikan bidan. Sungguh saya merasa dilematis antara tekad melawan rasa sakit yang diderita selama menyusui dan keinginan memberikan ASI eksklusif. Keinginan itu juga sempat saya utarakan pada suami, orang tua, dan mama mertua. Suami rasanya mengizinkan lantaran tidak tega melihat penderitaan saya memperjuangkan ASI agar bisa keluar. Di lain pihak, pikiran itu langsung ditolak mentah-mentah oleh mama dan mama mertua. Jika pun diizinkan, maksud saya tiada lain agar si kecil tetap terjaga nutrisinya meski harus memberikan asupan makanan dan minuman lain di luar ASI.

Lambat laun saya mulai terbiasa dengan jam biologis yang terbalik, tumpukan cucian yang paling banyak berisi pakaian bayi, makan dengan porsi dua kali lipat setiap dua jam sekali, mengemil, memandikan, dan yang paling penting, menyusui Kafi. Meski sempat muncul pikiran-pikiran negatif di benak saya pada periode awal kelahiran Kafi, tidak mengurangi kasih sayang saya pada bayi yang telah susah payah dibesarkan dalam perut kemudian dilahirkan dengan selamat. Setelah membaca beberapa literatur terkait, saya menduga masalah psikologis yang tengah saya hadapi pasca melahirkan sedikitnya dipengaruhi oleh sindrom baby blues. Hal ini tidak lantas menjadi pembenaran atas diri sendiri. Saya tetap semangat memberikan ASI untuk Kafi. Meski harus mengalami jatuh bangun selama proses menyusui, saya telah membulatkan tekad menjadi ibu terbaik bagi Kafi dan adik-adiknya kelak dengan dengan ‘menggalakkan’ program breastfeeding, karena bagi saya, setetes ASI bergitu berharga.

5 Comments

  1. eka
    Eka Wulandari Gobel May 9, 2012 at 5:36 am

    wah, sebentar lg kafi 2 tahun ya? Semoga sehat2 selalu & penyusuannya sempurna sampai 2thn! semangat .. ! :)

  2. ninit
    ninit yunita May 9, 2012 at 6:37 am

    seneng banget baca artikel ini :) seneng dgn perjuanganmu memberikan ASI :)
    kafi bentar lagi 2 tahun :) tetap ASI yaaa…

    1. bunda_layungparamesti
      layung paramesti May 9, 2012 at 8:28 am

      Trims banyak ya Mba Ninit.. alhamdulillah bentar lagi (sekitar 1 tahun lbh) umurnya genap 2 tahun. tapi masih semangat kasih ASI donk! berkat tempaan rasa sakit pada awal menyusui, sekarang berbuah manis karena ternyata Kafi sampai sekarang gak doyan makan apalagi minum sufor. Trims ya supportnya :)

  3. bunda_layungparamesti
    layung paramesti May 9, 2012 at 8:29 am

    Trims juga doa n dukungannya Mama Eka, sehat selalu juga yaa buat ananda tercinta :)

  4. kanahayaku
    kanahayaku April 17, 2013 at 10:12 pm

    Weww semua mamas emang ngalami ini ternyta yaa kirain cuma gw doang yg sakit2 n berlebay2 waktu hari2 prtam nyusuin :D
    Artikel nya oke bgt laah ;)

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.