Serba-Serbi ASI dan Menyusui

eka

Akhir tahun lalu saya menghadiri talkshow ‘Serba-Serbi ASI dan Menyusui‘ bersama Ayah ASI Bandung dan acara peluncuran Buku Pintar ASI dan Menyusui karya Fatimah Berliana Monika (Monik), seorang konselor menyusui dan La Leche League Leader yang juga adalah salah satu #TUMexpert.

Monik mulai tertarik belajar mengenai kesehatan anak & ASI-Menyusui sejak anak pertamanya lahir dan menderita beberapa penyakit yang cukup berat. Untuk menambah pengetahuan mengenai ASI-Menyusui, pada akhir tahun 2011 Monik mengikuti Pelatihan Konseling Menyusui Modul 40 jam WHO-UNICEF di RS Bunda Jakarta dan menjadi Konselor Menyusui sejak awal tahun 2012. Pada pertengahan tahun 2012 saat tinggal bersama keluarga di Rochester – New York, Monik berkesempatan bergabung dengan La Leche League dan mengambil program La Leche League (LLL) Leader. Kini Monik rutin berbagi ilmu tentang ASI-Menyusui dan kesehatan anak di kolom Expert Explain untuk The Urban Mama dan merupakan orang Indonesia pertama dan satu-satunya yang menjadi LLL Leader di Indonesia.

Tepat pada pukul 10 pagi acara dibuka oleh Kang Idzma dan Kang Veby sebagai moderator dari Ayah ASI Bandung. Peserta yang datang berasal dari berbagai lapisan masyarakat; mulai dari pelajar, blogger, bidan desa, ibu hamil, ibu menyusui, ibu dengan anak kembar, kader posyandu dan para ayah ASI. Peserta juga datang dari berbagai kota seperti Bandung, Jakarta, Garut, Sumedang, Subang, bahkan dari  Balikpapan. Berikut sharing dari beberapa peserta mengenai ASI-Menyusui berdasarkan latar belakang dan pengalamannya masing-masing:

  • Pengetahuan tentang ASI-Menyusui di desa umumnya minim, salah satunya karena kekurangan tenaga kesehatan yang memiliki pengetahuan mengenai laktasi. Dalam “Buku Pintar ASI dan Menyusui” karya F.B. Monika ini diulas juga tentang salah satu metode induksi laktasi yang dapat membantu menyukseskan pemberian ASI-Menyusui di desa-desa.
  • Kurangnya rasa percaya diri pada ibu menyusui juga merupakan salah satu kendala dalam pemberian ASI dan kegiatan menyusui. Hal ini muncul dari tekanan lingkungan sekitar dan merasa dihakimi saat ibu belajar menyusui bayinya. Komentar dari orang sekitar yang terasa mengintimidasi pada saat busui mengalami kesulitan dalam memberikan ASI, dan foto-foto hasil ASI perah yang melimpah yang banyak diupload di media sosial membuat beberapa busui semakin tertekan dan tidak percaya diri. Saling memotivasi dan berempati sangat diperlukan, karena umumnya ibu yang baru pertama kali menyusui masih bingung dan sangat sensitif. Justru pada saat itu kita harus berada di pihak ibu untuk membantunya, bukan untuk menghakimi dan menyudutkan para busui yang sedang kesulitan.
  • Bersama pasangan, sangatlah penting untuk mengumpulkan informasi dan mempelajari ilmu  laktasi sejak dini. Ilmu laktasi yang dimiliki sepasang suami dan istri sangat menunjang keberhasilan pemberian ASI dan kegiatan menyusui.

 

 

  • Dukungan dari suami dan keluarga terdekat yang mendampingi ibu menyusui sangat penting. Saat ibu menyusui sedang lelah, ayah bisa bergantian membantu ibu mengurus si kecil, memberikan kesempatan kepada ibu untuk istirahat yang cukup atau saat si kecil sedang tertidur ayah bisa memberikan pijatan oksitosin kepada ibu agar lebih rileks dan lebih senang, hal ini bisa berpengaruh pada jumlah produksi ASI.
  • Kebiasaan membandingkan berat badan bayi saat ini masih menjadi kendala dalam kesuksesan menyusui. Bayi yang diberi ASI harus dipantau kurva pertumbuhannya, jika mengalami berat badan kurang maka harus segera diberikan tindakan seperti ekstra pumping dan perbaikan manajemen laktasi.
  • Waspada terhadap penyakit Hirschsprung yang biasa dialami oleh bayi baru lahir, dan lebih sering dialami oleh bayi laki-laki. Penyakit Hirschsprung adalah kelainan kongenital yang menyebabkan gangguan pergerakan usus, akibat permasalahan pada saraf usus besar paling bawah, mulai anus hingga usus di atasnya. Kelainan ini membuat BAB bayi tidak normal, bahkan cenderung sembelit terus-menerus, karena tidak ada saraf yang dapat mendorong kotoran keluar dari anus. Penumpukan kotoran pada usus ini  jelas berbahaya dan dapat menyebabkan radang usus bahkan kanker usus.
  • Ciri-ciri penyakit Hirschsprung: dalam 24 jam pertama setelah lahir bayi tidak mengeluarkan meconium yaitu feses (tinja) pertama bayi yang baru lahir yang bentuknya kental, lengket, dan berwarna hitam kehijauan, mengalami sembelit yang tidak normal dan muntah menyembur. Penyakit Hirschsprung  harus segera diatasi dengan cara dioperasi dan dengan pemberian ASI penderita penyakit Hirschprung dapat tumbuh dengan sehat dan normal.
  • Kondisi rooming-in yang ideal adalah bayi berada satu tempat tidur dengan ibu, bukan di dalam box bayi meskipun dalam satu ruangan kamar dengan ibu. Tujuannya untuk mendekatkan ibu dan bayi sejak dini dan memberikan kesempatan agar bayi dapat sepuasnya menyusu pada ibunya, yang  bermanfaat untuk merangsang hormon prolaktin dan oksitosin ibu.

Banyak sekali ilmu yang dibagi di acara ini, juga hadiah kuis dan isi goodies yang meriah. Acara ditutup dengan pemutaran video tentang Ayah ASI dan “Breastfeeding: It’s natural” dari UNICEF.

Usai pemutaran film dilanjutkan dengan foto bersama seluruh peserta dan penandatanganan “Buku Pintar ASI dan Menyusui”. Senang sekali bisa menghadiri acara talkshow yang informatif ini, saya berterima kasih untuk acaranya yang sangat bermanfaat.

8 Comments

  1. Kira Kara
    Bunda Wiwit February 7, 2015 at 8:15 am

    aku fans mbak Monik. Seandainya bisa ikutan talkshownya, dan bisa photo bareng mbak Monik… Aku iri sama teh Eka. Talkshownya keren ya.. Pasti bermanfaat sekali untuk para pejuang ASI. Jadi pengen punya bukunya buat kadoin Ipar yang mau melahirkan :)

  2. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika February 7, 2015 at 8:48 am

    Thank you Mba Eka, thank you TUM, semoga makin banyak masyarakat yg terEdukasi :)-Monik

  3. ninit
    ninit yunita February 9, 2015 at 4:55 pm

    selalu suka sama tulisannya monik ttg ASI. congrats monik untuk peluncuran bukunya… pasti banyak manfaatnya untuk urban mama. :*

  4. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika February 9, 2015 at 5:50 pm

    Thank you Ninit, Thank you The Urban Mama, semoga makin banyak masyarakat yg terEdukasi akan pentingnya memberikan ASI dan menyusui bagi bayi, Ibu, keluarga, masyarakat :)

    -Monik

  5. eka
    Eka Wulandari Gobel February 10, 2015 at 9:54 am

    terima kasih kembali ya, teh monik! acaranya bagus sekali, informatif sekali.
    terima kasih juga TUM sudah diberi kesempatan utk hadir di acara peluncuran bukunya. sekali lagi, selamat ya teh!

  6. cindy
    cindy vania February 10, 2015 at 3:59 pm

    Menarik sekali Talkshownya mbak Monik,kapan-kapan adain di jogja ya mbak :D

  7. mamadiana
    mamadiana February 13, 2015 at 10:14 pm

    Wah, keren sekali Mba Monik memiliki kesempatan mengambil program La Leche League (LLL) Leader, saya jadi tidak sabar membeli bukunya Mba Monik, saya gagal menyusui anak pertama saya karena minimnya pengetahuan dan dukungan keluarga di rumah, sekarang bayi saya berusia 4 bulan, apakah masih bisa kalau saya kembali memberi ASI untuk bayi saya yah, Mba, hiks…

  8. annisadaniati
    annisadaniati February 18, 2015 at 1:43 pm

    Bisa dicoba kok @mamadiana, silakan kunjungi klinik laktasi terdekat untuk bisa dibantu relaktasi.. semangat!

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.