Tidak Ada Anak yang Bodoh

Shinta_daniel

“Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanya anak yang kurang beruntung mendapat kesempatan untuk belajar dari guru yang baik dan metode yang benar.”

Kalimat pertama sebagai pembuka acara bincang-bincang dengan Prof. Yohanes Surya, PhD cukup membuka mata dan menggugah rasa penasaran para peserta rapat kerja di kantor saya.

Mungkin Urban Mama sudah mengenal siapa pakar fisika ini. Terus terang saya baru mengenal beliau pada saat acara. Pernah mendengar namanya tapi tidak tahu siapa beliau sebenarnya.

Prof Yo semula diundang sebagai motivator bagi para karyawan untuk meningkatkan rasa percaya diri dan memaksimalkan potensi diri dari orang biasa menjadi luar biasa. Namun mengingat sepak terjang prof Yo lebih banyak bersentuhan dengan metematika, sains, dan anak-anak, maka pertanyaan pun banyak yang berhubungan dengan metode supaya anak menyukai matematika, sains, meningkatkan motivasi belajar anak, bagaimana cara mengenal potensi diri anak, dsb.

Profesor Yohanes Surya, PhD atau Prof Yo, seorang profesor lulusan Amerika sekaligus pendidik yang berhasil membawa tim Indonesia menjadi juara Olimpiade Fisika, Matematika dan kejuaraan robotik tingkat dunia, pencipta metode belajar GASING (Gampang Asik dan Menyenangkan) serta pendiri Universitas Surya yang merupakan universitas murni berbasis riset dan mampu menampung anak-anak berprestasi yang menyukai sains.

Tim Indonesia ini terdiri dari anak-anak usia sekolah SD sampai SMA. Mungkin akan biasa apabila anak-anak pintar ini memang sudah mempunyai kecerdasan tinggi dan berasal dari kota besar di wilayah Jawa, tapi yang menjadi sangat istimewa adalah anak-anak ini awalnya sama sekali tidak berprestasi, tidak bisa berhitung, tidak mengenal arti pentingnya belajar, bahkan ada yang sampai empat kali tidak naik kelas dan mereka berasal dari daerah tertinggal yang sangat jauh di Indonesia Timur seperti Papua dan Maluku.

Diawali dengan video yang menceritakan awal Prof Yo setamat S3 dan bekerja di salah satu perusahaan terkenal di Amerika, mempunyai hasrat kuat, cita-cita dan mimpi besar untuk kembali ke Indonesia, mendedikasikan dirinya dan menerapkan ilmunya untuk meningkatkan pendidikan anak Indonesia.

Sesampai di Indonesia, Prof Yo membentuk tim guna mengikuti kejuaraan Olimpiade Fisika tingkat dunia, mengingat selama beberapa tahun tidak ada peserta dari Asia apalagi Indonesia yang ikut olimpiade tersebut. Menariknya, Prof Yo menerima tantangan dari berbagai pihak untuk bisa mendidik anak-anak dari Papua atau daerah tertinggal yang fasilitas pendidikan masih sangat minim, tidak ada kepentingan dan kebutuhan untuk belajar.

Prof Yo menerima tantangan tersebut, bahkan punya mimpi besar dan membuktikan bahwa anak-anak Papua bisa menjuarai Olimpiade Fisika tingkat dunia. Mimpinya pun terwujud, tidak hanya tim Indonesia dapat mengikuti Olimpiade Fisika tetapi menjadi juara selama beberapa tahun berturut-turut dan pemenangnya adalah anak-anak Papua yang diasuh tersebut.

Banyak hal menarik yang kami dapat selama sesi tanya jawab dengan Prof Yo terkait pola asuh dan metode mendidik anak untuk menyukai science yang sering kali jadi momok menakutkan tidak hanya bagi anak, tapi juga orang tua, terutama pada saat persiapan ujian. Beberapa di antaranya:

  1. Kecerdasan seorang anak itu tidak tergantung pada gen. Gen ada pengaruhnya tapi sangat kecil sekali. Keberhasilan anak itu didapat dari belajar, berusaha, dan berdoa. Jangan pernah berhenti untuk mencapai cita-cita atau target yang dituju. Prof Yo membuktikan hal ini dengan menjadikan ketiga anaknya sebagai observasi beliau. Anak pertama sejak kecil dididik untuk selalu belajar dan dilatih sendiri oleh prof Yo. Anak kedua hanya diajar oleh prof Yo apabila memang anaknya merasa membutuhkan bantuan. Anak ketiga sama sekali dilepas untuk belajar sendiri. Dari hasil observasi tersebut, terbukti anak pertama sangat berprestasi dibandingkan anak kedua dan apalagi dengan anak ketiga yang nilainya di bawah rata-rata kelas, walaupun ketiganya merupakan keturunan bapak seorang profesor. Anak pertama beliau sudah menyelesaikan pendidikan di Amerika S1 neuroscience, S2 fashion dan saat ini sedang menyelesaikan S3 bisnis. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa ilmu science dapat digunakan dalam banyak bidang. Anak kedua baru masuk kuliah S1 dan anak ketiga baru masuk SMP.
  2. Kemauan/keinginan anak untuk belajar harus berasal dari kesadaran diri sendiri. Tugas orangtualah yang harus memberikan motivasi positif dan target supaya kesadaran itu muncul. Dalam kasus mendidik anak Papua, Prof Yo tidak langsung langsung mengajarkan matematika/sains ke anak-anak, tapi menciptakan suasana/lingkungan yang menyenangkan terlebih dahulu dengan menghapal rumus sambil bernyanyi. Memberikan wawasan dan pengetahuan akan pentingnya belajar (matematika). Menciptakan kebutuhan dan kondisi kritis/mendesak sehingga anak sadar bahwa belajar itu penting bagi dirinya dan lingkungannya. Setelah kesadaran itu muncul, barulah tugas Prof Yo mengajari dan menggali potensi setiap anak sampai berhasil. Ibarat menanam tanaman di tanah yang gersang, maka yang harus kita lakukan pertama kali adalah menyirami tanah itu dulu dan diberi pupuk supaya gembur. Begitu tanah sudah subur, maka ditanami tanaman apa saja akan tumbuh.
  3. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Belajar itu dari usia kapan saja dan baru akan berhenti setelah kita tiada. Utamanya bagi kita sebagai orangtua ataupun orang yang usianya di atas kita, Prof Yo menyarankan agar otak kita selalu terus bekerja dan tidak pikun adalah dengan rajin menghafal lagu, menyanyi dan berhitung (penjumlahan, perkalian, menghitung cepat, dan pecahan desimal).
  4. Seorang anak akan berhasil apabila mendapat metode pembelajaran yang tepat dari guru yang hebat.
  5. Jangan jadikan seni, bahasa, minat terhadap hobi sebagai pelarian karena tidak bisa science. Banyak anak mengatakan “Saya tidak pintar fisika. Saya tidak bisa matematika”. Sebenarnya anak tersebut bukannya tidak bisa atau tidak suka tapi tidak mau berusaha untuk mengerjakan fisika/matematika. Banyak faktor yang mempengaruhi, sehingga pelajaran seni, bahasa dan lainnya dijadikan sebagai pelarian saja, bukan datang dari hati nurani.
  6. Tidak boleh mengatakan kepada anak “nilai kamu jelek”. Sebaiknya sebelum memberi penilaian, orangtua terlebih dahulu melihat kemampuan anak. Akan lebih baik mengatakan pada anak “kamu tidak cocok di sains, lebih cocok di……..”
  7. Apabila anak sudah bersentuhan dengan hiburan dan kemajuan teknologi seperti gadget, mal, TV, games, dll sehingga mengganggu proses belajar, maka sentuh hatinya. Buat kondisi kritis di mana anak sadar bahwa belajar lebih penting daripada bermain atau boleh memberikan pilihan belajar dahulu lalu bermain, buat suasana belajar yang menyenangkan, jadikan teknologi sebagai teman.

Saat ini banyak anak Papua dan daerah tertinggal yang menimba ilmu di Universitas Surya. Setelah lulus nanti, mereka akan kembali ke daerah masing-masing untuk mengajarkan anak-anak dan sekaligus mengembangkan daerahnya. Universitas Surya juga membuka kelas maupun memberikan pelatihan bagi para orang tua dan anak-anak yang ingin belajar dengan metode GASING untuk disebarluaskan ke lingkungan/komunitas masing-masing.

Saya dan teman-teman sekantor cukup terkesan dengan pemaparan Prof Yo diatas dan tertarik untuk menerapkan metode belajar GASING untuk anak-anak di rumah.

Semoga hasil bincang-bincang ini bermanfaat untuk Urban Mama dan yuk kita sama-sama ciptakan suasana belajar yang gampang, asyik, dan menyenangkan.

7 Comments

  1. otie
    otie February 11, 2014 at 8:43 am

    Wah… sharing yg sangat bermanfaat! Thanks ya!

  2. hananafajar
    hanana fajar February 11, 2014 at 3:06 pm

    nice sharing mba:)))

  3. UmanyaAtha
    Vini Putri February 12, 2014 at 2:02 pm

    sharingnya bagus bgt mbak, makasih byk..

  4. wikit
    wikit February 18, 2014 at 5:55 am

    seperti biasa, artikelnya Mba Shinta selalu berbobot deh
    me likey ^^

  5. visyk
    visyk February 19, 2014 at 6:56 pm

    Bermanfaat sekalii :).. Thanks for sharing nya mba^^

  6. bunbunbin
    bunbunbin February 27, 2014 at 4:51 pm

    Senang sekali baca ini.. Kebetulan lagi memikirkan untuk mengubah metode belajar buat anakku.. thanks for sharing :D

  7. adelina
    Adelina March 16, 2014 at 9:29 am

    ah setuju sekali dengan pernyataan Prof Yohanes! :) makasih sharingnya mbak, orang tua memang memiliki peran yang utama :)

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.