Tips Meninggalkan Anak Selama Ibadah Haji

Lilik

“Labbaik Allahumma labbaik, labbaika lasyarikalaka labbaik. Innal hamda wanni’mata laka walmuka. Lasyarikalak.”

Rasanya hati ini meleleh setiap mendengar seruan ini. Rasanya perjalanan yang sungguh luar biasa nikmatnya, 3 tahun lalu yang kami alami, masih lekat di hati kami detik demi detiknya, sungguh suatu jamuan yang sungguh luar biasa indahnya, yang  tidak akan pernah kami bisa lupakan, insyaAllah.

Sebelum berangkat pergi menjalankan ibadah haji, tentunya urban Mama dan urban Papa sudah menyiapkan segala sesuatu, ilmu (dari manasik haji, juga dari buku-buku yang tentang haji yang sekarang ini banyak ditemui), persiapan perbekalan baik jasmani dan rohani, dan tentunya yang tak kalah pentingnya persiapan meninggalkan buah hati urban Mama dan urban Papa.

Yang saya coba sharing adalah persiapan meninggalkan buah hati selama kami tinggal menjalankan ibadah haji selama 40 hari (haji regular). Tahun 2008, usia kakak Shafa saat itu 7thn, kelas 2 SD dan sehari kami berangkat saat menjalankan ujian akhir semester I (yang biasanya belajar selalu sama bundanya, kali itu kami pasrahkan apapun hasil UAS kakak J). Adeknya, Hafiz, saat itu usianya 5thn, kelas TK B. Sedangkan adek Reefa, belum lahir. Untuk adiknya, Hafiz, kami pikir lebih mudah meninggalkannya, karena waktu 40 hari itu belum terlalu dimengerti olehnya, selama dia nyaman, insyaAllah akan enjoy enjoy saja. Yang menjadi ganjalan adalah kakaknya, yang menurut kami usia tanggung, bukan balita lagi dan belum remaja.

Berikut yang kami persiapkan :

  1. Memberi pengertian kepada anak-anak apa itu kewajiban ibadah haji, kenapa kami harus meninggalkan mereka dalam jangka waktu yang lama. Tentunya dalam bahasa anak-anak. Alhamdulillah dari TK sampai SD anak-anak setiap tahun ada prosesi manasik haji, sehingga kami dipermudah oleh hal ini.
  2. Menyiapkan saudara (kakek/nenek/bude/tante/lainnya) yang dipercaya akan menjaga anak-anak selama kami pergi. Kalau saudara ini tidak tinggal di rumah kita, lebih baik kalau 1-2 minggu sebelumnya kami berangkat sudah diboyong ke rumah kami, sehingga anak-anak maupun saudara kami bisa sama-sama beradaptasi.
  3. Menyiapkan list do dan don’t anak-anak kita pada saudara yang akan menunggu anak-anak. Tentunya ini bisa fleksibel juga, jangan sampai kaku sekali sehingga membebani saudara bahkan anak-anak kita sendiri.
  4. Menyelesaikan semua pembayaran-pembayaran yang bisa dilakukan sebelumnya (uang sekolah, tagihan kartu kredit, tagihan pln/listrik dll).
  5. Menyiapkan dana cash untuk keperluan sehari-hari selama 40 hari, dana darurat dan ada ATM yang kami serahkan kepada saudara jika perlu dana diluar perencanaan kami.
  6. Menyiapkan list telp yang sekiranya diperlukan. Saat kami pergi, kami membuat list no telp eyang-eyang, bude, om, tante, juga tetangga terdekat yang sekiranya ada apa-apa bisa dimintai pertolongan, no telp rumah sakit, list no telp sekolah SD dan TK, guru-guru anak-anak, no telp security komplek, no telp tukang gas/air, no telp sahabat-sahabat dekat kami, sampai no telp delivery order makanan lengkap. List ini saya tempel di dekat pesawat telepon, so saudara, juga pengasuh anak-anak bisa mudah menghubungi list ini jika diperlukan.
  7. Menyiapkan surat kuasa. Ada yang bilang tidak perlu menyiapkan surat kuasa ini. Tetapi kami menyiapkannya terutama untuk safety reason. Di surat ini tertulis nomer tabungan, no polis asuransi anak-anak, dan list kekayaan yang ada (rumah/mobil dan lainnya), juga ahli waris jika terjadi sesuatu kepada kami selama kami menjalankan ibadah haji. Bagian ini sungguh lebih menguras air mata kami, saat menulis, saat menyerahkan kepada ahli waris anak-anak yang kami tunjuk.
  8. Terakhir yang tak kalah pentingnya, keihklasan dan kepasarahan. Sungguh kami selalu diingatkan selama manasik haji, dan kami teringat perkataan ustad kami “sebaik-baiknya penjaga anakmu adalah Allah, dialah Sang Maha Penjaga, titipkan semuanya ke Allah, insyaAllah semua akan dijagaNya”. Dan ini kami rasakan begitu seminggu di tanah suci, rasa ikhlas dan pasrah kami panjatkan kepada Allah SWT, alhamdulillah anak-anak tidak rewel dan baik-baik saja.

Sungguh bagian meninggalkan anak-anak ini yang terberat buat kami, terutama bundanya, betapa air mata ini terasa tiada berhenti mengalirnya hari demi hari menjelang keberangkatan kami. Tetapi setelah mengalaminya, insyaAllah semuanya bisa dilewati dengan lancar.

Selamat menjalankan ibadah haji urban mama dan urban papa, selamat menikmati jamuan Allah yang sungguh luar biasa nikmatnya, insyaAllah ibadahnya berjalan lancar, menjadi haji hajjah yang mabrur dan mabrurah serta menjadi insan yang lebih baik lagi sepulangnya ibadah haji, amiin.

12 Comments

  1. nanad
    swastikha nadia November 2, 2011 at 5:15 am

    nice artikel…

    ikut berkaca2 pas baca bagian bikin surat kuasa,huhuhu… :(
    tetep ya awalnya pasti agk gimana2,wlopun pada akhirnya berusaha untuk ikhlas…

    tfs yaa.. :)

    1. Lilik
      Lilik November 2, 2011 at 11:30 am

      iyaa, smp skr klo inget masih suka berkaca2 :(

  2. eka
    Eka Wulandari Gobel November 2, 2011 at 6:46 am

    huhuhu..baca artikelnya jd berkaca2…
    Tapi memang penting ya yg point no 7 itu..
    Tfs ya, lilik..

    1. Lilik
      Lilik November 2, 2011 at 11:31 am

      sama2 Eka ..
      point 7 itu emang yg paling menguras air mata huhu …

  3. dini ariastuty
    dini ariastuty November 2, 2011 at 7:19 am

    Sama kaya Eka..berkaca2 bacanya.. Tp Insya Allah semua berjalan lancar ketika kita ikhlas. Makasih sharingnya yaa..

    1. Lilik
      Lilik November 2, 2011 at 11:32 am

      sama2 dini … setuju bgt, insyaAllah klo ikhlas segala sesuatunya lbh mudah dijalanin ya ? :)

  4. loeloe17
    Lulu Anandiasari November 2, 2011 at 10:01 am

    ikut terharu mba bacanya pas bagian ninggalin anak…emang anak itu titipan Allah ya, harus ikhlas segala sesuatunya…

    Tfs ya Mba Lilik, insyaAllah bisa mengikuti jejaknya jg pergi ke tanah suci. Aminn :)

    1. Lilik
      Lilik November 2, 2011 at 11:33 am

      sama2 Lulu …
      yup, mudah2an kita selalu ingat bahwa anak2 adl titipanNya ya.

  5. gitapinky
    gita firdausi November 3, 2011 at 8:54 am

    terharu mba..sampe berkaca2 bacanya. mudah2an bila saat itu tiba *meninggalkan anak2 utk ibadah haji* kami bisa kuat seperti mba lilik :)

    1. Lilik
      Lilik November 4, 2011 at 9:11 am

      amiiin, insyaAllah dimudahkanNya jg ya gita

  6. rozalina
    Rozalina L Zulkarnain November 3, 2011 at 12:20 pm

    Kebetulan insya Allah aku dan hubby sudah punya niatan utk jalani rukun islam kelima ini, dan kita mulai browse travel haji dll. Baca artikel ini berdua via BB di mobil dan aku pun membacanya sambil tersendat2 karena mulai mewek especially bagian bikin surat kuasa. Antara kerinduan untuk memenuhi panggilanNya dan bayangan harus tinggalin anak2 untuk waktu yang gak sebentar. Laa haula walaa quwwata illa bilaa. Insya Allah, Allah sang maha penjaga akan melindungi kita dan juga keluarga yang kita tinggalkan. Aamiin ya Muhaimin…:)

    Makasih share tips2 nya mbak. Sangat berguna. Insya Allah jadi amalan jariyah. Aamiin

    1. Lilik
      Lilik November 4, 2011 at 9:12 am

      sama2 mb Roz, insyaAllah dimudahkanNya segera menjalankan rukun Islam yg ke-5 ini. amiin
      sungguh memang selalu jadi kerinduan utk kembali lg ksana.

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.