Tuhan Menjawab Semua Do’a

liefka

Bagi saya ini adalah persalinan saya yang pertama yang benar-benar diluar dugaan. Kenapa? Karena di hari persalinan saya, Tuhan menjawab do’a saya. Di saat–saat terakhir, saya harus operasi caesar. Dari awal kehamilan saya memang berniat ingin persalinan normal, segala daya dan upaya saya lakukan demi bisa menjalani persalinan normal dan bisa mengikuti program IMD untuk bayi saya nanti. Setiap upaya untuk menjalani persalinan normal dan IMD saya sertakan dalam setiap do’a saya dan suami. Mulai dari survey rumah sakit dan dokter kandungan yang pro normal dan IMD, dan puji Tuhan saya mendapatkan rumah sakit dan dokter kandungan yang mendukung niat saya ini.

Sejak awal konsultasi dengan dokter kandungan saya, dokter saya sudah mendukung penuh niat saya ini, namun ada syarat juga yang diminta oleh dokter kandungan saya bila saya ingin persalinan normal, berat badan bayi tidak boleh lebih dari 3,2 kg mengingat postur tubuh saya yang mungil.

my baby in my womb 34 weeks

Memasuki minggu ke 38 perasaan cemas dan tidak sabar mulai datang, “Kok belum ada tanda-tanda mau melahirkan ya?” atau, “Kapan ya saya melahirkan?”

Menjelang memasuki minggu ke 40 tidak hanya perasaan cemas dan kurang sabar tapi juga saya dilanda stress dan frustasi yang mengakibatkan hampir tiap malam saya menangis. Kenapa? Karena menjelang masuk minggu ke 40 tidak ada kontraksi, mulas, flek, atau tanda tanda melahirkan yang lain. Saya juga mulai cemas dengan berat badan si bayi yang pasti akan bertambah. Saking frustasinya saya sampai melakukan “olah raga” berat yang tidak tanggung-tanggung, bahkan boleh dibilang terlalu berlebihan (jalan jongkok, naik turun tangga, bahkan sampai berlari lari di halaman rumah) demi mencari dan menunggu tanda tanda melahirkan itu.

Saya juga semakin stress karena di facebook atau setiap bertemu orang, mereka selalu bertanya, “Kapan melahirkannya? Bukannya uda due datenya?”

Suami sampai melarang saya untuk membuka account facebook untuk mengurangi tingkat kecemasan dan stress. Akhirnya karena tidak tega dengan keadaan saya dan mengkhawatirkan saya untuk melahirkan normal dengan berat bayi yang besar, mama saya menyarankan untuk operasi caesar saja. Untuk memutuskan persalinan dengan operasi caesar bukanlah keputusan yang mudah, saya berdo’a sambil menangis bersama suami. Suami yang memang mendukung dari awal untuk persalinan normal akhirnya menyerahkan sepenuhnya keputusan di tangan saya asalkan saya nyaman. Akhirnya dengan pasrah saya pun memutuskan operasi caesar.

Hari sabtu tanggal 23 Januari 2010 saya dan suami konsultasi ke dokter kandungan mengenai rencana operasi caesar ini. Dokter saya sempat kaget dan bertanya kenapa padahal dia tahu kalau saya niat untuk melakukan persalinan normal.

Setelah itu saya di USG 3D, dan berat si bayi adalah 3,013 gram. Akhirnya setelah berdiskusi dengan suami tanggal untuk jadwal operasi saya adalah sesuai dengan HPL yaitu 27 januari 2010 jam 15.00 wib.

Segala persiapan sudah dilakukan sesuai dengan prosedur dari rumah sakit, mulai dari tes lab, EKG, sampai konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam. Menjelang hari menuju persalinan operasi caesar yang saya akan jalani, tak putus usaha saya untuk bisa melakukan persalinan normal, saya berdoa mohon petunjuk Tuhan, bahkan “olahraga” yang biasa saya lakukan demi mencari kontraksi tetap saya lakukan.

So here comes the day (27 Januari 2010).

Pukul 6 pagi saya merasakan mulas yang sakit, walaupun masih bisa saya tahan. Saya membangunkan suami saya, dan dalam hati saya berkata, “Ya Tuhan apakah ini tanda–tanda saya mau melahirkan? Tolong beri tanda–tanda yang lain Tuhan sebelum saya menjalani operasi nanti siang.”

Saya langsung mengecek ke kamar mandi apakah ada flek, ternyata tidak ada, tapi mulasnya masih tetap berasa. Sesuai anjuran dokter saya harus mulai puasa dari jam 8, dan saat itu saya tetap mengikuti saran dokter. Mulasnya masih terasa sampai pukul 9, setelah itu hilang, dan saya berharap sebelum saya berangkat ke rumah sakit mulas itu akan datang lagi (saat itu saya harus tiba di rumah sakit jam 12 untuk persiapan operasi). Ditunggu dan ditunggu mulas itu tidak datang lagi, sampai akhirnya saya ke rumah sakit pukul setengah 12 lewat, karena pihak dari rumah sakit sudah menelpon. Sampai di rumah sakit pukul 12.15 siang, daftar dulu untuk pemesanan kamar, setelah selesai diantar ke ruang bersalin, menimbang berat badan dan cek tekanan darah di ruangan suster, lalu dibawa ke ruangan kala 1 untuk ganti baju, pencukuran, dan diberi obat pencahar.

Dan disinilah kejadian–kejadian tak terduga dan jawaban Tuhan atas do’a–do’a saya selama ini :

    1.       Pukul  13.00 saat saya mau di CTG, saya memberanikan diri untuk menceritakan  tanda–tanda mulas yang saya rasakan pada suster, dan akhirnya di CTG 15 menit dan akhirnya suster mencoba untuk cek dalam dan ternyata saya sudah pembukaan 2. Rasanya saat itu bahagia sekali, lalu suster bertanya pada saya, “Ibu mau coba normal atau mau lanjut operasi caesar?”.

    Saya diskusi dengan suami, dan suami mendukung untuk mencoba normal apapun nanti risikonya. Dia akan selalu bersama saya selama saya berjuang.

    2.       Pukul  15.00 saat cek dalam ternyata sudah pembukaan 4, lalu suster bilang, “Kalau nanti masih lama pembukaannya, Ibu saya induksi ya untuk merangsang kontraksi.”

    Walaupun rasanya takut mendengar kata induksi, membayangkan sakitnya yang konon lebih sakit, perjuangan harus tetap berjalan. Pukul 17.00 kurang saya dicek dalam ternyata saya sudah pembukaan 6, akhirnya suster memutuskan untuk tidak memberi induksi pada saya dan menyuruh saya untuk pindah ke ruangan bersalin. Puji Tuhan dari pembukaan 2 sampai 7 saya masih bisa menahan rasa sakit (walaupun ada saat saya meringis menahan mulas), masih bisa ngobrol, bahkan saat disuruh pindah ke ruangan bersalin, saya memutuskan untuk berjalan kaki daripada naik kursi roda.

    3.       Pukul  19.00 di pembukaan ke 9 saya sudah mengejan, dan mengejan hampir 1 jam namun bayinya tidak keluar karena saya salah mengejan. Rasanya waktu itu sudah tidak sanggup, napas sudah habis, dan saat itu saya yakin bayi saya ini beratnya sudah 3 kilo lebih. Sampai akhirnya dokter datang dan melakukan pengguntingan untuk melancarkan jalan lahir, dan memang 5 menit kemudian (tepatnya pukul 19.40) saya berhasil mengeluarkan bayi yang ditunggu. Dan ternyata berat bayi saya 2.5 kilogram dengan panjang 49 cm.

Begitulah perjuangan saya, Tuhan menjawab do’a saya di saat-saat terakhir dan diluar dugaan saya:

1.       Saya akhirnya bisa menjalani persalinan normal sesuai apa yang saya inginkan.
2.       Tidak perlu induksi, seperti yang saya takutkan, pembukaan lancar, bahkan termasuk cepat hanya 6 jam 40 menit.
3.       Berat bayi hanya 2.5 kg, bukan seperti yang saya cemaskan yaitu lebih dari 3 kg.

almost 1 month

Kirsten Bianca Livinlove adalah nama bayi cantik kami. Terima kasih Tuhan, sudah menjawab semua do’a kami.

after 2 weeks of kirsten's birth

9 Comments

  1. dewi_joshin
    Dewi Permata Sari June 28, 2011 at 4:20 pm

    selamat ya atas kelahiran si cantik.. hehe. Dulu sy lahiran lebih dari HPL (40w2d), pas HPL malah masih sempet presentasi di kelas. Dan sama dong, sy juga bukaan lengkap dalam waktu 6 jam. Hehe..

  2. lovefaelnilo
    Yulia June 28, 2011 at 4:22 pm

    selamat atas kelahiran putrinya,cantik n lucu.apa yang kita pikitkan itulah yang akan terjadi.jadi harus terus berfikir positif

  3. tisyonk
    tisa 'tisyonk' June 29, 2011 at 4:25 am

    Melahirkan memang pengalaman paling dasyat yah dalam hidup :)
    Saya dulu lahiran saat kehamilan umur 42weeks..hehe.
    Di Norway memang batas ditunggu sampai 43weeks.

  4. adita07
    adita primakurniani June 29, 2011 at 7:45 am

    artikelnya bagus mbak utk pregnant moms. Memang hny Tuhan yang tahu yang terbaik buat kita dan diagonasa dokter bs berubah dlm sekejap. Wkt aku hamil anak ke-2 , didiagnosa ada plasenta previa, aku berdoa smoga bisa melahirkan normal dan gak plasenta previa lagi, dan beneran, Tuhan memang menjawab doa. Plasentaku normal di bulan ke 7, dan bisa melahirkan normal juga.

  5. ernanrea
    ernanrea June 29, 2011 at 1:57 pm

    pengalamannya hampir sama dengan saya ketika melahirkan anak pertama tahun 2007 lalu….

    selalu langsung tercekat hati saya kalau mengingatnya, benar benar Kekuasaan Allah ya mbak…

    setelah 15 jam kontraksi tanpa bukaan yg bertambah (stay di bukaan 2) sampai saya demam tinggi karena sudah kesakitan berat, akhirnya dokter memutuskan caesar karena ketuban pecah, airnya berwarna hijau, dan sudah gawat janin
    sudah siap di meja operasi, menunggu ahli anastesi yg terlambat karena kena macet, eeehh… taunya sudah lsg bukaan 9, Subhanallah….

    suami yg menunggu di luar saja sampai terheran heran dan tidak percaya, ko jadi normal??? hehehehe….

    segalanya memang sudah diatur Yang Maha Kuasa ya…

    Selamat ya mbak, thanks for sharing ^^

  6. resmi
    resmi June 29, 2011 at 2:17 pm

    tuhan maha kuasa tak ada yang dapat membantu kita seain tuhan
    mohon padanya dan akan dikabulkan

  7. nanad
    swastikha nadia July 1, 2011 at 9:44 pm

    yuuup..been there,,,
    udh dr 38w sealu resah,gelisaah bgt nungguin tanda2,sampe nangis2 krn kuatir krn kok gak kerasa apa2..
    akhirnya di 41w di operasi krn plasenta sdh mengapur.
    tp ttep bersyukur krn prosesnya lancar dan bayiku sehat.. :)

  8. Travinan
    Travina July 7, 2011 at 3:39 pm

    duh, your story reminds me of ME hihihi

    waktu itu sdh dischedule mau c-section 1-10-2010, dengan pertimbangan fisikku ga kuat kalau lahiran normal (menurut dokter kandungan dan ahli penyakit dalam ku)

    ternyata, God is so good, abis meeting mau kontrol ke RS ternyata air ketuban udah rembes dan sukses lahiran normal pada 23-09-2010 pukul 08.20AM.

    sehat selalu yah mamas, perjalanan masih panjang !

  9. iana
    Ian Agisti July 10, 2011 at 6:52 pm

    wah… senengnya… jadi inget waktu lahiran Ariya, aku udah bukaan 9 tapi sama dokter tetep dioperasi… :( masih sebel ampe sekarang..

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.