Umrah Bersama Si Kecil

Rivenz

Setiap umat muslim pasti ingin mengunjungi Mekkah dan Medinah, baik untuk umrah apalagi haji. Begitu juga dengan saya. Ini merupakan umrah kedua saya tetapi pengalaman kali ini luar biasa berbeda karena saya mengajak Azima yang saat itu usianya masih 13 bulan. Sejak memutuskan untuk umrah, saya sudah berencana akan mengajak Azima karena saat itu Azima masih menyusui. 

Dalam perjalanan umrah ini saya dan Azima ditemani oleh kedua orangtua dan kakak saya. Agak sedih sebenernya karena suami tidak bisa ikut. Sebelum berangkat, saya cari tahu dulu apa saja yang harus disiapkan terutama untuk Azima karena ini pertama kalinya Azima dibawa bepergian jauh ke luar negeri. Untuk dokumen seperti paspor dan visa semua diurus oleh agen. Khusus ke Arab Saudi harus ada buku sehat bukti vaksin meningitis.

Vaksin meningitis sendiri untuk orang dewasa bisa didapat di Dinkes Pelabuhan. Rencananya Azima saya bawa untuk divaksin sama-sama di Dinkes Bandara Halim karena dokter spesialis anak merekomendasikan Azima untuk divaksin. Sebelumnya yang saya tahu, vaksin meningitis hanya bisa diberikan untuk anak usia di atas 2 tahun dan ternyata benar! Dinkes Bandara tidak memberikan vaksin meningitis ke Azima namun dengan syarat syarat Azima sudah divaksin divaksin HiB. Kemudian Dinkes Bandara memberikan surat pernyataan tidak divaksin.

Kesibukan mempersiapkan umrah dilanjutkan dengan latihan fisik, membuat checklist dan berbelanja barang-barang yang dibutuhkan. Ternyata barang bawaan untuk Azima banyak juga, ini lebih karena saya pikir lebih baik sedikit repot membawa banyak bekal dari sini daripada nantinya repot mencari-cari selama disana. Untuk kemudahan packing, barang-barang dalam checklist saya buat kategorinya:

  • Perlengkapan umum yang semua ada di ransel saya seperti earplugs, plastik kecil, sunglasses, payung
  • Obat-obatan, dari mulai vitamin, obat demam, obat batuk pilek, obat diare, obat alergi, salep untuk lebam, salep gigitan serangga, salep kulit, serta cairan antiseptik
  • Pakaian, berupa jaket, setelan atasan-bawahan, topi, jilbab, kaos kaki, sepatu serta sandal
  • Perlengkapan makan seperti feeding set dan kompor listrik. Walaupun saat itu Azima sudah bisa makan table food tetapi saya berjaga-jaga siapa tahu makanan disana tidak cocok dan mengharuskan saya untuk masak. Terbukti, disana kompornya terpakai untuk merebus sayur-mayur makanan Azima.
  • Mainan kesukaan Azima
  • Makanan, berupa sedikit beras dan sayuran yang cukup tahan lama
  • Diaper pants
  • Yang tidak kalah pentingnya: baby gear serta stroller. Saya bawa stroller Peg Perego Pliko Mini, gendongan baby carrier, baby sling, baby wrap serta kain jarik, walaupun yang dipakai ternyata hanya stroller dan baby carrier.
Perjalanan umrah kami dimulai pada tanggal 16 April 2013. Cukup panjang, dari Bandung ke Cengkareng sekitar tiga jam, lalu penerbangan Jakarta-Madinah selama sembilan, total-total sampai di hotel di Madinah sekitar 19 jam. Biasanya rute penerbangan untuk umrah itu Jakarta-Jeddah lalu Jeddah-Maddinah dan dilanjutkan dengan perjalanan darat. Kami cukup beruntung karena mendapat penerbangan direct ke Madinah dan berhemat hemat sembilan jam perjalanan karenanya. Untuk seat penerbangan umrah ini, Azima belum beli seat karena hitungan usianya masih infant. Bunda, eyang serta uwanya sudah siap-siap ikhlas bergantian memangku Azima selama sembilan jam penerbangan. Ternyata saat di pesawat, dua seat di samping saya kosong! Azima pun jadi bebas bergerak. Azima saat berangkat memang sedang kurang fit sehingga sempat terbangun beberapa kali di pesawat karena telinganya kurang enak. Tetapi keseluruhan perjalanan cukup lancar dan semua teratasi dengan baik.

Madinah dan Masjid Nabawi

Madinah merupakan Kota Suci kedua setelah Mekkah karena disana terdapat Masjid Nabawi yang dibangun oleh Rasulullah SAW. Tujuan utama selama di Madinah pastinya Masjid Nabawi dan Raudhah dilanjutkan ziarah situs bersejarah seperti Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Padang Uhud serta Kebun Kurma. Masjid Nabawi mempunyai pelataran yang sangat luas dan dihiasi payung-payung cantik-canggih. Pelatarannya pun tidak pernah sepi, banyak orang duduk-duduk sambil minum zam-zam sembari menunggu waktu shalat. Di luar kompleks Masjid Nabawi? Pastinya penuh dagangan dimana-mana.

Jarak hotel kami ke Masjid Nabawi sekitar satu blok. Walaupun tidak terlalu jauh, untuk menghemat tenaga kami, Azima biasanya dibawa menggunakan stroller. Karena stroller tidak diperbolehkan masuk mesjid, banyak sekali orang memarkir strollernya di depan pintu-pintu masuk masjid. Pengalaman disana, stroller yang diparkirkan alhamdulillah aman-aman saja. Sesekali karena masjid sudah penuh, kami shalat di pelataran dan Azima didudukkan di stroller agar tidak merangkak kemana-mana. Jangan takut kalau anak menangis karena selama shalat juga akan mendengar banyak bayi-bayi lain menangis, jadi jangan khawatir akan ada yang menegur kita karena anak menangis, hehe. Ketika shalat, berikan saja anak mainan kesukaannya agar anteng dan tenang.

Umrah, Makkah dan Masjidil Haram

Tujuan selanjutnya dan utama adalah di hari keempat: ibadah umrah di Masjidil Haram, Mekkah. Ini yang bagi saya paling membuat deg-degan karena rukun umrah adalah ihram, thawaf, sa’i serta dan tahalul. Yang saya bayangkan, bisakah saya melakukan semuanya sambil menggendong Azima selama thawaf dan sa’i? Sesampainya di Mekkah, kami bersiap-siap untuk melaksanakan ibadah umrah yang dijadwalkan pukul sebelas malam waktu setempat. Azima terlihat sudah mengantuk, dalam hati saya berdoa semoga saja Azima tenang, tidak rewel dan bisa mengikuti bundanya beribadah dengan khusyuk’. Sama seperti di mesjid Nabawi, di Masjidil Haram pun stroller tidak diperbolehkan masuk mesjid. Yang ada hanya penyewaan kursi roda kalau membutuhkan bantuan saat thawaf dan sa’i. Saya sudah mengetahui aturan ini tetapi ayah saya yang menjadi pembimbing umrah bersikukuh menyuruh saya tetap membawa stroller ke masjid. Saat kami mau masuk masjid sambil membawa Azima duduk di strollernya, ada Askar (penjaga) yang melarang stroller masuk. Saya tidak kaget, toh memang tidak boleh. Saat saya siap-siap menurunkan Azima dan meletakkan strollernya, tiba-tiba ada askar lain yang mendatangi kami dan dengan isyarat tangannya memperbolehkan kami masuk membawa stroller! Alhamdulillah, akhirnya Azima bisa thawaf dan sa’i sambil didorong dalam strollernya. 

Menjalani rukun umrah

Sesampainya di dalam Majidil Haram, hati siapa yang tidak bergetar ketika melihat Ka’bah. Langsung terucap banyak kalimat syukur kepada Allah, telah memberi kesempatan untuk saya membawa Azima ke sini. Umrah pun berjalan dengan lancar. Selama thawaf dan sa’i, Azima tertidur nyenyak. Saat sa’i, Azima sempat terbangun, akhirnya saya gendong sampai tertidur lagi.

Untuk thawaf, saya melakukannya di saat dhuha dan tengah malam. Azima kadang ikut, kadang ditinggal di hotel bergantian jaga bersama eyangnya. Selama shalat di Makkah ini, Azima super manis sekali, tidak sekalipun merangkak kemana-mana, tidak menangis, bahkan malah tidur selama di masjid. Sesekali dia didatangi, diciumi, diberi makanan bahkan pernah uang oleh para jamaah yang ada disana. Di sekitar Masjidil Haram, banyak sekali burung-burung merpati. Anak-anak disana senang sekali melihatnya, termasuk Azima. 

Giliran eyangnya yang bertugas gendong

Alhamdulillah, membawa bayi tidak menghalangi saya untuk bisa juga melaksanakan ibadah sunnah seperti mencium hajar aswad, berdoa di Multazam serta shalat di Hijr Ismail. Lebih senang lagi karena bisa mengajak Azima. Di Makkah juga kami berziarah ke beberapa tempat seperti Padang Arafah, Mina, Gua Hira serta melihat peternakan unta. Seperti biasa, saat ziarah ini Azima pasti tidur tetapi khusus di peternakan unta sengaja dibangunkan biar melihat unta.

Pada hari kesembilan, kami bersiap-siap pulang. Rute pulang kami adalah Madinah-Jeddah dengan perjalanan darat selama satu jam, dilanjutkan penerbangan Jeddah-Riyadh-Jakarta sekitar 11 jam. Pesawat pulang penuh tetapi kami dapat lagi satu seat kosong! Di perjalanan pulang ini, Azima sampai sejam sebelum landing.

Sedikit tips untuk Urban mama jika merencanakan beribadah umrah bersama si kecil:

  • Untuk perjalanannya, pilih bulan-bulan yang tidak terlalu panas seperti Januari-April. Adapun puncak musim panas jatuh di bulan Juli-Agustus
  • Walaupun kita ingin khusyuk ibadah tetapi tetap harus juga memperhatikan kondisi anak, jangan sampai anaknya merasa diforsir.
  • Di Mekkah dan Madinah, walaupun cuaca panas tetapi anginnya besar, jadi tetap bawakan baju-baju hangat untuk si kecil
  • Mungkin selama umrah, kita akan sering shalat sambil menggendong si kecil atau sambil menyusui. Maka mama bersiap-siap saja.

Sesampainya di tanah air, saya benar-benar menyadari bahwa banyak sekali kebaikan dan kemudahan yang Allah berikan dalam membantu saya menjaga Azima selama di sana. Untuk Urban mama yang berencana membawa bayi ikut beribadah umrah, tidak perlu ragu dan takut. Yang penting mama sudah mempersiapkan segala sesuatunya sebaik dan selengkap mungkin, selanjutnya percaya kalau Allah selalu akan membantu kita. 

9 Comments

  1. jeng_karin
    rainbow October 22, 2014 at 6:29 am

    wow…seneng bangett baca ini…
    karena saya juga kepengen banget bawa naufal ikutan umroh…tapiii belum berani karna mengingat usianya masi 16 bln…
    btw untuk mpasi-nya selama disana bagaimana ya mb…? share dunk…:)

  2. Shinta_daniel
    Shinta Daniel October 22, 2014 at 7:52 am

    Subhanallah, selalu merinding setiap baca/denger cerita2 tentang umroh/haji apalagi sama si kecil. Alhamdulillah, Azima sukses jadi haji kecil dan sehat selama di perjalanan. Thank you tipsnya..

  3. Kira Kara
    Bunda Wiwit October 22, 2014 at 8:33 am

    Azima… anteng sekaliii… Keren, kecil-kecil udah pinter ikut umroh dan gak cranky. Hebaat euy… *tjium Azima*

  4. arika
    arika October 22, 2014 at 8:45 am

    Alhamdulillah..senang sekali membaca si kecil Azima sudah diajak Umroh, selama perjalanan jg nggak rewel… semoga jd anak soleha ya Azima sayang

  5. bunda_rizma
    bunda_rizma October 22, 2014 at 9:47 am

    wah… subhanalloh ya. gak kebayang persiapannya, pasti lbh repot dr umroh tnp mengajak bayi. Tp pasti terbayar, Azima pintar sekali, krj sama dg bundanya, jd bs ttp ibadah dg khusuk ya.
    tfs ya mama azima :)

  6. eka
    Eka Wulandari Gobel October 22, 2014 at 5:43 pm

    selalu terharu kalau nyimak perjalanan umrah & haji, rasanya ingin balik lagi dan lagi ke sana ya. kebayang deh rasanya pasti senang & terharu banget bisa umrah bareng anak dan keluarga yaa…azima pintar sekali, ga rewel :*
    tfs tips nya ya, pasti berguna banget utk mama2 lain yg berniat umrah bersama anak.

  7. sLesTa
    shinta lestari October 24, 2014 at 9:31 am

    seru sekali!! selalu kepikiran dari dulu pengen umrah ajak anak2, tapi takut gue malah ga fokus ama ibadahnya. tapi pasti ada jalannya kalau emang niatnya baik yaa.. subhanallah!!

    thank you for sharing the tips yaaa, azima pinter banget!

  8. ZataLigouw
    Zata Ligouw October 24, 2014 at 9:38 am

    baru sempet bacaaa.., bagus banget artikelnya, makasih ya venz, bermanfaat banget tips2nya, dan menginspirasi juga :)

  9. ekakusmaya
    Eka Kusmayaningrum October 29, 2014 at 9:22 am

    Subhanallah…selalu ada kemudahan ya u/setiap niat kebajikan yang dipanjtakan.Pengen bangettt,bacanya sambil nahan nangis.Lagi galau pengen&butuh umroh tapi kuatir bagaimana meninggalkan/mengajak Si Kecil Argie.Bermanfaat sekali tipsnya.Semoga kita semua diberi kelapangan rezeki dan waktu u/dapat bersegera memenuhi undangan-Nya beserta segala kemudahan disana,amin

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.