Vanishing Twins

dr.riyana
Riyana Kadarsari, dr., SpOG Pendidikan: S1 FK Universitas Indonesia. Obgyn di RSIA Hermina Ciputat, Klinik Rumah Ibunda Bintaro, dan RS Sariasih Ciledug.
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!
dr. Riyana Kadarsari, SpOG
Pendidikan: S1 FK Universitas Indonesia

Obgyn di RSIA Hermina Ciputat, Klinik Rumah Ibunda Bintaro, dan RS Sariasih Ciledug.

Dokter Riyana,
Kakak saya hamil kembar tetapi setelah diperiksa dokter ternyata bayinya yang satu sudah meninggal.
1. Apakah bayi yang mati mempengaruhi bayi yang lainnya?
2. Apakah risiko bagi yang mengandung? Bahayakah bagi ibu bila bayi yang mati lama di kandungan bila tidak segera di operasi?

Terima kasih, Dok.


Hallo Mama,
Sebetulnya insidens kembar pada trimester pertama lebih tinggi daripada trimester kedua, sekitar 20-60 persen ditemukan menghilang (vanishing twins) pada trimester kedua. Pada kasus vanishing twins ini biasanya tidak ada dampak pada janin yang hidup, dan persalinan bisa normal sebagaimana kehamilan tunggal.

Namun berbeda jika terjadi kematian salah satu janin di setelah trimester satu, dan janin lainnya hidup namun cukup bulan. Hal ini sering terjadi pada kasus kembar monokorionik. Selain itu perbedaan berat badan bayi lebih 20 persen, adanya hubungan antara pembuluh darah arteri maupun vena plasenta juga bisa menyebabkan hal tersebut.

Prognosis dari janin yang hidup sangat tergantung dari usia kehamilan saat terjadi kematian salah satu janin, apakah tipenya monokorion atau dikorion, jarak antara terjadinya kematian dengan persalinan janin yang bertahan hidup. Pada kematian yang terjadi awal trimester seperti vanishing twin tidak terdapat efek pada janin yang bertahan. Namun adanya kelainan saraf pada janin yang hidup biasanya tergantung dari korionisitasnya. Ong dkk (2006) menemukan 18% kelainan pada saraf pada plasenta yang monokorionik dan hanya 1% pada yang dikorionik. Bukti menunjukkan bahwa morbiditas dari monokorionik biasanya berhubungan dengan adanya anastomosis atau hubungan antara pembuluh darah baik arteri maupun vena plasenta.

Pada kehamilan lanjut, kematian salah satu janin secara teori akan mencetuskan gangguan koagulasi atau pembekuan darah pada ibu. Namun hanya sedikit kasus ini ditemukan, mungkin karena biasanya bayi yang hidup segera kan beberapa minggu kemudian. Penatalaksanaan pada kasus ini berdasarkan penyebab kematian dan bagaimana risiko janin yang bertahan.
Jika kematian terjadi pada janin dikorionik karena perbedaan berat janin atau kelainan janin maka biasanya kematiannya tidak berpengaruh pada janin yang bertahan. Rekomendasinya adalah konservatif, kecuali timbul gangguan pembekuan darah pada ibu atau komplikasi lainnya. Untuk janinnya dilakukan evaluasi adakah kelainan pada sistem sarafnya.

Jadi kesimpulannya: tergantung usia kehamilan bayi yang meninggal dan usia yang saat ini hidup, bisa mempengaruhi jika kematian janin terjadi diatas trimester 1, atau jenisnya monokorion, atau ditemukan adanya anastomosis atau hubungan antar pembuluh darah baik arteri maun vena (biasanya dilakukan USG doppler). Risiko pada yang mengandung bisa terjadi persalinan prematur, atau gangguan pembekuan darah (jarang). Namun belum tentu persalinan hatus dengan operasi.

Semoga cukup jelas ya, Mama :)

7 Comments

  1. eka
    Eka Wulandari Gobel November 20, 2012 at 7:25 am

    wah, baru tau.. selama ini gak merhatiin hal2 khusus dlm kehamilan kembar, mungkin karena yg hamil kembar juga jarang ya :)

    Terima kasih, bu dokter penjelasannya.

  2. ninit
    ninit yunita November 20, 2012 at 7:29 am

    setuju sama eka. meski ga mengalami jadi menambah ilmu pengetahuan baca artikel ini. tks dr riyana :)

  3. Kira Kara
    Bunda Wiwit November 20, 2012 at 1:54 pm

    membaca penjelasan dr.riyana membuat saya jadi banyak2 bersyukur kembar saya dapat tumbuh sehat semua. Dulu sudah diingetin DSA tentang resiko hamil kembar dan banyak baca berbagai artikel.. Semoga artikel ini membantu banyak ibu yg juga sedang hamil kembar :)

  4. puspita_jewel
    Sitha November 20, 2012 at 3:37 pm

    Wah, jadi ingat kejadian serupa pada ipar. Tambah ngerti deh sekarang. Thank’s, Dok!

  5. arika
    arika November 21, 2012 at 9:42 am

    wah, ternyata bukan saya saja yang mengalami hal seperti ini ya. saat hamil kembar 3 (2identik, dan 1 non identik). salah satu dari si identik meninggal saat kehamilan 24 minggu.. sedih rasanya. ternyata hal ini banyak terjadi pada kehamilan kembar dengan 1 plasenta ya. Saat melahirkan, selain 2 yang sehat, si ‘adek’ yang meninggal baru dikeluarkan. Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada masalah dengan kembar 2 lainnya.

  6. dinaobie
    Dina Edriani November 22, 2012 at 1:11 pm

    Pengelaman saya di kehamilan ketiga juga seperti ini, kehamilan kedua keguguran di usia kandungan 6 minggu, kehamilan ketiga pendarahan waktu usia kandungan 9 minggu, tapi belum ketahuan kalau ternyata janin kembar. sampai akhirnya bedrest 1 minggu waktu balik kontrol, terlihat dilayar USG ada dua kantong janin, tapi yang satu kosong tidak ada janinnya, jadi diduga pendarahan kemarin itu akibat kantong yang kosong. Akhirnya bedrest sampai hampir 2 bulan karena flek terus keluar, tapi flek-nya warna coklat tua. Kenapa harus bedrest, karena perut bagian bawah nyeri terus alias kontraksi. Di samping itu saya juga masih menyusui anak pertama yang waktu itu usianya 2thn 3bln akhirnya terpaksa weaning. Tapi alhamdulillah kehamilan lancar sampai persalinan normal :)

  7. Rika Ummu Qonitah
    Rika Ummu Qonitah February 2, 2013 at 4:56 pm

    dok, makasih artikelnya…untuk mengurangi tingkat morbiditas pd kehamilan kembar, terutama kembar jenis monokorionik kira2 ada sarankah dok?

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.