When Ignorance is Our Master

Davincka
Jihan Davincka Simply a mom of 2, Nabil and Narda. 100% Buginese. Since 2009, living abroad along with her husband. Having many tremendous experiences from Tehran (Iran), Jeddah (Saudi Arabia) and now in Athlone (Ireland).

image credit: www.gettyimages.com

“Yam, tolong aku,” pinta si Kucing.

“Kamu kenapa?” jawab si Ayam ogah-ogahan.

“Jadi begini…”

Kucing mulai bercerita tentang masalah dalam rumah. Jadi, Pak Bolang, majikan mereka, sedang resah karena banyaknya tikus berkeliaran di dalam rumah. Sudah berbagai cara dicoba untuk mengusir para tikus.

Kucing merasa kasihan dan tidak berdaya. Dia pun meminta bantuan Ayam.

“O, begitu. Waduh, aku kan punya kandang sendiri. Nggak tinggal dalam rumah. Aku juga rajin membersihkan kandang. Nggak mungkin para tikus bakal ke sini.”

Kucing pun beranjak pergi. Dia menuju kandang sapi.

Kucing menyapa, “Pi, sibuk, nggak?”

“Ada apa?”

Kucing pun menceritakan hal yang sama. Sapi mengangguk dan menjawab singkat, “Kandangku besar. Kamu mau tidur di sini? Silakan saja.”

“Bukan begitu, Pi. Kasihan Pak Bolang. Kita bantu, yuk, cari solusinya.”

“Itu bukan urusan kita. Tikus tidak akan mengganggu kita.”

“Tapi, Pi …”

“Sepertinya hidup kita sudah cukup repot. Sudahlah. Diamkan saja. Nanti para tikus juga bakal pergi sendiri. Jaga diri sendiri saja baik-baik. Oke, Cing?”

Kucing pun masuk kembali ke dalam rumah.

Sebulan pun berlalu. Kini, Kucing memandang sedih ke pekarangan di luar. Kandang ayam dan kandang sapi dibongkar oleh Pak Bolang. Kucing berguman pelan, “Andai saja dulu mereka…”

Ke mana ayam dan sapi?

Seminggu setelah Kucing mendapat jawaban berupa sikap acuh tak acuh Ayam dan Sapi, anak bungsu Pak Bolang jatuh sakit. Sakit karena ulah tikus-tikus nakal yang berkeliaran dalam rumah.

“Beri makanan bergizi biar cepat sembuh. Sup ayam juga boleh.” Begitu saran Pak Dokter. Ayam pun dipotong untuk dijadikan sup.

Saat si bungsu sembuh, yang sulung ikutan sakit. Pak Bolang bingung, ayam sudah tidak ada. Kata Pak Dokter, “Sup daging sapi juga tak masalah.”

Sapi dipotong juga untuk dijadikan sup. Akhirnya Pak Bolang nekat pergi ke kota dan membeli lem tikus plus perangkapnya walaupun harganya sangat mahal. Tikus-tikus pun bisa dienyahkan. Setelah terlebih dahulu mengorbankan nyawa Ayam dan Sapi.

***

Ini bukan cerita karangan saya. Saya ingat diceritakan soal ini oleh salah satu dosen di kampus dulu. Kalau di atas cerita fiksi. Yang berikut ini cerita berdasarkan kisah nyata.

Anggap saja namanya Ibu Mawar. Ibu Mawar ini ibu yang baik, terkenal cukup disiplin menjaga anak-anaknya. Termasuk si Kupu-kupu, anak perempuannya yang masih berusia 5 tahun.

Tiba-tiba Ibu Mawar dikejutkan oleh Kupu-kupu yang demam tinggi dan suka meracau dalam tidurnya. Sebelumnya, Kupu-kupu juga mendadak menjadi anak yang pendiam. Padahal biasanya periang luar biasa.

Terbongkarlah semuanya ketika akhirnya Kupu-kupu buka mulut dan membuat gempar seisi kompleks. Kupu-kupu mengaku telah sering disuruh untuk menjilati (maaf) alat kelamin salah seorang anak tetangganya. Namanya Kumbang. Usia Kumbang sekitar 11 tahun.

Kupu-kupu mengaku, awalnya dia senang-senang saja karena selalu dibujuk dengan pensil warna, permen, atau pita rambut. Padahal Ibu Mawar berasal dari keluarga berada yang tidak segan-segan membelikan ini itu untuk putrinya. Tapi ya, kembali lagi, namanya juga anak-anak. Dikasih permen saja bisa loncat-loncat kegirangan.

Lama-lama Kupu-kupu sering melawan dan malah membuat Kumbang marah. Hingga akhirnya dilakukan dengan cara paksaan. Bahkan, Kumbang mengajak Belalang, anak tetangga juga, laki-laki usia 8 tahun untuk ikutan dalam permainan yang dinamakannya, “Main celup-celupan.” Bayangkan perasaan Ibu Mawar.

Kasusnya sampai ke polisi kalau tidak salah. Kembali lagi, mereka semua  masih anak-anak. Kumbang mengaku mengetahui aktivitas semacam itu dari youtube. Ibu si Kumbang berkeras kalau ia selalu mengunci ponsel dan gadget lainnya dengan password. Tapi Kumbang menjawab, ia tahu semua password ibunya.

Belalang mengaku hanya ikut-ikutan. “Kayaknya seru. Awalnya geli, tapi lama-lama enak.” Mau marah? Ingat, usianya 8 tahun.

Kejadiannya di kompleks perumahan menengah. Jadi bukan di kampung-kampung masyarakat kelas bawah.

Tamparan keras untuk Ibu Mawar dan seluruh keluarga dalam kompleks tersebut. Ibu Mawar konon sempat histeris karena tidak terima. Beberapa kali menjerit, “Apa dosaku Tuhan? Kurang apa? Kurang apa pada anak-anak?”

Saya tidak punya anak perempuan. Tapi membaca tulisan seorang teman di blog itu, yang dibuat berdasarkan kisah nyata kerabat dekatnya, membuat saya menangis. Pastilah. Saya juga prihatin pada Kumbang dan Belalang. Tahu apa sih mereka?

Konon, suasana kompleks mendadak ribut. Mengingat Kumbang, Belalang dan Kupu-kupu semuanya berasal dari keluarga baik-baik. Emosi pun tak kuat dibendung. Kalau tak salah, keluarga Kumbang akhirnya memutuskan hengkang dari kompleks karena tak tahan makian para tetangga.

***

Salah siapa? Ada apa ini?

Sungguh tidak bijaksana jika kita sering kali khilaf dan menganggap, “Aduh, saya sih pokoknya melindungi keluarga sendiri saja, deh. Keluarga kan yang paling penting. Yang penting anak-anak saya, saya didik baik-baik.”

Jangan lupa, suatu hari, kita bisa berada dalam posisi Ibu Mawar.

Anak-anak kita tidak akan terbatas kehidupannya oleh dinding-dinding rumah kita saja. Tidak pula hanya sebatas pekarangan rumah. Bahkan pun tidak hanya dalam kompleks. Mereka makhluk sosial, sama seperti kita. Butuh berinteraksi dengan orang lain di berbagai tempat.

Dalam buku “Tipping Point” bahkan jelas-jelas sebuah penelitian dilakukan untuk memantau perkembangan anak-anak dalam dua lingkungan berbeda. Hasilnya? Anak-anak dari keluarga broken home yang dibesarkan dalam lingkungan baik-baik ternyata LEBIH SELAMAT daripada anak-anak dari keluarga baik-baik yang dibesarkan dalam lingkungan yang kurang baik.

Jadi, jauhi sikap seperti ‘Ayam dan Sapi’ tadi. Generasi penerus adalah TANGGUNG JAWAB KITA SEMUA. Apa pun yang bisa mengancam ‘masa depan’ mereka bukanlah semata-mata tanggung jawab orangtuanya.

Kita harus bekerja sama. Untuk merobohkan ‘keangkuhan dunia’ yang kadang tidak peduli lagi pada masa depan ┬ámereka. Keuntungan materi saja yang dikejar.

Sesuai fitrahnya, manusia itu adalah makhluk sosial.

Maka, selayaknya sebagai orangtua, mari sama-sama terus saling mendukung perbaikan dan tindakan positif untuk menyelamatkan makhluk-makhluk mungil yang mungkin sekarang masih kita gendong-gendong atau masih kita suapi. Tapi suatu saat nanti… di tangan merekalah kelak dunia akan berputar.

Saatnya bersikap kritis. Saatnya pro aktif untuk menyajikan lingkungan terbaik untuk memicu keberhasilan mereka di masa depan. Bukan hanya sebatas menyiapkan rumah yang hangat dan nyaman. Kalau pun mau homeschooling, sampai kapan? Suatu hari mereka pun harus kita ‘lepas’, kan?

Pro aktif dalam mengawasi tayangan televisi misalnya. Walau kita bisa menggunakan siaran berbayar tapi tayangan televisi umum juga harus terus kita kawal. Sebagai salah satu wujud ikhtiar kita bagi para penerus bangsa. Siapa yang tahu besarnya harga yang harus kita bayar kelak atas ketidakpedulian kita saat ini.

Where ignorance is our master,
there is no possibility of real peace.
-Dalai Lama-

14 Comments

  1. mrs doyi
    indah nildha September 29, 2014 at 12:24 am

    terimakasih sudah diingatkan mb Jihan…
    bener, jangan sampai kita malah jadi korban atas sikap ketidakpedulian kita sendiri…
    setuju, mari dukung perbaikan dan terus lakukan kebaikan… :)

  2. ninit
    ninit yunita September 29, 2014 at 7:07 am

    jihaaan,
    makasih ya udah diingatkan… baru baca cerita ttg ibu mawar. betul, setuju sekali jihan kl semua itu adalah tanggung jawab kita bersama.

    jgn sampe kita ga peduli sama keadaan sekitar.

  3. Kira Kara
    Bunda Wiwit September 29, 2014 at 8:32 am

    Jedeerrr… tertampar kanan kiri! Secara dikompleks banyak sekali anak-anak kecil teman Kira dan Kara. Beberapa juga kadang maen ke rumah.. Jadi merasa ikut mendidik.

  4. mama_Nara
    mama Nara September 29, 2014 at 9:56 am

    Benerrrr bgt, geram sekali ketika mendengar ada perilaku menyimpang seperti ini. Di TK (berbasis agama)ada salah 1 anak yang mengajari teman-temannya cium bibir (alhamdullilah tuh anak sudah masuk SD krn sdh pintar calistung). Awalnya saya tau dari anak laki-laki saya yang sering saya ajak permainan crita-crita-an. Kaget benar saya dengar hal ini. Bahkan sampai sekarang saya tidak pernah ciuman bibir dg anak sendiri, dg suami pun tidak pernah didepan anak, & tidak ada tontonan spt itu yang boleh ditontonnya (dirumah tdk pakai PRT sekarang, ketika pakai PRTpun anak saya tdk mau nonton kecuali film kartun. Padalah anak laki yg ‘pinter’ ciuman itu bapak-ibunya lulusan skolah tinggi pencetak PNS yg cerdas-cerdas pastinya, ibunya IRT berjilbab, tp masih pakai PRT untuk bantu urusan domestic tentu byk waktu ‘harusnya’ mendidik anaknya….jadi sbg ibu pekerja tanpa IRT yg hy tidur kurang dari 5jam sehari & mengandalkan daycare selama 3th terakhir sgt prihatin. Untuk sekolah rumahan yg kecil, berbasis agama, dg murid 10-15orang 3 guru 1 PRT, bagaimana cara mereka sampai hal ini tidak terpantau !!! Walaupun slalu saya ksh tau sex edu (spt tdk ada yg boleh sentuh kelamin, dsb) tapi tetap saja sangat jijik ketika anak saya berkata : “kata Abi (nama anak itu) cium bibir gak papa, pakai lidah”

  5. gabriella
    Gabriella Felicia September 29, 2014 at 12:10 pm

    Terima kasih sudah diingatkan ya Jihan. Semoga dengan makin banyak yang lebih peduli, semua bisa jadi lebih baik.

  6. hananafajar
    hanana fajar September 29, 2014 at 12:19 pm

    Mba Jihan…artikelnya benar-benar membuat semua orang tua diingatkan lagi… semua tanggung jawab bersama..
    saling ngingetin dan aware sama lingkungan anak-anak kita..
    thanks for sharing such a great reminder..

  7. cindy
    cindy vania September 29, 2014 at 12:35 pm

    Terimakasih banyak ya mbak Jihan sudah menulis artikel yang sangat bagus.
    Bener banget kalau semua itu tanggung jawab bersama,semoga orang tua sekarang semakin peduli satu sama lain agar kedepan menjadi lebih baik

  8. ipeh
    Musdalifa Anas September 29, 2014 at 1:13 pm

    tfs mama Jihan, terima kasih sudah diingatkan.Selalu suka dan menanti artikel yg ditulis Jihan selanjutnya.

  9. mitsa
    mitsa October 3, 2014 at 10:21 pm

    Duhhhf….paling miris kalo korbannya anak2,just sharing ya moms…di komplek spupu aq,skitar sebulan yg lalu,2 anak kembar laki2 usia 4-5thn disekap ama PRT selama 6 jam,satunya di kamar mandi,satunya lg dikamar tidur ibunya,parahnya lampu dimatiin,padahal kedua anak tsb takut gelap… kondisi skarang,kasian bgt,sikembar hanya main di kamar aja,kalo ada ibunya berani main sampe teras doang,takut ama semua orang,termasuk eyangnya…oh ya,kebetulan kedua ortunya kerja n cukup berada, sekedar saran ya moms,bagi yg moms working,ada baiknya pasang cctv,hari gini orang susah dipercaya,apalagi ttng anak…

  10. mik3dy
    mik3dy October 6, 2014 at 3:06 pm

    makasiih sudah diingatkan mama jihan,, :)

  11. mik3dy
    mik3dy October 6, 2014 at 3:07 pm

    y ampuuun,, sedih bacanya,, makasih sudah diingatkan mba jihan. semoga anak2 kita selalu dihindarkan dari hal-hal demikian

  12. rhisuka
    riska nurmarlia October 6, 2014 at 7:32 pm

    Tfs mba Jihan. Sebagai ibu, agak ketar-ketir juga dengan kejadian2 yang belakangan terjadi. Semoga semuanya dijauhkan dari hal2 buruk ya..

  13. maminyu
    maminyu October 8, 2014 at 7:53 pm

    Mba Jihan,
    baca artikel ini bikin makin yakin bahwa peduli sama lingkungan sekitar dan berempati,berinteraksi itu pelajaran penting utk anak.Di jaman yg makin individualistis gini. Soalnya kita pasti bakal butuh orang lain, dan anak kita pun ada saatnya bukan kita yang melindungi saat dia ga bersama kita. Prihatin juga pada Kumbang dan Belalang sebagai pelaku. Mereka tak kalah urgent nya harus diperhatikan dibanding korban(kupu-kupu).Anak yang melakukan, padahal tdk mengerti benar kalau itu salah, bisa rusak pribadinya bila ia terlanjur dianggap ‘rusak’.Moga2 lingkungan juga bisa berlaku adil dan berempati terhadap pelaku.

  14. ndangndunk
    ndangndunk November 11, 2014 at 10:57 am

    artikel yg bagus banget mbaaa…
    ijin share boleh yak link nya, makasih mba jihan.
    masih banyak diluar sana yg berprinsip yg penting keluarga gue.
    tapi lupa manusia bagian dari sosial, pasti suatu saat entah sekolah, entah main, whatever pasti bertemu dg selain dirinya, maka kebersamaan kita ini memang sangaaat harus, apalagi tantangan skg jauh lebih banyak, mudah2an Allah selalu melindungi anak2 kita.

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.