Will You Still Love Me?

Davincka
Jihan Davincka Simply a mom of 2, Nabil and Narda. 100% Buginese. Since 2009, living abroad along with her husband. Having many tremendous experiences from Tehran (Iran), Jeddah (Saudi Arabia) and now in Athlone (Ireland).

Urban mama pernah menonton The Great Gatsby? Film bersetting Amerika tahun 1920-an ini diangkat dari novel populer berjudul sama karangan Francis Scott Fitzgerald. Diceritakan dengan narasi orang ketiga—Nick Carraway—film ini berfokus pada kisah cinta tokoh utama Jay Gatsby.

Jay Gatsby menyimpan cinta mendalam tak berbalas kepada Daisy Buchanan, sepupu Nick Carraway. Gatsby awalnya bukan siapa-siapa. Daisy akhirnya menikah dengan orang lain, sesama bangsawan. Beberapa tahun kemudian Gatsby muncul lagi. Kali ini Gatsby sudah lebih mapan, hasil kerja kerasnya untuk menjadi orang terpandang. Rasa cinta pada Daisy masih disimpan, walaupun sudah tahu kalau ia sudah menikah. Gatsby tak hanya diam-diam menggelar berbagai pesta mewah hanya untuk menarik perhatian Daisy, tetapi juga berani mempertaruhkan diri untuk menyelamatkan Daisy dalam satu peristiwa penting yang merupakan salah satu inti cerita dalam film tersebut. Sempat kembali bernostalgia, sekeras apa pun Gatsby berusaha merebut kembali takdir yang dianggap memang untuknya, Daisy akhirnya memilih untuk tetap bersama Tom, suaminya.

Saya tak hendak membahas isi pikiran Daisy. Tema perselingkuhan juga bukan inti tulisan ini. Sebaliknya, lebih tertarik membahas tentang pernikahan.

Saya sepakat jika hubungan Daisy dan Gatsby tidak berakhir di jenjang perkawinan. Rasa percaya diri adalah modal penting untuk memulai sebuah pernikahan. Gatsby nyata-nyata menunjukkan betapa rendahnya rasa penghargaan terhadap dirinya sendiri. Mengutip salah satu lirik lagu Whitney Houston, I do believe, we found the greatest love of all inside of us.

Akan sangat sulit menjalani hubungan yang diikrarkan sehidup semati kalau salah satu pihak sejak awal berusaha menepis eksistensi dirinya sendiri. Cemburu berlebihan biasanya karena kurang percaya diri. Sampai kapan seseorang sanggup berusaha menjadi orang yang bukan dirinya sendiri kalau hanya untuk meraih simpati dari orang lain? Sulit menyayangi orang lain kalau tak mampu menghargai diri sendiri. Itu pasti. Karena kalau ada yang menganggapnya bisa, itu namanya berkorban, bukan cinta.

Menurut saya, perkenalan atau ‘pacaran’ kurang tepat untuk dijadikan tolok ukur langgeng-tidaknya sebuah pernikahan. Tetapi apakah kalau pacaran akan cepat bubar? Ya tidak juga. Ada seorang teman yang berhubungan dekat cukup lama dengan calon suaminya, begitu menikah langgeng sampai sekarang. Pernikahan sudah memasuki usia belasan tahun. Sebaliknya, salah satu sahabat saya bahkan orangtua saya sendiri adalah produk dari perjodohan. Sahabat saya ini juga sudah menjalani belasan tahun pernikahan dan asyik-asyik saja. Sedangkan orangtua saya membuktikan sumpah “till death do us apart”.

Yang menentukan kelanggengan tersebut adalah bagaimana setelah ijab kabul selesai dan apa yang terus diperjuangkan setelah buku nikah resmi di tangan, setelah pendeta berujar “you may kiss your bride” atau setelah para saksi menegaskan sah. Karena katanya, cinta itu kata kerja. Bukan kata sifat yang bisa menghilang. Melainkan kata kerja yang bisa terus diusahakan. Not to just feel it, but to work on that, all the time.

Waktu masih fase ‘pacaran’ atau fase awal menikah, mungkin asyik-asyik saja mendengarkan dengan tekun bila si dia mengoceh soal saham, reksadana, dan lain sebagainya sementara kita bisa jadi sama sekali tak tertarik mengurusi hal tersebut. Atau dari sisi suami, awalnya tabah-tabah saja mendengar curhat istri dari mulai model panci yang paling cocok untuk merebus air sampai mengapa ukuran sepatu besar sebelah padahal nomornya sama.

And then time has passed. Anak demi anak lahir. Hingga di suatu pagi yang sibuk, kebetulan pula terlambat bangun dan sang istri sedang berusaha membujuk anak makan sambil menyelesaikan acara memasak untuk bekal makan siang suami ke kantor, suami pun datang dan menyerocos panjang lebar, “Duh, harga saham naik. Tahu gitu kemarin beli lot-nya agak banyak. Enaknya gimana, ya?’’

Dulu istri mungkin mendengarkan dengan sabar penuh senyum walau sebenarnya tidak pernah benar-benar peduli. Tetapi pagi itu malah membanting wajan sambil mengomel, “Saham, saham… Bantu suapi anak biar gak telat ke sekolah!”

Lambat laun, kalimat manis “I’d do anything for you” atau “you’re the center of my universe” will fade away. Namun bukan berarti it’s the end of our marriage, bukan? Debaran di hati boleh hilang, basa-basi boleh memudar, tapi cinta tak selalu berarti telah pergi. Ingat: kata kerja, kata kerja, kata kerja. As long as we both are working on that, it’s always there. 

Jadi jika dalam perselisihan kemudian dikatakan sudah tidak cinta atau sudah tidak cocok, memangnya ada di dunia ini dua pikiran yang benar-benar akan sejalan 100%? Even if you are twins. Cuma kurang sependapat saja jika cinta lagi yang disalahkan. Atau perbedaan lagi yang dikambinghitamkan. Karena dari awal pun semua diciptakan berbeda oleh Sang Pencipta. Menikah puluhan tahun pun tak akan bisa menyamakan hal yang sudah berbeda.

Di mata saya jika pasangan memutuskan berpisah, itu bukan karena cinta sudah pergi but because they decide to stop working on it. Saya tidak menentang perceraian dan tentu saja tak ingin menghakimi siapa pun yang telah memilih jalan ini. Again, we don’t judge others for often we don’t know the whole story.

Selalu diperlukan usaha keras dari suami dan istri untuk terus mempekerjakan si cinta ini dalam hati masing-masing. And it’s not related with whether you’ve already had kids or not. Pada akhirnya, tidak ada pasangan yang sempurna. Bertengkar itu pasti. Kadang sampai minta cerai juga, tapi tak perlu harus benar-benar dibiarkan terjadi, bukan? Mengutip Sam Keen, penulis buku To Love And Be Love: We come to love not by finding a perfect person, but by learning to see an imperfect person perfectly.”

Walau tak sedikit jalinan perkawinan diawali dengan fase jatuh cinta, tapi mempertahankan pernikahan adalah masalah komitmen. Banyak yang merasa keduanya hal yang sama padahal sejatinya menjalankan komitmen versus jatuh cinta bedanya bagaikan bumi dan langit. Siapa bilang setelah menikah kita tak akan jatuh cinta kepada orang lain lagi? Atau menikah akan membebaskan kita dari masalah apa pun? Kabar buruknya, justru setelah menikah, masalah justru terus bermunculan. Kabar baiknya, komitmen itu adalah pilihan. Setelah memutuskan untuk menikah, komitmen inilah yang akan menentukan apakah mau bersama melewati semua atau menyerah. Keinginan dan usaha untuk terus mencintai apa pun yang terjadi adalah bagian penting dari komitmen.

Will you still love me
When I’m no longer young and beautiful?
Will you still love me
When I got nothing but my aching soul?
I know you will, I know you will
I know that you will

(Lena Del Rey, “Young and Beautiful”, OST The Great Gatsby 2013)

17 Comments

  1. mrswibowo
    mrswibowo June 5, 2014 at 6:43 am

    Bagus sekali mom tulisannya..ijin share link ke fb ya.. :)

  2. yuniastuti
    yuniasih dwi astuti June 5, 2014 at 8:07 am

    as always…tulisan mbak jihan memang selalu ditunggu. bagus sekali mbak, dan trully inspiring, apalagi disaat saya lagi galau seperti sekarang karena mau LDR untuk yg kedua kalinya dengan suami. “Selalu diperlukan usaha keras dari suami dan istri untuk terus mempekerjakan si cinta ini dalam hati masing-masing” —>yuppp it’s true, lets work harder for it..^_^

  3. hananafajar
    hanana fajar June 5, 2014 at 8:26 am

    whuaa pagi-pagi baca artikel yang inspiratif dari mba Jihan..tulisan yang selalu bikin jantung serasa “Dug” hehe..

  4. meilinasianturi
    meilinasianturi June 5, 2014 at 8:44 am

    huhuhu cakeppp, terhanyut. hehe..thks mba jihan

  5. siska.knoch
    Siska Knoch June 5, 2014 at 10:48 am

    Aaa.. bagus bgt! terima kasih sudah mengingatkan ya jihan.
    Selalu suka sama tulisannya Jihan. *bookmark*

  6. Hertins
    Hertins June 5, 2014 at 11:35 pm

    Suka bgt mba… Lg ngerasain bgt dlm pernikahan ke 8th. mulai terasa hambar n sedang mempertanyakan apa arti n tujuan pernikahan pada diri sendiri.

  7. ntlfiona
    ntlfiona June 6, 2014 at 7:33 am

    Well said.. setuju berat! :) bagus bgt tulisannya…

  8. ZataLigouw
    Zata Ligouw June 6, 2014 at 9:11 am

    bagus banget artikelnya han, makasih yaaa..

  9. syifaratna
    syifaratna June 6, 2014 at 10:08 am

    aaakk mba jihan.. bagus dh.. selalu sukses dh dengan tulisannya mengena dihati saya.. #lebay :D

    tapi beneran mba saya, salah satu silent reader di blog mba dan facebook,hihi
    teruskan ya mba tulis menulisnya :)

  10. chikachuba
    Fransiska June 6, 2014 at 4:48 pm

    “Atau dari sisi suami, awalnya tabah-tabah saja mendengar curhat istri dari mulai model panci yang paling cocok untuk merebus air sampai mengapa ukuran sepatu besar sebelah padahal nomornya sama.” ini kok aku banget ya? hihihi

    Makasih untuk remindernya mbak Jihan, what a good reading!

  11. mitsa
    mitsa June 6, 2014 at 8:28 pm

    …” Kabar buruknya, justru setelah menikah, masalah justru terus bermunculan. Kabar baiknya, komitmen itu adalah pilihan”…
    bener bgt mbaaa… biarlah masalah yg ada menjadi pengikat yg kuat akan komitmen,karena masalah akan membentuk kepribadian seseorang…. izin copas ya mba.. :)

  12. dhetiezhar
    nurasti novitasari June 7, 2014 at 12:37 pm

    suka banget sama tulisannya mbak jihan.
    makasih ya mbak.. baca tulisannya seperti dinasehati sm temen deket.

    “We come to love not by finding a perfect person, but by learning to see an imperfect person perfectly.” Sam Keen

  13. rainiw
    Aini Hanafiah June 8, 2014 at 1:06 am

    setuju banget, cinta = kata kerja :D tfs yaa Jihan..

  14. kenziesMom
    kenziesMom June 10, 2014 at 10:06 am

    bagus banget artikelnya mom… sangat inspiring. kebetulan baru merasakan hidup serumah sama suami setelah 2 tahun LDR, dan banyak sekali ternyata hal-hal kecil yang bisa bikin berantem. hehe.. sekarang inget2 aja deh, kata kerja kata kerja kata kerja… :)

  15. adelina
    Adelina June 10, 2014 at 1:28 pm

    wekekek, jadi geli krn mirip banget tuh bagian –> “Saham, saham… Bantu suapi anak biar gak telat ke sekolah!” tp emang men from mars n women from venus ya mbak, obrolannya beda hihihi.. tambahin mbak, saling pengertian juga poin penting selain komitmen ;)

  16. dhita_ayu
    dhita_ayu June 12, 2014 at 11:26 am

    Artikelnya bagus Mba Jihan..
    Aku langsung share ke suami jg biar kita sama2 belajar makna pernikahan..
    Tfs mbaaa..

  17. sadhumedini
    Erlina June 12, 2014 at 2:29 pm

    ihhh,, pipi saya memerah membacanya. Hehehe its true karena pernikahan bukanlah tujuan akhir dari cinta tapi merupakan awal dari sebuah perjuangan. Yuk mari kita berjuaaaaaang :D

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.