Fanny Hartanti
Banyak yang terkejut ketika saya memutuskan untuk menikah dengan ‘mas bule saya’. Bahkan saya sendiripun kaget! Soalnya, saya nggak pernah punya cita-cita menikah muda. Justru sebaliknya, saya ingin puas-puasin berkarier dulu, bersenang-senang. Work hard, party hard, itu motto saya dulu.
Tapi rencana tinggal rencana. Saya jatuh hati dengan ‘cowok itu’. Kami berkenalan tahun 2001 di Copenhagen saat sama-sama sedang mengikuti training, ‘jadian’ awal tahun 2003, dan menikah pada bulan Oktober di tahun yang sama. Sebuah keputusan yang super nekad, mengingat waktu perkenalan dan pacaran yang sangat singkat, plus tempat tinggal yang berjauhan yang membuat kami sangat jarang bertemu. Kalau mau dihitung, mungkin total pertemuan kami face to face sebelum memutuskan untuk menikah hanya sekitar sebulan. Tapi memang kalau cinta sudah bicara, siapa yang bisa mengelak?
Ehm.

Keluarga besar saya, terutama Mama, tentu kaget berat, saat saya tiba-tiba minta kawin. Sama cowok yang nggak dikenal lagi! (Jo belum pernah ke Indonesia sebelumnya). Bule pula! Dan setelah menikah, putri semata wayangnya ini akan diboyong ke Belgia. Orang tua mana yang nggak panik?
Tapi Alhamdulillah, setelah sholat istikharah, Mama merasa tenang dan ikut mendukung keputusan saya. Restu untuk menikah keluar. Saya pun senang!
Singkat cerita, setelah melewati urusan birokrasi yang ribet dari kedua negara, kami menikah dan saya pindah ke Belgia mengikuti suami saya. Kami pun hidup bahagia selama-lamanya seperti pangeran dan putri raja di dongeng sebelum tidur.
Or not.
Meninggalkan karier, masa lajang, keluarga, teman-teman, gaya hidup di negara tercinta dan semua hal familiar lainnya bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi, saat mendapati kalau saya hamil, padahal tadinya kami ingin menuda dulu sampai saya ‘settle’ di sini. Semua perubahan yang terjadi pada diri saya, membuat tahun pertama saya di Belgia terasa sangat berat.
Saya belum siap untuk hamil. Saya belum siap jadi ibu. Apalagi sendirian begini, di negara yang masih terasa begitu asing buat saya.
Saya kangen Mama. Kangen keluarga besar saya, teman-teman saya. Saya kangen kerja lagi. Saya kangen dengan pertokoan di Jakarta yang setiap hari termasuk akhir pekan buka sampai malam. Di Belgia, toko-toko tutup jam enam sore, dan kalau Minggu atau hari libur, malah nggak buka sama sekali.
Saya rindu dengan makanan Indonesia, apalagi di saat-saat awal kehamilan di mana saya ngidam berat dengan siomay, lontong sayur, batagor, nasi padang, dsb.
Saya sedih. Saya kesepian. Saya menangis hampir tiap hari (I blame it on the pregnancy hormones though).

Setelah Alyssa lahir, keinginan saya untuk kembali bekerja pun semakin menggebu. Tapi tentunya nggak semudah itu untuk kembali berkarier, apalagi saya tidak tinggal di negara sendiri. Selain menjadi minoritas, salah satu kendala terbesar saya adalah bahasa (mayoritas lowongan pekerjaan mensyaratkan kemampuan bahasa Belanda, Prancis dan Inggris). Frustasi deh, rasanya, ditolak di mana-mana, dipandang sebelah mata, atau dianggap cuma pantas untuk jadi buruh pabrik atau petugas cleaning service.
Ya ampun, saya gensi dong. Mana mau saya jadi pekerja ‘rendahan macam begitu?
Bertamengkan ego dan kesombongan saya tetap keukeh, nggak mau kerja kalau bukan pekerjaan yang ‘bergengsi’. Namun kesombongan dan ego yang sama juga menggedor-gedor, malu dengan status ‘pengangguran’ saya. Selain merasa nggak keren menyandang status ibu rumah tangga, saya juga punya satu cita-cita, membiayai Mama naik haji dengan uang hasil keringat sendiri. Lah, kalau saya nggak kerja, gimana saya bisa mewujudkan cita-cita saya itu?
Saya nggak tahu, apakah karena doa saya tiap malam, kenekatan saya, atau kekeraskepalaan saya, yang jelas tiba-tiba Gusti Allah memberi saya jalan untuk berkarya dengan cara lain. Tiba-tiba saya punya ide untuk menulis novel pertama, padahal sebelumnya saya nggak pernah kepikiran untuk menjadi penulis. Alhamdulillah.
Setelah novel pertama terbit, saya mulai dengan novel kedua. Bersamaan dengan itu, saya ditawari untuk bekerja part time di sebuah pabrik selama beberapa bulan. Sebagai buruh! Dengan menelan gengsi bulat-bulat, saya pun menerima tawaran ini. Saya melihat, banyak teman-teman saya di sini, yang juga nggak malu dengan pekerjaan yang sering disepelekan macam ini padahal mereka wanita-wanita yang lebih pintar dari saya atau dulunya bahkan punya jenjang karier yang lebih tinggi. Lagipula, saya pikir, yang penting halal dan nggak nyolong.
Sekalian cari pengalaman. Sekalian cari inspirasi (buat novel kedua!
)
Dan dimulailah masa-masa Fanny jadi buruh pabrik. Hari pertama, setelah pulang les bahasa Belanda, saya mulai bekerja. Pulang-pulang, saya nangis sesegukan dipelukan Jo. Rasanya capek badan, dan capek hati. Remuk redam lah pokoknya. Suami bilang, ya sudah berhenti saja… toh nggak ada yang maksa kamu untuk bekerja.. Tapi saya nggak mau berhenti. Sebesar-besarnya gengsi saya menjadi buruh, saya lebih malu lagi kalau saya harus berhenti dan mengaku ‘kalah’ dari tantangan ini. Nggak, saya nggak mau berhenti. Kenapa saya harus stop melakukan sesuatu hanya karena saya merasa pekerjaan itu kurang keren? Kurang mentereng? Toh saya nggak mencuri. Atau menyakiti orang. Atau korupsi. Lagian, saya kepengin membelikan ranjang idaman untuk Alyssa (tetep, motivasi terkuat adalah belanja!).
Waktu berjalan, kontrak saya sebagai buruh pun berakhir dan saya melamar jadi pegawai di Mc. Donalds. Namun belum sempat saya berganti karier menjadi pelayan resto, tiba-tiba saya mendapat panggilan bekerja di sebuah perusahan di Belgia yang sesuai dengan bidang yang saya geluti selama ini. Setelah beberapa kali wawancara, saya berhasil mendapatkan pekerjaan ‘kantoran’ impian. Rasanya bahagia sekali kala itu. Seperti memenangkan sebuah pertandingan. Seperti berhasil membuktikan sesuatu. Seperti ingin berteriak, menangis haru dan menari sekaligus.
Namun kendala lain muncul bersamaan dengan rejeki yang baru diterima. Menerima pekerjaan ‘kantoran’, artinya meninggalkan Alyssa seharian penuh, padahal selama ini saya adalah ibu rumah tangga yang sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah. Paling saya meninggalkan Alyssa saat harus les, atau sesekali kerja paruh waktu seperti yang saya ceritakan di atas. Seperti kata orang bijak, be careful what you wish for.. Saat saya mendapatkan apa yang saya perjuangkan selama ini, saya justru takut untuk menerimanya.
Siapa yang menyangka bahwa ada masa di mana saya membandingkan karier ‘sungguhan’ dengan pekerjaan sebagai pelayan resto, tapi saya benar-benar bimbang kala itu. Kalau saya jadi pelayan resto, dengan lokasi yang sangat dekat rumah, paruh waktu, less stress, saya akan punya banyak waktu untuk si Neng. Di sisi lain pekerjaan kantoran yang pastinya akan lebih rewarding, namun akan lebih menguras energi dan waktu, yang akhirnya akan merenggut sebagian besar kebersamaan saya dengan si Neng.
Setelah bolak-balik berdiskusi dengan suami, saya memutuskan untuk menerima pekerjaan kantoran. Saya pikir, at least I have to try it first. Jo pun mendukung 100 persen karena dia tahu saya pasti bakal lebih senang bekerja sesuai dengan minat dan pengalaman saya selama ini. Apalagi, saat itu Alyssa sudah mulai masuk sekolah, jadi otomatis ia akan menghabiskan lebih banyak waktunya di sekolah. Lucunya lagi, walaupun kuantitas pertemuan saya dengan Alyssa berkurang, tapi justru pertemuan yang sedikit itu menjadi lebih berkualitas. Mungkin karena kita sama-sama menyadari keterbatasan ini, so we don’t take it for granted anymore! What a good timing. Seperti sudah ada yang mengatur (eh, memang iya ya
).

Looking back, saya suka tersenyum-senyum sendiri mengingat tahun-tahun pertama saya di Belgia. Oh how I fought, cried, fell but somehow I manage to get up again. Saya jadi semakin percaya, kalau segala sesuatu itu, memang pasti ada hikmahnya. Saat saya sulit mencari kerja, saya belajar untuk menemukan bakat saya yang lain, yang selama ini nggak pernah saya sangka saya punya. Saya juga belajar mengalahkan gengsi saya, keangkuhan saya. Saya belajar untuk nggak mudah meremehkan orang lain karena saya pernah merasakan rasanya direndahkan, dipandang sebelah mata. Saya juga yakin, bahwa saat itu, saya memang nggak diberi ‘kerja’ karena Tuhan mau saya menghabisakan waktu dengan Alyssa. Oya, satu lagi, pengalaman beberapa tahun menjadi ‘ibu rumah tangga’ juga membuka mata saya, bahwa ternyata nggak mudah menjadi seorang Stay at Home Mama seperti yang selama ini saya kira dan suka saya lecehkan.
Ternyata, setiap wanita, setiap ibu, punya ceritanya sendiri. We are strong, unique and special in our own way





how inspiring…TFS ya, mbak
SunShine / 18 Apr 2011 06:18 / Log in to Replybaru beres baca ‘the wedding games’ :p really enjoy it!
kisses buat neng Alyssa yaa..she’s so pretty!
Yay!! makasih yahh.. hihi
seneng dipuji 3 kali ampe terbang!
Fanny Hartanti / 18 Apr 2011 14:15nice story, pernah baca blognya soal cerita pertemuan dgn sang suami, hihihi…so romantic..TFS
trias kelly / 18 Apr 2011 07:42 / Log in to ReplyNeng Al lucu pisan, kiss kiss for the little girl
Trias Kelly, auuw.. jadi malu
Fanny Hartanti / 18 Apr 2011 14:16“saya juga punya satu cita-cita, membiayai Mama naik haji dengan uang hasil keringat sendiri”
saya juga punya cita-cita yang sama mbak, dan masih berjuang hingga detik ini
aQeeLa / 18 Apr 2011 08:34 / Log in to Replyamiiin Aqeela… semoga cita2mu terwujud juga yah
Fanny Hartanti / 18 Apr 2011 14:17kereeeen… salut buat mba fany…^^
radit's mom / 18 Apr 2011 09:06 / Log in to Replyemang bener yaa.. dibalik semua peristiwa pasti ada hikmahnya…
iya bener, walaupun kadang hikmahnya rasanya lama bener detengnya.. hihi
)
Fanny Hartanti / 18 Apr 2011 14:20Inspiring..TFS yaa..:)
Dewi Astri / 18 Apr 2011 09:08 / Log in to Replysama-sama Dewi, makasih juga
Fanny Hartanti / 18 Apr 2011 14:20Thumbs up for your struggles and efforts fan =) bener2 perjuangan banget tapi worth it pada akhirnya ya =D o iya, ceritanya kayak familiar deh yang bagian kerja di pabrik sambil nangis2..hihihi…ternyata emang jadi bahan nulis C’est La Vie =p kiss for si neng ya!
Astrid Lim / 18 Apr 2011 09:20 / Log in to Replypssst Astrid.. hihi ketahuan deh rahasianya. ahaha!
Fanny Hartanti / 18 Apr 2011 14:24Tante eropaaa.. seru banget baca ceritanya. Salam manis buat si neng yaaa
Siska Knoch / 18 Apr 2011 09:22 / Log in to ReplyChika.. maap neng gak terima salam manis, terimanya salam tempel!
Fanny Hartanti / 18 Apr 2011 14:25Nice story! Untung diboyong Mas Bule ke Belgia, kl ga saya ga bisa baca ‘wedding games’ hehe.. Mbak Fanny, Bln Juni ada rencana ke Belgia, jumpa fans dong :p
oci / 18 Apr 2011 09:30 / Log in to Replyayuuuukkkkk…!!! email2 yah
Fanny Hartanti / 18 Apr 2011 14:27What a nice story… mpe terharu bacanya. Neng al cantik banget deh.. *kiss.. kiss*
jin kura-kura / 18 Apr 2011 10:01 / Log in to ReplyJIn kura-kura.. makasih. Iya neng cantik, kayak mamahnya. ya kan ya kan ya kan?
Fanny Hartanti / 18 Apr 2011 14:28mbak Fanny .. kalo bacanya sekarang kok jadi indah ya .. padahal pas dijalani pasti g mudah .. salut!
Dian Arsita Kurniawati / 18 Apr 2011 10:33 / Log in to Replyjadi inget komenmu, “I know ..”
Hahaha Sidta.. kebongkar deh!
Fanny Hartanti / 18 Apr 2011 14:30Tapi bener sih.. sekarang kalau diinget2 jadi kenangan manis padahal waktu dulunya sih gak manis-manis banget. cenderung asem malah :p !!!
apapun deh mbak, pokoknya aku ngefans padamuh
*kecup2tanteeropa*
Dian Arsita Kurniawati / 19 Apr 2011 11:08 (Comments wont nest below this level)wah…salut deh ya. aku jg barusan baca buku “the comeback” yang berisi pengalaman 7 perempuan yang meninggalkan pekerjaan kantoran untuk full mengurus rumah tangga lalu kembali lagi ke pekerjaan. i think your story relates to that book. happy work mummy. kiss buat si neng ya:)
thea rizkia / 18 Apr 2011 11:41 / Log in to ReplyThea Rizkia, wah jadi pengen baca ‘the comeback’. Makasih yah
Fanny Hartanti / 18 Apr 2011 14:31very inspiring story, fan…
ups, jadi inget udah beli buku wedding games tp belum sempet dibaca :p
Chrisye Wenas / 18 Apr 2011 17:03 / Log in to Replyseneng bacanya dan u truly a fighter! bisa dapetin kerjaan idaman dan menulis
salam ya buat neng al yg makin cantik aja…
ihihiy.. baca donggg
Fanny Hartanti / 21 Apr 2011 15:26Seruu haruuu.. Pantes aja ya, ngena banget tuh cerita C’est la Vie.. Hehehe. Salut deh
Vania Aramita Satriadi / 18 Apr 2011 18:22 / Log in to Replythanks Van!
Fanny Hartanti / 21 Apr 2011 15:27salut bwt mba fanny atas segala ketabahannya hidup di negeri org dan jauh dr klrg besar,sangat menginspirasi saya yg jauh dr klrg besar yg msh dlm satu negara dan beda pulau…semangat mba fanny…ceritanya sangat mengharu biru…salam bwt nenk alyssa
Rika Cahya Oktaviana / 18 Apr 2011 19:37hahaha, sama sama “orang rantau nih!
Fanny Hartanti / 21 Apr 2011 15:55aq pny 3novelnya tuh (four season in belgium,c’est la vie,wedding games)…dan br ngeh klo Fanny Hartanti yg di TUM,adalah penulisnya.pantes koq klo bc signaturenya,srg dgr.haessshhh….kemana aja aq??
Dian Natallia Pratamawati / 19 Apr 2011 03:29 / Log in to Replywah.. asyik punya tiga2nya! ihiy!
Fanny Hartanti / 21 Apr 2011 15:56Wah, ternyata mam fanny ini novelis to. Salam kenal. Perjuangan hidup yang berat yang berbuah manis ya mam. Sekali2 bikin quiz hadiahnya novel hasil karya mam Fanny dong hehe
BunDit / 19 Apr 2011 08:18 / Log in to Replywaktu itu bikin quiz kok di twitter.. hehe
Fanny Hartanti / 21 Apr 2011 15:58“Kenapa saya harus stop melakukan sesuatu hanya karena saya merasa pekerjaan itu kurang keren? Kurang mentereng? Toh saya nggak mencuri. Atau menyakiti orang. Atau korupsi”
Ah mom, pikiran sama yg selalu terngiang2 di benakku ampe sekarang. *Lagi dilema dgn tawaran pekerjaan yg baru*. TFS ya mom
MommyHoho / 19 Apr 2011 09:50 / Log in to Replywah mommyhoho, semoga bisa memilih yang terbaik yahh… amin!
Fanny Hartanti / 21 Apr 2011 16:00hwaa,, ketinggalan ni,, blum baca buku nya,, *maap ya mbak*
fifi wicaksono / 19 Apr 2011 10:11 / Log in to Replybtw,, full inspiring banget,, secara diriku juga not full timer mom,, tpi emang yang dipunya sekarang cuman quality time dengan anak,, dan belajar sabar ,,
Fifi.. iya… orang sabar disayang Gusti Allah! haha!
Fanny Hartanti / 21 Apr 2011 16:01Very inspiring story.. Hebat euy mbak Fanny. Ceritanya pas banget sama tema Kartini bulan ini…
Anggraini Karimuddin / 19 Apr 2011 10:15 / Log in to Replyah, Anggi… jadi tersipu
Fanny Hartanti / 21 Apr 2011 16:02Aih ternyata cerita di balik layar si Tane Eropa keren euy!! Sukses terus ya, Fan… Jangan lupa bawa oleh2 kalo lo ke sini
Pangastuti Sri Handayani / 19 Apr 2011 10:37 / Log in to ReplyApa sih yang enggak buat lo Ty ? :p
Fanny Hartanti / 21 Apr 2011 16:07hey fanny si ratu dapur
cyndewi / 19 Apr 2011 14:55gw ngakak2 baca blog lo yg bikin cookies ‘bunga’ itu hihi. sukses selalu ya istrinya jo-mamanya neng al-penulis kondang-mamod eropah bla bla (panjang beneurr jabatan hehe):D
ohh.. teganya kamu mengingatkanku.. hihihi
Fanny Hartanti / 21 Apr 2011 16:08Fanny.. Aku ngefans banget dengan dirimu. Janji yaa kalo ke jkt, mau foto dan ttd di novel, yayayayaa
Tfs ya fan, inspring story. Keren deh mama satu ini..
Musdalifa Anas / 19 Apr 2011 20:40 / Log in to Replybuat lo plus ciman basah dan cap bibir ya Peh!!!
Fanny Hartanti / 21 Apr 2011 16:09aku punyaa four seasons in Belgium sama c’est la vie udah lama banget belinya pas baca cerita kopdar europe br nyadar kalo fanny itu yang namanya ada di novel aku hihi. salut bener2 deh fanny bisa ngalahin ego dgn pekerjaan yg pertama itu,ego kan nggak laku buat beli ranjang idaman hihihi senangnya skrg udah settle, menemukan kerja kantoran impian & neng cantik yg nunggu di rumah
Dinni Williansyah / 19 Apr 2011 21:10 / Log in to Replywah, Din, kalau ego bisa dipake kayak duit mah, gue udah tajeeerrr! hahhahha
Fanny Hartanti / 21 Apr 2011 16:10very inspiring story, terkadang kita selalu merasa ‘sendirian’ dgn penderitaan yg kita alami, dan tak pernah tahu bahwa ketika kita mau berbagi — that i called the power of sharing –ternyata banyak wanita merasakan hal yg sama
auya / 20 Apr 2011 17:13Ah Auya.. iya.. gue maju mundur pas nulisnya… tadinya udah nggak mau di publish, tapi akhirnya nekad juga! hihi.
Fanny Hartanti / 21 Apr 2011 16:12Aww..life story nya keren Fan..btw jadi buruh pabrik di Belgi memang dianggap kelas dua atau krn mindset Asian kita Fan? * masih terbayang si pemilik audi dan moge itu loh* :p
medy / 20 Apr 2011 20:41 / Log in to ReplyMedy,
Fanny Hartanti / 21 Apr 2011 16:15nggak juga sih yah, di sini mereka nggak dianggep kelas dua. Mereka juga masih masuk kelas menengah lah.
mba fanny alamat blognya apa?
Ely Naswidi / 20 Apr 2011 21:48 / Log in to Replyato moms yg lain tau???? bagi yaaaaa
eh udah di jawab cyndewi yah
Fanny Hartanti / 21 Apr 2011 16:16ely Naswidi,
klik aja di profile nya fanny
cyndewi / 21 Apr 2011 09:41atau ke sini langsung: http://www.veryfanny.blogspot.com
terimakasih cynn * kecups*
Fanny Hartanti / 21 Apr 2011 16:16aku salut padamuuuuu. Kapan ngesot ke Banduuuung? Yuk yuk yuuuk
almaviva landjanun / 21 Apr 2011 12:38 / Log in to Replytraktir batagor yahhhhh!!!
Fanny Hartanti / 21 Apr 2011 15:57thumbs up!!! pantes, I saw how proud your mom is
Liz / 22 Apr 2011 21:35 / Log in to Replyhihi kayaknya nyokap gak tau deh bagian ini.. haha. baru pertama kali nih gue go public
Fanny Hartanti / 29 Apr 2011 17:15very inspiring…
keep writing..
citRa / 24 Apr 2011 10:49 / Log in to Replyoot dikit, aku big fan dirimu loh, semua buku udah punya, udah dibaca berulang kali n ga pernah bosen..
Salam kenal buat Fanny&Neng!
Thank you buat critanya
Mama van CJ / 24 Apr 2011 11:00 / Log in to ReplyHow inspiring…..salam kenal ya Fan….your princess so cute
Hanne Kambey / 24 Apr 2011 14:31 / Log in to ReplyHallo Mom Fanny aku Cecil aku juga menikah dengan ” mas bule ” cuma bedanya aku domisili di Jogja karena suami kerja di sini..ur princess is very cute!! kisses for her
Cecilia Huet / 25 Apr 2011 12:24salam kenal Fanny…
melissa05 / 26 Apr 2011 14:13very inspiring story!! kebetulan aku juga senasib kayak dirimu, ikut suami ke Berlin, cuma bedanya suami org indo, bukan mas bule hehe… aku sering banget berasa down n nangis sendirian, abis baca cerita kamu jd semangat lagi nih… btw, kalo aku mau beli Novel kamu gimana yah caranya? apa dipublish di Jerman juga? atau aku harus beli di Indo? Thanks before…kiss for Neng Al, she’s so cute & pretty…
whuuaaaa ini mba Fanny yg penulis novel itu?yg novelnya keren2 itu?wiiiii..salam kenal mba^^
very inspiring story..two thumbs up mba!!
*si Neng nya cute bgt
emil / 27 Apr 2011 22:31 / Log in to Reply” …Atau korupsi. Lagian, saya kepengin membelikan ranjang idaman untuk Alyssa (tetep, motivasi terkuat adalah belanja!)”
LOOLLLLLL!!!!!! =D
myson / 28 Apr 2011 01:40 / Log in to ReplyMbak Fany… hebat sekali perjuangannya. two thumbs up! aku jg menikah sm org belanda, ud pny baby 11 bln
. dlm taun ini aku kita mau pindah ke belgie jg.. hihi.. antara seneng dan grogi, campur2 deh perasaanku skrg.. mungkin mbak bs kasi saran atau tips sebelum aku kesana, biar gak shock. sebelumnya aku pernah sih tgl di belanda 3 bln, tp msh tinggal sm mertua dl, pastinya beda ya dibanding tinggal sendiri… thx b4.
Posta / 28 Apr 2011 16:05CitRa.. auuu jadi maul
makasih yah..

)
Fanny Hartanti / 29 Apr 2011 17:19Mama van CJ dan hanne : Salam kenal juga
Cecilia : Tosss!!
Melissa : hihi dont worry, ntar juga lama2 kerasan. Iya bukuku cuma ada di Indo..
EMil: salam kenaaall.. makasih
Toto: hihi.. teteppp dong
Posta : wah mo tinggal di mana? email2 yah!!
hua..jadi pingin baca buku2nya mba fanny..
BundaTsa2 / 29 Apr 2011 23:33 / Log in to ReplyTfs ya mba n salam kenal:)
pendatang baru nih
langsung baca story nya. like this banget, hehee
mommy Rachel / 30 Apr 2011 09:30 / Log in to Replysalam kenal
faan.. sukaa banget sama photo nikahannya! jadi inget film2 yessy gusman & rano karno gituuu :p
eka / 30 Apr 2011 21:41 / Log in to Replysukses terus yaa..tante yurop!
Tante Pan ternyata kamu pernah susah juga yaaa
Baru tau aku kirain selalu hepi.
Tp skrg kan semakin hepi dan bukti banget tuh, bersusah2 dulu bersenang2 kemudian…makanya kisah hidup loe ini menentramkan bgt.
See u in August ya cyiiiiiiiiiin <3
peachmargarita / 05 May 2011 13:55 / Log in to Replyindah sekali kisah hidup Mba, semoga saya bisa belajar dari Mba. TFS ya Mba….
dzikrina / 22 Feb 2012 07:57 / Log in to Reply