<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>The Urban Mama</title>
	<atom:link href="http://theurbanmama.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://theurbanmama.com</link>
	<description>there is always a different story in every parenting style</description>
	<lastBuildDate>Sat, 25 May 2013 17:01:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Ide Pesta Ulang Tahun di Rumah</title>
		<link>http://theurbanmama.com/articles/ide-pesta-ulang-tahun-di-rumah.html</link>
		<comments>http://theurbanmama.com/articles/ide-pesta-ulang-tahun-di-rumah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 May 2013 17:01:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yana Saphira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Children]]></category>
		<category><![CDATA[Dads]]></category>
		<category><![CDATA[Moms]]></category>
		<category><![CDATA[My Party]]></category>
		<category><![CDATA[budget]]></category>
		<category><![CDATA[Do-It-Yourself]]></category>
		<category><![CDATA[pesta ultah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://theurbanmama.com/?p=84171</guid>
		<description><![CDATA[Seperti ibu-ibu pada umumnya, saya berusaha menekan budget untuk segala pengeluaran, apalagi untuk syukuran ulang tahun, bagi anak-anak yang penting adalah perhatiannya. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>I was very excited to be the Birthday Party Organizer to my lovely Anasya.</em></p>
<p>Seperti ibu-ibu pada umumnya, saya berusaha menekan budget untuk segala pengeluaran, apalagi untuk syukuran <a href="http://http://theurbanmama.com/forum/topic236-birthday-gift-party-ideas.html" target="_blank">ulang tahun</a>, bagi anak-anak yang penting adalah perhatiannya. Kami memilih untuk mengadakan acara di rumah, tentunya tidak perlu bayar bukan? <a href="http://theurbanmama.com/forum/forum18-financial-matters.html" target="_blank">Dana</a> yang tersedia bisa dimanfaatkan untuk sewa mainan yang disesuaikan dengan ruang yang ada di dalam atau di luar rumah.</p>
<p>Kami memilih Spongebob untuk tema ulang tahun ke-3 Anasya karena ia tidak bisa lepas dari boneka Spongebob-nya terutama pada waktu tidur.</p>
<p>Hal pertama yang saya pikirkan adalah <strong>Menu</strong>, kemudian <strong>Permainan</strong> dan <strong>Setting tempat</strong>, serta terakhir masalah <strong>Teknis</strong>.</p>
<p>Menu harus simpel tidak perlu set meja, kami pilih homemade beef burger dan spaghetti serta bento untuk anak-anak, almond pudding, ice pop, dan fruit satay. Menu tambahan sebagai syarat mutlak dari neneknya Nasya adalah nasi tumpeng (yang satu ini bukan homemade).  Untuk goodie bags berburu di Asemka untuk tasnya dan peralatan tulis bertema Sponge Bob dan kemudian saya lengkapi dengan berbagai makanan kecil dan susu kotak. Acara dibuat sesantai mungkin sehingga perangkat makan pun serba <em>disposable</em>, tidak perlu cuci-cuci sesudah acara, tinggal buang!</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-84182" title="food" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/food2.jpg" alt="" width="500" height="452" /></p>
<p>Permainan berdasarkan pengalaman, Nasya atau teman sebayanya paling suka main Perosotan, jadi langsung saya kontak tempat sewa mainan langganan untuk menyewa perosotan, <em>playhouse</em> serta meja dan kursi kecil. Sebaiknya sudah menghubungi tempat sewa mainan sejak jauh-jauh hari. Saya tidak menyediakan susunan acara atau pertunjukan apaun, saya membiarkan anak-anak untuk mengeksplorasi segala yang disediakan di rumah. Kemudian saya sediakan pula kolam renang kecil yang dijadikan kolam pancing ikan, dan anak-anak sangat penasaran dengan permainan yang satu ini.  Bagi anak-anak yang tipenya kalem pasti suka area piknik yang saya siapkan di halaman.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-84174" title="playground" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/playground1.jpg" alt="" width="358" height="400" /></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-84188" title="fishing pool" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/fishing-pool.jpg" alt="" width="485" height="241" /></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-84175" title="picnic area" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/picnic-area.jpg" alt="" width="400" height="400" /></p>
<p>Setting tempat yang standar saja, di garasi! Saya menyewa kursi dan meja katering untuk area orang dewasa dan saya menyiapkan snack/sweets corner di teras rumah. Untuk hiasan, saya memesan balon aneka tokoh kartun yang nantinya bisa dibawa pulang teman-teman Nasya sebagai suvenir.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-84176" title="sweets corner" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/sweets-corner.jpg" alt="" width="500" height="500" /></p>
<p>Saya sempat kesulitan menemukan kostum yang pas untuk acara ini, karena Spongebob sebenarnya sudah tidak trend lagi, sama sulitnya dengan mencari pernak pernik Barney. Tapi saya tidak kehilangan akal, saya membeli kaos tema Spongebob, model seperti tank top dan ukurannya pun untuk anak usia 5-7 tahun, kemudian saya modifikasi dengan menjahitkan kain tile di bagian leher dan pinggul sehingga jadilah model Tutu Spongebob.</p>
<p>Puncak acara diisi dengan memukul Pinata. Pinata banyak dijual di tempat alat-alat pesta, tetapi harganya buat saya sangat fantastis, sekitar Rp200.000-300.000,-. Saya membuatnya sendiri dari paper bag bekas.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-84177" title="pinata" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/pinata.jpg" alt="" width="500" height="505" /></p>
<p>Ide ini bisa disederhanakan lagi atau dikembangkan lagi, tergantung waktu dan budget yang kita punya.</p>
<p>Untuk acara putri saya ini persiapannya cukup lama karena saya bekerja, jadi untuk membuat segala pernak pernik tentunya harus disempatkan disela-sela kesibukan saya. Belum lagi, Nasya selalu ingin ikutan, tetapi semua itu jauh lebih bermakna untuk saya dan keluarga.</p>
<p>Semoga artikel ini dapat memberikan inspirasi yaa buat moms semua, tanpa pesta pun, anak akan selalu mengenang perhatian dari ibunya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://theurbanmama.com/articles/ide-pesta-ulang-tahun-di-rumah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mempersiapkan Batita Tampil di Pentas Seni</title>
		<link>http://theurbanmama.com/articles/mempersiapkan-batita-tampil-di-pentas-seni.html</link>
		<comments>http://theurbanmama.com/articles/mempersiapkan-batita-tampil-di-pentas-seni.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 May 2013 17:01:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Shinta Daniel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Activities]]></category>
		<category><![CDATA[Pre-School]]></category>
		<category><![CDATA[Menari]]></category>
		<category><![CDATA[Menyanyi]]></category>
		<category><![CDATA[Pentas seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://theurbanmama.com/?p=84286</guid>
		<description><![CDATA[Bagi saya, mempersiapkan anak (batita) untuk ikut pentas seni dan tampil di muka umum membutuhkan trik dan strategi khusus supaya anak berani, percaya diri, dan menikmati penampilannya di atas panggung. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi saya, mempersiapkan anak (<a href="http://theurbanmama.com/forum/forum4-toddler.html" target="_blank">batita</a>) untuk ikut pentas seni dan tampil di muka umum membutuhkan trik dan strategi khusus supaya anak berani, percaya diri, dan menikmati penampilannya di atas panggung. Sebagai orangtua, sampai saat ini saya saja masih sering grogi dan demam panggung untuk tampil di muka umum, jadi sangat wajar bila hal ini terjadi pada anak-anak.</p>
<p>Baron pertama kali naik ke atas panggung saat berusia 19 bulan dalam acara <em>year end performance</em> di <em>preschool</em>-nya. Menari bersama saya, teman-teman, dan ibu-ibu lainnya. Pada saat itu, penampilan berjalan lancar, anak-anak sangat <em>enjoy</em> mengikuti gerakan dan irama dari gurunya dengan gaya mereka sendiri karena ada ibu bersama mereka. Hanya ada 1 anak yang menangis sejak naik ke atas panggung dan akhirnya tidak ikut menari.</p>
<p><img class="wp-image-84361 alignnone" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/IMG_1055edit-300x500.jpg" alt="" width="230" height="384" /></p>
<p>Pada saat Baron akan tampil menari lagi untuk kedua dan ketiga kalinya di awal usia 2 tahun, saya cukup percaya diri kalau dia akan tampil maksimal sendiri, karena di rumah Baron suka ikut menyanyi dan menari kalau mendengarkan lagu, begitu juga pada saat latihan di sekolah. Tapi ternyata pada saat hari H, Baron dan beberapa temannya hanya berdiri diam di atas panggung, tidak mengikuti gerakan guru dan teman lainnya, bingung melihat banyaknya penonton dan bahkan menangis saat melihat saya dan pengasuhnya. Istilah saya, jago kandang.</p>
<p>Teman-teman lain yang sudah lebih mandiri dan percaya diri, dapat dengan mudah mengikuti instruksi dari Bu guru dan sangat <em>enjoy</em> menyanyi dan menari di atas panggung.</p>
<p>Prediksi saya, hal ini terjadi karena pada saat itu Baron masih dalam tahap adaptasi di lingkungan baru (baru saja naik kelas), baru mulai belajar mandiri dengan tidak ditemani pengasuhnya baik di dalam kelas maupun aktivitas lain di sekolahnya dan sudah mulai ada <em>self awareness</em> sehingga timbul rasa tidak aman dan nyaman pada saat tampil di muka umum.</p>
<p>Pada saat Baron akan tampil lagi beberapa waktu yang lalu (usia 2 tahun 7 bulan), saya mulai mempersiapkan fisik, mental dan kemampuan Baron menyanyi dan menari sejak seminggu sebelumnya.  <em>Surprisingly</em>, pada acara kali ini Baron diberi kepercayaan untuk menyanyi oleh gurunya padahal dia masih belum fasih bicara tapi sudah ada <em>willingness</em> untuk meniru kata-kata dalam lagu. Setiap hari saya <em>hypnosinging</em> dengan lagu yang akan dinyanyikan &#8220;Two Little Ducks&#8221;. Ada kalanya dia ikut menyanyi, tapi kalau sudah bosan, keluar kata-kata sakti &#8220;auk auk&#8221; (gak mau).</p>
<p>Saya tidak pasang target apa pun untuk penampilan kali ini. <em>Just go with the flow, I let him do as his best</em> <em>and enjoy his performance.</em></p>
<p>Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Seperti penampilan sebelumnya, ada beberapa anak yang sangat luwes menari dan pintar menyanyi (dengan gaya mereka sendiri), ada beberapa anak yang hanya berdiri diam di atas panggung dari awal sampai akhir acara, sama sekali tidak tertarik ikut goyang/loncat-loncat bersama teman lainnya. Termasuk Baron.</p>
<p>Malah Baron sempat menolak untuk menyanyi, menaruh mikrofon di lantai dan jalan sendiri balik ke belakang panggung, yang membuat gurunya harus menggendong dia kembali ke atas panggung sampai dua kali. Alhamdulillah, penampilan kali ini Baron tidak menangis.</p>
<p><img class=" wp-image-84362 alignnone" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/IMG_1079edit-620x283.jpg" alt="" width="558" height="255" /></p>
<p>Dari pengalaman tersebut, saya ingin berbagi kepada Urban Mama tips-tips mempersiapkan anak (batita) untuk tampil di acara pentas seni:</p>
<ol>
<li>Kenali karakter anak. Apabila anak sudah mempunyai rasa percaya diri dan kemandirian yang cukup tinggi, lebih mudah bagi orang tua untuk memberikan arahan. Apabila anak masih dalam tahap adaptasi dengan lingkungan baru dan tidak biasa tampil di muka umum, perlu waktu yang cukup untuk latihan di rumah misalnya di depan anggota keluarga lain (eyang, tante, om) atau  tetangga. Kalau bisa buat panggung buatan di rumah.</li>
<li>Melakukan <a href="http://theurbanmama.com/forum/topic602-hypnoparenting.html" target="_blank"><em>hypnotherapy</em> </a>mengenai rencana penampilan anak setiap saat berinteraksi, lebih efektif pada saat sebelum tidur. Misalnya <em>bedtime singing</em> lagu yang akan dinyanyikan, menceritakan serunya menari di atas panggung, menonton acara tari dan nyanyi anak di televisi atau menonton DVD acara pentas seni sebelumnya dll.</li>
<li>Rajin ikut latihan dengan teman-teman di sekolah, terutama pada saat Gladi Resik.</li>
<li>Pastikan kenyamanan anak pada saat fitting baju/kostum karena hal ini akan berpengaruh mood dan percaya diri anak. Pengalaman saya, Baron kurang nyaman dengan kostum Donald Ducknya karena gatal, panas, topinya kesempitan dan tidak bisa dikaitkan ke dagu, sehingga pada saat sebelum acara dia sedikit ngambek tidak mau pakai kostumnya.</li>
<li>Jaga kesehatan anak menjelang dan sepanjang acara. Pastikan anak sudah cukup tidur, makan dan minum sebelum acara dimulai dan bikin <em>mood</em> anak senang dan gembira sampai acara selesai.</li>
<li>Pada saat acara dimulai, datang beberapa jam sebelumnya supaya anak punya waktu cukup untuk beradaptasi dengan lokasi, suasana dan orang-orang di sekitarnya.</li>
<li>Jangan paksa anak untuk tampil apabila memang tidak mau. Ikuti kemauannya tapi tetap libatkan dan biarkan menonton selama acara berlangsung. Biasanya lama kelamaan akan muncul keinginan dan kemauan untuk tampil bersama teman-temannya.</li>
<li>Bila perlu dan diperkenankan, dampingi anak selama di atas panggung atau ditemani dari balik panggung.</li>
<li>Beri pujian atas prestasinya di atas panggung, sekecil apapun.</li>
<li>Jangan bandingkan dengan penampilan teman yang lebih pintar. Beri pengertian atas kemajuan dengan penampilan dia sebelumnya.</li>
<li><em>Enjoy the show</em></li>
</ol>
<p>Demikian pengalaman saya mengikuti pentas seni anak. Mudah-mudahan di penampilan berikutnya lebih baik lagi. Kalau ada Urban Mama yang mempunyai tips lainnya bisa ikut berbagi bersama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://theurbanmama.com/articles/mempersiapkan-batita-tampil-di-pentas-seni.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolu Labu Kuning</title>
		<link>http://theurbanmama.com/articles/bolu-labu-kuning.html</link>
		<comments>http://theurbanmama.com/articles/bolu-labu-kuning.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 May 2013 17:01:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mama Kinan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makanan Pendamping ASI/Susu]]></category>
		<category><![CDATA[Recipes]]></category>
		<category><![CDATA[Snacks]]></category>
		<category><![CDATA[kue]]></category>
		<category><![CDATA[Labu kuning]]></category>
		<category><![CDATA[pumpkin]]></category>
		<category><![CDATA[waluh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://theurbanmama.com/?p=80925</guid>
		<description><![CDATA[Saat persiapan MPASI Kinan, saya mulai banyak membaca-baca tentang berbagai bahan makanan dan gizi bagi bayi dan balita. Salah satu bahan makanan yang banyak direkomendasikan adalah labu kuning.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat persiapan MPASI Kinan, saya mulai banyak membaca-baca tentang berbagai bahan makanan dan gizi bagi bayi dan balita. Beruntung sekarang ini saya bisa banyak mendapatkan informasi dari internet, salah satunya dari <a href="http://theurbanmama.com/forum/topic125-mpasimpasu-makanan-pendamping-asisusu.html" target="_blank">sini</a>. Salah satu bahan makanan yang banyak direkomendasikan adalah labu kuning (atau waluh, pumpkin, dan labu kuning jepang atau kabocha). Kalau dulu di tempat orangtua saya tinggal, labu kuning hanya muncul pada saat bulan puasa untuk dikolak. Pada hari-hari lain labu kuning ini jarang muncul di pasar.</p>
<p>Ibu saya sempat bertanya-tanya, mengapa cucunya diberi makan labu kuning. Dari situ saya berusaha mencaritahu lebih lanjut. Setelah saya baca dari berbagai sumber, ternyata nilai gizi dan manfaat labu kuning sangatlah besar. Warna oranye pada labu kuning menandakan kandungan beta karoten yang cukup tinggi. Labu kuning juga sumber vitamin C dan kalsium yang baik. Selain itu labu kuning rendah lemak, rendah kalori dan tinggi serat.</p>
<p>Beruntung karena saya tinggal di Pulau Bintan, labu kuning sangat mudah didapat. Selain hanya dikukus atau dipanggang untuk diberikan kepada Kinan sebagai camilan, saya juga mencoba berbagai macam resep olahan makanan dari labu kuning. Diantaranya, membuat puding labu kuning, kolak labu kuning, dan pancake labu kuning.</p>
<div class="mceTemp" style="text-align: center;">
<p><img class=" wp-image-81074 alignnone" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/02/kinan-menikmati-puding-labu-kuning-1-620x193.jpg" alt="Kinan   menikmati puding labu kuning" width="476" height="148" /></p>
<p style="text-align: left;">Salah satu resep yang saya coba adalah bolu labu kuning, yang saya ambil sumbernya dari <a href="http://dapurumiroos.blogspot.com/2011/08/resep-cake-tape-labu-kuning.html" target="_blank">sini</a>, dengan sedikit modifikasi.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Bahan:</strong></p>
<ul style="text-align: left;">
<li>150 gr margarin dicairkan</li>
<li>125 gr gula pasir</li>
<li>150 gr labu kuning kukus, dihaluskan</li>
<li>4 atau 5 btr telur</li>
<li>180 gr tepung terigu</li>
<li> 1/2 sdt baking powder</li>
</ul>
<p style="text-align: left;"><strong>Cara membuat:</strong></p>
<ol style="text-align: left;">
<li>Kocok telur ada gula dengan mikser sampai mengembang dan berbuih, kurang lebih 15 menit.</li>
<li>Masukan margarin cair yang sudah dingin, aduk rata dengan mikser dengan kecepatan rendah.</li>
<li>Tambahkan tepung terigu, dan baking powder sambil diayak dan diaduk rata. Masukkan labu kuning yang telah dihaluskan dengan spatula, aduk hingga merata.</li>
<li>Tuang adonan ke dalam cetakan cetakan yang dioles margarin. Panggang selama 45 menit dengan suhu 160 derajat Celcius.</li>
</ol>
<p style="text-align: left;"><img class="size-large wp-image-81083 alignnone" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/02/bolu-panggang-labu-kuning-ala-mama-kinan-3-620x205.jpg" alt="bolu panggang labu kuning ala mama kinan" width="620" height="205" /></p>
<p style="text-align: left;">Ternyata cukup mudah membuatnya dan yang terpenting bagi saya adalah Kinan menyukainya. Selamat mencoba!</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://theurbanmama.com/articles/bolu-labu-kuning.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perhatian si Kecil</title>
		<link>http://theurbanmama.com/articles/perhatian-si-kecil.html</link>
		<comments>http://theurbanmama.com/articles/perhatian-si-kecil.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 May 2013 17:01:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yuritza Rahmawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Children]]></category>
		<category><![CDATA[Dads]]></category>
		<category><![CDATA[Moms]]></category>
		<category><![CDATA[Our Stories]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://theurbanmama.com/?p=84117</guid>
		<description><![CDATA[Rasanya senang sekali ketika tahu ternyata orang yang kita pikirkan juga memikirkan kita. Perhatian si kecil selalu menjadi penambah semangat saya. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu pagi jelang siang, di ruang keluarga, sambil nonton TV dan memangku Habibi:</p>
<p><a href="http://theurbanmama.com/articles/perhatian-si-kecil.html/bie-and-mama" rel="attachment wp-att-84118"><img class="aligncenter size-large wp-image-84118" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/Bie-and-mama-496x500.jpg" alt="" width="496" height="500" /></a></p>
<p>Mama: Mama sayang Habibi! Habibi sayang Mama, gak?<br />
Habibi: Sayaaang&#8230;. (dengan suara manjanya)<br />
Mama: Sayang banget atau sayang saja? (tanya menggoda)<br />
Habibi: Sayang banget!!<br />
Mama: Horeeee !!</p>
<p>Senang sekali kalau rasa sayang dan perhatian kita mendapat balasan yang sama dari anak. Saya dan Habibi termasuk jarang sekali berpisah jauh dan dalam waktu lama. Jadi, sekalinya berjauhan, rasanya pasti sangat kangen dan kalau sudah ketemu rasanya antusias sekali.</p>
<p>Jika kebetulan saya harus pergi untuk waktu agak lama dan tidak bisa mengajaknya, biasanya Habibi akan dititipkan pada Ibu Mertua atau Kakak Ipar. Saat saya kembali untuk menjemput Habibi, Kakak bercerita kalau tadi Habibi diajak ke supermarket dan memilih lebih dari satu makanan. Ternyata yang satu lagi akan diberikannya pada saya. Ketika saya harus mengikuti pelatihan di akhir pekan, dari luar rumah sudah terdengar suara Habibi menanyakan saya. Saat saya masuk rumah, Habibi langsung menyambut saya dan menghujani saya dengan banyak pertanyaan dan cerita.</p>
<p>Rasanya senang sekali ketika tahu ternyata orang yang kita pikirkan juga memikirkan kita. Perhatian si kecil selalu menjadi penambah semangat saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://theurbanmama.com/articles/perhatian-si-kecil.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Time Together Play Book &#8211; Kodomo Challenge</title>
		<link>http://theurbanmama.com/articles/time-together-play-book-kodomo-challenge.html</link>
		<comments>http://theurbanmama.com/articles/time-together-play-book-kodomo-challenge.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 May 2013 17:01:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>~Anthie Arvianto~</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dads]]></category>
		<category><![CDATA[Moms]]></category>
		<category><![CDATA[Pre-School]]></category>
		<category><![CDATA[Product Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Toddler]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[benesse]]></category>
		<category><![CDATA[bermain]]></category>
		<category><![CDATA[educational toys]]></category>
		<category><![CDATA[kodomo challenge]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://theurbanmama.com/?p=83696</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, saya membeli edutoy Time Together Play Book – Kodomo Challenge dari Benesse. Kali ini, temanya bermain dengan bentuk.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi saya, anak seumur Aurel (3,5 tahun) seharusnya lebih banyak bermain daripada belajar. Walaupun Aurel sudah mulai bersekolah, bermain masih menjadi kebutuhan utamanya. Sedikit-sedikit saya masukkan unsur edukasi dalam permainannya. Bukankah anak-anak memang belajar dari bermain?</p>
<p>Beberapa waktu lalu, saya membeli <em>edutoy</em> Time Together Play Book – Kodomo Challenge dari Benesse. Kali ini, temanya bermain dengan bentuk. Satu paket Kodomo Challenge terdiri dari VCD, buku bergambar, mainan Bis Balok, dan boneka tangan Shimajiro.</p>
<p>Tema yang diangkat dalam VCD  Kodomo Challenge serupa dengan buku bergambarnya. Saya menonton terlebih dahulu VCD-nya bersama Aurel. Setelah itu kami mulai bermain Bis Balok. Dengan bermain bis balok, Aurel dapat mengembangkan kemampuan motoriknya. Aurel memang sudah mengenal berbagai macam bentuk, tetapi ia masih bersemangat setiap kali mencocokkan bentuk-bentuk dengan gambarnya. Permainan Bis Balok mengasah anak untuk mengenal 4 macam bentuk sederhana, yaitu bujur sangkar, segitiga, bulat, dan bunga. Anak akan tertantang untuk memasukkan aneka bentuk tersebut ke dalam Bis Balok. Dengan panduan dari buku bergambar, anak dapat lebih mengembangkan imajinasinya.</p>
<p><a href="http://theurbanmama.com/articles/time-together-play-book-kodomo-challenge.html/photo49-2" rel="attachment wp-att-83698"><img class="aligncenter size-large wp-image-83698" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/photo491-375x500.jpg" alt="" width="375" height="500" /></a></p>
<p>Materi dalam buku bergambar sungguh menarik. Ada gambar-gambar  yang ceritanya dapat dikembangkan sendiri. Aurel sendiri paling suka dengan halaman menggosok gigi. Ceritanya bisa dikarang bebas oleh Aurel dengan bantuan Bis Balok dan Shimajiro.</p>
<p>Aurel juga senang sekali bermain dengan Shimajiro, si macan kecil. Dengan boneka tangan Shimajiro, Aurel saya ajari untuk mendongeng. Sekarang, Aurel sudah bisa bercerita sendiri sambil memainkan Shimajiro. Ceritanya bisa datang dari buku bergambar atau bahkan dari imajinasinya sendiri.</p>
<p><a href="http://theurbanmama.com/articles/time-together-play-book-kodomo-challenge.html/framemagic1" rel="attachment wp-att-83699"><img class="aligncenter size-large wp-image-83699" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/FrameMagic1-458x500.jpg" alt="" width="458" height="500" /></a></p>
<p>Saya puas sekali dengan produk dari <a href="http://www.benesse-id.com/welcome" target="_blank">Benesse</a> ini. Seri yang saya miliki adalah Kodomo Challenge untuk <em>toddler</em>. Setelah ini, saya tertarik  mencoba Kodomo Challenge untuk <em>kindergarten</em>. Saya pun tidak ragu untuk merekomendasikan Kodomo Challenge ini ke para orangtua lainnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://theurbanmama.com/articles/time-together-play-book-kodomo-challenge.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Saya Didiagnosis PDD-NOS</title>
		<link>http://theurbanmama.com/articles/anak-saya-didiagnosis-pdd-nos.html</link>
		<comments>http://theurbanmama.com/articles/anak-saya-didiagnosis-pdd-nos.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 May 2013 17:01:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>catluna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Our Stories]]></category>
		<category><![CDATA[Special Needs]]></category>
		<category><![CDATA[Toddler]]></category>
		<category><![CDATA[autism]]></category>
		<category><![CDATA[autisme]]></category>
		<category><![CDATA[PDD-NOS]]></category>
		<category><![CDATA[sensory integration]]></category>
		<category><![CDATA[special needs]]></category>
		<category><![CDATA[terapi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://theurbanmama.com/?p=84046</guid>
		<description><![CDATA[Dahi saya berkerut saat membaca diagnosis Remy di surat rujukan dari DSA ahli saraf anak. PDD-NOS? Apa itu? ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-84265" title="157475896" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/157475896.jpg" alt="" width="488" height="351" /></p>
<p><em>image credit: www.gettyimages.com</em></p>
<p>Dahi saya berkerut saat membaca diagnosis Remy di surat rujukan dari DSA ahli saraf anak. PDD-NOS? Apa itu? Enam tahun kuliah kedokteran dan 5 tahun praktik jadi dokter umum, saya belum pernah dengar diagnosis itu. Entah saya yang kurang rajin belajar dan kurang banyak baca. Sebelum punya anak, saya memang tidak pernah tertarik dengan Ilmu Kesehatan Anak, apalagi soal tumbuh kembang.</p>
<p>Saat saya masukkan <em>keyword</em> PDD-NOS ke <em>search engine</em>, saya merasa sangat terkejut. PDD-NOS adalah singkatan dari <em>Pervasive developmental disorder not otherwise specified, one of the five autism spectrum disorder. </em>Langsung seketika itu saya ingin menangis. Jadi Remy autisme? Langsung terbayang wajah lucu anak saya. Rasanya tidak percaya karena interaksi sosial Remy tergolong bagus, ia bisa senyum, tertawa, mau dipeluk dan suka memeluk saya/suami/kakek-neneknya.</p>
<p>Saya sudah beberapa kali membawa Remy untuk berkonsultasi dengan DSA karena masalah <a href="http://theurbanmama.com/forum/topic471-perkembangan-bicara-dan-stimulasinya.html" target="_blank">terlambat bicara</a>, sampai ke DSA ahli tumbuh kembang tapi tidak dapat jawaban memuaskan. Malah Remy disuruh tes pendengaran sementara kami yang sehari-hari melihatnya yakin pendengaran Remy tidak ada masalah.</p>
<p><strong>Masalah yang kami observasi dari Remy adalah sebagai berikut:</strong></p>
<ul>
<li>Sampai usianya 18 bulan ini, ia masih belum bisa merespons jika ditanya, &#8220;Mana Bubu? Mana Baba? Mana Nenek?&#8221;</li>
<li>Dipanggil kadang menoleh, kadang tidak.</li>
<li>Belum bisa menunjuk sesuatu yang ia mau. Ia sudah bisa menunjuk tapi <em>pointless</em>, tidak jelas telunjuknya mengarah ke mana.</li>
<li>Belum bisa berkomunikasi pasif (diminta ambil barang belum bisa, belum bisa dimintai sesuatu, misalnya saya minta tolong, &#8220;Remy, Bubu tolong ambilkan remote dong.&#8221; Sambil saya menunjuk ke arah remote. Ia cuek saja.</li>
<li>Belum bisa mengucapkan kata-kata berarti. Ia supercerewet tapi hanya <em>babbling</em> bahasa planet saja.</li>
<li>Masih belum hilang juga kebiasaan memasukan tangan/benda-benda ke mulut.</li>
</ul>
<p>Kontak mata ada. Senyum, ketawa bisa. Memeluk saya/suami/kakek-neneknya juga suka, dadah <em>kissbye</em> sudah bisa walau belum konsisten, salim tangan kalau saya/suami pergi kerja juga bisa walau  kadang mau, kadang tidak. Jika dilarang sudah mengerti, walaupun ia lalu tetap mengerjakan apa yang dilarang (misalnya, Remy suka sekali mengacak-acak tempat sampah di kamar, sudah dibilang &#8220;Tidak boleh!&#8221; sambil saya acungkan jari telunjuk, ia cengir-cengir lalu menjauh dari tempat sampah tapi tidak berapa lama diulangi lagi).</p>
<p>Setelah membaca lebih lanjut, PDD-NOS ternyata masih dikategorikan sebagai <em>mild autism</em> atau <em>atypical autism </em>karena tidak bisa memenuhi semua kriteria <em>autism. </em>Hati saya sedikit lega. Remy dirujuk oleh DSA untuk terapi sensori integrasi di salah satu klinik tumbuh kembang di BSD. Saya sempat membaca sekilas tentang terapi ini di <a href="http://theurbanmama.com/articles/sensory-integration-assessment.html">sini</a> sehingga sudah ada sedikit gambaran.</p>
<p>Sebagai tambahan, saya kutip panduan deteksi dini gangguan SI untuk anak usia 0-2 tahun dari situs Anakku.net (Yang saya tebalkan itu tanda yang ada pada Remy):</p>
<p>Mandi, berpakaian, sentuhan</p>
<ul>
<li><strong>Marah / menangis pada saat memakai atau mengganti popok</strong>.</li>
<li>Hanya suka pada jenis pakaian tertentu, tidak suka dengan tekstur kain tertentu.</li>
<li>Tidak suka/menangis, ketika mandi, keramas dan muka dibasuh/dibersihkan.</li>
<li>Suka memakai baju lengan panjang meskipun hari panas.</li>
<li>Tidak suka jenis permainan yang amburadul (bermain bedak, tepung, air).</li>
<li><strong>Tidak mudah merasa sakit, ketika jatuh, terantuk atau tidak menangis ketika disuntik.</strong></li>
</ul>
<p>Gerakan (movement):</p>
<ul>
<li><strong>Pada tahap perkembangan motorik, anak tidak melalui tahapan merangkak atau tahap merangkaknya pendek.</strong></li>
<li><strong>Tidak bisa diam, banyak gerak, lari-lari</strong>, lompat-lompat, berayun.</li>
<li>Tidak suka/menangis, ketika diayun.</li>
<li>Mudah jatuh, kikuk, keseimbangan tubuh kurang bagus, mudah jatuh, sering menabrak benda (setelah usia 1 tahun).</li>
<li>Takut atau ragu-ragu bergerak di permukaan yang tidak rata atau takut bergerak pada permukaan yang tidak sama (misalnya dari lantai keramik ke karpet).</li>
</ul>
<p>Pendengaran, Bahasa dan Suara:</p>
<ul>
<li>Tidak suka/menghindar dari bunyi-bunyian tertentu (musik, vacuum cleaner, hair dryer, flushing toilet).</li>
<li><strong>Organ pendengaran normal tapi ketika dipanggil namanya, anak tidak merespons/menoleh.</strong></li>
<li>Tidak ada/ sedikit fase mengoceh (babbling).</li>
<li><strong>Sangat mudah terganggu/beralih perhatian pada suara tertentu (suara iklan TV).</strong></li>
<li>Sensitif pada sinar terang (kilat foto, matahari).</li>
<li>Menghindari kontak mata.</li>
<li><strong>Sulit untuk memusatkan perhatian pada satu benda/permainan.</strong></li>
<li>Takut atau sebaliknya sangat suka pada pola-pola tertentu.</li>
</ul>
<p>Kemampuan bermain:</p>
<ul>
<li>Tidak bisa melakukan permainan meniru (usia lebih dari 10 bulan).</li>
<li><strong>Tidak bisa diam, bergerak terus dan tidak dapat melakukan permainan yang bermakna (lebih dari 15 bulan).</strong></li>
<li><strong>Sering merusak barang (melempar, membanting)</strong></li>
<li>Asyik dengan satu permainan dan dilakukan berulang-ulang.</li>
</ul>
<p>Emotional attachment:</p>
<ul>
<li>Lebih suka bermain dengan benda/mainan daripada dengan orang.</li>
<li><strong>Tidak ada komunikasi dua arah (hubungan timbal balik antara antara anak dengan orang tua/pengasuh).</strong></li>
<li><strong>Menyakiti diri sendiri dan orang lain (membenturkan kepala</strong>, memukul, menggigit, menjambak).</li>
<li>Tidak mencari kedekatan dengan orangtua atau pengasuh.</li>
<li><strong>Semua orang yang berada di sekitar anak, sering kali tidak tahu keinginan anak.</strong></li>
</ul>
<p>Perhatian (attention):</p>
<ul>
<li><strong>Mudah beralih perhatian, sulit untuk fokus pada satu kegiatan/permainan.</strong></li>
<li><strong>Terlalu fokus pada satu kegiatan/permainan (acara TV, iklan TV, roda berputar, dan lainnya).</strong></li>
</ul>
<p>Pola tidur dan makan:</p>
<ul>
<li><strong>Sulit untuk memulai tidur. Perlu cara khusus untuk menidurkan anak, misalnya harus diayun-ayun, naik mobil, digendong sambil berjalan.</strong></li>
<li>Mengalami kesulitan dalam menyedot, mengunyah, dan menelan makanan.</li>
<li>Tidak dapat menahan air liur atau ngiler yang terlalu berlebihan.</li>
<li>Hanya suka pada jenis makanan tertentu, tidak mau mencoba makanan baru.</li>
</ul>
<p>Jika ada tanda-tanda di atas yang Mama lihat pada buah hati, segeralah konsultasi ke klinik tumbuh kembang. Apakah ada Mama yang memiliki masalah yang sama dengan saya? Sharing yuk karena saya masih cemas dan khawatir tentang perkembangan Remy nanti. Untuk jadwal terapi pun masih <em>waiting list</em>. Tolong didoakan ya&#8230; Semoga nanti terapinya lancar dan perkembangannya pesat&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://theurbanmama.com/articles/anak-saya-didiagnosis-pdd-nos.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mitos ASI dan Menyusui (1)</title>
		<link>http://theurbanmama.com/articles/mitos-asi-dan-menyusui-1.html</link>
		<comments>http://theurbanmama.com/articles/mitos-asi-dan-menyusui-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 May 2013 17:01:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sarahanief</dc:creator>
				<category><![CDATA[Breastfeeding]]></category>
		<category><![CDATA[Dads]]></category>
		<category><![CDATA[Expert Explains]]></category>
		<category><![CDATA[Moms]]></category>
		<category><![CDATA[Support Group]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[breastfeeding]]></category>
		<category><![CDATA[oksitosin]]></category>
		<category><![CDATA[prolaktin]]></category>
		<category><![CDATA[sarah audia hasna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://theurbanmama.com/?p=84229</guid>
		<description><![CDATA[Banyak sekali mitos-mitos yang beredar di masyarakat mengenai ASI dan menyusui. Apa saja? Di artikel ini saya akan memaparkannya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak sekali mitos-mitos yang beredar di masyarakat mengenai ASI dan menyusui. Mitos ini dapat memberikan pemahaman yang keliru kepada mama, papa, dan keluarga mengenai ASI dan menyusui sehingga dapat mempengaruhi kelancaran proses menyusui. Itulah mengapa pentingnya untuk para calon ibu, calon ayah dan keluarga (nenek dan kakek bayi) mengetahui sejak dini informasi mengenai ASI dan menyusui dari sumber terpercaya seperti konsultasi langsung dengan konselor menyusui, aktif di forum-forum ibu menyusui. </p>
<p>Informasi yang cukup akan menjadi bekal dalam menghadapi beberapa mitos ASI yang sering mengganggu. Dari sekian banyak mitos tentang ASI dan menyusui, saya sebutkan 20 diantaranya yang sering muncul sebagai pertanyaan para mama, papa, dan keluarga. Namun di artikel hari ini, saya akan memaparkan 10 dulu dan kelanjutannya di artikel yang akan datang.<br />
<br />
1.<strong>	Mitos</strong>: Ibu hamil trimester 3 yang sudah mengeluarkan sedikit sekali kolostrum akan mempengaruhi kelancaran menyusui di awal-awal kelahiran. Jika belum keluar saat hamil berarti kemungkinan besar ASI belum keluar di 3 hari pertama kelahiran.</p>
<p><strong>Penjelasan</strong>: Hormon penting ASI yaitu prolaktin dan oksitosin mulai terangsang saat kehamilan 20 minggu, akan tetapi 2 hormon ini belum aktif dan siap menyusui karena masih kuatnya efek penghambatan dari hormon kehamilan. Seiring dengan bertambahnya usia kehamilan, pada beberapa ibu ada yang keluar sedikit atau “bocor kolostrum” ada juga yang tidak. Hal ini normal dan tidak dapat dijadikan patokan keluar tidaknya ASI di hari-hari pertama bayi lahir. Rangsangan alamiah paling besar untuk mengeluarkan ASI di awal-awal adalah begitu bayi lahir langsung dilakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini) minimal 1 jam dilanjutkan rawat gabung dan bayi dibimbing menyusu dengan posisi dan perlekatan yang benar. Jadi tidak ada hubungannya keluarnya ASI saat hamil dengan kelancaran menyusui kedepannya.</p>
<p>2.	<strong>Mitos</strong>: ASI “belum keluar” di 3 hari pertama kelahiran daripada bayi kelaparan  lebih baik sementara diberikan dulu susu formula.</p>
<p><strong>Penjelasan</strong>: Kali ini saya bicara bayi sehat dan cukup bulan. Ukuran lambung bayi baru lahir usia 0-3 hari kira-kira sebesar kelereng kecil dengan kapasitas kurang lebih 6-7 cc. Ingat ASI dihasilkan sesuai kebutuhan bayi, saat ini bayi kebutuhan bayi belum banyak. Begitu ibu melahirkan, 2 hormon penting yaitu prolaktin dan oksitosin mulai berganti peran dengan hormone kehamilan, daya penghambatan dari hormone kehamilan merosot  tajam akan tetapi masih ada sedikit yang tersisa di peredaran darah sampai 3 hari sehingga prolaktin dan oksitosin belum sepenuhnya bekerja secara bebas. Wajar saja ASI masih sedikit. Saya kurang setuju dengan paham ASI belum keluar, ASI sudah keluar hanya saja karena jumlahnya yang masih sedikit (kolostrum adalah ASI pertama yang keluar) kita sering menganggap tidak keluar. Mengapa tidak perlu khawatir? Bayi baru lahir sudah dibekali cadangan energi dari lemak coklat yang ditransfer saat masih dalam rahim, sehingga bayi sebenarnya kuat tidak minum apapun selain ASI selama 72 jam. Akan tetapi rangsangan tetap penting, lakukan IMD lanjutkan rawat gabung dan bombing bayi untuk menyusu dengan posisi dan perlekatan yang baik. Jika bayi sehat diberikan cairan tambahan padahal tidak ada indikasi medis, bisa saja mengganggu sinyal  alamiah produksi dan suplai ASI ke otak ibu.</p>
<p>3.	<strong>Mitos</strong>: Wajar saja puting nyeri saat sedang menyusui.<br />
<strong>Penjelasan</strong>: Jika setiap menyusui ibu mengalami nyeri pada puting itu berarti bayi belum melekat dengan benar ketika menyusu. Perlekatan yang benar tidak akan menyebabkan nyeri pada putting. Jika ini berkelanjutan dapat menyebabkan ibu menjadi trauma menyusui karena rasa sait itu. Segera belajar cara memposisikan bayi agar menyusu dengan perlekatan yang baik, minta bantuan konselor laktasi.Jika lecet sudah terjadi, dapat diberikan salep anti lecet yang bisa diresepkan oleh dokter konselor laktasi. Ini masalah perlekatan.</p>
<p>4.	<strong>Mitos</strong>: Produksi ASI ditentukan oleh seberapa banyak hasil perahan ASI.<br />
<strong>Penjelasan</strong>: Ingat proses demand  dan supplay. ASI dihasilkan sesuai dengan permintaan bayi. Jika bayi menyusu langsung dengan posisi dan perlekatan yang baik, rangsangan produksi dan suplai ASI ke tubuh ibu juga kuat sehingga ASI yang dikeluarkan sesuai kebutuhan bayi. Hasil ASI perah tidak dapat dijadikan tolok ukur kemampuan ibu menghasilkan ASI, banyak faktor yang dapat mempengaruhi seperti stress, rasa sakit, bayi yang tidak menyusu langsung. Berapapun hasil perahan ASI sangat berharga untuk bayi kita, teruskan menyusui.</p>
<p>5.	<strong>Mitos</strong>: bayi menyusu harus langsung di 2 payudara karena yang sebelah kanan itu makanan, payudara kiri minumannya supaya bayi kenyang.<br />
<strong>Penjelasan</strong>: bayi yang paling tahu kapan dia lapar dan kapan dia kenyang, kita ikuti saja kemauan bayi, hindari memaksakan bayi untuk nyusu langsung 1 sesi di 2 payudara. Awasi tanda-tanda bayi kenyang, dia akan melepaskan sendiri payudara dan tidur nyenyak atau cenderung mengempeng di akhir sesi menyusu, ketika dilepaskan pelan-pelan dengan ujung kelingking mama bayi terlihat terlelap. Jika bayi bangun dan minta menyusu lagi, berikan saja. Prinsipnya ikuti kemauan bayi.</p>
<p>6.	<strong>Mitos</strong>: bayi harus menyusu 2 jam sekali.<br />
<strong>Penjelasan</strong>: bayi menyusu tidak dijadwal, ada kalanya dia sedang mengalami periode growth spurt sehingga menyusu lebih sering bisa setengah jam atau sejam sekali, ikuti saja kemauan bayi. Akan tetapi apabila bayi tidur lebih dari 3 jam (biasanya bayi baru lahir yang cenderung sering tidur) perlu kita rangsang untuk menyusu. Konsultasikan lebih lanjut dengan konselor laktasi</p>
<p>7.	<strong>Mitos</strong>: Stress menyebabkan ASI berhenti.<br />
<strong>Penjelasan</strong>: stress memang  bisa menurunkan kerja oksitosin sehingga pasokan ASI berkurang, akan tetapi bisa mama segera cari penyebab dan konsultasi lebih lanjut sehingga didapatkan solusi, pasokan ASI akan kembali seperti sebelumnya. Berhenti menyusui selama 40 hari lebih yang bisa menyebabkan ASI berhenti karena tidak ada rangsangan pengosongan payudara.</p>
<p>8.	<strong>Mitos</strong>: Bayi 0-6 bulan butuh air putih ketika cuaca panas.<br />
<strong>Penjelasan</strong>: ASI saja sudah mengandung air, air putih tidak diperlukan. Higienitas air putih perlu diperhatikan, sudah cukup ASI satu-satunya yang dibutuhkan bayi.</p>
<p>9.	<strong>Mitos</strong>: Ibu yang terkena penyakit infeksi harus berhenti sementara menyusui, takut bayi tertular.<br />
<strong>Penjelasan</strong>: justru dari ASI, bayi akan mendapat perlindungan terhadap infeksi yang diderita ibu. ASI mengandung sel-sel pertahanan tubuh, antibody yang dibutuhkan bayi untuk meningkatkan imunitasnya. Bayi yang sudah tertular jika tetap menyusu akan membantu mempercepat penyembuhannya.</p>
<p>10.	<strong>Mitos</strong>: bayi yang diare membutuhkan air atau susu formula khusus, ASI sebaiknya dihentikan dulu.<br />
<strong>Penjelasan</strong>: ASI justru sangat dibutuhkan bayi ketika diare, dapat digunakan sebagai terapi pengganti cairan untuk mencegah dehidrasi berkelanjutan. Susu formula khusus jika pada special case misalnya kasus kelainan metabolik.</p>
<p>Nah, demikian 10 mitos ASI dan Menyusui. Minggu depan akan saya paparkan lagi 10 mitos selanjutnya.</p>
<p>Happy breastfeeding! :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://theurbanmama.com/articles/mitos-asi-dan-menyusui-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Katering Ibu Hamil</title>
		<link>http://theurbanmama.com/articles/katering-ibu-hamil.html</link>
		<comments>http://theurbanmama.com/articles/katering-ibu-hamil.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 May 2013 17:01:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian Arsita Kurniawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Moms]]></category>
		<category><![CDATA[Pregnancy]]></category>
		<category><![CDATA[Product Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[hamil]]></category>
		<category><![CDATA[katering]]></category>
		<category><![CDATA[katering bunda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://theurbanmama.com/?p=84207</guid>
		<description><![CDATA[Katering Bunda menyiapkan makanan yang cocok bagi ibu hamil yang sibuk bekerja atau ibu hamil yang masih harus mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada awal kehamilan saya mengalami<a href=" http://theurbanmama.com/forum/topic50-morning-sickness.html" target="_blank"> <em>morning sickness</em></a> yang hebat yang membuat saya untuk susah beraktivitas secara normal. Rasanya selalu mual sehingga nafsu makan pun menurun. Sebenarnya bukan <em>morning sickness</em> karena rasa mual itu bukan hanya datang di pagi hari tapi hampir sepanjang hari.</p>
<p>Saya sempat khawatir dengan kondisi seperti ini, tetapi setelah berkonsultasi dengan dokter ternyata hal itu masih termasuk normal. Namun saya disarankan untuk tetap memperhatikan gizi dan nutrisi selama kehamilan. Saya harus mendapatkan gizi dan nutrisi yang seimbang, pengaturan gizi dan pola makan yang sehat untuk kesehatan janin yang saya kandung.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-84209" title="Food for a balanced diet in the form of circle. Isolated on white" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/flash_1.jpg" alt="" width="620" height="370" /></p>
<p>Kejadian mual ini berlangsung hingga kehamilan trisemester kedua bahkan ketiga, walaupun frekuensinya sudah mulai menurun. Saya mulai kewalahan untuk memasak dan menyiapkan makanan, apalagi sehari-hari saya masih harus bekerja. Akhirnya saya bertanya-tanya dan mencari-cari jasa katering yang cocok untuk ibu hamil. Tak sengaja saya menemukan <a href=" http://kateringbunda.com/" target="_blank">Katering Bunda</a>. Paket yang ditawarkan ada macam-macam, mulai paket 5 hari untuk makan siang, 5 hari untuk makan siang dan malam, 20 hari untuk makan siang dan 20 hari untuk makan siang dan malam.</p>
<p>Awalnya saya mulai mencoba paket 5 hari untuk makan siang saja, katering dikirim ke kantor pada siang hari. Saya merasa cocok dengan menu makanan yang disiapkan, rasanya lezat, porsinya pun pas. Akhirnya saya memesan paket 20 hari makan Siang dan makan malam sebanyak 40 porsi. Katering ini dikirim ke kantor pada siang dan sore hari selama 1 bulan, harganya pun lebih ekonomis.</p>
<p><img title="Board with cut fresh fruits" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/flash_3.jpg" alt="" width="620" height="370" /></p>
<p>Katering Bunda menyiapkan makanan yang cocok bagi ibu hamil yang sibuk bekerja atau ibu hamil yang masih harus mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga. Makanan yang disiapkan sudah mengandung nutrisi yang pas untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ibu hamil. Urban Mama jadi tidak perlu khawatir dan repot mengenai nutrisi yang tepat untuk kehamilan sehingga pertumbuhan janin di dalam kandungan lebih sehat. Rasanya jadi lega, bisa menyantap makanan bergizi setiap hari tanpa harus repot-repot membeli bahan dan memasaknya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://theurbanmama.com/articles/katering-ibu-hamil.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meriah Meski Murah</title>
		<link>http://theurbanmama.com/articles/meriah-meski-murah.html</link>
		<comments>http://theurbanmama.com/articles/meriah-meski-murah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 May 2013 17:01:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arizayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dads]]></category>
		<category><![CDATA[Moms]]></category>
		<category><![CDATA[My Party]]></category>
		<category><![CDATA[Toddler]]></category>
		<category><![CDATA[Do-It-Yourself]]></category>
		<category><![CDATA[finansial]]></category>
		<category><![CDATA[hemat]]></category>
		<category><![CDATA[Ulang Tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://theurbanmama.com/?p=83919</guid>
		<description><![CDATA[Sejak sebelum punya anak, saya sudah punya cita-cita kecil untuk merayakan ulang tahun anak yang pertama sebagai peringatan setahun pertama kami berjuang sebagai ibu dan anak. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak sebelum punya anak, saya sudah punya cita-cita kecil untuk merayakan <a href="http://http://theurbanmama.com/forum/topic236-birthday-gift-party-ideas.html" target="_blank">ulang tahun</a> anak yang pertama sebagai peringatan setahun pertama kami berjuang sebagai ibu dan anak. Tahun pertama kehadiran anak di dunia, sebagaimana diakui oleh banyak, merupakan <em>turning point</em>. Banyak tangis dan tawa, perjuangan, pembelajaran, saling mengenal, satu tahun pertama tidak &#8216;sekadar&#8217; bertambahnya umur anak, tetapi juga mengingatkan sudah satu tahun saya menjadi ibu.</p>
<p>Seperti kebanyakan keluarga muda, tahun pertama kelahiran anak juga berdampak pada kebutuhan <a href="http://theurbanmama.com/finance/planning" target="_blank">finansial</a> yang semakin besar, belum lagi cicilan KPR dan lain-lain yang harus menjadi prioritas utama, membuat saya harus ekstra kreatif untuk menciptakan perayaan ulang tahun sederhana tetapi tetap meriah dan menjadi kenangan yang manis untuk anak saya, Aruna, dan tentu saja untuk saya dan suami.</p>
<p><em>I</em>nilah budget ulang tahun pertama Aruna untuk 25 orang:</p>
<ul>
<li>Balon, lilin, piring kertas, gelas kertas, paper cup, garpu plastik, sedotan Rp200.000,-</li>
<li>Kue ulang tahun Rp200.000,-</li>
<li>Goodie Bags (@10.000) Rp250.000,-</li>
<li>Desain banner dan label (gratis minta tolong teman)</li>
<li>Flag bunting (free printable dari internet)</li>
<li>Digital Print aksesoris pesta (banner, bunting, label dessert table) Rp60.000,-</li>
<li>Jajanan pasar, buah, sirup, jus buah Rp300.000,-</li>
<li>Hiburan: organ dan sound system mini (gratis dari tetangga)</li>
<li>TOTAL BIAYA= Rp 1.010.000</li>
</ul>
<p>Dengan biaya yang terbatas, alhamdulillah acara ulang tahun pertama Aruna berjalan lancar dan meriah pada tanggal 27 April 2013, pukul 16.30 WIB. Sengaja memilih jam saat anak-anak kompleks biasa main setelah mandi sore. Karena acaranya santai, setelah acara inti yang memakan waktu tidak sampai 30 menit, anak-anak lalu main-main di depan rumah. Simple but happy!</p>
<p><em>S</em>aya dalam hati meng-amin-kan semua doa baik yang disampaikan saudara, teman, tetangga agar Aruna menjadi anak yang tumbuh cerdas, sehat, dan bahagia!</p>
<p><a href="http://theurbanmama.com/articles/meriah-meski-murah.html/1-19" rel="attachment wp-att-83925"><img class="alignnone size-full wp-image-83925" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/11.jpg" alt="" width="403" height="403" /></a><a href="http://theurbanmama.com/articles/meriah-meski-murah.html/3-12" rel="attachment wp-att-83926"><img class="alignnone size-full wp-image-83926" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/31.jpg" alt="" width="403" height="403" /></a></p>
<p><a href="http://theurbanmama.com/articles/meriah-meski-murah.html/4-7" rel="attachment wp-att-83927"><img class="alignnone size-full wp-image-83927" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/41.jpg" alt="" width="403" height="403" /></a><a href="http://theurbanmama.com/articles/meriah-meski-murah.html/2-13" rel="attachment wp-att-83928"><img class="alignnone size-full wp-image-83928" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/21.jpg" alt="" width="403" height="403" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://theurbanmama.com/articles/meriah-meski-murah.html/burung-hantu-aruna-2" rel="attachment wp-att-83929"><img class="size-full wp-image-83929 aligncenter" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/burung-hantu-aruna1.jpg" alt="" width="400" height="400" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://theurbanmama.com/articles/meriah-meski-murah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DIY Kitchen Set</title>
		<link>http://theurbanmama.com/articles/diy-kitchen-set.html</link>
		<comments>http://theurbanmama.com/articles/diy-kitchen-set.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 17:01:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yana Saphira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Children]]></category>
		<category><![CDATA[Dads]]></category>
		<category><![CDATA[Do-It-Yourself]]></category>
		<category><![CDATA[Moms]]></category>
		<category><![CDATA[kitchen set]]></category>
		<category><![CDATA[Mainan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://theurbanmama.com/?p=84027</guid>
		<description><![CDATA[Anasya (4 tahun) senang sekali bermain masak-masakan. Setiap melewati toko mainan, matanya tidak bisa lepas dari "dapur-dapur"an atau kitchen set mainan yang harganya cukup mahal.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anasya (4 tahun) senang sekali bermain masak-masakan. Beberapa kali dibelikan boneka atau mainan lainnya, tetap saja ia bermain masak-masakan dengan mainan yang ada, atau barang-barang di rumah yang bisa dia gunakan untuk bermain.</p>
<p>Setiap melewati toko mainan, matanya tidak bisa lepas dari &#8220;dapur-dapur&#8221;an atau kitchen set mainan yang harganya cukup mahal.</p>
<p>Sebagai ibu rasanya selalu dilema setiap kali melihat sesuatu yang diinginkan anaknya, selalu dalam pikiran antara beli atau tidak. Namun saya pikir-pikir kembali harga mainan itu terlalu <a href="http://theurbanmama.com/forum/topic472-mainan-anak-pilih-yg-murah-atau-mahal.html" target="_blank">mahal </a>untuk saya. Anak-anak sendiri belum mengerti merek, yang penting ia akan bermain dengan sesuatu yang dia sukai. Memang beberapa kali saya suka <a href="http://theurbanmama.com/forum/topic412-diy-toys-inspired-by-diy-tum.html" target="_blank">membuat sendiri</a> mainan untuk Anasya.</p>
<p>Sejak kecil memang dia tidak dimanjakan dengan mainan mahal, malah beberapa kali saya membuat sendiri.</p>
<p>Sebelum ini saya pernah membuatkan dapur-dapuran dari kardus  bekas (<em>cardboard</em>) tetapi karena teksturnya yang kurang kokoh dan warnanya yang juga kurang menarik, sementara saya tidak punya banyak waktu untuk mengecat atau menghias menjadi dapur-dapuran yang cukup bagus, sehingga mainan itu pun saya singkirkan. Bukan karena Anaya tidak menyukainya, alhamdulillah ia tetap semangat bermain, tapi saya kasihan karena bangunan dapurnya sebentar-sebentar rubuh.</p>
<p>Saya coba kembali membuat dengan material yang lebih kokoh, berwarna menarik dan tidak mudah hancur jika terkena air, mulailah saya membuat kitchen set untuk anak saya dari bahan Impraboard.</p>
<p>Bahan ini banyak terdapat di toko buku, biasanya tersedia dalam warna hitam, putih, biru tua, kuning terang, merah, cokelat, dan hijau tua.</p>
<p>Untuk bahan-bahan lainnya saya usahakan sebisa mungkin menggunakan benda-benda yang tersedia di rumah, seperti: botol air mineral dan tutupnya, botol bekas sabun mandi adik, hingga kerudung pun saya &#8220;korbankan&#8221;.</p>
<p>Ada pula beberapa item yang akhirnya saya harus beli seperti: corong minyak/air dari plastik yang ukuran besar, stik balon yang berbentuk seperti sedotan besar, styrofoam, dan cat akrilik. Model dapurnya sendiri saya coba googling dengan keyword: carboard kitchen.</p>
<p>Ukuran idealnya memang disesuaikan dengan tinggi anak supaya ia nyaman &#8220;memasaknya&#8221;, tetapi karena keterbatasan ukuran impraboard yang tersedia di toko buku, saya coba modifikasi.</p>
<p>Pembuatannya relatif tidak memakan waktu lama karena impraboard mudah sekali untuk dipotong/dibentuk.</p>
<p><img class="alignnone size-large wp-image-84028" title="kitchen 1" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/kitchen-1-620x465.jpg" alt="" width="620" height="465" /></p>
<p><img class="alignnone size-large wp-image-84029" title="kitchen 2" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/kitchen-2-570x500.jpg" alt="" width="570" height="500" /></p>
<p><img class="alignnone size-large wp-image-84030" title="kitchen 3" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/kitchen-3-620x465.jpg" alt="" width="620" height="465" /></p>
<p><img class="alignnone size-large wp-image-84031" title="kitchen 4" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/kitchen-4-620x465.jpg" alt="" width="620" height="465" /></p>
<p><img class="alignnone size-large wp-image-84032" title="kitchen 5" src="http://theurbanmama.com/pics/2013/05/kitchen-5-620x453.jpg" alt="" width="620" height="453" /></p>
<p>Alhamdulillah Anasya senang sekali dengan dapur barunya, setiap hari ia bisa memasak! Happy mommy, happy kid, happy cooking!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://theurbanmama.com/articles/diy-kitchen-set.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using apc
Database Caching 34/125 queries in 0.067 seconds using apc

Served from: theurbanmama.com @ 2013-05-26 01:55:12 -->