Topic: [JKT - 24 Sep] Brainfit: Mengatasi Masalah Pada Anak Usia Sekolah
Hai mamas,
Akan ada parenting workshop bersama Brainfit dengan tema "Mengatasi Masalah Pada Anak Usia Sekolah".
Detil acaranya:
Tanggal: 24 September 2011
Waktu: 09.00 - 15.00
Venue: Hotel Ciputra, Jakarta Barat - Room Victory 2
Pembicara: Roslina Verauli, M.Psi
Bahasa pengantar: Indonesia
Untuk peserta yang member The Urban Mama akan mendapatkan harga khusus lho!
Untuk umum pendaftaran sebesar Rp. 300.000 per pax, KHUSUS untuk TUM members Rp. 500.000 per couple!
Sekilas Materi:
Anak usia sekolah punya problemanya tersendiri. Bila ayah dan ibu tidak bijak mencermati, masalah yang terkadang minor atau hanya masuk dalam kategori masalah kecil bisa berkembang menjadi masalah yang lebih kompleks dan memengaruhi tumbuh kembang anak dan performanya kelak di segala aspek kehidupan. Sebelum terlambat, mari kenali masalah yang secara umum muncul ketika anak masuk usia sekolah.
Gangguan Konsentrasi & Daya Ingat
Anak dengan gangguan konsentrasi seringkali dicap bodoh, nakal dan
pembangkang. Mereka seringkali tidak dapat duduk tenang dan mengikuti pelajaran ketika kelas berlangsung. Konsentrasi mereka mudah terpecah dan seringkali mengganggu teman sebelahnya dengan mengajak ngobrol atau melakukan tindakan yang memancing konsentrasi temannya itu. Mereka juga mudah lupa dengan sejumlah pelajaran yang dibaca sehingga butuh pengulangan. Saat mengerjakan tugas mereka juga kerap salah memahami instruksi dan lupa akan tugasnya. Tugas-tugas mereka kerapkali tidak selesai sesuai waktu yang telah ditetapkan. Sukar duduk dengan tenang, ceroboh dan terburu-buru. Secara emosional
mereka juga pemarah dan sensitif ketika diberi teguran.
Sayang, anak dengan gangguan konsentrasi kerap menerima label yang keliru dari guru, orang tua, maupun lingkungan sosialnya. Mereka sering dianggap nakal. Mereka dianggap sengaja membuat onar, mengganggu teman, bahkan dianggap suka menentang karena seolah tidak mendengar instruksi atau gagal dalam menyelesaikan tugas-tugas di sekolah. Tak jarang dicap bodoh karena mereka akrab dengan nilai atau prestasi belajar yang rendah.
Gadget dan Problemanya
Anak Anda memiliki telepon genggam sendiri?Atau memiliki Ipod, Ipad, hingga video game pribadi? Bila ya, berapa banyak waktu yang ia habiskan bersama barang-barang teknologi mutakhir pribadinya tersebut?
Anak usia sekolah saat ini dimudahkan oleh kehadiran gadget yang pada
dasarnya merupakan teknologi yang siap memudahkan penggunanya dalam
beraktivitas. Bayangkan, bila anak dapat menyusun sejumlah kegiatan dan
mengerjakan proyek sekolahnya hanya dengan sebuah alat kecil di genggaman. Ia bisa browsing di internet untuk mencari berbagai info yang mendukung berbagai tugas sekolah hingga siap terhibur oleh berbagai permainan video games atau sejumlah lagu pilihan hanya dari sebuah alat yang mini. Mereka juga punya kesempatan untuk terhubung dengan sejumlah teman melalui media jejaring sosial seperti YM (Yahoo Messenger), FB (Facebook), Twitter dan sejenisnya.
Sayang, potensi positif ini tak semua dipahami anak.Penggunaan gadget justru jadi bumerang.Mereka begitu terpusat pada gadget-nya dan menghabiskan hampir separuh harinya hanya untuk ‘bermain-main’ dengan gadget.Akibatnya mereka kehilangan waktu untuk tugas sekolah, bermain dengan teman, menjalin kedekatan dengan orang tua hingga melakukan berbagai kegiatan hobi dan pengembangan fisik.Beberapa anak malah begitu terobsesi dengan sejumlah permainan dalam video game-nya.
Sehingga kehilangan kemampuan memilah antara relitas dan dunia khayal.
Kebanyakan orang tua tak tahu harus bersikap apa. Sebagian yang lain malah sengaja memberi anaknya kesempatan masuk terlalu dalam dengan kehidupan bersama gadget agar tak merepotkan. Tanpa memahami dampaknya di kemudian hari.
Anak tanpa Motivasi
Masalah yang cukup umum dialami anak usia sekolah salah satunya adalah:
Anak tak termotivasi belajar. Mereka memiliki kecerdasan yang baik dan memiliki lingkungan yang kaya akan stimulasi dan fasilitas. Dengan kondisi pendukung yang begitu suportif, hasil yang mereka peroleh di sekolah dan dalam sejumlah kegiatan ekskul atau hobi tak menggambarkan potensi yang mereka punya.
Jangankan memiliki jadwal belajar yang rutin, sejumlah anak bahkan telihat
ogah-ogahan.Tugas-tugas sekolah tak terselesaikan dengan baik dan tak terlihat memiliki semangat belajar. Meski motivasi berprestasi bukan bawaan lahir, motivasi perlu dikembangkan.Untuk menumbuhkan hasrat berprestasi pada anak, orang tua perlu mengenali lebih dulu masalah yang membuat mereka menjadi tak termotivasi, sehingga dapat memberikan penanganan yang tepat.
Untuk mengenali dan mengerti berbagai masalah pada anak usia sekolah
seperti yang terurai di atas, tentu orang tua tak bisa melakukannya sendiri. Dibutuhkan dukungan dari lingkungan dan pemahaman yang memadai tentang berbagai problema anak mulai dari mengenali gejalanya, mencari tahu penyebab, dan cara menanganinya. Pemahaman yang baik mengenai masalah-masalah tersebut dapat membantu mencegah masalah menjadi kompleks dan berdampak besar, terutama dengan tujuan mengoptimalkan pencapaian akademis dan non-akademis anak kelak. Mengenali lebih dulu sehingga kelak dipahami penanganan yang sesuai merupakan langkah yang jauh lebih bijak.
Workshop ini akan menjelaskan dengan lebih detail mengenai penyebab, gejala dan cara penanganan masalah-masalah tersebut di atas.



















.jpg)

















































