Dilema Bunda Bekerja Kantoran
Bangun telat, buru-buru mandi. Abis mandi, pake baju, dandan di kamar mandi supaya ngga perlu nyalain lampu kamar tidur, dan ngga ganggu tidurnya Nara. Eh tiba-tiba saya denger Nara bangun. Suaranya sedih minta dipeluk. Sambil ribet pake baju karena buru-buru (saya udah bilang tadi bangun telat kan?), saya bilang saya akan peluk setelah pake baju. Nara setengah histeris ngomong “Jangan pake baju kantor, pake baju rumah aja, Bunda jangan pergi…” dalem hati saya pengen teriak, “Bunda juga ngga mau ninggalin Nara”.
Ini sama sekali bukan cerita baru sih dan sampe kapanpun dilema Bunda bekerja di luar rumah ngga akan ilang. Asli ya, kalo mau nurutin perasaan, iriii banget sama stay-at-home mums, entah yang full jadi ibu rumah tangga atau kerja dari rumah. They have something that I don’t, spending all day with their kid(s).
Setelah itu komen orang biasanya gini: trus kenapa ngga berenti kerja aja atuh?
Sayangnya, kondisi tiap rumah tangga berbeda (baca: kondisi keuangan). Tiap orang juga punya value, ambisi, nilai dan tujuan hidup yang berbeda yang akhirnya membuat cerita hidup tiap orang berbeda (dan menarik).
Kalo boleh share, pas hamil 3 bulan saya resign dari kantor lama karena pengen jadi stay at home mom. God has a funny sense of humor indeed…tepat sehari setelah ngajuin surat resign, ada pengumuman saya diterima di tempat kerja sekarang. Dilema, karena selama proses rekrutmen di lembaga (prosesnya lumayan lama, sekitar 9 bulanan) ini saya selalu berdoa, “Apabila masuk ke lembaga ini merupakan yang terbaik untuk agamaku, keluargaku dan diriku, maka lancarkanlah jalannya” dan tiba-tiba diterima di saat saya udah bertekad berhenti kerja. Dengan pertimbangan doa tadi, saya takut durhaka karena udah dilancarin jalannya untuk masuk ke lembaga ini kok malah saya tolak… jadi saya merasa mantap bahwa masuk ke lembaga ini adalah sesuatu yang baik.
Konsekuensi saya masuk lembaga ini adalah ada ikatan dinas 3 tahun setelah pengangkatan jadi pegawai, ditambah masa pendidikan 9 bulan (termasuk cuti melahirkan 3 bulan). Ikatan dinas saya baru selesai September 2010. Setelah itu apa saya mau berenti kerja? Sampe saat ini keputusan saya dan Pandu (suami) adalah: saya masih akan kerja setelah ikatan dinas saya berakhir.
Loh bukannya katanya ngiri sama stay at home mum? Katanya pengen menghabiskan 24 jam bersama Nara?
Iya, bayangan menghabiskan 24 jam bersama Nara emang sangat menggiurkan. Alasan saya untuk tetap kerja juga cukup standar kalo ngga mau dibilang klise, yaitu untuk menambah income. Salah satu financial planner pernah bilang, tidak bijak jika istri berhenti kerja kalo penghasilan istri lebih dari 1/3 penghasilan suami+istri. Mungkin ada yang bilang, “Kalo niat banget mah berenti aja, asal bisa hemat pasti cukup kok dengan satu income aja”. Eh tunggu dulu..., ga segampang itu. Kita baru aja beli rumah setelah berhasil ngumpulin DP untuk rumah dan capek ngontrak hampir 4 tahun (geregetan juga bayar uang kontrakannya yang naik 10% tiap tahun). Itu baru DP loh, tentu aja pasangan muda yang bener-bener mulai dari nol kaya kita ngandelin KPR. Belum lagi ada cicilan mobil dan investasi untuk dana pendidikan Nara. Buat biaya-biaya yang saya sebutin barusan aja udah ngabisin setengah income kita berdua. Kebayang kan?
Untuk saat ini, menjadi stay-at-home mom buat saya adalah luxury yang belum bisa saya cicipi. Tapi saya yakin entah itu jadi stay at home mum, working from home mum atau kerja kantoran, semua punya kelebihan masing-masing baik untuk sang ibu maupun anak.
Jadi kalo ditanya apakah saya nyesel memutuskan untuk masuk ke lembaga ini dengan ikatan dinas selama ini, saya ngga nyesel. Tapi ngga boong klo saya bilang bagaimanapun pasti ada bedanya kalau saya full megang Nara (ngga kerja) dengan saya menitipkan Nara ke mbaknya selama saya kerja.
Well, I can’t have it all can I? It’s all part of being a grown up, making choices and deal with the consequences.
gue pernah ada di posisi yang sama. lucky me, bisa jadi FTM :)
ngerti banget saat-saat harus ninggalin anak karena harus ke kantor. duh! ga tega banget. tapi mau gimana lagi. ada konsekuensinya.
tks banget udah berbagi ini yah, meta. kadang2 dulu gue suka kangen lagi balik ke kantor dan kadang2 dulu sebel juga denger temen yg suka bilang, "hah? cuma jadi ibu rumah tangga? di rumah doang?". tapi gue seneng banget bisa bareng2 anak gue 24 jam :)
sekarang saatnya para wanita berpegangan tangan, saling menguatkan dan mendoakan. bukannya saling menyalahkan tentang pilihan hidup.
toh bekerja adalah kewajiban, menunjukkan rasa tanggung jawab kita sama hidup kita. sama pentingnya dengan menjamin kesejahteraan anak. selama pekerjaan kita baik dan halal, mendapat izin suami dan tidak menelantarkan anak2 dan pekerjaan rumah, ya syukuri saja apa yg udah Tuhan kasih :-)
have a very happy working!
S
Membaca n mendalami tulisan mu membuatku sedih pada diri sendiri coz hal ini terjadi jg sama sy..
Tetapi kita punya kenyataan yang harus dihadapi..
Jadi seperti Eka bilang " Syukuri apa yang Allah telah berikan "
Tetap semangat Moms.. Raising N Working :)
-Ferra, Mama Bia-
baca artikel ini, bisa ngebayangin banget gimana beratnya jadi WM & menghadapi situasi pas anak minta bunda-nya ga pergi ngantor... huhuhu.
sabar yah meta :) yang pasti, waktu bareng sama nara itu penuh kualitas. tetap semangat :).
but then.. i guess smua emak2 n emak-to-be di sini sadar,, smua ada trade off-nya,,n insya allah kalo kita berusaha dan berdoa (clichee but true),, all the dreams will come truee,, termasuk get to spend more time with the loved ones..
[b] Alin [/b], jitak aja yang ngomong “hah? cuma jadi ibu rumah tangga? di rumah doang?”. Emangnya dia pikir gampang jadi ibu rumah tangga? Yes, lucky you bisa jadi FTM :)
[b] Eka [/b] thanks ya…setuju untuk saling mendukung dan tidak menyalahkan pilihan kita, apalagi menganggap diri sendiri lebih baik karena menjadi working mom/stay at home mum.
[b] Eryka [/b] iya ya sama banget apalagi urusan bayar cicilan yang menghadang di depan mata, hehe. Kayla juga akan ngerti klo Mamanya kerja untuk dia :) Setuju banget, yang penting adalah mensyukuri apa yang kita punya dan inget lagi bahwa niat kita baik, mau jadi FTM atau working mum.
[b] Ferra [/b] iya :) tetap semangaat…
seneng banget memutuskan ‘curhat’ tentang hal ini karena ternyata banyak yang ngadepin hal yang sama, jadi nambah temen untuk saling dukung :)
[b] Teh Ninit [/b], makasih yaa :) yang jelas klo pulang kantor, pas ketemu Nara langsung ilang deh semua capeknya (capeknya lebih karena ngadepin macet sih, hehehe). Dulu waktu kecil denger Mama ngomong itu ngga ngerti maksudnya “dimana logikanya ketemu anak bisa ngilangin capek”…baru ngerti dan ngerasain setelah punya anak…hihi.
wajar jika mba berat meninggalkan rumah karena sebenarnya wanita memang diciptakan Allah dengan fitrahnya..
"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.."(65:3)
Kewajiban menjalani pekerjaan mba sebagai seorang ibu sebenarnya lebih besar dari pada kewajiban untuk bekerja. tugas para suamilah utk mencari nafkah, sebagai mana firman Allah:
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)."(4:34)
soal income, Insya Allah ga kurang mba, karena Allah sendiri yang menjamin:
"Dan (Allah) memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu."(33:33)
satu lagi,
"Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran."(103:1-3)
^o^semoga berkenan...
every mother have good plan for her kids ^^
sampai sekarang FTM pun masih merupakan luxury bust saya.
kebetulan sahabat sy seorang FTM yang kadang suka iri pgn kerja, dan saya Ibu bekerja yang ngiri pgn ngurus anak, jadi dimana pun posisi kita, rumput tetangga memang selalu lebih hijau hehehe
Dari sini saya berkaca, and count our blessing - mensupport dan mengingatkan sahabat saya betapa beruntungnya dia :) dan sebaliknya selalu mengingatkan diri sendiri betapa beruntungnya saya masih diberikan rezeki oleh Allah.
Lagipula menjadi ibu bekerja tidak berarti kita ibu yang lebih buruk daripada kalo kita diem di rumah kok..
Pada saat saya tidak bekerja, waktu saya sepenuhnya untuk keluarga - work hard, play hard with the child. Saya pun merasa lebih sabar saat mendidik dan bermain dengan Akasyah, I put my whole heart and mind for the moment, karena the time is too precious. Hal yang mungkin kadang saya lupa bila tiap saat bisa ketemu dia ;)
It's not always about quantity, the quality will do just fine insya allah
tapi menurut gue, jadi working mama itu kan bukan berarti kita gak ngurus anak. dulu, sering banget denger nyokap bilang, "biasa deh ibunya kerja, anaknya ga keurus!". nah ini yang jadi cambukan buat gue. sesibuk2nya gue di kantor, gue mesti ngurus anak gue. gue mesti tau dia ngapain aja di rumah, makan sama apa, mandi jam berapa, tidur berapa jam, dll. dan ini lah responsibility kita sebagai working mama. we are blessed with the gift of multitasking and this is exactly how we can apply it.
@marsyalina - terima kasih atas kutipan2nya. cukup mengingatkan kita, tapi juga sebagai orang yang hidup di era sekarang, kita juga mesti keep up kan? dan selama suami memperbolehkan kita kerja, dan sebagai istri & ibu kita tidak melupakan tugas kita, gue rasa ga ada salahnya. after all, Khadijah istri Rasul juga kan a bisnisswoman, a successfull working wife. gak pernah disebutkan kalo wanita tidak boleh bekerja dan hanya ada di rumah. the point is, balancing the life outside (yang diketahui oleh suami dan berada di jalan Allah) dan the responsibility for the family.
sesama working mother, aku tau bgt gimana rasanya tiap pagi ninggalin anak di rmh...apalagi kalo udah pake acara rewel minta kita buat stay @home...rasanya berat bgt pergi kantor...
Tapi secara niat kita kerja jg kan baik, semua demi kebaikan n kemajuan anak kita juga, jadi aku brusaha untuk semangat terus kerja, setuju sm slesta kalo kita beruntung bisa punya kesempatan kerja dan bs multitasking hehehe. jadi tetep smangat aja ya mbak!!!smoga ikatan dinasnya ga brasa lama krn mbak meta bisa enjoy jalaninnya...u're not alone mbak :)jadi tetep smangaaaaaaaattttt!
Alhamdulillah pas pulang,jibril jg belum bobo jd masih sempet ketemuan,tau ceritanya seharian ngapain aja,masih sempet bercanda,& sebelum tidur saya suka pijitin jg ngedoain,waktu yg bener2 intim bt saya.
Sabar ya mba, apa yg kita kerjakan skrg ga akan sia2 kok.. :)
Semangat!!
setuju banget dengan eka, "sekarang saatnya para wanita berpegangan tangan, saling menguatkan dan mendoakan. bukannya saling menyalahkan tentang pilihan hidup." i'll quote it for my FB status hihihi..
@Ona, semoga lancar ya Na hamilnya…due date anak lo pas sama anniversary gw *gapentinggg,hihi*
@Marsyalina, makasih ya udah ngingetin…memang kita ngga wajib cari nafkah. Tapi klo buat saya, tergantung orangnya. Klo dengan bekerja dengan niat yang baik, direstui suaminya, ngga lupa ngurus anaknya alias ngga lupa sama fitrahnya sebagai wanita, istri dan ibu…ngga ada salahnya untuk kerja. Klo soal rejeki, gw juga percaya Allah udah mencukupkan rejeki buat kita, tapi saya juga percaya klo kita harus berusaha untuk mencari rejeki itu dan ngga serta merta jatuh dari langit.
As for me, klo saya berenti kerja sekarang…literally ngga bisa makan,hehe. Jadi berenti kerja belum ada dalam pilihan :)
Pilihannya sekarang adalah:
a. menikmati dan mensyukuri apa yang saya punya (juggling di kantor dan ngurus anak+suami+rumah) atau
b. ngiri sama apa yang saya ngga punya (jadi FTM) dan jadi ngga menikmati hidup
Saya pilih yang pertama :)
Artikel ini ditulis bukan untuk menyesali keputusan saya bekerja, tapi sharing bahwa bagaimanapun dilema itu ada. Perasaan pengen jadi FTM itu seringkali muncul, terutama kalo Nara lagi sakit atau ngerasa belum puas ketemu Nara.
@kucingpenidur, makasih yaa :)
@Kenny hihi bener tuh, klo denger temen FTM yang malah pengen kerja…bisa untuk bahan kontemplasi untuk lebih menghargai apa yang kita punya dan menghargai betapa beratnya jadi FTM :)
@Shinta…Sama Shin, dari sebelum kawin gw sering banget denger kalimat sejenis “pasti ibunya kerja deh, makanya anaknya ga keurus, bla blu” dan itu bikin gw tertantang untuk membuktikan sebaliknya.
@ Thalia dan urbanmama thanks ya bisa ikutan sharing disini :)
@Riandiani thanks yaa…tambah semangat kok dengan begitu banyaknya temen senasib :)
@Neneng semangat juga yaa, Jibril pasti bangga sama mamanya :)
emang dilema ya...
dari sejak nikah udah sering mikir berenti kerja apa ngga...berenti kerja apa ngga...apalagi sekarang bayangan buat jadi FTM tampak menggiurkan...
akhirnya daripada bingung diputuskan untuk ngejalanin aja apa yang ada...
kalau nanti 'begini' ya berenti kerja...kalau nanti 'begitu' ya tetep kerja...
entah kenapa udah beberapa kali selalu 'begitu' yang terjadi...jadinya sampe sekarang masih kerja deh...
dan ternyata kalo diliat2 memang sepertinya keadaan masih mengharuskan saya buat tetep kerja...
Kebetulan aku adl WM yg sdg jadi SAHM, krn lg cuti melahirkan..hmmm bener2 dunia yg berbeda.
Mmg hati ini lbh tenang bisa ngasuh langsung anak2.
Msg2 pilihan ada konsekuensinya, aku jg ada rencana buat resign, dan pindah ke Jkt ikut suami. Pertimbangannya krn suami mesti bolak balik 2 mgg sekali, jatuhnya boros jg, dan kesian anak2.
Tp udah kebayang deh, sisi financial pasti berkurang setengahnya (bubye gaji, insentif, tunjangan ini itu :(). sedangkan klo pindah kerja ke Jkt, udah sethn request blm dpt jg :(
Yah, semuanya balik ke pilihan msg2, semuanya baik apabila dikerjakan dgn baik jg.
To all mothers...this is the best thing in the world, nothing is easy, wether ur at home or somewhere else.
But we do know something for sure, WE LOVE OUR FAMILLY SOOO MUUUCCHHH....
Kebetulan aku adl WM yg sdg jadi SAHM, krn lg cuti melahirkan..hmmm bener2 dunia yg berbeda.
Mmg hati ini lbh tenang bisa ngasuh langsung anak2.
Msg2 pilihan ada konsekuensinya, aku jg ada rencana buat resign, dan pindah ke Jkt ikut suami. Pertimbangannya krn suami mesti bolak balik 2 mgg sekali, jatuhnya boros jg, dan kesian anak2.
Tp udah kebayang deh, sisi financial pasti berkurang setengahnya (bubye gaji, insentif, tunjangan ini itu :(). sedangkan klo pindah kerja ke Jkt, udah sethn request blm dpt jg :(
Yah, semuanya balik ke pilihan msg2, semuanya baik apabila dikerjakan dgn baik jg.
To all mothers...this is the best thing in the world, nothing is easy, wether ur at home or somewhere else.
But we do know something for sure, WE LOVE OUR FAMILLY SOOO MUUUCCHHH....
Menuruk aku, kesempatan untuk jadi stay at home mom yang berNPWP alias berpenghasilan sebenernya terbuka kapan saja, tinggal pilihan kita aja..:)
stay happy, enjoy life
bc tulisan meta tringat kekawatiran sy di 2 bln kdpn yg mau ga mau milih being a WM.
Ninggalin arif 3 jm aja bwt kontrol ke spOG rsnya udh rindu bgt,apalagi nanti frm 8 to 5 maybe more,ga kbayanglah rsnya.
Tapi saya percaya nawaitu saya bekerja utk keluarga dn jg beramal plus atas izin misua,Mdh2an kedepan nanti sy mampu menjalani menjadi ibu yg tetep bs merawat anak dn suami saya.
Saya juga percaya bahwa hidup ini tidak lebih dari membuat keputusan. Tidak ada keputusan yang benar atau salah, melainkan the easy way or the hard way.
Being a working mom is probably an example of a hard way decision. Idealnya, dia harus bisa semaksimal mungkin menggantikan apa yang hilang pada saat dia bekerja. Tapi kembali lagi, definisi maksimal itu seperti apa?
Secara sederhana mungkin begini : Niatkan yang kamu pikirkan dan jalankan yang kamu niatkan. As simple as that. Selama niatnya baik dan usahanya maksimal, semuanya akan baik-baik saja walaupun kita menempuh jalan yang sulit a.k.a the hard way.
Dan satu lagi, jangan pernah pikirkan hasilnya. Sampai ketemu nanti di kantor kamu dear :)
*hugs and kisses for Bunda Nara*
Emang jadi WM dilema banget, untungnya kantor dan rumah deket dan Batam belum macet jadi gue masih bisa pulang siang buat kasi raniya makan, kalo pagi dia bangunnya cepet sebelum berangkat kerja gue masih sempet ngasi sarapan ato mandiin, sore kalo bobonya siangnya lama gue yang kasi makan dan mandiin, itu juga rasanya belum cukup pengennya 24 jam ngurusin raniya sendiri.
Yang jelas tiap pilihan ada konsekwensinya.. mudah2an itu yang terbaik untuk keluarga kita,Amien
Thks udah sharing, bikin saya merasa saya ga sendiri mengalami dilema sbg working mom :)
Tetep semangat ya met, cu at gtalk :p
@Oki, congrats ya baru melahirkan…semoga lancar ya pindahannya ke Jkt. Setuju banget sama kalimat penutupnya Oki
@Fariella iya..pengen suatu hari jadi stay at home mom yang berNPWP itu, hehe. Thanks yaa…
@Trini semangat yaa…kan niat kita baik, semoga dilancarin jalannya
@theluckiestmanonearth, heyy…I think I know u… hihi baru jadi member Urban Mama ya? btw, thank you for holding my hand and walk this road
@Azizah huaa jangan nangis..ntar gw juga. Ikut mengamini doanya Azizah…
@gita go working mom! Cu at gtalk
jaga diri baik2 ya mba...
sebenernya aku khawatir dan kasihan kalau perempuan berada di luar rumah tanpa ada yang jagain (suami/muhrim.red)
karena itu adalah hal yang ga biasa di lingkunganku...
but, after all..
do the best, i wish all the best for you..
^-^
i've been in both situation.
gue jadi FTM sampai anak gue 2.5 tahun. jujur, saat itu FTM BUKAN keputusan gue. Tapi kepaksa, secara jadi imigran di negeri orang lebih susah dapet kerja. untung akhirnya gue back to business :-)
yeah, i work to get extra $$$, but above all, i work for my self. to fulfil my ambitions and my dreams.
yeah, i feel guilty sometimes but somehow, gue dan anak gue justru lebih deket setelah gue kerja.
Mungkin karena sebelumnya dia 'take mama for granted'... dan gue pun begitu. kalau mo ngomel, mikir 2 kali. masa udah lebih dikit waktu ketemu anak, begitu ketemu malah diomelin?
semua balik lagi ke diri masing2
but i love what EKA said
"sekarang saatnya para wanita berpegangan tangan, saling menguatkan dan mendoakan. bukannya saling menyalahkan tentang pilihan hidup"
Buat saya, working mom adalah ibu yang hebat!!, bagai amoeba yang bisa membelah dirinya, otaknya, dan hatinya untuk berada dibanyak tempat, memikirkan danyak hal sekaligus!!
Mama saya (sampai detik ini) adalah WM sejati. awalnya alasannya karena kami tidak cukup mampu secara finansial kalau hanya papa yang bekerja, lama kenalamaan ketika kami mampu, mama menikmati pekerjaannya, dan ketika kami berlebih, anak-anak sudah dewasa, kami bahkan medorong mama untuk sekolah lagi, buat apa?.. ya kami sadar, cuma ini bentuk rasa terimakasih kami buat mama, yang sudah menjadi ibu yang amat baik walau mama adalah WM..
Mbak meta, dilema ini saya tau sejak saya kecil, sampai sekarang, dari teman-teman saya juga.. doa saya mbak supaya mbak Meta dikuatkan Allah untuk tetap memberi yang terbaik buat nara, dan semoga Allah menambahkan rezeki, supaya bisa jadi WM...
Be bless moms, God love us!
kalian berdua hebat deh :) jadi pengen nangis terharuuu...
Aku adalah WM yang dianugerahi kesempatan untuk jadi FTM sekarang. Really do enjoy my time sooo much ;) Setuju dg moms bahwa keputusan apapun yang kita pilih, baik WM ataupun FTM, memiliki konsekuensinya sendiri2.. masing2 ada plus minusnya. Semuanya tergantung dari diri kita untuk memaksimalkan peran yang kita pilih agar tetap dapat memberikan yang terbaik bagi anak kita.
Saya sendiri dibesarkan oleh seorang WM yang luar biasa, sehingga saya & adik saya, puji Tuhan dpt berhasil spt sekarang. Namun,saya juga mengenal seorang FTM yang anaknya terjerat narkoba, hamil di luar nikah, drop out kuliah. Jadi menurut saya, semua kembali kepada keinginan untuk memaksimalkan peran yang sudah dipercayakan kepada kita.
So, dont worry moms, terutama moms yg krn financial reason "terpaksa" menjadi WM. Just give your best for your family. Untuk FTM, mari kita syukuri peran yang diberikan kepada kita, but dont leave your creativity. Krn menurutku, FTM bukanlah posisi mutlak, kita pun harus mempersiapkan diri kapanpun kita "ditugaskan" untuk menjadi WM. Belajar dari pengalaman mertuaku, seorang FTM yg menjadi WM krn suaminya menderita stroke disaat anak2 mrk msh SMP. Agar anak2 & suaminya dpt tetap makan & sekolah, ia hrs berjuang dengan statusnya yg "mendadak WM".
So,sepertinya apapun peran yg diberikan sekarang, mari kita menjalaninya dg baik ;)
Untung suami ngerti dan mengizinkan sepenuhnya, selain ada tuntutan ekonomi lain yg masih meminta saya bekerja. Insya Allah jg masih bisa menjaga diri dan menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga (masih lebih berat keluarga sih, hehehe)
gw bisa merasakan apa yg lo rasain, walopun skrg gw udah jd FTM...
tapi hidup itu kan penuh dgn pilihan, jalanin dg ikhlas yah..gw yakin suatu saat nanti nara pasti ngerti kok..
so be tough ya!
sun buat nara :)













