Sleepy Wrap

Kenapa saya memilih sleepy wrap?

Pada awalnya, saat saya masih tinggal di Afrika, pemandangan ibu-ibu menggendong anak di punggung merupakan hal yang sangat biasa. Selain menggendong anak, mereka pun sangat terlatih untuk membawa dagangan di atas kepala. Saya sempat takjub melihat seorang ibu, menggendong anak, pulang dari pasar berjalan kaki sambil membawa tabung gas di atas kepalanya. Sementara dia juga harus menjaga kedua anaknya yang masih kecil yang dengan riang berjalan kaki di dekatnya. Ini begitu menarik bagi saya sehingga pada saat saya hamil anak kedua, saya tahu bahwa saya harus melakukan apa yang juga dilakukan ibu-ibu di Afrika. Menggendong anak terkecil dan tetap bisa mengasuh anak sulung dengan baik (tentunya minus tabung gas di kepala).

Saya harus 'berurusan' dengan Aldebaran, anak sulung saya yang berumur 3 tahun. Bayangkan saja, sebagai ibu rumah tangga tanpa asisten, saya harus naik turun bus bersama Aldebaran dan Arzachel, dengan membawa diaper bag, juga belanja mingguan yang biasanya harus saya pegang dengan kedua tangan saya. Oh ya, jangan lupa juga karena terkadang saya harus mengejar Aldebaran yang aktif berlari ke sana sini. Jadi, manuver saya harus lincah. Karena itu, bagi saya, sleepy wrap merupakan pilihan yang tepat. Sangat praktis bagi saya. Meskipun Singapura termasuk negara yang stroller friendly, semua hal yang sudah saya sebutkan di atas dapat dilakukan kecuali pengejaran Aldebaran.

Setelah mencari informasi melalui internet, saya akhirnya memutuskan untuk menggunakan sleepy wrap. Bahannya sangat nyaman dan halus. Memang menggunakannya sedikit memakan waktu (kurang dari 1 menit) tetapi meski berjam-jam memakainya, saya sama sekali tidak merasa pegal karena berat badan Arzachel (3 bulan, 6.8kg) terbagi dengan rata pada tubuh saya. Saya menggunakan sleepy wrap sejak Arzachel lahir. Jadi jangan heran, seminggu setelah melahirkan Arzachel, saya sudah membawa dia berbelanja ke pasar Geylang. Dia tetap tenang, nyaman, dan tertidur dengan lelap.

Dengan baby wearing, sleepy wrap, pemandangan dunia yang dilihat Arza juga lebih baik dibandingkan dengan menaruhnya di stroller (terbatas pada ketinggian lutut orang dewasa). Arza nyaman dan saya juga tenang membawanya kemana saja. Yang saya rasakan, Aldebaran tetap mendapatkan perhatian yang cukup. Saya tetap bisa bermain bersamanya sambil mendekap Arzachel dengan menggunakan sleepy wrap. Sehingga Alde sama sekali tidak cemburu ketika Arza lahir. Bahkan dia sangat sayang pada Arza. Saya menerapkan metoda attachment parenting, sehingga penggunaan sleepy wrap bagi saya merupakan keputusan yang tepat. Bahkan saya rekomendasikan kepada teman-teman yang akan melahirkan/ memiliki anak.