Kekuatan Senam Hamil
“Udah nggak usah senam hamil, nggak ngaruh. Nanti pas ngelahirin boro-boro inget, yang ada panik dan lupa semua deh tuh!”
Begitulah komentar yang seringkali saya dengar tentang senam hamil dari para Mama yang sudah berpengalaman melahirkan dan ikut senam hamil. Mendengarnya saya hanya tertawa dan membayangkan saya akan mengalami kepanikan di ruang bersalin saat meregang nyawa untuk melahirkan seorang anak nanti.
Waktu itu kehamilan saya masih menginjak 13 minggu, belum terasa hal yang aneh-aneh. Ketika menginjak bulan 25 minggu, saya mulai merasa banyak sekali keluhan. Mulai dari betis yang pegal-pegal, kram kaki, sakit punggung, napas yang mulai terasa pendek dan keluhan-keluhan lainnya layaknya perempuan hamil lainnya. Salah satu solusinya memang harus banyak olahraga. Karena saya suka sekali renang, maka renang menjadi olahraga andalan saya sebelum akhirnya saya bisa ikut senam hamil.
Setelah googling sana sini dan baca-baca pengalaman orang lain di theurbanmama, saya memutuskan untuk senam hamil di Rumah Sakit Kemang Medical Care. Selain karena cukup dekat dengan rumah, saya merasa mendapat banyak keuntungan karena fasilitas dan tempat yang nyaman dengan biaya senam hamil yang hampir sama ditempat lain, bahkan ada yang lebih mahal.
Sehat Berkat Senam Hamil
Saya masih ingat, pertama kali senam hamil saat usia kehamilan menginjak 27 minggu. Di kelas itu saya yang paling muda usia kehamilannya Seorang instruktur senam hamil pagi itu adalah seorang bidan, bernama bidan Tetty. Cantik, segar, ramah, dan sangat informatif. Bidan Tetty terlihat menguasai sekali soal kehamilan dan proses persalinan, mulai dari rasa sakit yang dialami si bumil, cara mengetahui kontraksi palsu, ciri-ciri kontraksi, seputar mitos kehamilan yang dipatahkan dengan alasan logis dan ilmiah, dan banyak hal lainnya. Ia juga seorang bidan yang pro ASI. Semua terlihat jelas dari jawaban dan penjelasannya di setiap sesi tanya jawab.
Ternyata senam hamil saya berbeda dari cerita teman-teman yang katanya gerakannya cuma stretching dan senam ringan selama 40-60 menit. Senam hamil saya berlangsung dari jam 9 pagi sampai sekitar jam 12 atau jam 1 siang. Terdiri dari 3 sesi. Satu jam pertama adalah presentasi dari dokter dengan topik yang berbeda setiap minggunya. Mulai soal IMD, Kelahiran Normal, Persalinan Cesar, Bayi Kuning, dan topic menarik lainnya untuk calon orangtua baru. Selanjutnya barulah senam hamil dimulai sampai sekitar 60 menit. Sambil istirahat menunggu relaksasi, diselingi sesi tanya jawab. Semua pesan-pesan menjelang persalinan disampaikan oleh bidan Tetty dan siapapun boleh bertanya sampai mereka mengangguk puas. Kadang bisa 20-40 menit. Baru kemudian relaksasi yang sering membuat peserta senam hamil tertidur saking nyamannya.
Pelajaran awal yang terpenting yang saya dapat disana adalah napas. Napas akan menjadi kunci utama saat melahirkan. Napas perut, dada, diafragma dan nafas panting yang digunakan setelah mengejan. Rasanya sepele memang, urusan napas saja kok susah, batin saya pada awal pertemuan. Tapi ternyata pada saat itu, saya yang sok tau ini malah melakukan kesalahan bernapas. Silakan dicoba melakukan napas perut. Tarik napas panjang, perut membesar, buang napas perut mengempes. Waktu itu, saya malah melakukan sebaliknya. Tarik kempes, buang kembung.
Dalam senam hamil, si calon ayah juga terlibat. Karena dialah salah satu orang yang akan mendampingi saat melahirkan nanti. Jadi ilmunya harus satu frekwensi. Selain juga bisa membantu mengingat berbagai gerakan yang diajarkan disana untuk dilatih dirumah. Rasanya senang sekali melihat para calon ayah mendampingi istrinya ikut senam hamil. Ada beberapa gerakan yang sepertinya memang diciptakan dengan membutuhkan bantuan orang lain. Seperti gerakan dari jongkok ke berdiri dan latihan mengejan. Sepertinya ini salah satu cara juga untuk memperkuat ikatan si calon ayah dan ibu dalam mempersiapkan persalinan.
Sepanjang senam para ibu-ibu hamil ini dibuai dengan musik dari Babbies love collection seri Phill Collins dan musik dari CD Prenatal Baby Learning. Saya sampai semangat membeli CD yang sama supaya bisa diputar di rumah. Dan sesi yang paling saya tunggu adalah relaksasinya. Ketika sedang relaksasi, ibu dan bayi di dalam perut rasanya diajak relax, menembus gelombang teta. Masuk sebuah alam bawah sadar yang indah sekali. Semua peserta diajak untuk mengakses suasana kedamaiannya sendiri. Setiap kali saya sedang relaksasi, saya selalu terbawa ke Ubud, Bali, tempat saya melakukan yoga ditepi sungai waktu bulan dulu. Ingatan itu membuat saya nyaman dan akhirnya tertidur. Deep sleep. Saya merasa tertidur lama sekali, padahal hanya 15 menit. Pulang dari senam hamil selalu segar, ceria, dan saya bahkan si ibu hamil ini bisa diajak menggalang sepuluh ribu langkah di Mal! Satu hal yang terpenting, semenjak senam hamil, semua keluhan saya berkurang drastis.
Percaya Diri menjelang melahirkan
Hari penting itu tiba. Sudah masuk 40 minggu, saya nggak mules-mules juga. Dokter Nurwansyah, dokter Obgyn saya memutuskan agar saya masuk RS segera. Dokter hanya memberikan toleransi 2 hari, jika tidak mules juga maka terpaksa ‘dibongkar’. Karena sejak awal tidak ada masalah dan mind setting saya akan melahirkan dengan normal, saya tetap percaya diri dan bertahan meminta persalinan normal ditengah opsi cesar yang ada. Pilihan terakhir, induksi. Di sinilah semua latihan di senam hamil sangat berguna.
Saya mulai di induksi pada senin (21/2) pukul 9 pagi. Setelah 10 jam, induksi mulai bekerja aktif. Senyum mulai menyusut. Rasa mulas yang luar biasa mulai menyerang bertubi-tubi, datang sepuluh menit sekali secara konstan. Saya terus terngiang pesan bidan Tetty, makan apapun yang bisa mempertahankan atau menambah tenaga untuk mengejan. Nafsu makan lambat laun menghilang dengan rasa sakit yang dahsyat.
Di situlah strategi yang diajarkan bidan Tetty bekerja dengan baik. Ia menganjurkan agar menjelang proses melahirkan, cari manajemen ketenangan sendiri. Setiap orang berbeda-beda, ada orang yang relaks mencium bau teh, kopi, atau makan coklat. Apapun itu, silahkan dipersiapkan menjelang proses persalinan agar tetap tenang dan lancar. Saya dan suami pun pun sudah mempersiapkan hal itu jika dibutuhkan.
Menciptakan manajemen ketenangan
Pada saat menjelang persalinan, suami saya memberikan stress ball. Bola kecil yang terbuat dari karet itu terus saya genggam ditangan saya. Selain sibuk mengatur handycam untuk dokumentasi, dia juga terus memutar lagu-lagu agar saya merasa nyaman seperti pada saat senam hamil. Di ruangan itu, hanya ada kami berdua. Saling menatap untuk memberikan kekuatan. Tentu ini juga sesuatu yang mendebarkan bagi si calon ayah, pengalaman pertama ada di ruang persalinan. Tapi kami berdua meminimalisir ketegangan dengan menonton film, cerita-cerita konyol, dan dan foto-foto.
Jujur, seharian saya deg-degan, tapi makin beranjak malam keadaan memang makin mendebarkan. Belum lagi keluarga yang menjenguk silih berganti, kadang membuat konsentrasi menipis karena malah memandang raut-raut muka yang bikin saya tambah tegang. Untung suami saya tanggap dan tidak membiarkan ada banyak orang di ruangan. Semakin kontraksi saya kuat, semakin sedikit orang didalam dan tinggallah kami berdua dan para pekerja medis.
“Tarik napas, Bun…” Suami saya terus mengingatkan saya. Stress ball saya genggam kuat sekali setiap ada rasa sakit yang datang. Energi memang terasa menguap cepat tapi perang belum dimulai. Saya menarik napas panjang dan melepaskannya perlahan. Satu kekuatan datang. Dan satu persatu drama menjelang persalinan yang pernah saya dengar akhirnya bermunculan. Ketenangan mulai lari berhamburan, badan sudah tidak ada rasa, tornado hebat terasa di perut dan merambat ke sendi-sendi lain. Logika sudah melipir entah kenapa.
Menjelang maghrib, saya tahu tubuh saya butuh tenaga, tapi makanan yang tadi sore tampak menarik di atas nampan itu mendadak seperti makanan basi dan membuat saya tidak nafsu.
“Bun, mau donat?”
Aha! Saya mengangguk lemah. Lumayanlah segigit dua gigit untuk dikunyah. Ada sekotak donat bertoping oreo, kenari, dan greentea. Donat kesukaan saya yang memang dipersiapkan untuk keadaan’genting’ ini.
“Greentea latte, Bun?”
Saya mengangguk cepat. Dan kakak saya pun diberdayakan untuk memboyong segelas besar greentea latte andalan saya ke dalam ruang persalinan. Setiap kali habis kontraksi hebat dan keleahan, suami saya menyodorkan minuman ini untuk saya teguk. Saya pun merasa ada sebuah aliran kesegaran menjalar di tubuh saya dengan cepat, bahkan lebih cepat dari air dari selang infus di tangan saya.
Gigit donat, kontraksi, meremas stress ball, menyedot greentea latte, tidur, kontraksi lagi. Aktivitas itu terjadi berulang-ulang hingga akhirnya dokter masuk dan memberitahukan saatnya tiba! Dan mendadak semua berjalan dengan sangat cepat. Suster dengan sigap mempersiapkan semua kebutuhan proses persalinan. TV kamar dimatikan. Denting suara alat-alat kedokteran terdengar jelas. Dokter mengajak saya bercanda. Suara CD dibiarkan tetap mengalun. Handycam sudah on di samping tempat tidur saya. Saya memandang suami saya, takut.. tapi saya sudah tidak bisa berkata apapun.
“Bismillah Bun… Saatnya praktekkin senam hamil, pasti bisa.” Suami saya mengusap punggung saya memberi kekuatan. Dalam kepasrahan Saya menatapnya tajam. Easy to say, hun.. Suami saya tersenyum mungkin takut terjadi penjambakan atau pencakaran seperti cerita para ‘korban’ di ruang persalinan.
“Jangan mengejan sebelum saya minta ya..” Perintah dokter. Suster meminta saya menarik kedua kaki kearah belakang. Tarik nafas panjang, mulut tutup, mata harus tetap terbuka dan mengejan. Semua persis seperti apa yang diajarkan dikelas senam hamil.
“Oke.. Bagus.. Kepala sudah mulai keluar. Tahan sebentar ya..” Dokter mengomando.
“Napas perut, Bun.. ” Suami saya berbisik. Saya melakukannya secara otomatis.
“Ya! Mengejan sekarang!”
Saya mengulangi proses itu sebanyak dua kali dan rasanya saat itu saya sudah tidak bertenaga lagi, tapi saya terus melakukan apa yang sudah dilatih selama berminggu-minggu. Tanpa teriakan seperti di film-film, hanya desahan napas dan asma Allah yang saya ucapkan pelan. Dan akhirnya, saat itulah seorang makhluk kecil berlumuran darah ditaruh sang dokter di atas perut saya ..
“Subhanallah.. ”
“Alhamdulillah.. ”
Saya dan bersuami berkata bersahutan. Dan rasa sakit dan aktivitas diujung sana sudah teralihkan dengan makhluk yang merangkak naik diatas tubuh saya.
Suster Rumah Sakit malam itu memuji saya. “Hebat Bu, nggak berisik. Padahal biasanya anak pertama suka jerit-jerit.” Saya cuma tersenyum. Semua ini berkat simulasi senam hamil oleh sang Bidan. Semua permasalahan dan drama menjelang persalinan memang saya alami, dan saya bersiap mengantisipasinya. Kekuatan senam hamil ternyata luar biasa!
Belakangan saya tahu senam hamil yang dilakukan oleh sang bidan adalah perpaduan antara Hatha Yoga, Hypnobirth dan pengalamannya sebagai seorang bidan dan ketulusannya mengedukasi ASI.
Sampai sekarang, setiap kali saya memutar CD itu, selalu muncul kenangan saat senam hamil dulu. Satu hal yang membuat saya berkesan adalah setiap kali kelas akan dimulai, sang bidan selalu mengajak semua peserta untuk bersyukur bisa diberi kesempatan merasakan kehamilan, sebuah pengalaman hebat dalam perjalanan seorang perempuan. Dan saya selalu bahagia mengingat momen itu. Persiapannya tentu akan berbeda dan lain cerita kalau saja saya meremehkan peran senam hamil. Apa yang diberikan di senam hamil yang saya ikuti itu, bukan hanya semata melatih kekuatan fisik tapi juga mental. Mental untuk menanti sebuah momen besar dalam hidup seorang perempuan, sesaat sebelum menjadi ibu.













Wah mama Adenita hebat ya! Pagi2 sy baca dah terharu ingat dulu waktu lahiran dan cita2 ikut senam hamil blm kesampaian hehehe….btw, baby boy or girl ya?
Ika Ps / 19 Dec 2011 04:21 / Log in to ReplyHihi maa=kasih mba Ika,bayi saya perempuan .. biar kesampean cita-citanyam , kayanya harus punya adik lagi nih mba..:)
Adenita / 20 Dec 2011 09:50 / Log in to ReplyMemang mantap ya senam hamil. Saya juga ikut senam hamil, namun privat
ada bidan senior yang memang mengajar senam hamil dengan dipanggil ke rumah. Sesinya jadi lama sekali, karena diberi penjelasan, tips trik, dan latihan nafasnya yang sangat berguna saat kontraksi melanda.
Berkat senam hamil ini pula saya jadi SANGAT menghormati profesi bidan. Luar biasa !
Bidan ini juga mengajarkan pijat payudara, yang saya sangat yakin adalah kunci saya bisa menyusui dengan lancar
Saya gambar gerakan2 senam hamil & pijat payudara yang beliau ajarkan di buku, kalau ada teman yang sedang hamil saya selalu bagikan gambar-gambar itu kepadanya. Tapi lebih mantap rasanya kalau yang mengajar bidan yang berpengalaman
he3x
Susan / 19 Dec 2011 08:03 / Log in to ReplyWah canggih banget mba Susan pake gambar2 segala..
iya saya setuju, bidan-bidan itu canggih sekali ya, kalau di Amerika bidan itu sangat dihargai mba, disini kadang masih hanya sebatas mengasisteni dkter di ruang bersalin
Adenita / 20 Dec 2011 09:53 / Log in to Replyduh saya baru sekali nih senam hamil pdhl usia kehamilan udah masuk 32 minggu, dan iya kok agak ngebosenin ya ditempat saya :p, streching2 aja, hehe.. Coba disini juga ngelibatin suami, ada diskusinya dl, dll, pasti seru jg nih..
herlina / 19 Dec 2011 08:13 / Log in to ReplyNyobain disini mba.. hehe
yang penting tetap sehat fisik dan mental menjelang lahiran ya mba
Adenita / 20 Dec 2011 09:54 / Log in to ReplyPagi2 baca ini, koq aq jd nangis ya..
Tina / 19 Dec 2011 08:19 / Log in to Replymembayangkan 3bln lg akan mengalaminya..
Tfs ya mom..
aq blm ikut senam hamil sih.., kta dokter mulai bln dpn aj, skrg usia kehamilan masuk 26wk.., paling baru nyoba relaksasi sendiri yg dari CD bonusnya buku “Melahirkan tanpa Rasa Sakit”nya Ibu Evariny
Sama-sama mba Tina, relaksasi sendiri dirumah juga seru mba, sambil leyeh2.. hehe semoga lancar persalinannya nanti ya
Adenita / 20 Dec 2011 09:56 / Log in to ReplyHebatttt….dlu sy jg Ikut senam hamil Dan hypnobirthing…Alhamdulilah sgt membantu Ktk per salinan even ujung2nya hrs Cesar juga….ketenangan sangatlah dibutuhkan pd saat per salinan tsb.
mabhy24 / 19 Dec 2011 09:31 / Log in to ReplyKetenangan. Bener banget mba!
Adenita / 20 Dec 2011 09:57 / Log in to ReplyHaii mba..saya jg ikutan senam hamil di kmc loh.itu yg Berkerudung merah di foto pertama. Hehe
AmmiQi / 19 Dec 2011 11:57 / Log in to ReplySenam hamil emang berasa bgt manfaat nya,terutama yg paling penting ilmu bernafas nya.bener2 mengurangi sakit nya kontraksi apalagi saat di induksi.
Ntar anak kedua insyaAllah mau senam hamil lagi di KMC.siapa tau barengan lagi kelas nya sama mba adenita. Hehe
Waaa..coba foto itu bisa dibalik ya mba? hehe ternyata ada temen sekelasku juga disini . Sampe ketemu di kelas senam berikutnya ya mba.. #eeeh
Adenita / 20 Dec 2011 09:58 / Log in to Replywahh.. congrats for new baby. sama neh.. pengalaman senam hamil buat ku sangat2 membantu proses kelahiran my cute Tobi.pernasapan perut emang sangat membantu. pengalaman nya sama persisi, ga ada jejeritan dan para medis sampe muji juga krna saya tenang2 wkt ngedan. pokoke persepsi orang selama ini yg blg ga ada gunanya senam hamil, salah besar dehh..it so usefull for me
Cute Tobi / 19 Dec 2011 12:44 / Log in to ReplyMakasih mba, iya nafas perut itu berguna banget.. semua punya pengalaman sendiri tentang manfaat senam hamil ya ternyata
Adenita / 20 Dec 2011 10:00 / Log in to ReplyWaa…aku juga fans-nya bidan Tetty
senam hamil di KMC sangat sangat membantu yaa..rasanya ga bosen-bosen ngingetin teman-teman yang lagi hamil untuk ikutan senam hamil. Aku ngerasain manfaatnya juga..lahiran normal sampe bukaan lengkap & bayi lahir, nggak pake teriak-teriak, energi tetep full, dan bisa terjaga sampai proses pengeluaran plasenta selesai…
viva senam hamil!!
ayupermatadewi / 19 Dec 2011 15:08 / Log in to ReplyToss dulu mba! iya kangen deh sama bidan Tetty, tapi tiap ke KMC lagi nggak pernah ketemu, sibuk banget kayanya beliau . Padahal pengen ngucapin terima kasih langsung buat bekalnya di senam hamil
Adenita / 20 Dec 2011 10:03 / Log in to Replytfs, nice article mama adenita
skrg aku udh masuk week 39 dan udh ikutan senam hamil 5x di RS Puri Cinere..so far berguna bgt, disini ada 2 sesi: pertama materi yg ganti2 tiap minggu+dibawain dokter/bidan misal IMD, persalinan normal, menyusui, kedua baru sesi senam hamil oleh bidan.. lama sesi sekitar 3 jam.. biayanya IDR 40rb, udh dapet snack sama hand out..
oya, disini suami/pendamping disarankan ikut, krn ada bbrp gerakan couple yg bguna saat persalinan.. hehe seru, quality time jg sama suami :p
mudah2an persalinanku jg bs normal+lancar kaya mamas semua..
Aurel / 19 Dec 2011 18:05 / Log in to ReplyAmiin.. sama-sama mba Aurel, semoga lancar ya persalinannya nanti. Yg penting cari manajemen ketenangannya sendiri mba buat menghadapi momen besar itu
Adenita / 20 Dec 2011 10:05 / Log in to ReplyWah baca artikelnya jadi inget pengalaman senam hamil. Aku ikut senam hamil ketika hamil anak ke-3.. xixixi lucu ya.. temen2 senamku rata-rata lagi hamil anak pertama. Anak ke 1 dan ke 2 ku semua lahir normal, dan biasanya aku cukup latihan senam di rumah karna suamiku rajin membelikan CD senam hamil dan itu cukup membantu kelahiran 2 anakku. Kehamilan ke 3 di usia 6 bulan posisi anakku kepala masih di atas, dah senam hamil sendiri sampai usia 8 bulan tetap gak berubah, akhirnya nyoba dech ikut senam hamil di RS. Hermina gak ada salahnya berikhtiar, walapun akhirnya ternyata cesar karna posisi tidak berubah sampai waktu lahir. Tapi satu hal positip dari pengalamanku, pelatih dan teman saat senam bisa memberikan penguatan dan keyakinan serta keihlasan untuk menerima apapun kondisi yg terjadi sebagai sesuatu yg terbaik untuk kita dan bayi.
Hastuti / 19 Dec 2011 18:12 / Log in to Replybener mba, keyakinan dan keikhlasan, penting itu! Anak ke-4 nanti senam hamil lagi mba? *siap2 ditoyor
Adenita / 20 Dec 2011 10:07 / Log in to ReplyHuaaa… Aku jadi pengen coba di KMC… Padahal sudah daftar di RS ASRI… hihih latah deh… Next time cobain KMC deh, kayaknya nyaman sekali
eksinads / 20 Dec 2011 09:34 / Log in to ReplyHihi.. nyoba nggak ada salahnya ko mba, biar banyak pengalaman dan ada bandingan
Adenita / 20 Dec 2011 10:08 / Log in to ReplyI love this article!
yantri_abshar / 20 Dec 2011 09:57 / Log in to ReplyPas baca forum senam hamil di TUM ada beberapa org yang underestimate manfaat senam hamil. Baca artikel ini, aku jadi semangat lagi nih. Nanti masuk kehamilan 20an mingggu, mulai ikutan senam hamil ah. Thanks for sharing
Thanks mba Yantri, ayo semangat senam hamil mba.. pasti bermanfaat buat menggalang kekuatan mental
Adenita / 20 Dec 2011 10:10 / Log in to ReplyKalo mba Adenita ini latihan senam hamil nya seberapa sering? Apa setiap minggu, sisanya rajin dirumah atau gmn mba? maklum nih aku juga lagi hamil anak pertama jadi deg deg gimanaaa gitu. Hehee
yantri_abshar / 21 Dec 2011 09:19 (Comments wont nest below this level)great story, adenita! seru banget diceritain dari awal sampai akhir. jadi ngiri disini gue ga pernah senam hamil, karena lebih banyak prenatal yoga aja (sendirian pulak) .. kepentok ama waktu ngantor dan weekend yang gak ada abis2nya ama errands. huhuhuuu..
thanks for sharing ya!
shinta lestari / 20 Dec 2011 10:55 / Log in to ReplyHihi Thanks mba Shinta.. eh tapi wkt itu sempet ngobrol sama guru yogaku, ternyata apa yang dikasih bidan Tetty itu banyak adaptasi dr prenatal yoga lho, Mba .. jadi kayanya malah oke bgt tuh mba ikut prenatal Yoga, tapi memang disini malah jarang yang ikutan, mungkin karena nggak tau kali ya.. katanya lagi hamil anak kedua ya , Mba? sehat-sehat terus ya Mba!
Adenita / 20 Dec 2011 11:57 / Log in to ReplyWaaa toss dulu ah sama mbak Adenita
sesama peserta senam di KMC sama bidan Tetty.. And yes, semua materi hari itu berguna pas melahirkan, walaupun saya harus diingetin suami apa aja yg harus saya lakukan atau nafas apa yg harus dijalankan, alhamdulillah saya berhasil melahirkan dengan normal.. Btw, waktu saya mau melahirkan, bidan Tetty yg kebetulan lg incharge, jd yg anter ganti baju dan masang mesin ctg ya bidan tetty sambil bilang “ikut senam hamil disini kan bu? Rileks aja, jangan lupa nafas-nafasnya yaa.. Pasti lancar..” Hihihihi padahal saya deg2an pas masuk ruang observasi..
Yuk para bumil, jgn males senam hamil
Sazqueen / 20 Dec 2011 13:44 / Log in to Replytoss ah
sama gw jg gak bikin keributan di kamar bersalin. alhamdulillah mamam ngebimbing terus menyebut asma Allah.
dulu gw cuma sempet senam hamil 1x
tp dari satu kali itu inget kok sama cara nafas yg diajarin bidannya. kalau ga ikut yg sekali itu mungkin gw bakal clueless di kamar bersalin.
hamil yg kedua ini bakal lebih rajin ah senamnya
bubun hafidz / 20 Dec 2011 22:45 / Log in to Replywah, saya baru berencana mau ikut senam hamil, usia kehamilan sekarang 29w
Andiah Zahroh / 23 Dec 2011 11:15 / Log in to Replyseru banget baca cerita di atas
walaupun rada menegangkan pas baca kisah persalinannya sih, hehehe
sekarang lagi searching tempat yang oke buat ikutan senam hamil
pengen cepet-cepet mengalami sendiri cerita kayak yang di atas
wahh, betul2 bermanfaat ya mom? jadi nyesel dulu gak ikut kelas senam hamil di KMC pdhl pasien disitu, hehe(cuma senam2 sendiri hasil nyontek youtube di rumah).. beda kayanya ya kalo rame2 & ada pemandu profesionalnya
jadi (agak) menyesal jangan2 karna gak rajin senam dulu pas melahirkan gak lancar jaya..akhirnya di CS juga..meskipun yaa alhamdulillah, ibu & bayinya sehat wal afiat
TFS mom!
mamadhiazka / 01 Mar 2012 16:04 / Log in to Reply