Melahirkan Fatih di Rumah

Dua bulan lalu saya melahirkan Fatih di rumah orang tua saya. Saya memang menginginkan melahirkan di rumah didampingi bidan saja daripada melahirkan di rumah sakit dengan bantuan dokter untuk kelahiran anak ketiga ini. Anak pertama dan kedua lahir dengan proses normal di rumah sakit dengan bantuan dokter kandungan setelah diinduksi. Walau alasan induksi di 2 persalinan itu berbeda, saya tetap ‘trauma’ dengan induksi dan penasaran ingin merasakan mulas yang timbul secara alami. Selain induksi, intervensi medis lainnya yang saya alami pun cukup banyak. Jadi ketika hamil anak ketiga, saya menginginkan sesuatu yang berbeda dengan pengalaman sebelumnya.
Kebetulan hamil ketiga ini saya jalani di Indonesia, tepatnya Bekasi, sedangkan dua anak sebelumnya lahir di Singapura saat saya masih bekerja di sana. Sebagai informasi, pemerintah Singapura tidak memberikan pilihan bagi ibu untuk bersalin di rumah. Dokter dan bidan tidak diperkenankan untuk membantu persalinan selain di rumah sakit. Jadi dengan saya berada di Indonesia, saya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan persalinan di rumah.
Sejak kehamilan pertama, saya tidak memandang proses kelahiran anak sebagai sesuatu yang menakutkan. Saya lebih takut jika harus menjalani operasi Caesar daripada sakit kontraksi. Malah saya merasa tertarik untuk merasakan sendiri sakit kontraksi itu. Masa sih Tuhan menciptakan tubuh wanita untuk melahirkan anak tanpa memberikannya kemampuan untuk melakukannya secara alami? Saya yakin saya bisa dan tidak membutuhkan obat-obatan penghilang rasa sakit. Sementara itu pula saya memahami operasi Caesar sebagai prosedur operasi besar dan lebih sakit daripada kontraksi yang dialami pada persalinan normal.
Saya sadar bahwa memutuskan untuk melahirkan di rumah tidak boleh diambil secara asal-asalan. Kita harus memastikan kondisi ibu dan janin sehat dan tidak mempunyai risiko komplikasi seperti tekanan darah tinggi, sungsang, plasenta previa, dan masalah kehamilan lainnya. Alhamdulillah pada 2 anak sebelumnya saya tidak mengalami gangguan kehamilan dan persalinan yang berarti. Saya percaya saya termasuk dalam 95% wanita hamil dengan risiko rendah. Hal ini sangat penting untuk menjalani persalinan di rumah tanpa bantuan dokter. Saya pun tetap rajin periksa kandungan ke dokter sebagai bekal menghadapi persalinan di rumah.
Di masa hamil saya juga berupaya untuk berlatih relaksasi ala hypnobirthing. Sayangnya, saya tidak bisa sering berlatih karena menjelang tidur saya sering sudah terlalu letih dan langsung ketiduran tanpa sempat relaksasi. Saya pun merasa belum bisa mencapai alam bawah sadar untuk menanamkan sugesti positif. Tapi saya yakin bahwa saya sudah mempunyai pandangan yang benar tentang melahirkan bahwa itu adalah suatu proses alamiah yang tidak perlu ditakutkan dan bahwa tubuh saya nantinya akan mampu untuk bersalin secara alamiah tanpa bantuan obat-obatan pengurang rasa sakit. Lagipula berbekal pengalaman dengan dua anak sebelumnya, saya sanggup melaluinya dengan baik tanpa penghilang rasa sakit, jadi saya cukup percaya diri akan bisa melakukannya lagi kali ini.
Rencananya saya akan melahirkan di dalam air alias waterbirth. Persiapan dilakukan termasuk meminjam kolam plastik yang teman saya gunakan untuk persalinannya. Bidan pun sudah dikontak dan menyetujui untuk mendampingi persalinan saya yang diperkirakan sekitar akhir desember 2011. Saya diminta berlatih pernapasan dan relaksasi serta melakukan pijat perineum untuk mengurangi risiko robek di daerah perineum. Kalau melahirkan di rumah sakit, seringnya dokter akan melakukan prosedur Episiotomy, pengguntingan area perineum untuk melebarkan jalan lahir. Saya sudah merasakan episiotomy ini di 2 persalinan sebelumnya dan saya merasakan penyembuhan luka jahitannya memakan waktu cukup lama.
Perkiraan kelahiran menurut USG di trimester pertama adalah tanggal 31 desember 2011. Pengalaman anak kedua saya yang lahir 1 minggu setelah tanggal perkiraan dokter membuat saya santai dalam menanti waktu persalinan. Ditambah dengan adanya acara keluarga yang saya ingin hadiri tanggal 25 desember, saya cukup kaget ketika tanggal 19 desember saya sudah merasakan nyeri di perut. Saat itu sekitar jam 3 pagi saya terbangun akibat nyeri di perut. Saya sempat yakinkan ke diri sendiri bahwa ini adalah sakit kontraksi palsu yang biasa disebut dengan Braxton Hicks. Di hari senin itu saya memang sudah menjadwalkan untuk periksa ke dokter kandungan yang biasa saya kunjungi, namun ternyata takdir menggariskan saya untuk terlambat datang ke klinik dokter dan gagal periksa hari itu. Seharian rasa nyeri timbul tenggelam dan saya masih belum menghubungi bu bidan.
Namun malamnya sekitar pukul 9, lagi-lagi saya terbangun dari tidur karena nyeri di perut. Ternyata lendir darah juga sudah keluar menandakan persalinan sudah dimulai. Sedikit panik, saya menghubungi bidan melaporkan flek dan mulas yang mulai muncul, saat itu kontraksi sudah teratur tiap 7 menit. Di saat yang sama saya baru mengeluarkan kolam plastik yang belum dipompa! Dan ternyata pompa ban yang ada di rumah tidak cocok untuk lubang si kolam. Jadilah malam itu sekitar jam 10, dua orang pembantu di rumah mama keluar rumah mencari tempat pompa ban mobil. Si kolamnya juga berukuran cukup besar dan tidak cukup masuk di mobil, lalu dibawa dengan motor. Seisi rumah heboh terutama mama yang berulang kali menanyakan apakah bidan sudah dihubungi atau belum.
Anak-anak saya yang tadinya sudah tidur ikut bangun dan ditemani oleh Aki nya di kamar sebelah. Kolam diisi air dingin dahulu sampai setengah penuh yang ternyata cukup memakan waktu. Kontraksi tetap teratur muncul tiap 7 menit. Bu bidan sedang mencari rekan untuk membantu tapi ternyata semua sedang dinas.
Selama kontraksi saya berupaya mengurangi rasa sakit dengan mengambil posisi berlutut di pinggir kasur dan menggerakkan badan saat kontraksi datang. Buat saya, bebas bergerak sangat jauh lebih nyaman daripada tiduran di kasur seperti di masa persalinan anak-anak sebelumnya di rumah sakit. Mama menyuapi saya dengan makanan dan madu untuk menambah tenaga.
Rumah bu bidan memang agak jauh dan di jam 10 malam ternyata cukup sulit untuk mencari tumpangan taksi untuk ke rumah saya. Sampai jam 11 ternyata bu bidan belum juga berangkat sementara kontraksi yang saya rasakan tetap teratur tiap 7 menit dengan durasi 45 detik sampai 1 menit dengan tingkat rasa sakit yang terus bertambah. Di sela-sela kontraksi saya masih sempat chatting dengan teman yang sudah pernah homebirth untuk konsultasi. Karena bidan belum datang juga Mama sempat membujuk saya untuk mau dibawa ke rumah sakit terdekat, tapi saya bersikeras tetap ingin melahirkan di rumah.
Akhirnya dalam usaha untuk memperlambat bukaan sambil menunggu bidan datang, saya diminta untuk berbaring di kasur. Saat itu sudah pukul 11.30 malam dan bu bidan masih belum dapat kendaraan. Suami terus mendampingi saya dan mengingatkan untuk mengatur napas saaat kontraksi datang. Hal penting untuk bersalin di rumah adalah memasang perlak di tempat tidur supaya kasur tidak kotor. Karena bu bidan yang harusnya mendampingi saya ber waterbirth belum datang, saya tidak berani masuk ke kolam.
Mama mengambil inisiatif untuk menelepon seorang bidan yang masih kerabat keluarga kami sekitar pukul 12 malam. Seperti pada persalinan sebelumnya, saat bukaan leher rahim makin besar, saya merasakan sensasi ingin mendorong/mengejan secara alami. Tiap kontraksi diakhiri dengan dorongan untuk mengejan. Ini juga saya rasakan dan sulit sekali untuk melawannya. Walaupun bidan belum datang, akhirnya pukul 12.30 pagi Fatih lahir dan diterima oleh Mama. Ketuban saya yang belum pecah membuat Fatih lahir ditutupi selaput, suatu pengalaman baru bagi saya karena dahulu ketuban saya selalu dipecahkan oleh dokter, sebagai suatu prosedur yang dimaksudkan untuk mempercepat proses persalinan.

Setelah keluar, saya peluk dan susui Fatih sembari menunggu plasenta lahir. Bidan cadangan datang dan membantu membersihkan bayi. Setelah plasenta lahir, bidan memeriksa luka di jalan lahir dan menjahit robekan yang ada. Alhamdulillah hanya perlu dua jahitan dan menurut bidan lebih baik saat dijahit tidak menggunakan bius. Duh ini nih bagian yang menyakitkan. Alhamdulillah setelah itu luka jahitan tidak terasa dan saya merasa nyaman bergerak kesana kemari. Lalu Fatih ditimbang dan disuntik vitamin K. Berbeda dengan melahirkan di rumah sakit, suasananya menyenangkan karena saya dikelilingi keluarga, termasuk mama mertua yang datang sesaat setelah bayi lahir. Saya juga tidak perlu dipindah-pindah dari ruang bersalin ke ruang perawatan dan juga tanpa kerumitan proses administrasi rumah sakit. Rasanya sangat mudah dan nyaman.
Saya meminta bidan untuk tidak menggunting tali pusat karena saya berencana mempraktekkan lotus birth. Tali pusat dibiarkan tersambung antara pusar bayi dan plasenta sehingga kering sendiri dan lepas dari pusar bayi. Di usia 3 hari, tali pusat sudah mengering dan lepas dari pusar bayi. Setelah puput pusar, Fatih pun bebas untuk dibedong dan dibawa kesana kemari.
Banyak sanak saudara dan teman-teman yang kaget setelah mendengar kisah kelahiran Fatih. Tidak hadirnya bidan saat persalinan dianggap sebagai sesuatu yang agak nekad, tapi itu kan tidak disengaja. Alhamdulillah saya diberi kemudahan dalam proses persalinan dan semua dalam keadaan sehat tanpa komplikasi. Yang pasti saya sudah mendapatkan satu pengalaman persalinan yang sangat berbeda seperti yang saya inginkan sebelumnya. Couldn’t ask for a better delivery





Baca critanya bikin mataku melek lebar mba.takjub.berani skali.pasti anaknya jg nanti berani ky mamanya. Adekku jg dulu dilahirkan di rumah oleh ibu
Indah Prabandono / 16 Feb 2012 01:56 / Log in to ReplyWaw.. amazing mbak..
verhakay / 16 Feb 2012 07:37 / Log in to Replyseperti persalinan impianku.. mudah-mudahan bisa tercapai juga beberapa bulan lagi.. Amin..
persiapannya apa aja mbak utk bisa lahiran dirumah?
sampai sekarang (14w) aku jg blm bisa optimal ni utk relaksasi..
Alhamdulillah prosesnya lancar dan semua sehat ya Mbak.
indriani budi utami / 16 Feb 2012 07:38 / Log in to ReplyWah, salut buat keberaniannya.
Kalau aku lebih takut induksi ketimbang C-sect, makanya waktu kmrn diinduksi sdh merengek2 terus ke bidan buat nyabut infus induksinya, sampai dimarah-marahin ibuku dan bidannya hehehe.
*tahannafasbacanya*
selamat yaa mba utk kelahirannya..skrg aj lg hamil keempat,udah 3x SC,kmrn baca dr.henny bs vba3c dirumah..lg belajar n konsul sana/i dl juga..mdh2an dbrikan yg tbaik..
umnad / 16 Feb 2012 07:56 / Log in to ReplyWah standing applause buat mama fatih.
bubun hafidz / 16 Feb 2012 08:05 / Log in to ReplyGw jg pengeeeen banget melahirkan alami spt itu. Tp mamam + mama mertua + suami orangnya panikan dan ga kuat lihat darah semua. Bapakku jg orangnya gamau repot.
Oya kalau melahirkan di rumah spt fatih, nanti kepengurusan akta kelahirannya gimana? Surat keterangan lahirnya dikeluarkan bidan ya? Dan mengurus akta sendiri ke dinas kependudukan??
Gw jg kontrol 7bulan nanti pengen diskusi soal lotus birth dengan spog. Skrg membekali diri dulu dengan pengetahuannya. Banyak googling aja. Ternyata banyak juga ya yg udah praktekin lotus birth ini. Mudah2an berani melihat n mengurus plasenta nya dan dokter jg setuju amiiiin. Semangaaaat
Subhanallah… Bener2 ga kebayang gimana rasanya mba. Hebat banget! Sampe takjub aku!!!
Erna Dewi / 16 Feb 2012 08:35 / Log in to Replywow… w.o.w!!

Chrisye Wenas / 16 Feb 2012 08:45 / Log in to Replymmhhh, unbelievable moment & feeling ever pasti ya mbak
jadi pengen banyak belajar soal lotus birth ah…
tfs ya mba
Alhamdulillah prosesnya lancar ya dear.. Sun sayang untuk keponakanku
Kayaku / 16 Feb 2012 09:07 / Log in to Replymasih takjub bacanya…
karna saya merasa plasenta ini adalah yg mempererat kami berdua..
Amel / 16 Feb 2012 09:50 / Log in to Replyjadi semakin penasaran dengan lotus birth.. saat Akhtar lahir, saya tidak sempat melihat plasentanya..karena belum sadar setelah sesar.. padahal pengen banget melihat
satu kata:
Kira Kara / 16 Feb 2012 10:23 / Log in to ReplyAMAZIIIIINGGG… bener-bener nekat.. tapi saluuuuttt…
jadi inget ibu saya, yang dari 4 anaknya, hanya 1 yg lahir di rumah bidan. 3 lainnya, melahirkan di rumah. lebih tepatnya kebrojolan kali yaa.. karena gak sempat dibawa ke bidan.. alhamdulillah sehat semua ya bunda fatih.. salam buat semua putra-putri tercinta.. muaacch..!
subhanallah. sejak lahir Fatih sudah jadi pemenang ya…Selamat ya mbak,hebat!!
Fariella Julian / 16 Feb 2012 10:23 / Log in to Replywuaaa … pengennnn …
, kalau gitu mending dirumah aja kali ya …
Asa dulu lahirnya di RS, tapi bidannya masih bobo waktu kepalanya nongol,lebih merasa dibantu ibu pas bersalin, bidannya bersih2 aja
terharu liat Fatih baru lahir …
Dian Arsita Kurniawati / 16 Feb 2012 10:41 / Log in to ReplyYou are an amazing brave mother. Saya dulu pengen waterbirth di rumah,tapi di bandung belom ada.baru sekarang ada.mudah-mudahan bisa buat anak kedua,kayak mama fatih
ratihasan / 16 Feb 2012 10:41 / Log in to Replyaiihh.. antara pengen tapi takut juga…
nna / 16 Feb 2012 10:42 / Log in to Replyini amazing ya.. bisa melahirkan senormal2nya
Aaahhh..aku yg dah lahiran 2x aj masih ga berani lahiran drumah..ga kebayang bgt deh.
ummrakhshan / 16 Feb 2012 12:44 / Log in to ReplyPingin…tp takut..pingin..tp takut..pingin..tp takut..
Hebat bangettttttttttttttt, salut..
aku bacanya sampe mengerutkan dahi lho mbak.
ga kebayang yah panik dan hebohnya suasana rumah saat itu.
Selamat datang baby Fatih:) semoga jadi anak yang kuat seperti mamanya
rini aini / 16 Feb 2012 13:39Subhannallah …
Hebattt bangetttt …
Alhamdulilah semoga lancar …
pengen juga sich coba, tapi takut …
aku bacanya sampe deg2an euy …
mama mili / 16 Feb 2012 13:54 / Log in to ReplyLuar biasa deh pengalamannya mama fatih.. Aku juga lagi belajar hypnobirthing, dan selalu sukses ketiduran.. Mudah2an bisa lancar dan berani spt dirimu yaa..
fairymommy / 16 Feb 2012 16:05 / Log in to ReplyHebat!!!
Wow…selamat Dea…berani sekali…tapi Alhamdulillah lancar2 aja ya…intan baru tau kalo di Indo bisa melahirkan di Rumah…Btw, Ini Dea, ibunya Zafira? sekali lagi Selamat yah…
intan / 16 Feb 2012 16:07 / Log in to ReplyPersalinan impian.. Selalu terharu baca artikel ttg melahirkan di rumah.. Sakral.. Would like to know more mbak.. Pengen bgt denger ceritanya lebih lanjut..
Winda Lazuardi / 16 Feb 2012 18:54 / Log in to Reply@indah: iya jaman dulu lebih banyak ya yg lahiran di rumah.. skrg udah mulai byk lg yg mau back to nature..
@verhakay: persiapan perlak, underpad juga perlu, bisa buat alas ibu dan alas plasenta kalo mau LB.
skrg gimana rasanya, ada kecemasan ttg bersalin di rumah?
@indriani: iyaa induksi emang ga enak.. tp atleast bisa bantu lahiran normal kan.. sadly, byk kasus induksi yg terburu-buru, mustinya bisa ditunggu tp main induksi aja
@umnad: wow hamil ke-4
SC nya kemaren2 knp? mudah2an rejeki ya yg ke4 ini normal yaa
@bubun hafidz: mamaku jg panikan bgt, suami jg ngeri darah. tp aku cuek hehe. Repot dikit sih pas bersih2, kalo beneran waterbirth bakal lebih repot alhamdulillah kemaren ga jd WB.
Bidan yg bantu urusin akte lahirnya, kan mereka udah biasa urus2. btw plasenta ga mengerikan kok, kayak paru gitu
@erna: alhamdulillah… segalanya Allah yg atur…
ibudea / 16 Feb 2012 20:32 / Log in to Reply@Chrisye: iya beda rasanya ama lahiran rame2 di RS..
@kayaku: heyy ada cousin Tara di TUM
makasiy yaa
@Amel: iya mba, si plasenta sering terlupakan ya karena udah diurusin RS… pas saya lahiran anak pertama kita minta ke RS plasenta nya mau kita bawa pulang.
@Kira: eh masa sih nekat? hehe ga ngerasa :p wah ibunya lancar banget lahirannya ya alhamdulillah.. makasi ya mba
@Fariella: Alhamdulillah bener2 rejeki dikasi persalinan yg cepat dan mudah ….
@dian: bener mba… seringnya di RS itu bidan/dokter berperan banyaknya pasca lahiran… sebelumnya sih banyak jg yg bisa sendiri (menurut pengalamanku sih gitu ya)
ih lucu amat bidannya kok bobo sih :p
@ratihasan: wah mba, aku ngerasa berani sedikit aja, ga berani2 amat.. kalo nekad aku udah nyemplung ke kolam ga nunggu bidan dateng hehe… yuk dicoba lahiran di rumah, enak
@nna: iya bener, senormal2nya kalo di rumah.. kalo di RS udah ditawarin macem2 tuh huhuh…
ibudea / 16 Feb 2012 20:34 / Log in to Reply@ummrakhshan: ga berani nya kalo kenapa2 gitu ya mba? aku yakinin dari hasil periksa kandungan selama 9 bulan itu, karena ga ada komplikasi apa2 ya go ahead aja di rumah. Aku ga lapor ke dokter kandunganku kalo aku mau lahiran di rumah loh
@rini: iya mana mamaku orangnya panikan.. tp seneng bgt sebagai orang yg nerima cucunya lahir.. makasi mba
@mama mili: rasa penasaranku akan mules alami nglahin semua rasa takut yg ada
@fairymommy: haha iya dengerin cd nya bikin tambah ngantuk ya… tp jd rileks kan? ayo berani bu
@intan: berani karena bermodal hasil periksa dokter ntan… aku jg positive thinking ga akan ada komplikasi apa2.. ikhtiar dan tawakal lah..
@winda: iya rasanya beda kalo di rumah, homey gitu. japri aja mba, pengen tau apalagi?
ibudea / 16 Feb 2012 20:39 / Log in to ReplyDeg2an bacanya! Subhanallah… Jd pengen deh lahiran begitu, ada di tempat yg nyaman & dikelilingi orang2 terdekat, bikin bonding makin kuat ya! Kereeeen..!
adyn / 16 Feb 2012 21:14 / Log in to Replyseruuuuuu bangetttt!!!
))
avee / 16 Feb 2012 21:29 / Log in to ReplySubhanallah..
dinda permata sumantri / 16 Feb 2012 22:10 / Log in to Replyada kecemasan sedikit mbak.. terutama waktu baca cerita ttg plasenta yg lengket diduga karna mengkonsumsi penguat rahim di trisemester pertama..(ini mau ditanyakan ke dokter wktu periksa lg nanti..)
persiapan utk lahir dirumah sejauh ini baru..
verhakay / 17 Feb 2012 10:06 / Log in to Reply- baca artikel bidankita.com
- baca buku melahirkan tanpa rasa sakit
- ngasi gambaran ke ortu klo nanti mau lahiran dirumah..
(tanggapan alhamdulillah positif)
- nonton video di you tube ttg melahirkan dengan gentle birth
- berdoa
senang bgt nemuin cerita-cerita yg sukses melahirkan dirumah..
verhakay / 17 Feb 2012 10:10 / Log in to Replytambah semangat jadinya..
Deaa…ini akyuu…coba dikau liat mesej fb de hehe…salutt de….brani bgt! alhamdulillah lancar…semoga sehat2 terus yaa
irdhelia / 17 Feb 2012 11:05 / Log in to Replysubhanallah, mama fatih hebat banget. alhamdulillah juga yah keluarga mendukung sedemikian rupa.
jadi inget omongan nenekku soal lahiran normal di rumah. sekarang juga udah banyak yang sperti “back to basic” yah. home birth.
selamat ya mama fatih sekali lagi.
ietoh aditya / 17 Feb 2012 13:40 / Log in to ReplyWow, deg2an bacanya… Serasa nonton film jaman dulu
Btw, selamat atas kelahiran bayinya ya…
Di France, home childbirth sangat jarang krn pertimbangan health, security, insurance & risiko. Kl sampai terjadi apa2, hukumannya sangat serius bagi tenaga medis yg bantu persalinan tsb. Makanya banyak yg ngga bersedia. Dan social security ngga bisa cover semua expense, beda dgn persalinan di RS yg di-cover penuh. But I love to read pengalaman ibu2 yg persalinannya di rumah niy… Extraordinary
Sitha / 17 Feb 2012 16:24 / Log in to ReplySama dong dengan aq mb,7 bulan lalu melahirkan anak pertama di rumah. Ceritanya pas usia kehamilan 38mg 2d, jam setengah empat pagi bangun mo ke kamar mandi liat ada bloddy show tapi masih tenang2 karena taunya anak pertama biasanya lama lahirnya dan perut cuma terasa kenceng2 saja nggak sakit,kemudian sambil tiduran dengerin cd hypnobirthing ibu lanny menunggu pagi,sampai jam 5 pagi bangunin suami karena ada rasa pengen ngeden,pas di papah sampai pintu kamar nggak bisa di tahan lagi bayinya keluar, sempet panik karena nggak langsung nangis, ternyata lilitan tali pusat 1x. Alhamdulillah begitu dilonggarkan lilitannya langsung menangis. Baru kemudian suami pergi manggil bidan
).
coechen / 18 Feb 2012 18:22 / Log in to ReplyMungkin hikmah yang bisa di ambil dari peristiwa itu buat aq:
satu, suami atau pendamping kita juga ikut mempelajari hal2 yang harus di lakukan jika terjadi situasi darurat seperti melahirkan di rumah tanpa bidan(sebelumnya aq dah ingatkan suami, tapi dia nyantai karena ya itu tadi pengalaman orang2 di sekitar kami anak pertama biasanya lama d RS/Rumah bersalin baru lahir).
dua,selalu siapkan rencana cadangan(karena berencana melahirkan di RS, kami kemudian sibuk menghapal rute terdekat ke RS, lupa mempersiapkan kalo nggak sempat ke RS gimana?
Ya ampun, Dea. Waktu denger ceritanya dari Ofi, itu udah merinding-merinding. Pas baca ini, awalnya nggak tau kalo’ ini cerita Dea, ternyata tetep merinding-merinding
Salut deh beneran tapi ! Inspiring !
)
tiwi / 21 Feb 2012 16:21 / Log in to Reply(walaupun gak yakin bakal berani ngelakuinnya
wow,,bacanya sambil merem melek..salut deh,,it so inspiring story
Liefka Kairupan / 22 Feb 2012 14:37 / Log in to ReplySubhanallah…baca ceritanya mama Dea campur aduk antara serem, takjub, deg-degan..sampe narik nafas lega sekaligus happy begitu sampai akhir cerita.
tapi jujur kalo aku belum berani lahiran sendiri dirumah..meski suasana kekeluargaannya itu juara banget deh. salut sama mama Dea, tfs ya
Angie Renata / 23 Feb 2012 12:47 / Log in to Replytegang dan terharu sekaligus membaca cerita ini, saluut
raras / 24 Feb 2012 10:32 / Log in to Replysubhanallah?!
diniwiriarsa / 24 Feb 2012 10:53terharu bgt ya dengerrnyaa,..
marry / 24 Feb 2012 13:07 / Log in to Replykebetulan temen kantorku jg ada yg seperti itu,,,,ini smua kehendak Tuhan pastinya…
Subhanallah..
Pipit / 01 Mar 2012 15:52 / Log in to Replyterharu dan iri bacanya. Soalnya waktu aku melahirkan, keluarga ga boleh mendampingi. Belum pengalaman, jadi ngga kepikira tanya soal ini ke RSnya.
Baca artikel ini, berkali-kali aku ucapkan subhanallah deh, saluuuttt..
Subhanallah..
bundakusuma / 03 Mar 2012 06:27 / Log in to ReplySelamat ya Bunda Fatih. Saya sampai deg2an baca ceritanya. Hiks. Alhamdulillah persalinannya berjalan lancar. Jadi terharu & bahagia saya. Kagum & salut sekali untuk keberanian & rasa PD dari Bunda Fatih. Sy doakan smga kelak si jabang bayi menjadi anak yg soleh & berbakti kpd org tua amiennn.
Alhamdulillah… Selamat ya Bunda… jarang yang memiliki keberanian seperti mbak. Saya saja baca ceritanya deg2an
deardiar / 16 Mar 2012 15:24 / Log in to ReplySubhanallah mbak, dirimu hebat sekali. Selamat ya persalinannya lancar. Gimana sih mbak biar bisa jd pemberani gitu? Besok gede Fatih pasti juga pemberani ky mamanya yaaa… Selamat skali lagi..
anti
Mama Zahra / 16 Mar 2012 17:33 / Log in to ReplySubhanallaaah.. Uh-May-Zing!!
bener-bener takjub bacanya..ngga kebayang deh gimana rasanya..
ininin / 21 Mar 2012 17:56Selamat ya mbaa.. semoga mama & Fatih sehat selalu yaa..
Subhanallah, Deg degan deh baca ceritanya
Icut / 22 Mar 2012 09:41 / Log in to Replyalhamdulilah bunda fatih bisa melahirkan d rmh dgn sehat,,,bacanya ampe perut g enak gini, deg2an ,,,
bunda aufa / 14 Apr 2012 03:45 / Log in to Reply