Generasi Pertama dan Kelima
Dalam hidup, rasanya kita harus lebih banyak bersyukur. Bagi saya salah satu yang terus membuat saya bersyukur adalah dikaruniai Arka. Kehadiran Arka juga berarti Arka masih mempunyai kesempatan dalam hidupnya untuk ditimang dan disayang oleh eyang canggahnya. Ini berarti Arka adalah generasi kelima diurutkan dari atas.
Eyang Wignyokartono, begitu nama eyang canggah Arka. Beliau adalah kakek papa dari pihak ibunya. Walau sayangnya, Nenek yang biasa saya panggil Ibu, sudah pulang kepangkuanNya, Oktober 2009 yang lalu. Mengenang kepulangannya sangat menyesakkan dada karena semasa hidupnya terkadang saya adalah teman Ibu ‘berantem’, saya orangnnya ngeyel dan demikian juga Ibu. Ibu adalah salah satu figur yang membesarkan saya. Sejak kecil, saya sudah dibawa Ibu ke sana sini tanpa Mama Papa.
Beberapa minggu yang lalu, eyang canggah Arka datang ke Denpasar. Kali pertama melihat Arka, saya melihat mata eyang buyut saya itu berkaca-kaca, mungkin karena saking bahagianya Beliau menimang canggahnya. Tidak pernah beliau meminta sampai sedemikian beruntungnya biasa menikmati hidup sampai generasi kelimanya.
Pada suatu sore, beliau memanggil saya dan suami untuk mengobrol. Pelajaran tentang hidup berumah tangga, bagaimana beliau berjuang dalam hidup dan hidup dalam berumah tangga. Ini akan selalu saya ingat apa yang Yut Kung “ngendika ake.”
Terima kasih Yut Kung.





senangnya liat yut kung
ninit yunita / 31 Dec 2011 06:55 / Log in to Replyterlihat sehat dan bugar di usianya. salam yaaa untuk beliau
Iya mbak.. Terima kasih..
andina danisworo / 31 Dec 2011 08:45 / Log in to ReplyNanti akan saya sampaikan pada yut kung..
saya bisa ikut ngerasain betapa bahagianya beliau Mbak. kebahagiaan seperti itu mestinya jauh lebih bikin ‘trenyuh’ dibanding kebahagiaan karna materi ya
adhya / 31 Dec 2011 15:36 / Log in to Replysemoga bapak dan ibu saya nanti juga bisa menikmati menggendong cucu kandung anak saya.amin
betul.. kebahagianan seperti ini mungkin ga bisa di ganti dengan materi apapun juga..
andina danisworo / 01 Jan 2012 18:13 / Log in to Replywuahhh hebat ya. Syukur atas karunia-Nya. Sehat dan panjang umur Yut kung…
jasminetea / 01 Jan 2012 09:40 / Log in to ReplyTurut senang menyaksikan kebahagiaannya, disisi lain sedih jg kedua anakku ga berkesempatan melihat kakek n nenek dari pihak bapaknya. Dua tahun lalu kami hanya melihat n berdoa diatas pusaranya di palembang. Allah menentukan perjanjian yg tepat bagi setiap hambanya
buikadmar / 01 Jan 2012 14:35 / Log in to Reply*terharu*
Arvita / 05 Jan 2012 10:44 / Log in to Replysenangnya masi bersua dengan yutkung..
terharu
evi_widjaja / 05 Jan 2012 19:00 / Log in to Replybahagianya bisa mengenalkan eyang buyut ke anak kita
Samaaa… Hagan juga masih punya ‘mbah canggah’ yang tidak lain mbah buyutnya suami. Kebetulan suami deket banget sama mbah yut karena dari kecil ibu kandung dan nenek udah ga ada jadi diasuh mbah yut.
ardianingms / 07 Jan 2012 07:23 / Log in to ReplyJadi kangen pengen mempertemukan Hagan lagi sama mbah canggahnya. Thanks yaa…
wow… hebatt… sudah pasti mbah seneng banget ya..
aku aja yang masih bisa ‘mempertemukan’ anakku dgn mbah uyut-nya aja seneng banget.. dan alhamdulillah mbah masih sehat-sehat..
nna / 09 Jan 2012 17:05 / Log in to Reply