Nurwilliansyah




Nurwilliansyah, telco engineer. Married to Dinni Destiani with a 7 months old baby girl, Fayra Fathinnisa.



Seperti kebanyakan pria, saya dulu bercita-cita menikah paling cepat di usia 30 dimana karir sudah mapan, tabungan sudah cukup, dan sudah puas juga menikmati hasil kerja keras sendiri. Apalagi bagi pria, dunia kerja seperti jendela menuju mimpi-mimpi saat menjadi anak kuliahan terutama karena pria sudah mandiri secara finansial. Mantan pacar saya, yang sekarang sudah menjadi istri bilang bahwa alarm wanita untuk menikah itu otomatis berbunyi di usia 20 dan semakin kencang ketika lulus kuliah. Setelah lulus kuliah kebanyakan wanita berpikir mencari "pegangan" calon pendamping disamping mencari pekerjaan. Sedangkan pria? lulus kuliah, kerja, beli barang-barang dengan hasil jerih payah sendiri, dan jalan-jalan ke tempat-tempat yang diimpikan. Pria sepertinya butuh satu kejadian khusus yang membuat alarmnya berbunyi kencang. Salah satu teman saya tiba-tiba mantap untuk menikah ketika seorang anak kecil di mall salah memegang tangannya dan memanggil "papa". Teman lainnya mantap melamar pacarnya setelah berada di antrean dokter dan melihat sepasang kakek nenek menunggu antrean lalu dia berpikir ketika tua nanti, siapa yang akan menemaninya berbagi sedih dan mengantar ke dokter?



Saya "jadian" dengan istri saya di bulan Oktober 2006 waktu itu saya sebenarnya berpikir untuk serius berpacaran tapi tetap saja alarm saya belum juga berbunyi. Ibaratnya kalau ditanya, mau menikah? mau. Kapan? entahlah.


Alarm saya tiba-tiba berbunyi justru ketika saya sedang sangat menikmati pekerjaan yang menuntut saya untuk travelling ke beberapa kota di Indonesia.


Suatu kali sepulang dari dinas di Bali tiba-tiba saya merasa bosan dan seperti tidak punya tujuan hidup. Ibaratnya bekerja mengumpulkan uang, pergi jauh namun ketika kembali ke rumah yang ada uang tabungan habis untuk bersenang-senang. Lama-lama saya berpikir nggak akan ada berhentinya nih terus begini. Saya juga sering memerhatikan 2 orang rekan team saya, yang 1 sudah menikah dan ketika dinas luar selesai, dia pulang dengan sukacita karena istrinya menunggu di rumah. Satu orang lagi sedang mempersiapkan pernikahan, menabung, menyusun barang-barang rumah tangga yang harus dibeli. Dan tiba-tiba saja saya ingin menikah! As simple as that. Padahal waktu itu saya baru saja putus :p


Akhirnya bulan Maret 2008 saya memantapkan hati untuk tidak hanya melamarnya kembali menjadi pacar tapi juga untuk menjadi istri. Bulan Oktober 2008 lamaran keluarga resmi pun dilaksanakan dan akhirnya kami menikah tanggal 16 Mei 2009 di usia 26 tahun, ya lebih cepat 4 tahun dari target saya. Alhamdulillah Allah langsung memberi kami rezeki bidadari cantik bernama Fayra Fathinnisa. Perjuangan mendampingi istri hamil, melahirkan dan merawat Fayra adalah pengalaman yang paling berharga dan semoga dapat menjadi ibadah bagi saya, saya bersyukur diberi kesempatan untuk mengalaminya. Akhirnya ada yang menjadi tujuan hidup saya dan menunggu saya di rumah dengan cinta.



Ternyata berkomitmen tidak sesulit yang saya bayangkan. Tidak harus puas bersenang-senang secara karir dan materi, baru berkomitmen. Merasa dimiliki dan memiliki seseorang (malah 2 orang) jauh lebih membahagiakan. Apalagi kita tidak pernah tahu umur kita, apakah alarm masih sempat berbunyi sebelum kita dipanggil Yang Maha Kuasa.

30 Comments

  1. avatar
    Ayuning Martha Riskiyani April 23, 2011 3:34 pm

    wilyyyy...hehe ketemu di TUM kita...

    Waaa...Papas Willy jago cerita niy...:D Nice Story

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Tini November 26, 2010 10:33 am

    nice story...
    saya dan suami menikah saat sama2 lulus kuliah (20 tahun), alhamdulillah.. dengan berkomitmen..tujuan ke depan lebih jelas..setelah 4 tahun menikah,sudah dianugerahi 2 anak laki2 dan perempuan..

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Mifta November 8, 2010 11:10 am

    Suka penasaran sama cowo yang berani nikah muda. Disini jadi tahu detail salah satu-nya. Nice story :)

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Pangastuti Sri Handayani November 5, 2010 5:30 pm

    Wah ternyata yang bikin "alarm" untuk bunyi tuh beda2 ya... Dan kayaknya emang beda triggernya untuk cewe :p Nice story :)

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    Muflichatul Ahliana November 5, 2010 3:43 pm

    menikah menggenapkan separo agama n Alloh akan melapangkan rizki orang yg menikah...so pasti nikah bikin kita lebih bahagia, rahmat dan berkahNya bertebaran melingkupi keluarga kita :) . aku sendiri nikah muda pas masih skripsi, suami sendiri fresh graduate, kenal lewat ta'aruf singkat. Jadi aku ikut merasakan perjuangan suamiku menghidupi kami,hidup memang sll berjuang kan. Waktu itu alarmku dr ortuku yg bingung coz sering didatengin pelamar tp akunya yg sll g cocok, jd meski blm lulus disuruh2 nikah terus.kata bapakku sesuatu yg harus disegerakan itu ada 3 yaitu bayar hutang, menguburkan jenazah, dan menikahkan anak (al-hadits). sementara suamiku alarmnya coz cari kerja g dapet2 sama ortunya malah disuruh nikah, kata beliau ada kadang orang akan lbh mudah rezekinya after nikah.dan emang bener,itu ternyata berlaku buat anaknya :). Waktu itu aku blm kenal sm suami, kenal after masing2 alarm berbunyi gt...jd kami berjodoh melalui perjodohan singkat lewat sahabat yg jg sodara dekatku.
    Yah kupikir meski alarmku n suami nggak umum (i know ada aj yg mencibir), itu jalan kami, Alloh telah menggerakkan ortu kami dg caraNya and mempertemukan kami dg mudah. Alhamdulillah sekarang kami dah punya 2 buah hati yg benar2 penyejuk mata dan hati (qurrota a'yun).

    Semoga bisa jadi imam yg baik unt keluarga ya Pak Willy, dan bisa mewujudkan keluarga SAMARA. salam untuk istri dan putrinya yg cantik, semoga keduanya jd shalihah yg selalu membahagiakan.

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.