Bermain di Tamanak Sayan, Ubud

cluelessmom

Beberapa waktu yang lalu, kami mengajak Jojo ke taman bermain yang baru dibuka di daerah Sayan, Ubud. Sebagai orangtua dari bocah dua tahun yang luar biasa aktif, kami memilih untuk mengarahkan Jojo bermain di tempat terbuka sebanyak mungkin daripada ke mal atau indoor playground. Selain untuk lebih mengenal alam sekitar, udara terbuka tentunya lebih bagus untuk kesehatan daripada ruangan ber-AC. Aktifitas fisik seperti berlari, melompat, main ayunan, perosotan, dan sebagainya tentu lebih baik daripada sekedar jalan kaki di mal, duduk menonton TV, atau main games. Walaupun termasuk jauh lokasinya dari tempat tinggal kami di Denpasar, Tamanak merupakan salah satu pilihan tujuan akhir minggu kami selain main di pantai, trekking menyusuri sawah dan daerah pegunungan.

Sudah menjadi kenyataan bahwa di negara kita sangat kurang taman bermain terbuka gratis untuk anak-anak. Tidak seperti di luar negeri yang setiap beberapa ratus meter di daerah perumahan diwajibkan ada outdoor playground. Alih-alih menjadi hak setiap anak, taman bermain kini adalah sebuah bisnis – banyak playground (kebanyakan indoor atau gabungan indoor-outdoor) bermunculan dengan berbagai tingkat biaya. Ya, kita harus bayar supaya anak-anak kita bisa bermain dan menjadi anak-anak!

Sekelompok individu di daerah Ubud, kebanyakan dari mereka adalah kaum ekspatriat dan para orangtua, memutuskan untuk menggalang dana dan mewujudkan taman bermain terbuka gratis. Bukan dalam bentuk perusahaan atau organisasi, karena mereka percaya bahwa “ketika kita melihat kemungkinan untuk menciptakan sesuatu dari inisiatif pribadi, lebih baik beraksi secara mandiri”. Mereka bekerja sama sejak awal dari menggalang dana, menyewa tanah, membangun, dan memasang berbagai mainan. Dalam waktu beberapa tahun, terwujudlah cita-cita mereka dalam bentuk Tamanak – singkatan dari Taman Aman Anak.

Berlokasi di daerah Sayan, Ubud, Tamanak merupakan tempat bermain yang aman karena lokasinya agak jauh dari jalan raya yang ramai. Anak-anak di desa Sayan dan sekitarnya bebas bermain di sana, dan anak-anak kaum ekspatriat juga sering berbaur main bersama. Bangunan dan sebagian mainannya dibuat dari bambu, sangat asri dan menyatu dengan alam. Botol-botol bekas digantung dengan isi air warna-warni untuk membantu anak mengenal warna. Ada ayunan kuda-kudaan dari ban bekas, perosotan dengan struktur bambu, atap alang-alang, bale untuk orang tua duduk-duduk dari bambu juga. Di pojok taman terdapat area bercocok tanam tempat anak-anak bisa belajar nama aneka tumbuhan bumbu dapur dan sayur-mayur. Sama sekali tidak dipungut biaya untuk main di sini, pengunjung hanya diminta untuk tidak membuang sampah sembarangan dan mendidik anak-anak untuk mau berbagi mainan dengan yang lain.

Sejak dibuka 30 Maret lalu, Tamanak tidak pernah sepi pengunjung. Sampai saat ini para penggagas masih rajin menggalang dana untuk pemeliharaan taman menambah wahana bermain dan membuat aneka aktivitas untuk anak-anak seperti face painting, karnaval, membuat tembikar, dan sebagainya. Saya sendiri sangat terkesan dengan dedikasi dan usaha para penggagas demi kebahagiaan anak-anak desa Sayan, yang dapat juga dinikmati oleh semua orang. Saya jadi ingin membuat hal yang sama di Denpasar, tapi masih berpikir bagaimana caranya ya?

Nama tempat: Tamanak
Jam buka: setiap hari dari pukul 9 pagi sampai 5 sore
Lokasi: Desa Sayan, Ubud (jalan menuju hotel Four Seasons Sayan, ada belokan ke kanan dengan tanda “Puskesmas Desa II Sayan” kemudian melewati pura masuk ke dalam desa di belakang pura).

8 Comments

  1. cindy
    cindy vania July 2, 2013 at 1:21 am

    wah,bagus banget ya Tamanak ini,dan emang bener kalo playground di Indonesia jarang banget yang gratisan. btw,suka banget sama kuda2an dari ban karetnya itu.
    kalo ke Bali mau mampir aah!
    TFS ya Mia :)

  2. faris_haikal
    Faris Haikal July 2, 2013 at 1:29 am

    kreatif banget yang bikinnya, salut deh. bikin playground yang mainannya terdiri dari plastik n fiber kan mahal, tapi ini di Ubud pake ban bekas, bambu bahkan ada areanya bebas plastik. Jadi pengen deh main kesana

  3. Momma Bi
    Bianda Nadia July 2, 2013 at 12:54 pm

    Wowwww keren, TFS cluelessmom :)
    jd pengen ke ubud lagi…
    Maret lalu ke sana sama Einar (1yo) cuma makan ayam kedewatan sama mampir main di puri lukisan, ntar kl ke sana lg mau bgt nih ke tamanak sayan :)

  4. Shinta_daniel
    Shinta Daniel July 3, 2013 at 9:05 am

    Waaaah kereeen, salut banget sama idenya untuk bikin tamanak. Gak perlu mahal, yang penting fun dan bermanfaat untuk anak2.

  5. koeliz
    Tasya Karissa July 4, 2013 at 4:08 pm

    Mau mampiiiirrrr pas banget nih TOS.. anakku juga dua tahun, dan kami tinggal di Gianyar – Ubud.. Horrraaay.. playdate yuuk?

  6. ZataLigouw
    Zata Ligouw July 4, 2013 at 11:28 pm

    Thanks infonya Mia. Emang anak2 kudu lbh sering dibawa ke tempat spt ini ya, jng nge-mol mlulu hehehe..

  7. ashwindhiwa
    ashwindhiwa July 8, 2013 at 10:11 am

    wewww ada yg post juga tempat ini :) ayoo mampirrr,,, ga rugi deh… ini deket sama rumahku lho di ubud hehehe….
    @Tasya Karissa : ayoo playdate yukk,,,,

  8. mama taka
    mama taka July 9, 2013 at 10:45 am

    wah … saya juga mau maen kesana liburan nanti … :)
    kebetulan kakak Taka & adik Ryu sangat senang main di alam bebas. saya biasanya sering ajak mereka main di lapangan puputan renon, sambil main bola di rumput dan lari-larian :)

    note: mommy yg domisili denpasar, yuk kita buat sesuatu yg seperti ini di denpasar :) hehehe

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.