Breastfeeding Abscess

geezta

Breastfeeding abcess bukan menjadi akhir dari kegiatan menyusui dan ASI tidak harus dihentikan setelah terjadinya breastfeeding abscess ini.

MASTITIS? PLUGGED DUCTS? ABSCESS?

Pada hari ke-10 setelah Dowvan lahir, payudara saya mulai bengkak dan badan saya meriang setiap subuh dan sore hari. Saya bertanya ke sana-sini (termasuk ke dokter kandungan saya) dan solusi mereka adalah massage, massage dan massage. Saya putus asa karena semakin hari payudara saya semakin keras dan Dowvan semakin menolak si payudara keras ini. Akhirnya saya googling dan saya mengetahui apa yang disebut mastitis dan perbedaannya dengan plugged ducts (baca penjelasan jelas di sini, juga mengetahui tentang milk blister (penjelasan di sini). Dan karena keawaman saya, saya kira ini bukan mastitis, ini plugged ducts.

Saya coba ke beberapa RS, dokter kandungan, klinik laktasi RS, dokter umum sampai UGD dan sayangnya saya bertemu dengan orang yang tidak tepat, no sollution. Lagi-lagi saya cuma dibekali paracetamol dan disuruh pumping pakai pompa RS. Saya saat itu merasa kecewa, kenapa masalah saya waktu itu seperti dianggap sepele, padahal rasa sakitnya benar-benar tidak tergambarkan. Banyak dokter dan suster yang belum terlalu paham mengenai mastitis dan breastfeeding abscess karena memang ini kasus yang jarang di negara yang mayoritas ibunya menyusui secara aktif, dan dokter bedah saya pun bilang kadang dokter bingung antara plugged ducts, mastitis, dan abses. Ini sebabnya kita harus datang ke orang yang tepat.

OPERATING DAY

Dengan rasa badan yang makin tidak karuan, payudara merah padam, areola sampai mengilat karena sudah sangat bengkak dan produksi ASI yang makin menurun, barulah saya bertemu dengan dokter laktasi di RS KMC Jakarta yang akhirnya bilang saya harus rawat inap saat itu juga untuk terapi antibiotik lewat infus, karena kalau oral pasti sudah tidak mempan. Di situ hati saya makin tidak karuan dan saya menangis, rawat inap? Kenapa bisa sampe separah ini? Lalu bagaimana dengan bayi saya? Waktu itu Dowvan baru 1 bulan. Tapi di sana ibu saya bilang, jangan tunda-tunda karena menurut beliau kondisi saya sudah parah sekali.

Saat saya sedang mengurus administrasi rawat inap, dokter laktasi merujuk saya untuk bertemu dokter bedah di sana. Beliau berpesan agar saya bertemu dengan si dokter bedah yang satu ini karena proASI, semua obat yang dipilih adalah obat-obat yang seminimal mungkin mempengaruhi ASI, dan yang paling penting dia tidak akan menghentikan ASI pada saat masa pemulihan. Saya makin bingung, kok treatment antibiotik sama dokter bedah, tapi ya sudah saya ikut aja.

Sekitar jam 3 sore, saat ketemu dengan dr. Myra Sylvina SpB, saya langsung cerita apa yang saya keluhkan, di sana beliau memutuskan untuk melakukan respirasi (mengambil cairan dari payudara menggunakan jarum suntik) guna memastikan apa ini mastitis atau sudah menjadi breastfeeding abscess. Setelah respirasi dan ternyata  cairan ASI saya yang tersumbat waktu itu sudah berwarna hijau mirip green tea latte. Dokter bedah saya langsung bilang kalo ini sudah tidak bisa di-treatment dengan antibiotik tapi harus diinsisi dan drainase malam itu juga (dilubangi dan disedot cairan ASI yang sudah terinfeksi), karena ternyata payudara saya yang terinfeksi bukan cuma sebelah tapi dua-duanya dan sudah parah. Saya yang sudah pasrah dan dengan dukungan suami akhirnya setuju. Saya dioperasi dengan bius total hari itu juga dengan hasil 120 ml cairan ASI dari kedua payudara.

RECOVERY

Operasi berlangsung sekitar 2-3 jam sampai akhirnya saya sadar dan bisa dibawa kembali ke kamar. Saya tidak terlalu ingat bagaimana detailnya. Yang pasti 1 hari setelah itu, sampai dengan 3 hari berikutnya, Dowvan dibawa oleh Omi-nya (ibu saya) ke RS sekitar pukul 10 pagi dan tetap di RS sampai pukul 10 malam karena pihak RS tidak mengizinkan bayi menginap dengan alasan ini kasus infeksi. Dokter anak mewajibkan Dowvan tetap menyusu langsung selama masa pemulihan agar ASI saya tidak berhenti berproduksi. Saya juga tetap pumping setiap 2 jam sekali.

Sebelum operasi, Dokter sudah bilang kalau nanti luka (ada 3 lubang insisi, 2 di kanan dan 1 di kiri) tidak akan dijahit, tapi akan ditunggu sampai akhirnya menutup sendiri agar sisa-sisa infeksi bisa tetap di-drainase dan tidak terjadi infeksi lagi. Jadi lubang-lubang yang panjangnya mungkin sekitar 2 buku jari telunjuk ini ditutup tampon kasa dan kasa ini harus diganti setiap hari selama di RS dan 2 hari sekali setelah saya pulang (oleh dokter tentunya). Jadi selama 1,5 bulan, agenda saya adalah bolak-balik ke RS untuk ganti kasa, ditetesi penumbuh jaringan dan diobservasi infeksinya, bukan hal yang menyenangkan tentunya.

Masa pemulihan ini bisa dikatakan salah satu masa terberat dalam hidup saya. ASI merembes dari lubang-lubang itu pada saat sedang menyusui/pumping sehingga membasahi baju saya dan Dowvan, jadi saya harus sering-sering ganti kasa luar (yang bisa saya ganti sendiri), badan yang lemas karena masih mengonsumsi antibiotik, pain killer, dll. Perasaan yang tidak keruan sampai sempat ingin minta obat penyetop ASI karena tidak tahan dengan lamanya proses pemulihan (lubang-lubang itu lama menutup karena selalu basah rembesan ASI) dan capek karena tiap 2 hari sekali harus mondar-mandir RS untuk ritual ganti kasa. Tapi Alhamdulillah saya punya ibu, suami, anak dan dokter bedah yang luar biasa, selalu mendukung dan mengingatkan kalau saya pasti bisa melewati ini.

RAINBOW AFTER THE RAIN

Dowvan sewaktu berumur 5 bulan

Selain kata-kata dokter, ibu dan suami saya yang selalu bilang semua akan baik-baik aja, Dowvan adalah motivasi saya untuk tetap “mempertahankan” ASI saya. Bagi saya, ASI adalah hak dia yang dititipkan melalui saya, rasanya sangat egois kalau saya masih bisa memproduksi ASI sebanyak saat itu, tapi saya putuskan untuk berhenti. Saya juga memotivasi diri dengan cara mengingat momen saat saya salah memberikan data pada bos besar yang berakibat dia dipermalukan di depan umum, waktu itu rasanya dunia saya runtuh, sangat takut, tapi buktinya ketika sudah berakhir dan saya perbaiki, saya bisa move on dan baik-baik saja. Saat itu, saya yakin suatu saat setelah semua penderitaan berakhir saya akan baik-baik saja dan tidak akan menderita.

Saya ingat hari saat akhirnya semua luka sudah menutup, hari terakhir kontrol ke dokter bedah, 1,5 bulan setelah hari operasi, saya sudah bisa tertawa lebar, semua sudah bisa dibilang baik-baik saja dan rasa menderita sudah tidak ada. Selama masa pemulihan dan sampai sekarang pun saya bertekad, saya tidak akan “malu” dan ragu-ragu untuk menceritakan ini, saya tidak mau ada orang-orang yang merasa sama seperti saya, kurang informasi, merasa sendirian, dan tidak tahu mengenai apa yang sedang dia derita. Saya pun makin rajin untuk mencari informasi mengenai ini.

Sekarang, Dowvan sudah 7 bulan, sehat, ceria dan saya sangat bersyukur dengan segala perjuangannya Dowvan masih terus minum ASI (walaupun saya harus E-Ping karena dulu saya selalu sedih kalau melihat bajunya basah (kuyup) setiap menyusu dan akhirnya saya lebih memilih pumping).

Saya juga sudah baik-baik saja, tidak ada lagi rasa mengerikan dan menyedihkan yang dulu selama 1,5 bulan saya rasakan, tidak ada rasa sakit, ASI lancar, walaupun ada 3 “kenang-kenangan” yang kemungkinan tidak akan hilang, but it’s ok, bener-bener kebayar dengan bisa melihat Dowvan sehat, tertawa setiap hari, aktif dan bahagia.

Even if there is pain now, everything would be all right, for as long as the world still turns, there will be night and day. There’s a rainbow always after the rain.

38 Comments

  1. MommyMinjee
    MommyMinjee September 17, 2012 at 7:56 am

    Luar biasa bgt perjuangannya buat kasi hak anak yaitu ASI… Tooopp!!!! Temen saya juga kasusnya sama, terinfeksi payudara nya.. Sampe merembes darah dari samping payudaranya… Saya dulu “cuma” cracked nipple plus bengkak sampe meriang aja menderita bgt, apalg kasus yg seperti ini.. Semoga Tuhan memberkati2 semua ibu2 yg berjuang untuk anaknya dlm bentuk apapun…

    1. geezta
      Mevyenna Agizta Konig September 19, 2012 at 8:14 am

      Aamiin..
      meriang itu emang ga bangeet yaa..hehehe
      btw, sekarang temennya udah sembuh kan?

  2. MrsLazuardi
    Winda Lazuardi September 17, 2012 at 8:30 am

    Semangat ya Mom!
    Baru tau ada kasus yang bisa separah ini, tfs mom.

    1. geezta
      Mevyenna Agizta Konig September 19, 2012 at 8:16 am

      sama2 yaa..
      saya juga baru tau kasus kaya gini pas saya ngalamin *tepokjidat
      semoga bisa jadi pengetahuan n bisa share ke temen2 menyusui yang punya gejala sama biar ga jadi abses yaa :)

  3. rini85
    Marini September 17, 2012 at 8:45 am

    sy dulu juga mengalami bengkak sebelah payudara, bengkaknya sama kayak kamu gambarkan, keras seperti batu, putingnya pun keras, anak sampe ga mau menyusui. Ga kebayang deh perderitaanya dr melahirkan sampai 7 hari kemudian baru sembuh. Tapi sy ga sampe pergi ke dokter jd sampe skrg ga tau apakah itu abscess atau yg lainnya. Mamaku yg nurse aja bingung dg keadaan sy, kemudian beliau ingat kalau ada pengobatan traditional untuk payudara bengkak tapi lupa, setelah telepon ke sesama rekan nursenya dulu, akhirnya ada kawan beliau yg bidan bilang kalau payudara dibungkus dengan daun ubi, supaya bengkaknya berkurang atau istilahnya ASI yg tersumbat mengering jd bengkak pun hilang. Alhamdulillah, setelah seharian payudara dibungkus daun ubi, memang payudara yg awalnya keras kayak batu, akhirnya kembali normal. Setelah itu memang sy bisa menyusui anak sy tapi produksi ASI sy cuma cukup-cukup aja buat anak alias sedikit. Sy tidak tau apa ada hubungannya dg daun ubi yg mengeringkan ASI pada saat bengkak, atau tidak, dengan produksi ASI uh sedikit. Tapi tetap alhamdulillah, sy sy tetap menyusui anak sy sampai usianya 15 bulan dengan campur susu formula juga.

    1. geezta
      Mevyenna Agizta Konig September 19, 2012 at 8:19 am

      Alhamdulillaah :)
      wah beruntung banget kebantu sama daun ubi yaa..
      kalo soal produksi asi surut kayanya hubungannya dengan bengkak deh, soalnya kalo yang dari saya baca2, plugged duct n mastitis menyebabkan produksi asi makin sedikit.
      dulu pasca operasi juga produksi asi saya suruuut, sekali pumping cuma dapet 10ml, tapi Alhamdulillahnya bisa recover

    2. monicamonique
      monicamonique October 16, 2012 at 7:03 pm

      Pake daun ubi gimana caranya,mbak Marini? Mau coba jg dong…
      Saya jg bengkak sebelah nih, sudah menyusui, pompa, tetap payudara rasanya penuh n panas :(

  4. Sipiki
    Sipiki September 17, 2012 at 10:40 am

    Wah syukur akhirnya ketemu nakes yang paham ya… Aku kemarin ngalamain hal yang sama, sakit banget tidap kali menyusui tapi sama suster dan dokter dianggal wajar karna anak pertama :’(
    Selamat ya Geezta…uda berhasil menghadapi tantangan besar menyusui :) inspiring banget!

    1. geezta
      Mevyenna Agizta Konig September 19, 2012 at 8:21 am

      terimakasiih :)
      iyaa, banyak banget yang nganggep “wajar”, padahal seharusnya ada treatment2nya.
      baca link yang saya tulis di artikel yaa, bisa jadi bekal buat menyusui anak kedua ntar..hehehe

  5. Lusi Fransis
    Lusi Daruadji September 17, 2012 at 10:43 am

    tfs mom geezta. salut sama perjuangannya, bacanya aja ga tega apalagi mengalami.

    1. geezta
      Mevyenna Agizta Konig September 19, 2012 at 8:24 am

      makasiih yaa :)
      iya beruntung banget support dari ibu,suami,anak n dokter waktu luar biasa..kalo ga gatau juga deeh..hehehe

  6. mia pradipta
    mia pradipta September 17, 2012 at 11:35 am

    luar biasa cobaannya bund, smoga menjadi penghapus dosa-dosa.
    semoga dowvan tumbuh jadi anak yang sehat dan cerdas

    1. geezta
      Mevyenna Agizta Konig September 19, 2012 at 8:25 am

      Aamiin YRA..
      terimakasih banyak doanya yaa..
      doa yang sama untuk anak mba Mia :)

  7. popobell
    Gisela Sumy Lusianty September 17, 2012 at 5:43 pm

    You are a strong mom! Dowvan adalah bayi yg beruntung punya mama setangguh mbak!

    1. geezta
      Mevyenna Agizta Konig September 19, 2012 at 8:26 am

      terimakasihh yaa :)
      won’t be this strong kalo ga punya anak yang luar biasa kaya Dowvan :D

  8. mariaulfa
    Maria Ulfa September 17, 2012 at 8:24 pm

    Subhanallah.. mba kuat banget.. saya salut sama mba,, saya sampai nangis membaca nya.. smoga mba dan Dowvan sehat-sehat terus dan ASI nya selalu lancar sampai Dowvan siap disapih.. Aamiin :)

    1. geezta
      Mevyenna Agizta Konig September 19, 2012 at 8:27 am

      Aamiin terimakasih banyak yaa, doa yang sama untuk mba Maria sekeluarga.
      semoga bisa menambah pengetahuan seputar menyusui n bisa share ke temen2 menyusui yang punya gejala2 kaya saya supaya ga harus jadi abses. :)

  9. arninta
    arninta pusiptasari September 18, 2012 at 9:04 am

    aku sampai menangis membacanya :’) thanks for sharing mba..

    1. geezta
      Mevyenna Agizta Konig September 19, 2012 at 8:28 am

      terimakasih yaa
      semoga bisa jadi pengetahuan n bisa share ke temen2 menyusui yang punya gejala sama biar ga jadi abses yaa :)

  10. adian
    adian September 18, 2012 at 2:40 pm

    Mbaa, i love you full!! Merinding bacanya!!
    Bener mba semua itu kebayar waktu ngeliat anak ya :)

    smangat mba!

    1. geezta
      Mevyenna Agizta Konig September 19, 2012 at 8:30 am

      iya bener banget,the power of his innocent eyes itu luar biasa..:D
      makasih yaa
      semoga bisa jadi pengetahuan n bisa share ke temen2 menyusui yang punya gejala sama biar ga jadi abses yaa :)

  11. lla_nugroho
    Meila Danuwidjaja September 18, 2012 at 7:23 pm

    Mbak, hebat banget yah… Sampai merinding, terharu, sekaligus nyut2an bacanya. Semangat yah mbak, semoga Dowvan jadi anak yang kuat dan sabar seperti mamanya.

    1. geezta
      Mevyenna Agizta Konig September 19, 2012 at 8:31 am

      Aamiin,,
      hebat karena punya anak hebat n ibu juga suami yang luar biasa :)
      semoga bisa menambah pengetahuan seputar menyusui n bisa share ke temen2 menyusui yang punya gejala2 kaya saya supaya ga harus jadi abses. :)

  12. geezta
    Mevyenna Agizta Konig September 19, 2012 at 8:13 am

    telat sadar kalo artikelnya udah published..hehehe

    Aamiin, terimakasih semua buat doanya untuk Dowvan :D

    semoga bisa nambah pengetahuan kita seputar menyusui, bisa bantu ibu menyusui lain yang punya gejala-gejala yang sama untuk segera ketemu dengan nakes yang kompeten yaa

  13. sLesTa
    shinta lestari September 20, 2012 at 11:46 am

    wow, luar biasa sekali perjuangan memberi ASI untuk si kecil. benar2 role model untuk berjuang demi ASI, inspiratif sekali. dowvan beruntung sekali mempunya seorang mama seperti dirimu, yang berjuang untuk memberikan hak yang terbaik untuk dowvan. saluuutt!!

  14. nule
    nule September 21, 2012 at 9:41 pm

    Saya standing ovation buat mba. What a great mom you are and such an inspiring story. Pengalaman menyusi saya jg tdk terlalu mulus diawal,tp masih jauuhh lebih baik drpd yg mba alami. Cerita mba akan jd pengingat buat saya untk tetap kuat memberikan asi untk bayi saya. Thanks for sharing your story :)

  15. Honey Josep
    Honey Josep September 25, 2012 at 4:32 pm

    wow! a great story to tell!

    Pejuang ASI sejati dan beruntung lingkungan juga sangat mendukung :)

  16. rini85
    Marini October 22, 2012 at 6:59 pm

    Mbak, maaf krn sy terlambat balas komennya. Sy ga ingat apakah daun ubinya direbus dulu atau cuma direndam air, yg pasti daun ubi yg basah dan masih utuh dr tangkainya, sy gunakan untuk kompres payudara, seluruh bagian payudara ditutupi dg daun ubi, lama juga sy biarkan daun ubinya krn waktu itu keadaan benar2 lemas sekali, sampai sy merasa agak nyaman di bagian payudara, baru daun ubinya sy bersihkan. Sebelumnya mama sy sudah coba kompres dg air panas dan dingin bergantian, tp bengkak tidak berkurang juga, bagian dr puting sampai ada yg berubah jd keras dan hitam seperti kulit mati, sy bersihkan kulit mati tsb dg sikat gigi anak balita sampai bersih. Mdh2an bengkak payudara mbak udah berkurang yah….

  17. rini85
    Marini October 22, 2012 at 8:00 pm

    Aduh, mohon maaf kepada semuanya, sy sudah salah memberi informasi mengenai cara tradisional mengurangi bengkak payudara. Barusan sy telepon mama sy untuk menanyakan kepastian infonya. Ternyata BUKAN DAUN UBI, yang dipakai itu DAUN KATES/PEPAYA. Mohon maaf atas kesalahan tersebut, kejadian tsb udah hampir 3 tahun yg lalu, sy lupa dan salah ingat. Untuk yg ingin mengetahui bagaimana caranya, mama sy bilang, daun pepaya diletakkan di atas nasi yang masih panas supaya menjadi agak layu atau bisa langsung ditaruh di payudara.

  18. cynkoirewa
    Cynthia Koirewa November 9, 2012 at 1:28 pm

    Nice info,
    TFS mom Marini :D

  19. ratna wira
    ratna wira May 8, 2014 at 11:20 am

    mb aku mau tanya, adekku lg mengalami hal yg sama sampai akhirnya dibedah pd sebelah kanan 1 di samping dan 1 persis di bawah areola. Sampe skrg ms dalam masa treatment, yg harus ganti kasa tiap pagi dan sore karena asi merembes, yg ganti saya sendiri. Bedanya dia tidak disarankan tetap menyusui/ pumping krn dikhawatirkan lubang tidak segera menutup dan tidak disarankan untuk disusukan karena takut masih belum steril/ bakterinya masih belum hilang semua, yg bawah areola dibuka lmyn lebar kira2 hampir 2 ruas jari dan smp skrg ms belum menutup sebagian karena ada jaringan yg keluar. Tp saat kontrol kata dokter bedah tidak apa2 dan sampai sekarang tetap treatment biasa ganti kasa di rumah.Yg jadi masalah sebentar lagi adik saya balik lagi ke jakarta krn cutinya habis,sedangkan lukanya belum kering benar.Gimana yaaaa….

  20. melisatjandra
    melisatjandra May 24, 2014 at 7:21 pm

    Mba Ratna, mgkn aku bisa bantu jawab karena aku juga ngalamin hal yg sama sampai operasi karena sudah abses dan ada asi yg membatu. Aku dioperasi bukan insisi tp pembedahan seperti angkat tumor karena asiku sudah membatu sebesar 5cm an. Tp luka operasi juga tetap diberi pita (drill) agar cairan serum bisa keluar. Yg membuat luka lama menutup memang asi merembes. Untuk kasusku, asi tdk merembes kata dokternya beda saluran jd tidak masalah sehari setelah operasi aku lsg menyusui. Yg aku mgkn bisa bantu kasih masukan, cari dokter konsultasi dgn dokter bedah yg proasi jd dokter bisa berusaha agar tetsp bisa menyusui..

  21. idanur
    idanur August 16, 2014 at 10:21 am

    Mulai kemarin aku rawat inap krn PD kananku mastitis, tapi aku sudah tidak menyusui setelah zumna mberumur 2,2th aku sapeh,selang sebulan setelah sapeh PD kanan bengkak tersumbat gk bs keluar,berobat ke beberapa dokter cm dikasih antibiotik sama pereda nyeri, sampai akhirnya seminggu yg lalu ke dr bedah, dokter langsng menyarankan insisi, pikiran kacau takut campur aduk, seminggu berpikir, akhirnya balik jg. Mulai kemarin sdh rawat inap, rencana operasi 2 hari lg hari senin. Perasaan tkt ini tambah jd setelah brsn dokter bilang akan membuka sedikit dan nyedot nanahnya terus dimasukkan kasa di dalamnya sampai kering nanti menutup sendiri, rasa tkt tambah jd, trs aku bk blog imi agak sedikit lega.hanya saja rasa pede ku hilang ngebayanginnya, bekas lukanya, lama penyembuhannya.stres bu. Bagaimana ngilangin rasa ini, trs klo kerja bagaimana, gk bs lama2 libur jg, tambah stres rasanya.

  22. ikarah
    ikarah November 2, 2014 at 3:52 pm

    Mba sy jg punya pengalaman yg sama ttg mastitis dan abses, awalnya sy demam krn ketidaktahuan sy saya pikir sakit biasa krn mau menstruasi ternyata beberapahari kmdn PD kiri saya ada benjol lokasinya benjolnya hampir dekat puting hingga bayi saya yg baru 2 bln tdk mau menyusu di PD kiri, dan saya tes memang ASI saya agak asin rasanya. Mnrt yg saya baca2 kl infeksi tubuh akan mengeluarkan garam shg ASI agak asin. Tp PD kanan sayaa ASi tetap sy berikan ke bayi sy krn Alhamdulillah tdk sakit.kmdian saya kedokter bedah di RS dharmais tkt kalau2 ini kanker ternyata mastitis dan sdh infeksi sy diberi antibiotik, anti radang dan anti nyeri stlh sy minum tetap msh nyeri seminggu kdmn PD saya memerah sy kembali ke dokter kt dokter sdh abses dan hrs drainase sy sdh buat perjanjian tuk operasi 4 hari kemudian sambil menunggu operaasi sy tetap disuruh. Minum antibiotik, anti radang dan anti nyeri, krn mnrt dokter bukan kanker saya alternatif ke dokter di RS Harkit menyatakan hal yg sama abses, dikasih obat lagi yg sama antibiotik, anti radang dan anti nyeri kl seminggu msh merah akan dioperasi. Di rumah saya. Kompres air hangat dan massage sendiri memang keluar beberapa tetes nanah berwarna kehijauan gitu dan Di rumah sy alternatif sendiri dan atas saran mertua minum propolis yg dr Melia saya minum saking sdh nyeri 10-20 tetes dan saya teteskan jg ke ujung puting yg sakit dan sy oles ke PD yg benjol krn ASI tersumbat, Alhamdulillah sy kembali ke dokter bedah di Harkit bilang abses sdh sembuh krn dipencet2 sm dokter sdh tdk sakit dan memerahnya sdh mulai hilang hanya tinggal benjolnya msh ada mnrt dokter antibiotiknya berhasil menembus si infeksi abses tadi dan benjolnya akan hilang sendiri memang butuh wkt krn namanya jg meradang Alhamdulillah dokter blg sy ga usah dioperasi krn apa yg mau dioperasi nanahnya saja Sdh tdk ada krn diperiksa dokter PD kiri saya sdh tdk adaa yg sakit tadinya kesenggol sedikit saja sakit. Entah antibiotik dr dokter atau antibiotik si propolis itu yg berhasil menembus si infeksi krn menurut yg saya baca2 antibiotik ga akan bs menembus tempat ASI yg kena abses krn saluran asi itu tdk dialiri darah sdg antibiotik diedarkan keseluruh tubuh oleh darah.Tapi yg sayaa rasakan stlh sy minum, saya tetes di ujung puting yg sakit dan saya olesi rasa nyeri berangsur2 menghilang sampai dokter blg ga perlu dioperasi. Saat ini benjol nya mulai mengecil sy tetap pompa asinya dan blm berani sy kasih ke bayi tuk PD yg bekas sakit jd sy msh buang. Bayi sy susui dr PD kanan yg tdk sakit dan skrg air ASI PD kiri saya coba pakai ujung jari sdh tdk asin lagi rasanya

  23. lina09
    lina09 December 5, 2014 at 5:59 pm

    Mba ikarah.. saya sedang mengalami kasus ini,, saya sedang coba pake propolis.. dedenya juga g mau nyusu di payudara kiri.. maunya dipayudara kanan saja.. mba sampe kapan dedenya nyusu dipayudara kanan??

  24. stella septania
    stella septania January 9, 2016 at 7:31 pm

    Saya juga abses dan di operasi 4 des 2015 lalu. Di KMC juga. Dengan dokter Mira juga mba. Saya masih menyusui hanya dari 1 payudara saja nih mba karna baby setiap nyusu dari payudara yg sudah di insisi selalu hanya sebentar saja ngisep nya. Dan asi yg keluar tidak banyak juga keluar dr puting. Makanya baby jadi ogah nyusu dari situ kali ya mba? Solusi kata dokter teap di susuin aja baby nya pake payudara yg di insisi. Tapi yah bgitu, yg kelyar masih dikit. Di pompa pun ga keluar. Mohon bantuan nya mba.. kali aja ada yg punya pengalaman sama…

  25. Lingyuli
    Lingyuli March 4, 2016 at 12:11 pm

    Saya juga mengalami mastitis dan telah di operasi tanggal 2 Feb 2016 lalu. Proses operasinya sekitar 30 menit dan saya sadar sekitar setengah jam nya kemudian atau lebih.Bekas operasi tidak dijahit, ditaro tampon dan ditutup kain kasa. Esok pagi nya dengan infus anti nyeri yang masih terpasang, saya ganti perban di Dokter.Saat itu belum merasa sakit, mungkin karena masih ada anti nyeri nya. Tidak merasa sakit di bekas operasi dan tidak merasa sakit juga keesokan harinya ( hari ke 2 ) setelah infus dilepas. Tadinya saya sudah berpikir pasti akan sakit sekali saat infus anti nyerinya tidak dipasang lagi. Tetapi ketika hari ke 3 kembali ke RS untuk dibuka perbannya dan ganti perban baru merasa sakit. Saat itu dokter berkata ASI tetap jalan terus aja,anak saya sudah berumur 2 tahun 2 bulan saat itu. Tetapi memang sejak bayi cuma mau asi di sebelah kanan, kiri tidak mau. Jadi yang dioperasi ini ,yang kena mastitis adalah sebelah kiri. 2 minggu setelah operasi, hasil laboratorium mengatakan Granulomatous Mastitis. Dokter saya berkata ini adalah semacam radang kambuh kambuhan, jadi saya diberikan obat 2 macam, Methotrexate dan asam folat. Saya mungkin sudah keburu stress mendengar kambuh kambuhan sehingga lupa bertanya juga apakah aman obatnya buat ASI? sehinggga ketika mulai minum minggu lalu, saya perhatikan anak saya kenapa sehari bisa BAB hingga 5x walaupun tidak diare, bab nya bagus. Saya berpikir dia tidak cocok lagi dengan susunya ( ada tambahan susu juga selain asi ), sehingga saya hentikan susunya. Bahkan saya sampai berpikir tidak cocok beras dan ganti beras merek lain . Terakhir tadi malam baru terpikir sepertinya karena asi saya, lalu saya tanya dokter saya, baru dokter saya berkata kalo minum Methotrexate maka ASI harus di stop. Terpaksa saya stop kasih ASI mulai tadi malam dan hari ini anak saya tidak sering sering BAB lagi. Apakah ada di antara sis sis yang hasil PA nya granulomatous Mastitis juga ? apakah ada yang mempunyai pengalaman kambuh kembali ?

  26. Diana veronica
    Diana veronica April 23, 2016 at 12:28 pm

    Saya juga mengalami abses & dioperasi tgl 17 Maret 2016 lalu. Sayang sekali, saya baru baca disini kalo propolis melilea bisa membantu melawan bakteri penyebab mastitis.
    Setelah di-insisi, saya masih melakukan fisioterapi infrared laser utk sisa-sisa bagian pd yg keras/grenjel. Sudah terapi 5x, seharusnya masih lanjut, setidaknya 1x lgi, krn kalau pd sdh penuh asi, bagian yg grenjel keluar lagi sedikit. Jdi harus dikompres dgn botol asi berisi air panas. Terus baru disusukan (biasanya babyku gak mau nyusu sampai habis, cuma sebentar aja) atau dipompa (setelah babyku ga mau nyusu) atau dipencet/pijat (dipleret istilah Jawa) setelah gak mempan dipompa.
    Terapinya di Sidoarjo, jd sy gak bisa tiap hari/rutin ke sana. Saya di Malang.
    Utk ibu2 disini yg juga di-insisi, sy mau tanya, apakah setelah di-insisi, bentuk pd ibu berubah??
    Krn pd sy yg kiri (insisi) sejak selesai operasi, bentuknya jadi mengecil (mungsret) atau bisa dibilang tepos kata suami sy.
    Seolah-olah saat operasi ada jaringan yg dikerok. Jd skr pd kiri & kanan tidak sama.
    Padahal sebelum operasi, justru pd kiri yg mastitis itu membengkak 2x lipat dr yg kanan. Sekarang justru mengecil hampir setengahnya.
    Apakah memang demikian kalau selesai di-insisi?
    Terima kasih utk yg sudah mau sharing…
    Tuhan memberkati

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.