Bullying

fanny

Saya ingat, beberapa hari setelah melahirkan saya menangis terisak-isak dipelukan suami saat menyadari betapa luar biasa tanggung jawab sebagai orang tua. Dulu sebelum jadi ibu, saya bekerja dan sering stress menghadapi masalah di kantor. Tapi sumpah, semua stress itu tidak ada artinya dibanding sekarang. Kalau kita salah mengerjakan pekerjaan kantor, paling risikonya dipecat. Tapi kalau salah merawat dan mendidik anak… let’s not even go there!

Satu pertanyaan besar untuk saya adalah, bagaimana mengajarkan Alyssa kecil menghadapi tekanan di masyarakat. Yeah right, I’m such a paranoid mom. Saya bahkan sudah berpikir sejauh itu sejak Alyssa masih di dalam perut. Mungkin juga karena kami tinggal di Eropa, dimana Alyssa (a mixture of Indo-Belgie) will look special (for not saying ‘different’), yang mungkin akan menjadi target yang ‘empuk’ bagi si bully.

‘Bullying’ menjadi kata yang menakutkan buat saya. Daycare dan Taman kanak-kanak – walaupun dipenuhi wajah imut dan innocents – can turn into hell. It’s a jungle out there! (Ingat, seperti sudah saya sebut di atas, saya seorang ibu yang paranoid. Or, let’s just call me ‘drama mom’).

Sekarang pertanyaannya: Bagaimana mengajari Alyssa untuk menghadapi semua itu?

alyssa

Ingatan pun melayang pada suatu artikel tentang masa kecil Hillary Clinton. Menurut cerita, Hilary kecil sering digencet teman-teman barunya. Hampir setiap hari dia pulang dengan menangis terisak-isak. Mamanya akhirnya bosan dan menyuruh balik menghadapi para tukang gencet itu. ‘There is no room in this house for cowards’, the exact words from the mom, menurut kabar burung yang beredar. Errr.. saya mau Alyssa jadi wanita setangguh Hillary.. tapi sanggupkah saya ‘setega’ itu? Dan lagi, menurut saya sepertinya cara ini bisa menjadi bumerang. Kalau karakter si anak memang kuat, maka dia akan menjadi semakin kuat dengan didikan seperti ini. Tapi jika tidak, maka bisa jadi anak itu akan semakin takut dan tidak pede…

Oh well, pencarian terus berlanjut. Sayapun berbincang dengan ibu mertua, seorang guru TK dengan pengalaman 30 tahun lebih. Ketika saya tanya, apa yang harus saya katakan pada si neng Al, jika ada teman yang nakal mendorongnya? Dengan tegas sang oma menjawab, ‘Suruh dia balas dorong! She has to stand up for her self!’ What..? Yeah, saya mau Alyssa jadi anak yang kuat dan berani membela diri sendiri. Tapi gimana kalau si neng jadi ikutan nakal dan kasar? Membalas kekerasan dengan kekerasan? Not cool!

Seorang teman punya usul lain, gimana kalau suruh dia ngadu ke ibu guru atau orang dewasa yang ada di dekat situ. Hmm.. ide yang cukup bagus, tapi saya mau Alyssa belajar mengatasi sendiri persoalannya, sebelum minta bantuan orang lain. Lagipula seorang pengadu.. also not cool!

Ah dilema…, dilema…, dilema…

Untung akhirnya saya menemukan tips dari buku Perfect Parenting karya Elizabeth Pantley. Ada beberapa point dalam buku tersebut.

Pertama, sang anak disarankan untuk menghindar dari si bully dengan menjauhi tempat-tempat di mana si bully biasa mangkal, atau bermain dalam kelompok (karena biasanya bully pun segan menghadapi beberapa anak sekaligus).

Kedua, menghentikan bullying dengan sikap asertif.

Ketiga, melaporkan pada orang dewasa jika bullying terus berlanjut dan mereka tidak mampu menghentikannya sendiri.

Untuk mengajari anak bagaimana bersikap asertif, buku ini menyarankan kita berlatih role play dengan si anak untuk mengatasi the bully. Intinya, si anak harus berani menghentikan perbuatan nakal tersebut dengan bersikap percaya diri, berkata dengan tegas pada si musuh ‘STOP’ atau ‘Leave me alone!’ atau ‘Jangan Nakal!’. Menurut buku tersebut, biasanya the bully akan kaget dengan reaksi yang tak disangka.

Logikanya, seorang ‘penyiksa’ mengharapkan korbannya untuk menangis atau membalas. Ketegasan dan autoritas ‘seorang korban’ akan memberi semacam shock terapy yang membuat si Nakal berhenti, bahkan menaruh respek. Nice tips, pikir saya.
Sampai ketika saya mempraktekan role play bersama Alyssa, dia malah menye-menye keganjenan.

Ah, gagal lagi!

Tapi ternyata, ketakutan saya terlalu berlebihan (like always). Ternyata, saya terlalu under estimate kemampuan anak saya untuk mengatasi masalah. Suatu hari, saat menjemput Alyssa di daycare (she was 2 then), saya menyaksikan dari balik jendela seorang anak berbadan jauh lebih besar dengan kasar merebut mainan dari Alyssa yang mungil dan imut-imut itu. Oh no! Hati saya bergetar, naluri keibuan saya terbakar. Dalam benak saya, Alyssa pasti akan nangis meraung-raung dan saya, ibunya, siap membelanya!
Untungnya sebelum terjadi huru-hara (saya mengejar si anak nakal, memberi dia ‘pelajaran’ lalu berantem dengan pengawas daycare), Alyssa kecil justru berlari mengejar The Bully. Aduh aduh, pikir saya lagi sekarang dengan kecemasan. Sudahlah nak, relakan saja mainanmu, kamu gak bakal menang lawan dia.
Tapi alih-alih melawan The Bully, Alyssa justru mengajak anak itu ‘bicara baik-baik,’ sambil menyodorkan mainan lain yang tadi sempat disambarnya sebelum berlari dan the bully agreed to swap his toy with the new one. So Alyssa got her toy back, The Bully mendapat mainanan baru. And they live happily ever after!

Ooh!

Sejuta bintang berpendar di atas saya. Look at that look at that… That’s my 2 year old baby who just created world peace. Give the Nobel Price to her instead of Obama.

I wish the story could end like that. Sayangnya itu hanya satu cerita indah di antara beberapa cerita tidak indah yang dialami Alyssa. Beberapa kali dia datang dengan muka sedih bahkan menangis karena ‘mainannya direbut paksa’ atau ‘tidak boleh main dengan anak-anak yang lebih besar di bak pasir’, atau ‘tidak diajak main dengan Marie dan Kaat karena aku pakai tidak pakai rok’ –don’t ask!-
Ada kalanya dia balik menghadapi ‘sang musuh’ untuk membela diri dan semua berakhir baik. Tapi terkadang dia memilih untuk menghindar. So i told her that it’s okay. Being afraid is ok. You can’t win all fights anyway. So what if she doesn’t become like Hilary?

Akhirnya saya membebaskannya untuk memilih. Kalau dia mau kabur, nggak papa. It doesn’t make her a coward. Kalau dia mau bilang ‘STOP! Jangan nakal!’, juga oke. Dan terakhir, kalau dia sudah bilang STOP tapi The Bully masih meneruskan (misal memukul) saya bilang, dia boleh mengadu atau balas pukul. Mama tidak akan marah. Dan mama siap menghadapi barisan guru dan orang tua, dan semua masalah yang akan menghadapi nantinya.

Ah… I’m still waiting for the user manual to arrive. Did it get lost somehow?

26 Comments

  1. eka
    Eka Wulandari Gobel January 19, 2010 at 6:50 am

    agree, fan!

    entah pengaruh tontonan dari tv atau faktor didikan di rumah, beberapa anak berlaku bully. same with u, aku jg kadang kepikiran gmana nanti kalo ada yg kasar sama enzo n dante, dan udah mikirin caranya membangun rasa percaya diri dan keberanian anak2 untuk mengatasi sendiri masalah dengan si bully.
    karena biasanya anak bully memilih anak2 yg gak PD dan penakut/cengeng untuk jadi targetnya-lebih mudah ngejailinnya :-)

    biasanya si bully umurnya lbh tua, badannya lbh besar, or else. yg jelas si bully adalah anak yg cukup PD dan berani, however, kurang mendapat perhatian dan pendidikan dari orang tuanya. that’s why si bully bertingkah macem2 untuk mendapat pengakuan dari teman2nya.

    bila dari awal udah ketauan bully-nya, pisahin aja anak kita dari si bully, tegur si bully dan bila udah keterlaluan ajak bicara guru atau orang tua si bully.

    good tips and tfs, fanny!

  2. mommalika
    Masyita January 19, 2010 at 8:46 am

    Masalah kayak gini juga dialami Malika. Di kelas TK A dia sekarang Malika sekelas dengan 3 anak super, yang kebetulan 2 dari 3 anak super ini adalah teman waktu dia di Play Group. Anak anak ini sudah terkenal dengan ke’jahilan’nya. Malika juga gak luput kena pukulan atau dorongan. Sangking gemesnya aku pengen ngomong langsung ke orang tuanya, tp gak jadi, sampai mau pindah kelas juga. Setelah aku cerita ke ibuku, dulu beliau guru, beliau nyaranin bahwa Malika harus berani menghadapi itu semua, latihan lah istilahnya. Aku juga gak mau kalau ada anak mukul anak aku terus kita juga langsung balas mukul, karena nanti akan timbul dendam. Cara yang aku pakai ke Malika adalah menyuruh dia menegur dgn keras teman yang usil ke dia. Misalnya ada anak yang mukul kamu, kamu teriak aja ‘hei, jangan pukul aku, sakit tau, kamu mau aku pukul!’. Begitu terus. Alhamdulillah gurunya pernah cerita kalau Malika pernah membentak temannya yg memukul dia, sampai temannya kaget, mungkin gak nyangka aja ternyata temannya ‘berani’. Dan seiring berjalannya waktu Malika akhirnya bisa ngomong ke aku ‘aku gak mau dekat2 si X ah, soalnya dia suka pukul temen’ Wah seneng juga dengernya, karena dia sudah bisa menyeleksi temannya sendiri, tanpa aku harus ngomong ke dia ‘Malika jangan main sama si X ya. krn dia suka pukul teman’↲
    Dan kebetulan juga Malika TKnya TK Islam, jd untuk menasehatinya lbh mudah, seperti anak sholeh/sholehah sayang teman dan akan disayang Allah SWT.

  3. hotmama
    Dede Wimala January 19, 2010 at 9:20 am

    Thanks for sharing Fan !

    Baru bbrp hari yg lalu andra pulang sekolah dengan permen karet di rambut, rok dan tas sekolahnya. dan ternyata, di iseng in sm temen sebangku sendiriiii, padahal sama2 perempuan :(( *yang mau ngamuk mama nya waktu ituuu*
    gue selalu semangatin andra untuk stand up for her self, tapi Andra kayaknya takut :( perlu latihan nih kayaknya…

  4. weendee
    Windy January 19, 2010 at 9:44 am

    Baguss nih tulisannya, sharing aja. Dulu chise pernah didorong, dtarik mainannya. Dalam rangka mengajarkan chise utk berani, (biasanya dia lari ke mamanya dgn wajah sedih). Aku bilang, jangan yah, mainnya bersama2 ga boleh tarik2, gih chise bilang ke X. Eh aku dipelototin mamanya X hihi..katanya anak2 ini..Yee maap yaa..tp yg gitu2 ga boleh dibiarkan :)

  5. sLesTa
    shinta lestari January 19, 2010 at 10:10 am

    ketakutan ini pasti ada di setiap ibu yah. dan cara kita ngajarin anak itu yang tricky karena kita gak mau si anak yang justru jadi bully. gotta learn a lot more about this, apalagi naia bentar lagi mau gue masukin ke daycare, pasti akan sering ketemu kayak gini2 nih.. rebutan maenan, dll.

    thanks for sharing yah, fan! .. dan ngingetin ama hal2 kayak gini. duh jadi ibu itu gak ada abisnya yah task nya.. salut deh ama mama!

  6. January 19, 2010 at 11:10 am

    waah, thanks for sharing, fan! imho, soal bully membully ini penting banget nih. bbrp hari yang lalu, gue dan suami baru aja membahas ini: gimana caranya biar nanti kalo udah sekolah, aina ga dibully DAN ga jadi bully… honestly, gue nervous banget ttg ini…

  7. ninit
    ninit yunita January 19, 2010 at 2:28 pm

    wha ini pernah kejadian sama alde waktu dia masih ikut daycare. sedih deh, didorong gitu sama temennya. sementara saya cuma bisa liat di ruang observasi (kaca satu arah). alde diem aja. mungkin masih kecil juga dan blm ngerti.

    tapi sekarang dia udah bisa stand up for himself. soalnya di rumah sering dibully sama ibunya hahaha…

  8. riandiani
    ria andiani January 19, 2010 at 3:08 pm

    Drama mom?samaa duooong heheheheh…ada aja hal yang bikin khawatir soal anak ya?hehehe.
    Baca thread ini jadi inget kejadian beberapa bulan yang lalu. Aku di telfon mamiku (yg sehari2 jaga Davina (sekarang 21bulan)), katanya Davina baru aja cubit temennya ampe luka di sekolah. Aku kaget bukan maen, aku khawatir jgn2 Davina nge-bully di sekolahnya. Hari itu aku ga konsen kerja, bawaannya pengen cepet pulang . Aku ga mau anakku jadi preman di sekolahnya, bener2 stres denger kabar itu, pengen nangis rasanya (tuh kan …drama mom kan?hehehe)
    Sepulang kerja, aku ngobrol panjang lebar sama mami ku soal kejadian berdarah itu *hehehe lebay ya?* ternyata Davina bukan yg memulai perkelahian itu. Davina cubit temannya karena dia di ganggu waktu lagi latihan obstacle, dia dihalang2in masuk tunnel. Karena bete diganggu akhirnya dia cubit/cakar si anak cowo itu. Setelah denger cerita itu aku brasa lebih lega. Ternyata Davina hanya membela diri (walau caranya salah), dan dia ga nge-bully seperti yg aku bayangkan sebelumnya.
    Malemnya aku langsung ajak ngomong Davina.
    Kaka tadi kenapa cubit teman? It’s a big no no darling!! Kaka ga boleh bikin temannya sedih lagi ya!? Promise?
    Trus dia nganguk2 sambil bilang“ Omis (promise maksutnya hehehe)“.
    Walau waktu itu dia belum bisa ngomong aku yakin dia pasti ngerti apa yg aku omongin. Dan beberapa hari setelah kejadian itu, sebelum aku pergi kerja aku selalu kasih pesan ekstra“di sekolah baik2 sama miss and teman2 ya nak“.
    Alhamdulilah kejadian“berdarah“ itu Cuma skali doang kejadian. Davina ga pernah bikin masalah apa2. lagi di sekolah. Semoga dia bisa terus jadi anak yg baik, ga nge-bully dan juga bisa jaga diri .

    Thanks for the tips Fanny

  9. nyanya
    almaviva landjanun January 19, 2010 at 4:21 pm

    Huhuhu..ini salah satu yg gue dan suami takutin loh.Padahal babyku aja blm kluar,tp udah sempet kepikiran homeschooling aja yg kayanya ga nyelesein masalah semacam ini jg.Duh,masi ngeraba2 ni tugas sebagai orangtua.Untung di sini byk ketemu mamapapas yg canggih2.TFS Fanny! Ternyata jd orangtua tugasnya byk bgt ya..Semangat!

  10. alin
    alin ramadhan January 19, 2010 at 4:47 pm

    fan, anak saya… saya ikutin les taekwondo juga nih selain sering2 juga role play di rumah. saya ga mau dia dibully & ngebully. jadi bener2 deh di rumah sering banget dinasehatin sama papanya. mudah2an eron ga kalah tangguh sama hillary clinton :)

  11. metariza
    Meta January 19, 2010 at 6:38 pm

    hi fan, tfs ya…tipsnya berguna bgt. btw alyssa umurnya brp? mau ikutan share, suatu hari nara pulang sekolah dgn bekas gigitan di tangannya. dia bilang digigit temennya, cewek…gw gemes dengernya. besoknya gw tanya apa dia digigit lagi sm mbaknya. kata mbaknya, nara bilang “no no” waktu si temen pem-bully ini mendekat. gw iseng tanya nara jg, dia jawab “ngga digigit kok. nara injek aja kakinya, hihihi”. ha gw kaget krn kok dia mendendam…ternyata itu cuma khayalannya aja klo bales injek kaki si pem-bully lucu juga.

  12. January 21, 2010 at 1:39 pm

    fanny bagus tipsnya, adam kayaknya tipe yang nrimo aja deh kalo didorong, kadang gw suka kasih semangat kalo ada yang nakal ke dia, harus berani balas! bukannya ngajarin untuk nakal, paling gak dia udah berani membela dirinya sendiri

  13. Liz
    Liz January 22, 2010 at 4:21 pm

    Fan, OOT gw mau komen fotonya Al, Celia jg begitu posenya kl lagi marah :-)
    Celia termasuk tipe yg dibully krn fisiknya yg lebih kecil dr anak seumurnya wkt dia msh di bawah 1 thn, alhamdulilah semakin besar dia mulai belajar utk bela diri plus aku ajarin spy report ama guru kl diganggu anak lain.

  14. fanny
    Fanny Hartanti January 22, 2010 at 6:45 pm

    eka: iya bener.. biasanya sih kalau badannya gede pasti jadi lebay deh! hehe. tapi gue pikir seorang bully justru anak yg gak pede. he overcompensates his insecurity dengan menyiksa orang lain, sok kuasa gitu deh. iya gak sih?

    masyita: aih malika pinter! suka gak sangka yah ternyata anak kita sebenernya bisa pecahin masalah sendiri! lebih pinter dari ortunya malah kadang2!

    dede dan windy iya emang, bawaannya jadi kita yg esmosi yah ! kadang anaknya dah pada baekan, emaknya yg masih jutek2an! hihi

    shinta, thalia : kuncinya balance balance balance.. tapi gimana biar balance? huh bikin setres sendiri yah.. hihihi

    ninit : iya.. ada bagusnya ngegalakin anak kadang2, if they can deal with their mommies, they can deal with any bully. wakakaka.. alesan aja!

    ria: wah davina berani banget! salut!

    almaviva : iya.. aku juga udah pusing dari waktu al masih di perut. jangan kuatir, ntar kalau udah keluar babynya.. pasti pusingnya errr.. nambah! haha! good luck!

    alin : amiiien!

    meta : bravo nara!!! hahaha kocak banget!. Alyssa umur 5 setengah. (setengah nya harus disebut :-)!)

    Nizma: iya nit, kalau gue bilang alyssa, pertama suruh teriak galak, kalau gak mempan, dia boleh bales! biarin, ribut2 deh! hahaa *emak preman*

    Liz : nasib kita yaks, ditengah orang segeda geda gituh.. tapi yg penting pede aja! bravo Celia!

  15. aya
    aya January 26, 2010 at 12:19 pm

    Haduh… saya sekarang malah lagi menghadapi hal itu. tempat saya kerja (sebuah taman kanak-kanak) sedang gencar2nya anak TK besar melakukan itu pada adik kelasnya….
    usul-usul yang keren dari mama2 semua, thank u very much… nanti dicoba ah… :)

  16. anoukuona
    Anouk February 4, 2010 at 8:55 am

    Thanks for sharing Fanny! wah penting banget urusan bullu-membully ini. I really agree with the ‘role-play’ technique. Kadang2 saya juga ngerasa khawatir, karena Wulan, anak saya pun agak ‘berbeda’ (sama loh ama Alyssa, indo-belgo, hehe). Tp untuk sekarang masih belum kerasa masalah sosialisasi di sekolah, krn Wulan masih di nursery, dan sekolahnya pun sekolah internasional, jadi setiap anak memang berbeda dr yg lain. Tp tips2nya Fanny sangat berguna bgt buat nanti klo Wul udh naek kelas ke TK, hehe. Thanks ya!!

    Btw, tinggalnya di Bruxelles?

  17. lie.antonia
    lie.antonia March 22, 2010 at 1:04 am

    …chicken soup for the soul…thx for sharing

  18. puspita_jewel
    Sitha March 22, 2010 at 2:02 am

    Wah, tfs Fan… Aku dan suami malah concern-nya ke anak pertama yg usianya udah 8 thn. Soalnya dia cenderung diam kl di’kerjain’ temennya. Dulu waktu msh di Indonesia, dia menjauh kl ada temen2 TK-nya yg ledek2 atau nakalin. Tp di negeri orang gini, dia diem aja. Papa-nya mau daftarin bela diri, at least biar dia bisa punya kesadaran akan private space (temennya uwel2 kepalanya, dia diem aja. Buat Papa-nya, itu dah melanggar batas private space). Role play, ide yg bagus. Worth to try.

    PS. Buku baru, udah ada? hihi… nagih…

  19. superpippo
    Astrid Lim March 22, 2010 at 8:00 am

    waw..waktu baby khawatir tentang asi, makanan, belajar jalan dan ngomong…tambah gede, ada lagi kekhawatiran baru ya, and every choice we made will determine our kid’s life…dilema, setuju banget fan, dan disinilah kerasa banget bergunanya sharing =) thanks for the article, fan, dan btw, gw ketawa” sendiri waktu baca yang neng al malah menye-menye keganjenan pas role play, hahahaha…good one!

  20. ipeh
    Musdalifa Anas March 22, 2010 at 11:17 am

    Jadi inget dr.Wati pernah bilang di acara seminar PESAT, kalo udah jadi Ibu tugasnya hanya satu, Bagaimana mengeleminisir Kekhawatiran, krn jadi ibu pasti selalu khawatir / cemas / dilema bahkan sampai anak kita dewasa dan memiliki anak lagi (cucu).

    Fanny and mamas lainnya, thanks atas tips dan sharingnya.

  21. Mayka_mays
    Mayka_mays March 22, 2010 at 2:06 pm

    nice article.. tfs fan.. ^^

  22. ayiebrandon
    ayiebrandon March 23, 2010 at 10:52 am

    Nice story, bunda.. ^_^ love it..
    Tapi dilema yg aku hadapi kayaknya kebalikan nya mba Fanny.. ^^ karena anakku cowo (who tends to be THE bully.. hehe) , suka bingung cara yg paling tepat untuk menasehati pd saat anakku hendak mengambil mainan dr temannya , karena aku juga takut anakku jd sakit hati krn ditegur di depan publik (teman2nya)..

    kayaknya seperti 2 sisi mata uang ya, mba fanny.. sebagai org tua, kita takut banget anak kita jadi “korban bullying”.. tp takut juga kalau alih2 malah anak kita yg jadi biang “bullying”..

    4 thumbs up buat Alyssa cantik yg kecil2 dah bisa meng”handle” teman yg lebih besar tanpa musti berantem.. ^^ hatinya benar2 secantik wajahnya.. ^^

  23. fanny
    Fanny Hartanti March 24, 2010 at 12:28 am

    ava: gimana, udah di coba? :)
    anouk : nggak say, di antwerp
    lie: sama2 :)
    Sitha: hush! oot.. hihi bentar lagi moga2
    Asrid, Mayka, Musdalifa: thanks!
    avie: oke next time bikin artikel dengan tema sebaliknya! hehe. amin, moga2 al cantik lahir batin..:)

  24. adhya
    adhya pramono March 10, 2012 at 9:11 pm

    adik saya yg plg bungsu pernah crita di-bully di SDnya.trus saya suruh jerit sekeras-kerasnya sampe si pem-bully terganggu sama suara keras dan menjauh,dan gurunya sadar kalo terjadi sesuatu.kayaknya nanti kalo Almira udh gede jg bakal saya suruh gitu.apalagi suaranya keras bgt kalo urusan nangis sama jerit.tp sebelum itu terjadi kayaknya saya kudu selektif pilih sekolah.pengennya yg berbasis Montessori gitu.soalnya ngebiasain anak gede ‘ngemong’ temennya yg lebih kecil.ah tp masi berandai2 :))

  25. March 22, 2012 at 10:05 pm

    tetanggaku punya anak perempuan 3 tahunan.. selalu bullying arza. Kalau main bareng arza didorong, diambil mainannya, dia gak mau share mainannya dll.. setelah menggali lebih dalam kenapa anak tetangga seperti itu? karena itulah yg diajarkan mamanya. Mamanya selalu bertingkah ala jagoan ke putri kecilnya.. aneh ya? buat beliau lebih mudah mendidik taft kids yang menindas.

    oh my.. jamanku dulu bullying cm ada jaman smp.. mungkin sd ada, tapi ga parah.. apa sekarang ada percepatan jaman ya??

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.