Co-Sleeping

Inayati
Dyah A Inayati, PhD Health & Nutrition Researcher, Nutrition Advisor, Halal Food Auditor. Pendidikan S1 di Universitas Indonesia, S2 di Universitaet Karlsruhe (Jerman), S3 di Universitaet Hohenheim (Jerman) dengan bidang pendalaman nutrisi dan nutrisi populasi/komunitas. Ibu dari dua putera dan satu puteri.
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Tidur bersebelahan antara ibu dan bayi merupakan satu tradisi alami yang biasa ditemui di beberapa kelompok masyarakat di berbagai belahan dunia. Aktivitas yang biasa dikenal dengan istilah ‘co-sleeping’ selain membawa keuntungan psikis untuk sang ibu dan bayinya juga telah terbukti memiliki keunggulan secara klinis dan berperan penting pula terhadap tingkat ‘ke-survive-an’ anak. Sayangnya kecenderungan yang kini teramati malah berbeda: semakin banyak para orang tua yang memutuskan untuk tidak tidur bersama bayi mereka di tempat pembaringan yang sama.



Neonatal yang hanya memiliki 25% volume otak seorang dewasa membutuhkan dukungan sosial dan emosional yang intensif, termasuk di dalamnya kebutuhan terpenuhinya rasa lapar. Tak mengherankan, pemberian Air Susu Ibu (ASI) sepanjang siang dan malam adalah hal terefektif yang tak dapat disangkal peranannya dalam mengatasi pemenuhan rasa lapar si kecil. Hal tersebut dapat dengan mudah didapatkan di malam hari melalui aktivitas co-sleeping yang sekaligus membawa kenyamanan pada ibu dan anak. Karenanya penelitian ilmiah tentang pola tidur bayi manusia yang tidak memperhitungkan peran pemberian ASI di malam hari serta faktor kedekatan ibu-anak dan kontak yang terjadi dapat dianggap sebagai satu penelitian yang tak lengkap dan tidak tepat (McKenna 1986).

Kondisi Yang Harus Terpenuhi
Syarat utama yang harus terpenuhi untuk menjamin keamanan pelaksanaan co-sleeping adalah terciptanya kondisi yang memungkinkan si kecil mampu “merasakan” serta “menyadari” kehadiran sang ibu. Signal-signal ibu seperti bau khas, desah nafas, gerakan tidur, perkataan serta ‘undangan’ menyusui di malam hari haruslah si kecil ‘mengerti’. Dengan terpenuhinya beberapa kondisi di atas, tidur bersama antara ibu dan bayinya baru dapat dikatakan aman untuk dilakukan.
Sebaliknya, kondisi yang membahayakan dilakukannya co-sleeping harus dihindari. Beberapa faktor yang dimaksud seperti tidur bersebelahan dengan bayi di sofa, ibu perokok yang mendampingi tidur si kecil, anak balita yang tidur di samping si bayi (Young dan Fleming 1998) serta penggunaan matras empuk dan bantal bayi (Drago und Danneberg 1999, Scheer 2000). Ibu pengkonsumsi alkohol dan obat obatan (termasuk narkoba) juga dianjurkan tidak melaksanakan co-sleeping karena dikhawatirkan memiliki kemampuan reaksi spontan yang terbatas.

Keuntungan Tidur Bersama bagi si Kecil
Co-sleeping terbukti berperan penting terhadap penjagaan kestabilitasan suhu bayi. Temuan studi Mc Kenna (1986) menyimpulkan bahwa seorang bayi yang sejak lahir diletakkan berjauhan dengan perut ibunya mengalami penurunan suhu tubuh hingga 1°C. Kondisi ini juga dapat diamati pada bayi yang berada di dalam inkubator dimana suhunya telah diatur sedemikian rupa mendekati suhu tubuh sang ibu. Kontak kulit dengan orang tuanya pun terbukti berpengaruh positif terhadap bayi, baik bayi prematur ataupun bayi normal. Melalui sentuhan kulit, bayi biasanya akan memiliki pola nafas lebih teratur, menggunakan energi lebih efisien, memiliki pola tumbuh-kembang lebih cepat serta mengalami lebih sedikit stress. (Stewart dan Stewart 1991, Field 1995).

Bayi yang tidur terpisah dari orang tua pada awalnya biasa menunjukkan gejala rewel dengan menangis dan berteriak. Hal tersebut dapat didefinisikan sebagai tanda protes terhadap keadaan yang dianggap membahayakan dirinya, yaitu terpisah dari orang yang dianggap sebagai bagian terpenting dari hidupnya. Karenanya tak heran pada bayi yang tidur bersebelahan dengan orang tuanya relatif lebih ‘anteng’ dan ‘tidak rewel’ pada saat akan tidur.
Anjuran pemisahan tidur sejak kecil banyak ‘bergaung’ di beberapa tahun kebelakang. Hal itu dilakukan dengan alasan agar otonomi sang anak sejak kecil dapat terasah. Intervensi minimal orang tua pada si kecil, termasuk halnya pemberian ASI, bahkan kadang datang dari petugas kesehatan sendiri. Tak hanya itu, ‘nasehat’ untuk menghindari agar sang anak tertidur saat menyusui pun banyak ditemui. Tips yang banyak beredar tersebut biasanya didasarkan atas studi terdahulu yang menyatakan bahwa anak yang dibiasakan tidur bersama orang tuanya umumnya memiliki permasalahan psikologi, emosional dan hubungan sosial di masa depan (Ferber 1985).

Hal yang menarik, temuan studi cross sectional di Inggris menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Responden pada studi tersebut yang memenuhi kriteria “tidak pernah tidur di tempat tidur orang tuanya” malah terbukti banyak memiliki masalah, baik menurut orang tuanya dan guru di sekolah. Sulit dikontrol, merasa tak berbahagia, emosional, mudah marah adalah beberapa permasalahan yang tercatat di studi tersebut. Selain itu, anak anak tersebut lebih gampang ketakutan di banding mereka yang pernah tidur bersama orang tuanya (Herons 1994). Keuntungan co-sleeping juga disimpulkan dari studi Lewis & Janda (1988). Studi tersebut menemukan bahwa responden pria yang sejak lahir hingga usia lima tahun pernah tidur bersama orang tua, umumnya punya kepercayaan diri yang tinggi, jarang memiliki ketakutan dan rasa bersalah serta punya kualitas seksual yang baik. Bagi wanita, ‘efek’ dari kegiatan tersebut diasosiasikan dengan kuatnya‘affection’ saat ia dewasa.
Pada penelitian lain dengan tema sejenis ditemukan pula bahwa anak-anak yang pernah tidur bersama orang tuanya lebih jarang menjalani terapi psikiatri (Forbes et al 1992). Bahkan dari studi terbesar dengan tema terkait yang melibatkan 1400 orang lintas etnis di Chicago disimpulkan bahwa pada orang dewasa yang pernah melakukan co-sleeping di masa kecil memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi dibanding rekannya yang tidak pernah melakukan (Mosenkis 1998).

Co-Sleeping dan SIDS
Para penganut faham kontra terhadap co-sleeping biasanya menghubungkan “tidur bersama ibu-bayi” ini dengan kemungkinan terjadinya Sudden Infant Death Syndrom (SIDS) ataupun kematian bayi seperti halnya yang ditemukan dari penelitian Mortimer (2001) yang dilakukan di beberapa kota besar seperti Chicago, Cleveland, Washington D.C dan St. Louis . Sayangnya, variabel keamanan yang harus dipenuhi saat dilakukannya co-sleeping nyatanya tidak diperhitungkan dalam studi Mortimer tersebut.

Responden pada studi Mortimer(2001) adalah para ibu miskin keturunan Afrika yang umumnya mengkonsumsi rokok, narkoba dan alkohol. Selain itu bayi-bayi mereka pun biasa ditidurkan dalam posisi tengkurap tanpa memperhatikan jenis matras tidur yang digunakan. Tak heran dalam kondisi di atas akan ditemukan tingginya angka kematian bayi. Karenanya, argumen yang berangkat dari penelitian serupa tanpa memperhatikan terpenuhinya syarat co-sleeping yang aman sebenarnya tidak dapat digunakan sebagai bukti yang menyatakan adanya keterkaitan langsung antara SIDY dengan praktek co-sleeping.

Hubungan antara co-sleeping, menyusui eksklusif dan rendahnya SIDS bahkan dapat dibuktikan dari studi yang dilakukan di Kanada oleh Sankaran et al. (2000). Kesimpulan serupa juga ditemukan dari hasil penelitian di Afrika Selatan: bayi yang tidur bersama ibunya memiliki peluang untuk hidup lebih besar (Kibel und Davies 2000). Di beberapa wilayah dimana co-sleeping dianggap sebagai satu norma umum yang berlaku seperti di Hongkong dan Jepang, bahkan memiliki angka terendah kasus SIDS di dunia.

Dari penjelasan di atas, kini urban mamas telah mengetahui beberapa manfaat dari aktivitas tidur bersama antara ibu dan si kecil. Kombinasi co-sleeping dan pemberian ASI bahkan merupakan tindakan terefektif dan integratif pelayanan kebutuhan si kecil di malam hari. Kepercayaan, komunikasi, sentuhan, pemberian makanan dan penguatan sistem kekebalan tubuh: kesemuanya dapat diperoleh dari dua kegiatan yang dilakukan dalam satu waktu tersebut. Belum lagi ditambah dengan semakin kecilnya risiko terjadinya kematian bayi secara mendadak melalui aktivitas co-sleeping. Tak dapat dipungkiri, kegiatan tidur bersama adalah tindakan menguntungkan bagi ibu dan bayi. Karenanya pertanyaan “Amankah bila saya tidur bersama si kecil?” seharusnya tak lagi diajukan, namun kalimat berikut yang sebaiknya kita tanyakan “Amankah bila saya tidak tidur bersama si kecil?”.

Selamat memutuskan ya, Mama! :)

Referensi:
Ferber R (1985) Solve Your Child’s Sleep Problems. New York: Simon and Schuster
Heron P (1994, April) Non reactive Co-Sleeping and Child Behaviour: Getting a Good Night’s Sleep All Night Every Night. Masters Thesis, University of Bristol, Department of Psychology
McKenna JJ (1986) An anthropological perspective on the sudden infant death syndrome (SIDS): the role of parental breathing cues and speech breathing adaptations. Med Anthrop 10: 9-53
McKenna JJ (2003) Co-Sleeping In Scherbaum et.al: Stillen, Fruehkindliche Ernaehrung und reproduktive Gesundheit. Deutscher Aerzte Verlag, Koeln: 268-270
Mortimer A (2001) Sudden infant death syndrome, bed-sharing, parental weight and age at death. Pediatrics 107(3): 530-536
dan berbagai macam jurnal ilmiah dan buku dengan tema terkait.

22 Comments

  1. ninit
    ninit yunita January 27, 2014 at 3:27 pm

    artikelnya baguuus (seperti biasa) :)
    sampai saat ini, arza 4thn masih tidur sama orangtuanya :) kalau kakaknya, Alde 7thn udah pisah… (terpaksa karena bednya queen size) tapi kalau weekend boleh tidur bareng dengan orangtuanya.

  2. offira
    Offira Tampubolon January 27, 2014 at 8:12 pm

    Rai dari lahir udah co sleeping.. Jauhan dikit, ayahny langsung galau g kuat jauhan.. Hihihi

  3. rikandun
    rikandun January 27, 2014 at 10:24 pm

    Mba Inayati, apakah ada studi kapan sebaiknya anak mulai pisah tidur dengan orangtua?
    terima kasih yaa artikelnya bermanfaat :D

  4. siska.knoch
    Siska Knoch January 28, 2014 at 8:23 am

    Halo mba Iin.. saya membiarkan migu (4,2 yo) tidur dengan saya sejak usia 3mos, usia 0-3bulannya nya sekamar tapi masih dalam box baby, dengan alasan saya takut menyenggol saat saya tdk sadar karena tidur. dan pertanyaan yang sama dengan rika di atas, usia brp sebaiknya mulai tdr terpisah :)

  5. eka
    Eka Wulandari Gobel January 28, 2014 at 1:50 pm

    enzo dante juga masih tidur bersama, krn dari bayi memang lebih mudah & nyaman menyusui sambil tiduran :)
    karena udah tinggi, jadinya enzo pake tempat tidur sendiri di kamar yg sama.
    waktu bayi memang ada box bayi, tapi lebih sering tidur bersama krn menyusui.
    saat adiknya lahir, enzo sempat pisah kamar. tapi tidak lama karena saya dan suami kangen :’) kamarnya hanya dipakai untuk menyimpan barang2nya saja, dan untuk tidur siang (krn saya dan suami bekerja, enzo ditemani baby sitter).
    nice article, mama iin :)

  6. sLesTa
    shinta lestari January 29, 2014 at 11:21 am

    saya juga pendukung co-sleeping! alhamdulillah dengan kondisi ini juga memudahkan saya untuk tetap memberikan ASI sampai 2 tahun, dan saya tetap bisa menikmati waktu tidur yang cukup karena mesti kerja juga.

    setelah anak kedua lahir, anak pertama mulai dipisah, walaupun hanya pisah tempat tidur tapi di satu kamar. sekarang anak kedua sudah disapih dari ASI tapi masih co-sleeping sama kita, sementara kakaknya di tempat tidur berbeda.

    rencananya sih pengen banget mulai misahin anak2 untuk tidur di kamar sendiri, karena yang kecil lebih seneng kalo bisa tidur sama kakaknya sebenernya. dan saya pikir mungkin udah saatnya juga karena si kakak yang penakut akan senang karena ditemani adiknya.

    si kakak sudah mau 6thn, dan adiknya baru 2thn. ini ide bagus tidak ya? boleh di share view-nya mbak Iin?

  7. Inayati
    Inayati January 29, 2014 at 9:19 pm

    @ Ninit: danke Nit :). Anak2 ku walau udah besar (15,12,10), mereka tetap punya “jatah” tidur bareng kami, -kalau ingin- satu kali seminggu loh :). Dan biasanya mereka tetep mengambil jatah tsb :D. Jadi biasanya Sabtu adalah hari dimana tempat tidur kami terasa sempiiiit..hehehehe

  8. Inayati
    Inayati January 29, 2014 at 9:19 pm

    @ Offira: iya ya, apalagi kalau masih unyu unyu, rasanya pengen meluk terus :D

  9. Inayati
    Inayati January 29, 2014 at 9:20 pm

    @ Rika: sayangnya saya belum pernah mbaca nih ttg studi yang ditanyakan Rika, nanti bila kebetulan membaca, saya share yaa. Senang sekali bila artikel ini bermanfaat buat Rika :)

  10. Inayati
    Inayati January 29, 2014 at 9:22 pm

    @ Siska: hallo juga my dear :). hmm, kalau formula kapan waktu yang tepat anak terpisah tidurya, terus terang ndak bisa jawab nih, karena sebenarnya, menurut saya sih, hanya orang tua yang bisa menilai kesiapan si kecil dan dirinya sendiri as orang tua utk berpisah tidur. Yang pasti menurut pengalaman subjektif saya, jangan sampai co-sleeping ini memberatkan untuk kedua belah pihak. Jadi saya juga mengartikan pula, kondisi tidak co-sleeping juga harus diambil atas kerelaan dua belah pihak :D.

  11. Inayati
    Inayati January 29, 2014 at 9:23 pm

    @ Eka: pasti enzo dante seneng deh bobo dengan mama dan papa nya. Dari pengalaman saya pribadi, insya ALloh akan banyak manfaat dari co-sleeping serta sesekali tidur bareng-bareng, pun mereka sudah agak besar :).

  12. Inayati
    Inayati January 29, 2014 at 9:29 pm

    @ Shinta: waah, kita sama dong *tos pisan*. Bener Shin, setuju banget, co-sleeping ini memudahkan sekali saat masa pemberian ASI karena membuat kita nyaman dan ndak terlalu cape yaa :). Untuk rencana memisahkan tidur si kakak yang 6 th dan adik 2 th dr Shinta, sebenarnya menurut saya sih, mamanya sendiri yang paling jitu menilai gimana kesiapannya nih, both for anak anak dan Shinta sendiri :).

    Kalau dari pengalaman saya nih, si sulung ingin berpisah tidur saat usia 4,5 tahun, si tengah karena udah ama masnya, umur 2 tahun sudah ingin pisah kamar dan tidur dengan mas nya di tempat tidur berbeda namun di kamar yang sama, dan si bungsu (yang satu satunya prp), baru benar benar pisah kamar saat akan lepas TK (5 tahunan). Namun, hingga kini pun, kami membolehkan mereka untuk tidur bersama di tempat tidur kami satu kali seminggu supaya kami bisa bobo barengan setelah melakukan aktivitas bersama di tempat tidur, semisal hanya ngobrol atau nonton film bersama, atau malah baca buku sendiri2 :D. Ndak lain sih tujuan kami, untuk menjalin kedekatan dengan mereka. Dan alhamdulillah, bagi kami, langkah yang dipilih untuk hal ini tak pernah sekali pun kami sesali :). Semoga sedikit bermanfaat yaa:).

  13. sLesTa
    shinta lestari January 30, 2014 at 9:44 am

    Mbak Iin.. ih toss dong! hehhe.. iya aku juga membolehkan si kakak untuk tidur bareng2 di tempat tidur kami hanya seminggu sekali, pas sabtu malam karena biar minggu-nya bisa bangun lebih siang (walopun ya gak bakal pernah kejadian sih hehehe).

    hmm.. iya emang mother knows best ya? aku sih mikirnya anak2 ini belom siap, tapi aku takutnya ini karena aku-nya yang gak mau ngelepasin mereka untuk tidur sendiri. sementara papa-nya sih udah maksa2 supaya mereka udah dipisah kamarnya.. mungkin bisa dicoba nanti setelah si kakak ultah ke 6. mesti disiapin dulu nih.

  14. syarach
    syarach January 30, 2014 at 11:39 am

    Mom @Inayati mau tanya dong.. mengutip artikel diatas “..serta penggunaan matras empuk dan bantal bayi (Drago und Danneberg 1999, Scheer 2000)”
    apakah ada efek buruk dari penggunaan bantal bayi ? saya kalau menyusui, anak selalu dipakaikan bantal, agar kepalanya lebih tinggi dari perut. mohon bimbingannya :)

  15. teta
    teta January 30, 2014 at 11:53 pm

    Saya juga dukung eco sleeping!! Hehe. Yama sampai usia 2 tahun 5 bulan kemarin masih tidur sama saya. Tapi sudah sebulan ini pisah ranjang dan kamar setelah lulus breastweaning.. Anaknya sih kayaknya rela rela aja, gak papa kan ya? Setiap yama bangun tidur pasti ke kamar mamanya, peluk cium terus leyeh leyeh bentar samping mamanya gitu.. Gak pernah nangis nyari nyari mamanya sebelum saat atau bangun tidur. Padahal mamanya full stay at home mom.. Mungkin yama termasuk anak yang mandiri ya hehe muji anak sendiri.. Tapi mamanya yang kadang kangen, terus buka pintu kamar yama ngintipin atau cium cium hehe

  16. Inayati
    Inayati February 3, 2014 at 2:53 pm

    @Shinta: selamat siap siap yaa :)

  17. Inayati
    Inayati February 3, 2014 at 2:59 pm

    @ Syarach: dalam konteks co-sleeping ini, pemakaian bantal bayi tidak dianjurkan karena khawatirnya akan menutup jalur pernafasan si kecil saat dalam keadaan si kecil dan mama sedang dalam keadaan tidur. namun menurut hemat saya, kalau bantal digunakan dalam keadaan tidak tertidur (khususnya sang mama tetap tidak tertidur), mungkin ndak mengapa :)

  18. Inayati
    Inayati February 3, 2014 at 3:02 pm

    @ Teta: kalau si kecil dan mamanya enjoy saja dengan proses perpisahan bobo ini, kalau menurut saya, it’s ok kok mama :)

  19. mama aliya
    mama aliya February 5, 2014 at 11:55 am

    saya jg masih tidur bareng aliya. Saat sakit pun saya masih usahakan tidur bareng. Sungguh menyenangkan tidur bersama. Makasih mba artikelnya..

  20. mama mili
    mama mili February 6, 2014 at 8:30 am

    sejak mili lahir sampai skrg (dikit lagi 4th) kita bobonya barengan … sampai saat ini, karena mili blm punya adik, kita belum merasa tidak co-sleeping. malah kalo ga co-sleeping, kyanya ada yg kurang dech … tempat tidur rasanya luaasss bgt .. hehehe

  21. Inayati
    Inayati February 11, 2014 at 6:41 pm

    @ mama aliya: sama sama mama Aliya :). senang sekali bila bermanfaat :). Iya, sampai sekarang, saya masih sesekali bobo bareng dg anak anak kami loh :)

  22. Inayati
    Inayati February 11, 2014 at 6:43 pm

    @ mama mili: hehehe, iya bener banget :). nanti malah pasti kangen deh kalau Mili udah makin besar dan pisah kamar :). Jadi dinikmati sekaliii ya mama Mili kalau masih ada kesempatan bobo bareng ama mili kecil :)

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.